Dinikahi Paman Mantan - Rumah Agam - Bab 8

Penulis Nuvola
27 September 2025

Lily mengusap matanya, mencoba menghilangkan kabut tidur yang masih menyelimutinya. Dia memandangi sekeliling kamar yang tampak begitu nyaman dan terawat. Semuanya tampak begitu asing, perlahan memori dari beberapa jam yang lalu mulai merangkak kembali ke dalam kesadarannya—dia tertidur di mobil Agam saat mereka dalam perjalanan pulang.

Detik berikutnya, suara geseran pakaian dari walk in closet menarik perhatian Lily. Pintu itu terbuka dan Agam muncul dengan setelan jas yang sempurna, mencerminkan sosoknya yang selalu rapi dan teratur. Lily masih duduk terpaku di tepi tempat tidur, matanya tak lepas dari sosok Agam yang kini mengatur dasinya di depan cermin.

"Hari ini aku akan ke kantor, tapi tenang saja kamu aman berada disini. Rafael atau keluarganya itu nggak aku izinin kesini,” suara Agam yang dalam itu seakan memecah keheningan pagi, menghangatkan suasana kamar yang dingin oleh AC.

Lily hanya mengangguk, matanya masih sedikit sayu, mencoba menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa dia kini berada di kamar suaminya. Ada sedikit kekakuan di udara, sebuah jarak yang tak terlihat namun terasa.

“Aku akan ke kantor juga hari ini,” ucap Lily membuat Agam menoleh ke arahnya.

“Kamu hari ini istirahat aja, ayah nanti juga akan kesini. Dia menghubungiku karena kamu nggak jawab teleponnya.”

“Untuk apa dia kesini?”

“Memangnya ada alasan untuk seorang ayah bertemu putrinya?”

Lily tidak lagi bersuara dia lalu meraih ponselnya, sejak semalam dia memang mengabaikan pesan ataupun telepon dari sang ayah. Dia sengaja melakukan itu karena malas mendengar permintaan ayahnya lagi. Lily merasa jika ayahnya akan mencari dirinya jika membutuhkan sesuatu, seperti saat dia dijodohkan dengan Rafael atau saat dia dijodohkan dengan Agam.

“Ini untukmu,” ucap Agam membuyarkan lamunan Lily.

Sebuah kartu berwarna hitam Agam sodorkan ke arah Lily membuat Lily menatap Agam. Tatapannya seolah meminta penjelasan kepada Agam. “Kita sudah menikah jadi semua yang kamu butuhkan akan aku penuhi.”

“Aku nggak minta tapi karena Om maksa jadi aku terima black cardnya,” ucap Lily dengan mata berbinar.

“Aku telah memberikan nafkah lahir untuk nafkah batin kita bisa melakukannya nanti malam,” ucap Agam yang kemudian mengedipkan satu matanya.

Lily terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang Agam katakan. “Yak!” teriak Lily yang mengerti apa yang Agam maksud.

“Kenapa kamu terkejut? Bukannya kamu yang menginginkannya?” ucap Agam membuat Lily menaikan satu alisnya.

“Nggak!”

“Bukannya kamu nuduh aku gay hanya untuk memberi kode jika kamu ingin aku sentuh?” Agam mencondongkan tubuhnya ke arah Lily membuat Lily menahan nafas karena posisi wajah mereka begitu dekat.

“A-ku hanya bercanda,” ucap Lily terbata. “Lagipula kita nggak punya perasaan, nggak mungkin melakukannya.”

“Oh iya perasaanmu masih untuk Rafael.” Setelah mengatakan itu Agam membenarkan posisi berdirinya.

“Nggak!”

“Lalu?”

“Jangan menyebut pria sialan itu lagi,” gerutu Lily yang bangkit dari tempat tidur. Lily berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi. Dia memilih mandi daripada membahas sesuatu yang membuat jantung Lily berdetak dengan kencang.

Saat Lily selesai mandi, dia tidak melihat batang hidung Agam disana. Lily lalu menuju walk in closet mencari koper miliknya, namun saat Lily masuk ke sana terlihat lemari yang penuh dengan pakaian perempuan. Lily juga melihat beberapa pakaiannya sudah tertata disana. Dan banyak pakaian perempuan yang bukan miliknya.

Lily mengambil salah satu gaun dan melihat ukurannya. “Apa dia menyiapkan ini semua untukku?” gumam Lily yang melihat jika ukurannya sesuai dengan miliknya.

“Tapi kok dia tahu ukuranku?” sambung Lily yang merasa bingung. “Seleranya bagus juga,” tanpa sadar Lily memuji Agam.

Dia lalu memilih memakai atasan berwarna hitam dengan rok cream yang panjangnya diatas lutut.

Perutnya yang terasa lapar membuat Lily memilih keluar dari kamar untuk makan. Dia berencana untuk masak. Namun, saat keluar dari kamar dia dikejutkan dengan keberadaan pria berbadan besar yang berjaga di depan kamar.

“Selamat pagi, Nyonya Lily,” sapa pria itu dengan sopan. “Perkenalkan saya Bagas, yang ditugaskan untuk menjaga Anda selama Tuan tidak dirumah.”

“Hah? Menjaga?”

“Benar Nyonya.”

“Tapi sepertinya aku tidak perlu dijaga,” gumam Lily yang melangkah pergi. “Kamu kenapa mengikutiku?”

“Saya akan berada di belakang Anda dengan jarak dua meter.”

“Tidak perlu! Lagipula aku hanya ingin turun untuk makan.”

“Kalau begitu saya antar, Nyonya. Anda belum mengenal letak rumah ini, bukan?” Lily berpikir sejenak lalu menganggukkan kepalanya.

Bagas membawa Lily masuk ke dalam lift, saat berada di lift. Lily baru menyadari jika kamar mereka terletak di lantai tiga. Pintu lift terbuka saat mereka sampai di lantai satu.

“Selamat pagi, Nyonya Lily. Saya Yuli, maid di rumah ini,” sapa seorang perempuan dengan tersenyum sopan. Lily pun membalas senyumnya.

Lily melihat meja makan yang penuh dengan makanan, dia pun langsung duduk setelah Yuli menarikan kursi untuknya. Lily duduk di kursi ruang makan yang terbuat dari kayu jati pilihan.

Cahaya matahari pagi yang menerobos melalui jendela kaca membuat suasana menjadi lebih hangat. Dengan sepiring nasi goreng di hadapannya, Lily menyantap sarapan dengan lahap namun penuh keanggunan. Setiap suapan terasa begitu nikmat, tidak seperti saat dia masih tinggal bersama ayah dan ibu tirinya yang kerap kali membuatnya kehilangan selera makan.

Kini, di rumah Agam, Lily bisa menikmati sarapannya. Tidak ada lagi suara dengusan sinis atau bisikan-bisikan yang mengganggu pikirannya. Dia bisa mendengar hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.

Selesai makan Lily pun langsung bangkit dari duduknya dia berencana berkeliling rumah itu. Namun, Bagas mendekat ke arahnya.

“Nyonya, Tuan Agung datang mencari Anda,” ucap Bagas. “Mari saya antar, Nyonya.”

Kira menganggukkan kepalanya dia lalu mengikuti langkah Bagas menuju ke ruang tamu. Saat masuk ke ruang tamu terlihat Agung berdiri membelakangi dirinya, ayahnya itu tengah mengamati furniture rumah Agam.

“Ada apa ayah kesini?” tanya Lily yang duduk di sofa.

“Bagaimana keadaan kamu Lily? Ayah khawatir saat mendengar kabar semalam.”

“Seperti yang ayah lihat, aku baik-baik saja,” jawab Lily.

“Syukurlah, ayah senang kamu baik-baik saja. Ayah pun senang kamu nggam jadi menikah dengan Rafael.”

“Bagaimana keadaan calon cucu ayah? Dia juga akan jadi penerus ayah, bukan? Saat ini pasti ayah sangat senang karena anak kesayangan ayah akan melahirkan pewaris.”

Agung menatap wajah Lily, terlihat jika anak gadisnya itu tidak baik-baik saja.

“Maafkan ayah karena mengabaikanmu selama ini, tapi ayah benar-benar menyayangi kamu.”

“Sejak dulu juga ayah mengatakan itu, ayah menyayangi Lily tapi ayah kasihan dengan Emma yang sejak kecil hidup tanpa sosok ayah di sampingnya. Tapi ayah tidak menyadari jika putri kandung ayah mulai kehilangan sosok ayahnya.”

“Maaf Lily, ayah sadar jika ayah salah.”

“Semuanya sudah terlambat ayah, sekarang aku sudah menikah dan keluar dari rumah itu. Istri ayah pasti sangat senang.”

“Lily…”

“Maaf aku lelah ayah, mau istirahat,” ucap Lily yang bangkit dari tempat duduknya meninggalkan ayahnya begitu saja.