bold text
Pagi itu, udara di halaman rumah keluarga Bagas terasa segar, meskipun Rani sudah merasa gugup sejak turun dari mobil. Rumah itu besar, berarsitektur Joglo modern dengan sentuhan kayu jati yang hangat. Aroma kopi dan kayu bakar dari dapur samping tercium samar.
Bagas menggenggam tangan Rani, lembut tapi mantap. “Tenang. Ayahku bukan tipe yang menakutkan,” katanya.
“Kamu bilang gitu supaya aku nggak lari kan?” Rani mengerutkan alis.
“Kalau kamu lari, aku kejar kok.”
Rani memutar bola mata. “Dasar.”
Mereka berjalan masuk. Di ruang tengah, seorang pria berusia sekitar enam puluhan berdiri sambil memegang buku besar. Rambutnya sudah memutih, tetapi sorot matanya tajam dan hangat. Di sampingnya, ada seorang perempuan dengan senyum lembut. Ibu Bagas.
“Ayah,” panggil Bagas. “Ini Rani.”
Rani menunduk sopan. “Selamat pagi, Pak. Ibu.”
Ayah Bagas. Pak Surya menatap Rani lama, seakan sedang menilai bukan hanya orangnya, tapi juga jiwa di balik matanya.
“Kamu Rani,” gumam Pak Surya pelan. “Yang bikin video TMII itu?”
Rani mengangguk, gugup. “Iya, Pak. Semoga tidak mengecewakan.”
Pak Surya tersenyum sangat pelan. “Tidak. Sama sekali tidak. Video itu mengingatkan saya pada masa muda.”
Rani tiba-tiba merasakan sesuatu mengganjal di dadanya. Ada kesan aneh di tatapan Pak Surya, bukan hanya kagum, tapi seperti mengenali sesuatu.
Mereka dipersilakan duduk. Percakapan mengalir hangat. Tentang budaya, seni, sejarah TMII dan bagaimana video itu menggerakkan kembali rasa cinta masyarakat pada warisan bangsa, tapi semakin lama Pak Surya berbicara, semakin sering ia memandangi Rani dengan ekspresi yang sulit dibaca. Bukan curiga, lebih seperti mencoba mengingat sesuatu.
Akhirnya, ia bertanya pelan, hati-hati.
“Rani, nama lengkapmu siapa?”
Rani tertegun sebentar. “Rani Ayunda Pramayasa, Pak.”
Pak Surya langsung membeku.
Ibu Bagas menoleh. “Pak?”
Wajah Pak Surya berubah menjadi kaget, lalu dipenuhi emosi yang sulit ditahan. Ia menatap Rani seolah baru disambar kilat.
“Kamu bilang, Pramayasa?”
Rani mengangguk bingung. “Iya, Pak.”
Pak Surya menutup mata, menarik napas dalam, lalu meletakkan buku di pangkuannya.
“Ayahmu namanya Ardi Pramayasa?”
Hati Rani mencelos. “I-iya, Pak. Dari mana Bapak tahu?”
Bagas spontan memegang lengan Rani, mendukungnya.
Pak Surya tiba-tiba tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti seseorang yang tidak percaya pada keajaiban hidup. Matanya berkaca-kaca.
“Ya Tuhan! Ya Tuhan! Bagaimana mungkin dunia selucu ini?”
Rani tidak mengerti apa-apa. “Pak?”
Pak Surya menatapnya lama. “Ayahmu.Ardi itu, sahabat saya sejak sekolah. Kami tumbuh bersama. Belajar budaya bersama. Bahkan TMII adalah alasan kenapa kami sama-sama belajar antropologi dulu.”
Rani membeku, sekujur tubuhnya seperti dililit rasa haru yang tiba-tiba muncul tanpa peringatan.
“Ayah, sahabat Ayah Rani?” Bagas ikut terkejut.
Pak Surya mengangguk. “Sahabat dekat. Sangat dekat. Kami dulu bermimpi membuat ratusan karya tentang keberagaman Indonesia, tapi setelah menikah, hidup membawa kami ke jalan masing-masing. Kami sempat hilang kontak.”
Rani merasakan matanya panas. “Saya, saya belum pernah dengar cerita itu.”
“Karena kamu masih kecil sekali waktu Ayahmu mulai sakit,” jawab Pak Surya lembut. “Dan belakangan aku dengar kabar buruk itu.”
Rani menunduk. “Ayah dan Ibu, dua-duanya meninggal karena kanker, Pak.”
Suasana tiba-tiba hening. Hening yang lembut dan sangat menghormati.
Bagas meremas tangan Rani lebih erat.
Pak Surya menarik napas panjang, seperti mencoba menelan beratnya emosi yang naik ke dadanya.
“Ardi,” katanya perlahan. “Sahabatku yang paling keras kepala. Paling jenaka. Paling cinta budaya. Tuhan, aku bangga bisa bertemu anaknya hari ini.”
Rani tidak bisa menahan air matanya jatuh. Ia menutup mulutnya, tak percaya bahwa pertemuan ini ternyata jauh lebih bermakna daripada sekadar perkenalan keluarga.
Pak Surya maju mendekat. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Rani.
“Kamu harus tahu! Ayahmu itu orang baik dan melihat karya-karyamu, aku bisa merasakan dia hidup melalui dirimu.”
Rani menangis pelan, bukan sedih, tapi terharu, seperti menemukan potongan puzzle yang hilang dari hidupnya selama ini.
Bagas ikut menatap Rani, matanya penuh lembut, seolah ikut merasakan seluruh beban yang akhirnya menemukan tempat untuk diletakkan.
Pak Surya kemudian tersenyum.
“Saya rasa ini bukan kebetulan. Kamu dan Bagas ketemu di TMII, tempat yang dulu aku dan Ayahmu cintai sejak muda. Tempat cerita kami dimulai, tempat cerita kalian juga dimulai.”
Rani tidak bisa menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Bagas lebih erat, seolah meneguhkan bahwa semua yang terjadi ini bukan sekadar pertemuan yang biasa.
Ibu Bagas ikut menepuk bahu Rani. “Sayang, kamu sudah seperti anak sendiri di rumah ini.”
Bagas mendekatkan wajahnya ke Rani, berbisik pelan. “Kamu nggak sendirian, Ran.”
Rani menatapnya, matanya basah tapi tersenyum.
Setelah suasana sedikit lebih tenang, Pak Surya berdiri dan menuju lemari tua di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah album foto besar dengan sampulnya yang sudah lusuh.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu.”
Ia membuka halaman pertamanya.
Ada dua anak lelaki remaja dengan seragam SMA, tersenyum lebar, berdiri di depan gerbang TMII lama.
Yang satu persis Pak Surya muda. Yang satu lagi, Rani menahan napas. “Itu… Ayahku.”
Pak Surya mengangguk. “Dua bocah yang berjanji suatu hari nanti akan membuat orang Indonesia bangga pada budayanya.”
Rani menyentuh foto itu perlahan. Seakan ayahnya sedang berdiri di sampingnya.
Bagas melihatnya dengan mata berkaca-kaca. “Ran, ini kayak takdir.”
Pak Surya menutup albumnya.
“Rani,” katanya pelan, “aku mungkin terlambat meminta maaf karena tidak sempat menemui Ayahmu di hari terakhirnya, tapi kalau hari ini aku bisa melihat anaknya tumbuh menjadi perempuan sekuat kamu, aku merasa janji masa muda kami tidak sepenuhnya gagal.”
Rani terisak. “Pak, saya terhormat.”
Pak Surya tersenyum hangat. “Dan karena itu.” Ia menatap Bagas. “Aku merestui kalian.”
Bagas membelalakkan mata. “Ayah.”
“Ardi pasti senang kalau dia tahu anaknya bersama seseorang yang menghargai budaya dan menghargai hatinya.”
Rani tertegun. Bagas memegang pipinya, menghapus air matanya dengan ibu jari.
“Kamu dengar itu?” bisik Bagas. “Kita direstui.”
Rani tersenyum sambil menangis.
“Aku bahagia, Gas. Beneran.”
Bagas memeluknya, pelukan hangat, tulus dan meyakinkan.
Sore itu, sebelum pulang, mereka semua duduk di teras. Matahari pelan-pelan turun, mewarnai langit dengan jingga lembut yang mirip senja di Danau Arsipel.
Pak Surya bercerita tentang masa mudanya dengan Ayah Rani. Tentang bagaimana mereka memotret anjungan daerah dengan kamera analog murahan. Tentang bagaimana mereka menghafal nama tarian tradisional sambil makan bakso di bawah pohon. Tentang bagaimana budaya telah menjadi bahasa persahabatan mereka.
Rani mendengarkan dengan hati yang penuh. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama ia merasa dekat lagi dengan ayahnya dan ketika mereka berpamitan, Pak Surya menepuk pundak Rani.
“Datanglah lagi, Nak. Aku ingin menceritakan banyak hal lain tentang Ayahmu.”
Rani mengangguk, matanya kembali berkaca-kaca. “Saya pasti datang, Pak.”
Saat mereka berjalan keluar gerbang rumah, Rani berhenti sebentar dan menatap langit sore.
Bagas menggenggam tangannya. “Kamu oke?”
Rani mengangguk. “Aku cuma merasa hidupku akhirnya lengkap.”
Bagas tersenyum. “Dan kita baru mulai perjalanan ini.”
Rani menatapnya. “Terima kasih, sudah mempertemukan aku dengan masa lalu Ayahku.”
“Terima kasih juga, sudah mempertemukan aku dengan masa depanku.”
Rani meninju pelan bahu Bagas. “Ih, gombal.”
“Tapi kamu senyum.”
Rani menunduk, tertawa kecil. “Iya, aku senyum. Karena kamu.”
Mereka berjalan bergandengan, meninggalkan rumah yang bukan sekadar rumah, melainkan jembatan antara masa lalu dan masa depan dan Rani tahu cintanya dengan Bagas bukan hanya cerita romansa biasa. Ini adalah cerita dua keluarga. Dua sahabat yang terhubung kembali melalui generasi.
Cinta yang tumbuh dari budaya. Cinta yang menyatukan sejarah. Cinta yang akhirnya menemukan rumahnya.
Tamat.