Bab 21. Bertemu!

Penulis alend_
08 January 2026

Alice ingin melihat sendiri, secara langsung, wajah dari wanita yang dipilih oleh Noah. Pagi ini, dengan sengaja dia datang ke Kafe Lux, setalah semalaman tak tidur dengan lelap.

Di area depan, seorang gadis sedang bekerja dengan malas-malasan. Walau jaraknya cukup jauh, Alice masih tetap bisa melihat dengan jelas. Apalagi, gerakan dari wanita itu.

“Dasar perempuan pemalas. Sudahlah miskin, tapi kerja saja tidak becus,” ejek Alice. “Aku benar-benar membenci pemalas seperti itu!”

“Nona, apa kita pulang saja?”

“Tidak! Tunggu di sini dulu,” tolak Alice tegas. “Saya masih ingin menunggu perempuan itu.”

“Tapi, Nona, kita tidak tahu jadwal kerja wanita itu.”

Dhani benar, Alice mengakui itu. Namun, dia tidak peduli sama sekali. Dia hanya ingin melihat secara langsung wajah dari wanita itu. Dan ingin tahu secara pribadi, apa yang disukai Noah dari perempuan itu.

Tak ada jawaban dari Alice membuat Dhani hanya mengangguk pelan. Hingga satu ide terbersit dalam benaknya.

“Nona, bagaimana kalau saya tanyakan saja pada pegawai itu?” Alice menatap Dhani dengan sorot mata terkejut. Tak terpikirkan olehnya dengan ide itu.

“Ya, bawa dia ke sini. Saya yang akan tanya langsung.”

Dengan sigap, pemuda tampan dan gagah itu pun langsung keluar dari mobil dan berbicara dengan Cecilia yang sedang bekerja dengan malas-malasan.

Dari dalam mobil, Alice melihat Cecilia yang menatap Dhani dengan mata penuh kekaguman. Senyum Alice meremehkan perempuan itu.

“Ya, begitulah kalau perempuan tidak memiliki standar dalam hidupnya, yang penting berbadan bagus dan tampan, pasti akan mudah jatuh cinta.” Alice jelas-jelas menghina.

Alice tertawa. Dan tiba-tiba teringat kembali kepada Leona.

“Benar. Perempuan itu pun pasti sangat terpesona pada Noah, jadi dia dengan mudahnya mau menjadi simpanan Noah.”

Alice mengambil kesimpulan begitu cepat. Menganggap Leona sama seperti wanita pemalas dan wanita-wanita penggila kehormatan di luar sana.

Dua orang di luar sana berjalan mendekat ke arah mobil yang terparkir. Alice membuka sedikit kaca jendela saat keduanya sudah ada di depan pintu mobilnya.

“Nona,” panggil Dhani sambil sedikit membungkuk untuk memberikan hormat. Dari situlah, Cecilia tahu kalau yang ada di dalam mobil itu bukan wanita sembarangan.

“Kamu kenal siapa wanita yang dekat dengan Noah?” tanya Alice tanpa basa-basi. Cecilia merinding mendengar suara dingin dan datar wanita yang di dalam itu.

‘Pasti dia bukan dari keluarga sembarangan. Bisa saja salah satu dari Big Five,’ ucap Cecilia dalam hati.

“Kenal, Nona,” jawab Cecilia patuh dan hormat. Dia langsung mengambil sikap, seperti berhadapan dengan seorang Ratu saja.

“Seperti apa orangnya? Apa dia cantik?”

Pertanyaan Alice itu langsung membuat Cecilia tertawa terbahak-bahak sambil memegang perut.

“Cantik dari mananya? Dia itu hitam, dekil, tangannya sangat kasar. Tidak ada yang menarik dari perempuan itu, Nona.” Cecilia jelas-jelas menghina Leona. “Oh, iya, namanya Leona Iris. Bagus sih namanya, sayang sekali dia itu miskin dan yatim piatu. Sama sekali tidak layak untuk Tuan Muda Jasper.”

Alice tersenyum mendengar jawaban yang menghina itu. Terlalu spontan dan jelas menunjukkan rasa tidak suka perempuan di depannya ini kepada wanita dari Noah itu.

‘Wanita dari Noah? Apa dia pantas mendapatkan julukan itu?’ Dalam hati Alice mengingatkan diri sendiri.

“Dia tidak bekerja hari ini?” tanya Alice tak mau berlama-lama berbicara dengan wanita di luar sana.

“Kerja, Nona, nanti juga dia sampai.” Cecilia memeriksa jam tangan. “Setengah jam lagi jam kerjanya, mungkin dia akan sampai sekitar 10 menit lagi atau bisa lebih cepat.”

Alice mengeluarkan beberapa lembar uang dan memasukkan ke dalam amplop.

“Ah, Nona. Itu dia.” Suara Cecilia tiba-tiba mengalihkan perhatian Alice.

Cepat Alice menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Cecilia. Tanpa berpikir, dia pun membuka pintu mobil dan langsung keluar.

Dhani terkejut, tak menyangka dengan tindakan cepat Alice. Begitu juga dengan Cecilia.

Dia terpana menatap wanita yang berbicara dengannya tadi. “No-nona Silas?”

Semua wanita pasti tahu siapa itu Alice Silas. Sosoknya yang sukses membangun bisnis pribadi dianggap sudah berjaya, terutama di kalangan wanita. Banyak yang mengidolakan dan menjadikannya panutan. Juga mencapnya sebagai wanita terbaik sepanjang sejarah.

“Nona, A-anda?” Cecilia ingin berbicara banyak hal.

Tetapi, Alice mengabaikannya dan berjalan dengan langkah anggun menuju ke arah Leona.

“Leona Iris,” panggil Alice dengan suara sedikit kencang.

Leona yang sudah membuka pintu kafe dan hendak masuk pun menghentikan langkah dan menoleh.

Dari posisinya berdiri, seorang wanita anggun, cantik dan berwibawa berjalan dengan anggun dan sangat cantik ke arahnya. Seperti gerak lambat, Leona mengagumi wanita yang berjalan ke arahnya.

“Cantik sekali,” lirih Leona memuji.

Belum pernah dia bertemu atau melihat wanita seanggun ini. Dan kini, wanita itu berjalan ke arah dia. Memanggil namanya, seperti mereka sudah saling mengenal saja.

“Dia memanggilku, kan? Dia mengenalku? Siapa? Aku tidak pernah mengenal dia atau wanita dari keluarga terhormat.” Leona bergumam dan wajahnya pun sangat kebingungan. “Kecuali Karina, hanya dia wanita kaya yang kukenal. Tak ada lagi selain dia.”

Alice berdiri tepat di depan Leona.

“Ya, Nyonya. Ada perlu apa dengan saya?” tanya Leona.

Dia tak tahu siapa yang ada di depannya, jadi Leona hanya bersikap sopan saja.

Namun, lawan bicaranya justru merasa tersindir.

“Saya belum menikah!” ketus Alice ingin meledakkan mata.

“Maaf, Nona,” ucap Leona cepat dan merasa tidak enak.

Mata Alice menatap Leona dari atas ke bawah. Memindai setiap inchi bagian tubuh gadis miskin ini.

“Kau hitam sekali?” tanya Alice tanpa basa-basi dan tanpa memedulikan perasaan orang lain.

“Eh?” Leona tak tahu harus mengatakan apa. Dia salah tingkah.

“Ck! Lihatlah dirimu ini,” tunjuk Alice tepat ke arah muka Leona.

Kedua tangan Leona saling meremas kuat. Dia tahu untuk bersikap. Apalagi saat ini. Saat mereka akan membuka kafe pagi ini.

“Kau tidak perawatan? Bagaimana bisa seorang wanita memiliki penampilan sepertimu?”

Leona tak tahan lagi. “Maaf, Nona. Tidak semua wanita lahir dengan keberuntungan dan lahir dari keluarga kaya raya. Tidak semua wanita pula yang beruntung seperti Anda, punya dukungan financial yang luar biasa untuk mendidik dan membesarkan Anda! Saya hanya memiliki kemampuan bekerja dalam hidup saya. Menyingkirkan keinginan sesaat untuk menabung dan bisa menempuh pendidikan dengan biaya yang mahal.” Dia mencecar Alice yang sudah menghinanya.

“Saya juga punya harga diri, Nona. Harga diri saya adalah bekerja! Jika Anda punya keluarga yang membiayai semua kebutuhan tersier Anda, saya hanya punya diri saya untuk membiayai kebutuhan primer saya!” Leona bicara dengan lantang, tak peduli dengan raut wajah Leona yang berubah.

“Jaga bicaramu! Saya berdiri dengan kaki saya sendiri!” Alice menolak tuduhan Leona.

“Oh, ya? Kalau memang begitu, kenapa Anda meremehkan saya dan kehidupan saya?”

Alice terdiam.

“Saya juga bekerja dengan sangat keras, Nona. Saat semua wanita di dunia ini tidur dan terlelap di dalam kenikmatan, saya masih harus bisa terjaga dan mulai untuk bekerja!”

Keduanya saling menatap dengan tajam. Dua wanita yang berbeda kasta itu saling menatap.