bold text
Pagi hari setelah festival, PT Aruna Creativa terasa seperti sarang lebah yang baru diguncang. Orang-orang berlarian, saling berteriak, saling menunjukkan layar ponsel masing-masing. Timeline Instagram dipenuhi unggahan ulang video TMII versi Rani. Twitter atau X tak berhenti menampilkan hashtag yang terus naik. TikTok pun dibanjiri reaksi-reaksi penuh air mata dan kebanggaan.
Di seluruh ruangan, satu kalimat yang sama terus terdengar:
“Ini gila! Videonya trending nomor satu!” “Ini konsep siapa? Kenapa kita nggak pilih versi ini dari awal?!” “Aku bilang juga apa, TMII tuh budaya, bukan joget!” “Kemarin kita semua nyuruh Rani ulang, ya? Ya Tuhan.”
Dan dalam hitungan jam, kantor yang kemarin meremehkan Rani, hari ini ketakutan, malu, kagum dan seratus persen kebingungan.
Sementara itu, Rani baru saja sampai di depan gedung, menatap logo Aruna Creativa dengan napas panjang. Rasanya surreal. Beberapa hari lalu ia hampir dipecat, hampir dicap pembangkang, hampir kehilangan pekerjaannya karena mempertahankan prinsip dan hari ini?
Ia dipanggil kembali dengan nada mendesak. Bukan untuk ditegur, tapi untuk dibahas sebagai aset berharga perusahaan.
Ironi yang sangat sinematik.
“Aku nggak percaya ini terjadi,” gumam Rani sambil menahan senyum haru.
Ia masuk ke dalam kantor. Suasana yang biasanya datar kini terasa seperti redaksi berita di jam sibuk.
Begitu ia lewat, banyak orang spontan berhenti.
“Eh, itu Rani!” “Rani, makasih ya, sumpah videonya bikin aku nangis.” “Kamu hebat banget.” “Kami minta maaf kalau kemarin ya, kamu tahu lah.”
Rani tersenyum sopan. Tidak ada dendam. Yang ada hanya kelegaan, tapi ia tetap harus menghadapi satu ruangan, ruang rapat besar di lantai tujuh.
Tempat semuanya dimulai.
Tempat ia hampir kehilangan kariernya.
Begitu pintu ruang rapat terbuka, semua atasan Aruna Creativa sudah duduk rapi. Pak Dimas sebagai Creative Director, Bu Natasya Head of Strategic dan beberapa senior lainnya.
Mereka.. berdiri.
Berdiri untuk menyambut Rani.
Rani sampai membeku. “Eh, saya terlambat ya?”
“Tidak, tidak! Kamu tepat waktu,” kata Pak Dimas buru-buru, seolah takut membuat Rani salah paham.
Rani duduk perlahan. Suasananya seperti sidang perdamaian, tapi yang bersalah justru mereka.
Pak Dimas membuka rapat dengan wajah kaku sekaligus canggung.
“Rani, pertama-tama, kami ingin meminta maaf. Atas apa yang terjadi beberapa hari lalu.”
Rani mengangguk pelan. “Tidak apa-apa, Pak.”
“Ten-tentu saja itu apa-apa,” potong Bu Natasya cepat. “Kamu menyampaikan konsep yang benar, riset yang kuat, dan sense of culture yang sangat pas, tapi kami malah memaksamu mengikuti tren.” Ia menutup wajah dengan tangan. “Dan lebih bodohnya, tren itu bahkan tidak ada hubungannya dengan TMII.”
Senior-senior lain mengangguk. Ada yang malu sampai wajahnya merah.
Pak Dimas kemudian menatap Rani dengan sungguh-sungguh.
“Kami menonton reaksi publik semalam dan kami semua sepakat bahwa visi kamu jauh lebih tepat dari semua strategi yang kami buat.”
Rani menggigit bibir. Ada rasa lega, tapi juga getir.
Pak Dimas menambahkan, “Versi kamu membuat orang merasakan budaya. Bukan hanya menonton.” Ia mengetuk meja pelan. “Ini yang tidak kami sadari.”
Bu Natasya melanjutkan dengan nada lebih emosional. “Kamu memberi kami tamparan halus dan jujur, kami butuh tamparan itu.”
Rani menghela napas. Ia tidak ingin mempermalukan mereka. Ia hanya ingin diakui bahwa konten budaya harus punya jiwa, bukan sekadar tren.
“Terima kasih, Pak, Bu. Saya hanya berusaha jujur sama apa yang seharusnya TMII tampilkan.”
“Kamu benar,” sahut Pak Alvin. “Dan sebagai bentuk penghargaan, kami ingin menawarkan sesuatu.”
Rani langsung menegang. Seisi ruangan saling pandang, sebelum Bu Natasya membuka map biru.
“Mulai bulan depan atau bahkan bisa mulai minggu ini, kami ingin mempromosikan kamu sebagai Creative Lead untuk rangkaian kampanye budaya berikutnya.”
Rani mengedip beberapa kali. Ia memastikan ia tidak salah dengar.
“Creative Lead?” suaranya hampir hilang.
“Ya,” kata Pak Dimas mantap. “Kamu akan memimpin creative direction. Tim, style, konsep storytelling, semuanya. Kamu tidak lagi hanya editor. Kamu penentu arah.”
Rani terdiam. Tangannya bergetar pelan di atas meja. Ini posisi yang biasanya baru didapat orang setelah bertahun-tahun bekerja, setelah proyek demi proyek, setelah membuktikan diri berkali-kali dan ia mendapatkannya karena mempertahankan integritas satu konten.
Salah satu senior menambahkan dengan tawa canggung.
“Untuk pertama kalinya, kami dikalahkan oleh anak baru.”
Semua tertawa kecil.
Rani menunduk, mencoba menahan air mata haru yang menggenang.
Lalu ia perlahan bicara.
“Saya terima, tapi saya punya satu syarat.”
Ruangan langsung hening.
Pak Dimas bertanya, “Syarat apa?"
Rani menarik napas dalam-dalam. Bukan untuk menantang, tapi untuk memastikan ia tidak kembali kehilangan visi yang sudah ia perjuangkan.
“Saya ingin kebebasan kreatif penuh dalam proyek budaya. Saya ingin bisa riset langsung ke masyarakat. Saya ingin bisa menolak ide yang merusak esensi budaya dan saya ingin tim saya diberi ruang untuk berkarya tanpa harus mengejar tren yang memaksa.”
Ruangan terdiam selama tiga detik.
Lalu Bu Natasya menepuk meja.
“Setuju.”
Pak Dimas mengangguk. “Setuju. Tanpa syarat tambahan.”
Rani sampai terperangah. “Serius, Pak?”
“Kami tidak akan mengulang kesalahan yang sama,” jawabnya tulus. “Kamu sudah membuktikan bahwa kreativitas tidak boleh ditekan. Terutama saat menyangkut budaya.”
Saat itu juga, seluruh beban yang Rani pikul selama berminggu-minggu, runtuh.
Satu per satu senior mengulurkan tangan.
“Selamat ya, Rani.”
“Kami bangga sama kamu.”
“Kamu mengingatkan kami bahwa kultur itu bukan dekorasi.”
Rani menyalami mereka sambil menelan gumpalan haru di tenggorokannya.
Tak lama, pintu ruang rapat diketuk. Seorang staf masuk terburu-buru.
“Maaf, semuanya, tapi ada tamu yang ingin bertemu Rani.”
Rani mengerutkan kening. “Siapa?”
Staf itu tersenyum malu-malu.
“Dia nggak bilang namanya, tapu dia bilang begini. ‘Bilang sama Rani, musisi favoritnya datang buat kasih selamat.’”
Ruangan itu mendadak ribut kecil.
Rani langsung memerah.
Pak Dimas mengangkat alis. “Musisi favorit? Wah, hebat juga kamu, Rani. Punya penggemar rahasia.”
Rani hampir menutup wajah dengan map. Ia tahu pasti siapa itu.
Bagas.
Bagas yang kemarin menatap karyanya seperti itu. Bagas yang turun panggung hanya untuk menghampirinya. Bagas yang bilang budaya harus mereka jaga bersama.
Hatinya langsung berdebar kacau.
“A-aku turun dulu ya, Pak.”
“Silakan!” “Kasih salam hormat dari kami!” “Siapa tahu dia mau bikin kolaborasi budaya!”
Suara mereka bercampur aduk, menggoda, geli.
Rani keluar dari ruangan dengan langkah gugup, jantung meledak-ledak, wajah panas dan di ujung lorong berdiri seorang laki-laki dengan hoodie hitam, masker turun dan senyum yang hanya muncul ketika ia melihat Rani.
“Selamat untuk jabatan barumu, Lead.”
Suara Bagas lembut, rendah dan hangat.
Rani hampir meleleh.
“A-aku belum siap ketemu kamu.”
“Sayangnya, aku sudah siap dari tadi,” jawab Bagas sambil tertawa kecil dan di tengah lorong kantor Aruna Creativa yang sibuk, mereka berdua berdiri dalam jarak hanya beberapa langkah.
Dua insan yang tidak menyangka video budaya bisa mempertemukan mereka sejauh ini.