Sore itu Harlia berdiri di depan rumah dengan jaket tipis dan tas selempang. Rina sudah menunggu di motor, helm di tangan, wajahnya penuh ekspresi tidak sabaran.
“Har, kalau ini prank dari hidup, gue mau komplen,” kata Rina.
Harlia tersenyum kecil.
“Doain aja Topan masih di sana.”
“Kalau dia masih sekarat tapi nggak ngabarin kamu, itu juga masalah,” balas Rina.
Mereka berangkat ke rumah sakit yang sama seperti dini hari kemarin. Di perjalanan, Harlia lebih banyak diam. Tangannya mencengkeram tali tas.
“Kamu gugup?” tanya Rina sambil menyetir.
“Takut,” jawab Harlia jujur.
“Takut apa?”
“Takut ternyata aku yang lebay.”
Rina mendengus.
“Kalau ini lebay, sinetron stripping harus minta maaf ke kamu.”
Sesampainya di rumah sakit, hawa dingin langsung menyergap. Harlia melangkah cepat ke ruang perawatan. Matanya mencari-cari. Tempat tidur itu… kosong.
Seprai rapi.
Tidak ada Topan.
Tidak ada Arin.
Harlia berhenti.
“Rin…” Suaranya mengecil.
Rina menoleh, lalu mendekat.
“Kosong?”
Harlia mengangguk. Rina langsung melirik ke nurse station.
“Permisi, Mbak.”
Perawat menoleh ramah.
“Iya?”
“Pasien atas nama Topan… eh…” Rina menoleh ke Harlia. “Nama lengkapnya siapa?”
Harlia membeku, lalu menggeleng tidak tahu.
“Topan,” jawabnya pelan.
Perawat mengetik sebentar.
“Topan…?”
“Topan aja,” ulang Harlia.
Perawat mengerutkan kening.
“Nama belakang?”
Harlia dan Rina saling pandang. Rina terkekeh kaku.
“Hehehe… ya itu… Topan aja.”
Perawat menghela napas sopan.
“Maaf, Mbak. Kami butuh nama lengkap.”
Harlia menelan ludah.
“Kemarin dia dirawat di sini.”
“Oh....” Perawat mengecek lagi. “Pasien atas nama Topan sudah pulang pagi tadi.”
“Pagi?” Rina langsung naik nada. “PAGI?”
“Iya. Dijemput keluarga.”
Harlia tersentak.
“Keluarga?”
Perawat mengangguk.
“Iya.”
“Jam berapa?” tanya Rina.
“Sekitar jam delapan.”
Rina menoleh ke Harlia dengan mata membulat.
“Har… jam delapan itu kita lagi di kantor ribut.”
Harlia terduduk di kursi tunggu.
“Kok dia nggak ngabarin aku…,” gumamnya.
Rina berdiri dengan tangan di pinggang.
“Ya elah, ini mah keterlaluan.”
Harlia mengeluarkan ponsel. Tangannya gemetar. Ia menelepon Topan, tetapi....
Tidak aktif.
Lalu ia mengirim pesan.
Centang satu.
“Rin.…” Harlia menatap layar. “Dia nggak baca.”
Rina mendengus keras.
“Gue udah bilang dari dulu. Ini cowok misteriusnya kebangetan.”
Harlia mengusap wajah.
“Mungkin dia capek.”
“Capek itu bukan alasan ngilang,” sahut Rina.
Mereka keluar dari rumah sakit dengan langkah berat. Di parkiran, Rina melepas helm dan mengibaskan rambutnya kesal.
“Gue mau nanya sesuatu,” kata Rina pelan tapi serius.
Harlia menoleh.
“Kamu tau rumahnya di mana?”
Harlia menggeleng.
“Tau kantornya di mana?”
Harlia terdiam lebih lama… lalu menggeleng lagi.
“Tau dia asal kota mana?”
Harlia membuka mulut… lalu menutupnya.
Rina tertawa pendek, pahit.
“Har… kamu pacaran sama manusia atau urban legend?”
Harlia menunduk.
“Nama lengkap aja kamu nggak tau,” lanjut Rina. “Keluarganya siapa juga nggak.”
Harlia memeluk tasnya.
“Dia bilang… nanti juga kenal.”
“NANTI KAPAN?” bentak Rina, lalu cepat menurunkan suara. “Maaf. Gue emosi.”
Harlia tersenyum hambar.
“Aku juga baru kepikiran sekarang.”
Rina menghela napas.
“Kita pulang ke rumah kamu aja.”
Di perjalanan pulang, suasana hening.
Sampai Rina tiba-tiba berkata, “Eh, Har?”
“Hm?”
“Selama ini… dia yang dateng ke hidup kamu.”
“Iya.”
“Kamu nggak pernah bener-bener masuk ke hidup dia.”
Kalimat itu menancap. Sesampainya di rumah Harlia, mereka duduk di ruang tamu. Ibu Harlia belum pulang.
“Aku ngerasa bodoh,” kata Harlia pelan.
Rina menatapnya.
“Bukan bodoh. Tapi gampang percaya.”
Harlia tertawa kecil.
“Terlalu percaya.”
Rina mencondongkan badan.
“Har… cowok yang serius nggak bakal bikin dirinya jadi teka-teki.”
Harlia menatap lantai.
“Dia bilang lagi ngusahain mahar.”
“Dengan cara apa?” Rina bertanya cepat. “Kerja di mana? Bisnis apa?”
Harlia terdiam.
Rina mengusap wajah.
“Ya Tuhan.”
“Rin,” suara Harlia bergetar, “kalau dia pergi gimana?”
Rina terdiam sejenak. Lalu berkata pelan, “Mungkin… dia nggak pernah bener-bener ada.”
Harlia menggeleng cepat.
“Dia nyata. Aku ketemu dia.”
“Orangnya nyata,” jawab Rina. “Tapi hidupnya?”
Sunyi.
Ponsel Harlia tiba-tiba bergetar. Ia tersentak. Nomor tidak dikenal menelepon. Harlia menjawab dengan tangan gemetar.
“Halo?”
Beberapa detik hening. Lalu suara napas di seberang. Dan suara laki-laki berkata pelan.
“Harlia… kita perlu ngomong.”
Rina menegakkan badan. Harlia menahan napas.
“Besok,” lanjut suara itu. “Di tempat yang aman.”
“Pan?” suara Harlia hampir pecah.
Sambungan terputus. Harlia menatap layar. Rina menatap Harlia.
“Tempat aman?” ulang Rina pelan. “Ini bukan lamaran… ini kayak transaksi rahasia.”
Harlia menelan ludah. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati. Siapa sebenarnya Topan dan apa yang selama ini ia sembunyikan?
Pagi itu, Harlia duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya.
Kosong.
Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Tidak ada tanda-tanda “tempat aman” yang disebut Topan semalam.
Rina muncul dari balik pintu kamar sambil mengikat rambut.
“Gue kepikiran semaleman,” katanya. “Kita tau apa sih tentang dia?”
Harlia menoleh.
“Topan?”
“Iya.”
Harlia berpikir.
Diam.
Lalu berkata pelan, “Dia suka kopi pahit.”
Rina menunggu.
“Terus?”
“Dia katanya kerja keras.”
“Katanya,” ulang Rina tajam.
Harlia menghela napas.
“Dia suka pakai jam mahal.”
“Barang bisa dibeli.”
“Dia… perhatian.”
“Perhatian ke kamu atau ke semua orang?”
Rina mengangkat alis. Harlia terdiam. Rina duduk di sampingnya.
“Har, kita mau nyari kebenaran, tapi kita nggak punya apa-apa.”
Harlia menggigit bibir.
“Satu-satunya orang yang kayaknya tau hidup dia cuma Arin.”
Rina langsung berdiri.
“NO.”
Harlia tersentak.
“Kenapa?”
“Gue ogah,” kata Rina tegas. “Urusan sama dia bikin darah tinggi.”
“Rin…”
“Serius. Kalau harus dapet jawaban dari Arin, mending nggak usah.”
Harlia menunduk.
“Berarti buntu.”
Rina mendesah.
“Buntu total.”
Mereka berangkat ke kantor dengan perasaan seperti membawa tas penuh batu. Di meja kerja, Harlia mencoba fokus, tapi gagal.
Mouse diklik salah. File salah kirim. Email diketik ulang tiga kali.
Rina melirik jam tiap lima menit.
“Belum ada kabar?” bisiknya.
Harlia menggeleng.
Jam makan siang lewat. Namun Topan tetap diam.
Sore menjelang. Langit di luar jendela mulai keabu-abuan.
“Har,” Rina berbisik lagi. “Gue nggak suka ini.”
“Aku juga.”
Harlia berdiri, berjalan ke toilet, membasuh wajah. Di cermin, ia menatap dirinya sendiri.
“Masa iya aku mau nikah sama orang yang bahkan alamat rumahnya aku nggak tau?” batinnya.
Ponselnya bergetar. Lagi-lagi nomor tidak dikenal. Harlia hampir menjatuhkan ponsel. Ia menjawab dengan napas tertahan.
“Halo?”
“Harlia.”
Suara Topan.
“Pan?” Harlia menutup mulut.
Rina langsung berdiri, memberi isyarat: speaker?
Harlia menggeleng.
“Kamu di mana?”
“Aku di depan kantor kamu.”
Jantung Harlia berdetak keras.
“Sekarang?”
“Iya.”
“Kamu… kamu ngapain di situ?”
“Aku bilang kita perlu ketemu.”
Harlia menelan ludah.
“Tunggu aku.”
Telepon terputus. Rina mencengkeram tangan Harlia.
“Depan kantor?”
Harlia mengangguk.
“Dia di luar.”
“Gue ikut.”
Mereka berlari keluar gedung. Angin sore menyapu wajah. Di seberang jalan... Topan berdiri. Sendirian. Memakai jaket hitam, tangan di saku, wajahnya terlihat… lelah.
Mobil lalu lalang di antara mereka. Harlia berhenti di tepi trotoar. Topan menatapnya lurus. Tatapan yang selama ini membuatnya klepek-klepek, kali ini justru membuat dadanya sesak.
Rina berdiri di samping Harlia.
“Dia beneran ada.”
Topan mengangkat tangan sedikit, seperti ragu mau melambai atau tidak.
Lampu lalu lintas menjadi merah. Mereka saling menatap. Jaraknya hanya beberapa meter. Tapi terasa seperti dua dunia. Harlia melangkah maju satu langkah.
Topan ikut maju.
Mobil terakhir lewat. Lampu berubah hijau. Saat mereka akhirnya berdiri berhadapan, Topan membuka mulut.
“Harlia,” katanya pelan, “sebelum kamu nanya apa pun…”
Harlia memotong, suaranya bergetar.
“Kamu siapa sebenarnya?”
Topan terdiam.
Rina melipat tangan.
“Dan jangan jawab pake gombalan.”
Topan menatap Rina sebentar, lalu kembali ke Harlia.
“Aku…” ia menghela napas panjang, “…nggak sesederhana yang kamu kira.”
Harlia tertawa kecil, pahit.
“Aku tau. Kamu bahkan lebih misterius dari sinyal WiFi.”
Topan tersenyum tipis.
“Aku bukan mau bohong.”
“Terus kenapa kamu ngilang?” tanya Harlia.
“Aku pulang dari rumah sakit dan nggak ngabarin,” lanjut Topan cepat. “Itu salahku.”
“Kenapa?” desak Rina.
Topan menatap jalan sebentar.
“Karena aku takut.”
Harlia membeku.
“Takut apa?”
Topan menatapnya lurus.
“Takut kamu tau semuanya… dan pergi.”
Angin bertiup lebih kencang. Harlia menggenggam tasnya.
“Pan,” katanya pelan, “aku udah setengah jalan pergi… bahkan tanpa tau apa-apa.”
Topan menelan ludah.
“Aku mau jelasin. Tapi bukan di sini.”
Rina mendengus.
“Lagi-lagi ‘tempat aman’?”
Topan mengangguk.
“Iya.”
Harlia menatap wajahnya lama.
“Kalau aku ikut,” katanya, “nggak ada lagi rahasia?”
Topan ragu sebentar. Lalu mengangguk pelan.
“Nggak ada.”
Harlia menoleh ke Rina. Rina menghela napas.
“Gue nggak suka ini.”
“Aku juga,” jawab Harlia.
Topan melangkah mundur satu langkah.
“Aku tunggu jawaban kamu.”
Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Harlia menatap Topan. Lelaki yang membuatnya ingin menikah. Lelaki yang tidak pernah benar-benar ia kenal.
Ia melangkah maju.
Dan dengan suara pelan tapi tegas, Harlia berkata, “Aku ikut. Tapi kalau sekali aja kamu bohong lagi… aku yang pergi.”
Topan menatapnya. Wajahnya campuran lega dan takut.
“Deal,” katanya.
Dan saat Harlia melangkah ke arahnya, ia tidak tahu. Apakah ia sedang mendekati masa depan atau lubang yang lebih dalam.