Drama #Humor #Baper

ROMANTIS RASA KRIMINAL

08 January 2026

Harlia tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan sampai di titik ini.

Berdiri di trotoar malam hari, menatap punggung Topan yang berjalan santai menuju mobilnya yang ternyata diparkir JAUH BANGET dari kantor.

“Pan,” Harlia menyusul dengan napas agak ngos-ngosan, “kenapa mobil kamu parkirnya kayak lagi sembunyi dari polisi?”

Topan tertawa kecil.

“Biar aman.”

“Aman dari apa?”

Harlia refleks bertanya.

Topan berhenti sebentar, menoleh.

“Dari tukang parkir.”

Harlia menghela napas lega.

“Kirain dari intel.”

Mereka masuk ke mobil. Begitu pintu ditutup dan mesin menyala, barulah Harlia sadar....

Ini cuma aku dan dia.

Di mobil. Malam hari. Dan… menuju entah ke mana.

Mobil melaju keluar kota. Lampu jalan makin jarang. Gedung berganti pepohonan. Suasana makin gelap.

Harlia mulai gelisah.

“Pan,” katanya pelan.

“Hm?”

“Kita mau ke mana?”

Topan fokus menyetir.

“Sebentar lagi sampai.”

“Sebentar itu definisinya berapa menit?”

“Relatif.”

Harlia menelan ludah.

Dalam kepalanya mulai bermunculan potongan berita: Wanita ditemukan di bukit… Korban terakhir terlihat bersama pria… Motif belum diketahui…

Tangannya mencengkeram tas.

“Pan,” suaranya naik setengah oktaf, “kalau ini prank, aku nggak lucu ya orangnya.”

Topan tertawa.

“Tenang.”

“Tenang gimana?” Harlia melirik jendela. “Ini gelap. Sepi. Kayak lokasi syuting sinetron azab.”

Mobil akhirnya berhenti. Di sebuah bukit kecil, dengan pemandangan kota dari kejauhan. Lampu-lampu kota berkelip seperti taburan bintang jatuh yang capek.

Topan mematikan mesin.

Sunyi.

Harlia menelan ludah lagi.

“Pan…”

Topan menoleh.

“Iya?”

“Kalau aku teriak, ada sinyal nggak?”

Topan tertawa keras.

“Kamu kenapa, sih?”

“AKU TAKUT,” jawab Harlia jujur. “Ini settingannya serem.”

Topan membuka pintu, turun dari mobil.

“Keluar dulu.”

Harlia mematung.

“Keluar?”

“Iya.”

“Kamu duluan, aku di sini aja.”

Topan menggeleng sambil tersenyum.

“Ayo.”

Dengan langkah ragu, Harlia ikut turun.

Angin malam dingin. Langit gelap. Bulan tampak setengah. Harlia memeluk diri sendiri.

Topan berdiri di depannya.

“Harlia,” kata Topan pelan.

Harlia refleks memejamkan mata.

“Kalau mau bunuh aku, jangan di sini ya. Aku berat, susah dibuang.”

Topan terdiam dua detik. Lalu… tertawa sampai menunduk.

“Kamu ini,” katanya sambil mengusap wajah, “nggak ada niat bikin romantis sedikit?”

“Romantis gimana, PAN. AKU UDAH NYIAPIN PESAN TERAKHIR DALAM KEPALA.”

Topan menarik napas panjang. Lalu berkata pelan tapi jelas.

“Mahar tiga miliar itu… sudah ada.”

Harlia membuka mata.

“Apa?!!”

Topan menatapnya serius.

“Tiga miliar. Lengkap.”

Angin berhenti. Harlia berkedip.

“Kamu… kamu ngomong apa?”

“Aku ngomong mahar.”

Harlia mundur selangkah.

“Jangan bercanda.”

Topan mendekat.

“Aku nggak bercanda.”

Harlia terdiam. Lalu tiba-tiba—

“AAAAAAAAA!!!”

Ia melompat kecil, lalu bingung sendiri.

“Har!” Topan refleks meraih lengannya. “Kenapa?!”

“Aku mau lompat tapi nggak tau lompat ke mana!”

Harlia berputar-putar.

“Aku shock! Ini shock versi orang gemuk!”

Topan tertawa sekaligus panik.

“Tenang dulu.”

“INI TIGA MILIAR, PAN!”

Topan mengangguk.

“Aku tau.”

“KAMU ABIS NGERAMPOK BANK?”

Topan terkekeh.

“Nggak.”

“JUAL ORGAN?”

“Masih lengkap.”

Harlia memegangi kepalanya.

“Aku mimpi, ya?”

Topan memegang kedua bahunya.

“Harlia.”

“Iya?”

“Aku mau melamar kamu. Resmi.”

Harlia membeku.

“Dengan orangtuaku,” lanjut Topan. “Datang ke rumah kamu.”

Mata Harlia berkaca-kaca.

“Serius?”

Topan mengangguk.

“Serius.”

Harlia tertawa kecil.

“Aku… aku akhirnya nikah?”

Topan tersenyum.

“Kalau kamu mau.”

Harlia mengangguk cepat.

“Mau. Mau banget. Mau sampai ngos-ngosan.”

Topan tertawa.

Namun malam itu, euforia Harlia terlalu keras untuk tubuhnya. Keesokan harinya—

“BU, AKU PANAS!”

Ibu Harlia panik. Harlia tergeletak di kasur, wajah merah, keringat dingin.

“Ini pasti masuk angin!” seru ibu Harlia sambil mengompres.

Ayah Harlia mengelus jidatnya.

“Demam.”

Harlia mengigau.

“Pan… mahar… tiga… akhirnya…”

Ibu Harlia melotot.

“APA?”

“AKU NIKAH BU,” Harlia mengigau keras. “AKHIRNYA AKU LAKU.”

Ibu Harlia memukul bantal.

“Ya Allah ini anak kebahagiaan atau kesurupan?!”

Tiga hari.

TIGA HARI.

Harlia demam.

Setiap igauannya sama.

“Bu… aku nikah…” “Pan jangan ilang…” “Tiga miliar bukan mimpi…”

Ibu Harlia cerewet luar biasa.

“Makanya jangan kebanyakan drama!” “Belum nikah udah tumbang!” “Emang dasar martabak emosi!”

Tapi setiap pagi, ibu Harlia juga yang:

– Masakin bubur – Nyiapin obat – Ganti kompres

Sambil ngomel.

“Nyusahin!” “Tapi ya udah…” “Anak sendiri…”

Di hari keempat, demam Harlia turun. Ia membuka mata.

“Ibu…”

Ibu Harlia menoleh.

“Sadar juga.”

“Bu…”

“Apa?!”

“Aku beneran nikah nggak?”

Ibu Harlia terdiam. Lalu mendengus.

“Kalau cowok itu nggak kabur, iya.”

Harlia tersenyum lemah. Dan di luar kamar, ayah Harlia berkata pelan,

“Kayaknya… cerita mereka belum selesai.”

Karena kebahagiaan Harlia baru saja mulai dan seperti biasa, hidup tidak pernah memberi hadiah tanpa kejutan berikutnya.

Pagi itu rumah Harlia terasa sedikit lebih ramai dari biasanya. Bukan karena tamu banyak, melainkan karena ibu Harlia sejak subuh sudah ribut sendiri.

“Demam turun itu bukan berarti sembuh!” “Masih lemes!” “Jangan kebanyakan senyum, nanti naik lagi panasnya!”

Harlia yang sedang duduk di ruang tamu, berselimut tipis, hanya bisa mengangguk patuh seperti pasien rawat inap yang tak berdaya. Padahal, jujur saja, badannya memang sudah mendingan. Yang belum sembuh cuma satu, deg-degan berlebihan.

Karena pagi itu…

Topan akan datang. Dan sesuai tradisi tidak tertulis di rumah Harlia, kedatangan Topan sama dengan sidang terbuka.

Belum lama Harlia memikirkan itu, suara mobil berhenti di depan rumah.

Tok.

Tok.

Tok.

“Ibu!” Harlia refleks memanggil. “Kayaknya… itu Topan.”

Ibu Harlia menyahut dari dapur, suaranya galak tapi penuh persiapan.

“Suruh masuk! Biar cepet!”

Harlia menelan ludah.

Pintu dibuka.

Topan berdiri dengan senyum sopan, membawa buah dan satu kantong plastik berisi susu kotak.

“Assalamualaikum.”

Ayah Harlia yang sudah duduk rapi di kursi tamu menjawab duluan.

“Waalaikumsalam. Silakan masuk, Pan.”

Topan masuk.

Ibu Harlia muncul dari dapur, menyeka tangan di celemek.

“Oh, kamu,” katanya datar. “Datang juga.”

Topan tersenyum lebar.

“Iya, Bu. Mau jenguk Harlia.”

Ibu Harlia melirik Harlia.

“Dijenguk, tapi yang bikin sakit siapa, coba?”

Harlia langsung menunduk.

“Bu…”

Topan refleks mengangkat tangan.

“Saya salah, Bu.”

Ayah Harlia mengangkat telapak tangan.

“Baik. Kita duduk dulu.”

Semua duduk. Harlia di ujung sofa, wajahnya memerah bukan karna demam, tapi karena malu.

Topan duduk tegap. Ayah Harlia bersandar santai. Ibu Harlia… bersiap menyerang.

Ayah Harlia membuka pembicaraan dengan nada lembut.

“Pan, Harlia bilang kamu sudah memastikan soal mahar.”

Topan mengangguk.

“Iya, Pak.”

Ibu Harlia menyela cepat.

“Katanya tiga miliar?”

Topan tersenyum.

“Iya, Bu.”

Ibu Harlia mendengus.

“Tiga miliar itu angka gede, ya. Jangan asal nyebut.”

Topan mengangguk tenang.

“Saya paham.”

Ayah Harlia menatap Topan.

“Kami orang tua cuma ingin kepastian. Bukan mau menekan.”

Topan mencondongkan badan sedikit.

“Saya mengerti, Pak.”

Harlia meremas ujung selimutnya. Ibu Harlia menyilangkan tangan.

“Terus mana? Jangan bilang cuma janji.”

Topan tersenyum, senyum yang membuat Harlia ingin menutup muka pakai bantal.

“Mahar itu ada, Bu.”

“Katanya,” ibu Harlia menimpali cepat.

“Tapi,” lanjut Topan, “saya memang tidak akan memperlihatkannya sekarang.”

Ibu Harlia tertawa kecil, nyaring.

“Nah, kan.”

Harlia langsung ingin tenggelam. Topan melanjutkan tanpa gugup.

“Mahar itu hanya akan diperlihatkan saat akad nikah.”

Sunyi.

Ayah Harlia mengangguk pelan.

“Itu sebenarnya wajar.”

Ibu Harlia mendengus lagi.

“Wajar buat siapa? Buat orang yang ngibul juga wajar.”

“Bu!” Harlia protes pelan.

Topan tetap tenang.

“Saya bukan tidak mau transparan, Bu. Tapi saya ingin menjaga adab.”

Ibu Harlia menaikkan alis.

“Adab atau alibi?”

Topan tertawa kecil.

“Adab.”

Ayah Harlia tersenyum tipis.

“Lanjutkan, Pan.”

Topan mengangguk.

“Minggu depan saya akan datang melamar Harlia secara resmi.”

Harlia terkejut.

“Minggu depan?”

Topan menoleh, tersenyum.

“Iya.”

Harlia kembali menunduk, pipinya panas.

“Saya akan membawa kedua orang tua saya,” lanjut Topan, “dan seserahan lamaran seperti pada umumnya.”

Ibu Harlia mencibir.

“Seperti pada umumnya itu luas, lho.”

Topan mengangguk.

“Karena itu saya mau bertanya langsung.”

Ia menoleh ke ibu Harlia dengan sopan.

“Kalau ibu ada permintaan khusus untuk seserahan, silakan bilang.”

Harlia refleks mendongak. Ayah Harlia juga menatap istrinya. Ibu Harlia terdiam dua detik. Lalu tertawa kecil, sinis.

“Permintaan?” katanya. “Emangnya kamu sanggup?”

Harlia ingin menutup telinga. Topan mengangguk mantap.

“Saya akan mengupayakan semampu saya, Bu.”

Ibu Harlia menyeringai.

“Coba sebutin dulu kemampuanmu.”

Topan berpikir sejenak.

“Yang wajar saja, Bu. Bukan yang memberatkan.”

Ibu Harlia mencondongkan badan.

“Kalau saya minta… emas sepuluh kilo?”

Harlia tersedak udara.

“BU!”

Topan mengangguk pelan.

“Baik, Bu.”

Harlia melotot.

“PAN?!”

Topan menoleh ke Harlia, tersenyum kecil.

“Tenang.”

Ibu Harlia terkekeh.

“Serius kamu?”

Topan mengangguk.

“Kalau itu keinginan ibu.”

Ibu Harlia menyipitkan mata.

“Terus kalau saya minta rumah?”

Topan tidak langsung menjawab. Ia berpikir sebentar.

“Rumah atas nama siapa, Bu?”

Ibu Harlia terdiam.

“Hah?”

“Kalau atas nama Harlia,” lanjut Topan, “itu bukan seserahan. Itu kewajiban suami.”

Harlia membeku. Ayah Harlia tersenyum lebar. Ibu Harlia terdiam lebih lama.

Topan menambahkan dengan tenang, “Kalau atas nama ibu… nanti dibicarakan.”

Harlia menutup mulut, menahan tawa dan haru.

Ibu Harlia menghela napas, lalu berkata, “Kamu ini… banyak omong.”

Topan tersenyum.

“Iya, Bu.”

Ayah Harlia tertawa kecil.

“Kayaknya cukup, Bu.”

Ibu Harlia mendecak.

“Halah.”

Ia menoleh ke Harlia.

“Dasar anak… dapat orang kayak gini.”

Harlia menunduk.

“Maaf, Bu.”

Ibu Harlia berdiri.

“Ya udah.”

Semua menoleh.

“Kalau memang minggu depan mau melamar,” lanjut ibu Harlia, “datang yang bener.”

Topan ikut berdiri.

“Insyaallah, Bu.”

Ibu Harlia melangkah pergi ke dapur, lalu berkata sambil membelakangi mereka,

“Dan jangan bikin anak saya demam lagi!”

Topan tersenyum.

“Siap, Bu.”

Harlia menatap punggung ibunya.

Ayah Harlia menepuk pundak Topan.

“Kamu lolos lagi, Nak.”

Topan tertawa kecil.

“Alhamdulillah.”

Dan untuk pertama kalinya, ibu Harlia tidak punya bantahan. Ia kalah telak.