“Nona, Anda mungkin bekerja di tempat dengan penuh fasilitas dan kenyamanan, tetapi saya! Saya harus bekerja di banyak tempat, termasuk di lokasi konstruksi. Semua itu demi rencana pendidikan saya!”
Alice kehabisan kata-kata. Di depan wanita kaya lainnya, dia bisa saja berlagak sebagai satu-satunya wanita pekerja keras. Tetapi, di depan wanita miskin ini, dia kehilangan semua kebanggaannya.
“Saya rasa, sudah tidak ada lagi yang ingin Anda bicarakan dengan saya. Kalau begitu, silakan untuk meninggalkan tempat ini karena saya yakin Anda datang ke sini bukan untuk menikmati hidangan kami. Apalagi sepagi ini.”
Leona jelas-jelas mengusir Alice.
Alice membenarkan dugaan Leona. Dia datang memang bukan untuk menikmati hidangan. Terutama saat ini, saat kafe masih belum buka.
“Hei, Leona! Jangan berlagak sombong kamu!” tegur Cecilia keras merasa sikap Leona sangat kurang ajar terhadap “wanita terhormat” di negara ini. “Terutama pada Nona Alice Silas.” Kedua telapak tangan Cecilia terbuka untuk menunjukkan rasa hormat pada Alice.
“Cecilia, kamu itu hanya mahasiswi yang sedang praktik kerja sebagai magang di sini. Kamu tahu, kalau kamu masih bekerja dengan malas-malasan seperti tadi, jangan harap, saya sebagai pengawas kamu tidak akan sungkan memberikan nilai terburuk untukmu!”
Itulah alasan Cecilia membenci Leona sejak pertama dia masuk ke Kafe Luxy. Berharap jika Irvin yang menjadi pengawasnya langsung, tetapi justru menunjuk perempuan miskin sebagai “atasannya”.
Alice menatap Cecilia tidak percaya. Sorot matanya itu seolah mengatakan,”Kamu bawahan dia dan bertingkah sangat sombong?!”
Kini, justru Cecilia yang sangat diremehkan oleh Alice. Dan gadis mahasiswi itu pun menangkap sorot mata Alice yang merendahkan itu. Cecilia terdiam dan tak berani lagi berbicara.
Tidak ada keberanian lagi untuk berbicara atau pun membangkang. Leona mengancam nilainya dan Alice menatap dengan merendahkan.
Sudah tidak ada lagi tempatnya untuk memamerkan jati diri sebagai putri dari salah satu keluarga kaya.
“Kembalilah ke tempatmu bekerja dan jangan merusak jati diri dari putri keluarga kaya.” Kalimat itu diucapkan Alice tentu saja dengan tujuan mengejek Cecilia.
‘Bagaimana mungkin, putri orang kaya bisa menjadi bawahan dari seorang pekerja miskin?’ tanya Alice dalam hati. ‘Dasar perempuan bodoh! Walaupun hanya magang, harusnya dia bekerja jauh lebih baik dari perempuan miskin ini.’
Cecilia tidak langsung masuk ke dalam restoran. Ada pekerjaannya yang belum beres di halaman kafe dan harus melanjutkannya.
Sedangkan Alice?
Mulutnya bersiap untuk bicara, tapi Leona yang memulai untuk berbicara terlebih dulu.
“Maaf, saya pamit, Nona. Saya harus bekerja. Dan saya yakin sekali kalau Anda paham dengan istilah “detik berharga”. Untuk saya, setiap detik sangat berharga. Untuk saya, setiap detik berharga karena setiap detik saya memiliki hitungan harga!”
Alice tentu memahami apa yang dikatakan oleh Leona barusan. Dia pun sama, setiap detik untuknya sangat berharga. Setiap detik adalah uang. Semua usaha dan kerja kerasnya selama ini adalah detik-detik berharga.
Merasa diceramahi, menyadarkan diri sendiri pada kenyataan. Wanita miskin di depannya ini mengingatkan dirinya untuk menyadari semua usaha dan kerja keras yang sudah dilakukan sejak dia masih memulai masa dewasa. Semua itu demi mengejar Noah dan menjadi istri sah sertanya Nyonya Muda Jasper.
Alice tersadar akan sesuatu.
‘Apa yang kulakukan di sini? Kenapa aku justru menerima pidato dari wanita miskin ini? Dan kenapa semua yang dia katakan adalah benar?’ Hati Alice mau tak mau menerima pidato singkat itu, meskipun isi kepalanya menolak dengan keras.
“Selamat pagi, Nona,” ucap Leona dan melangkah meninggalkan Alice yang masih diam.
Dari dalam kafe, suasana tegang sangat terasa. Saat Alice berjalan mendekati Leona dengan ayunan langkah anggun yang mendominasi membuat mata mereka tak lepas dari sosok wanita yang sangat dikenal oleh banyak orang se-negara.
“Leona, apa yang terjadi?” tanya Rhinata yang masuk shift pagi.
“Saya tidak tahu, Chef,” jawab Leona. “Saya tidak kenal nona itu, tapi dia datang-datang menghina saya dan merendahkan pekerjaan-pekerjaan yang saya lakukan.”
“Kamu tidak kenal dengan Nona Silas?” tanya Rhinata mengulang penjelasan Leona.
Leona hanya mengangguk. Rhinata memaklumi ketidaktahuan gadis di depannya ini. Mereka semua tahu, yang ada di dalam mata Leona hanyalah bekerja, dia bahkan tidak peduli dengan status sosial orang lain.
“Dia itu Nona Alice Silas dan hampir semua orang tahu kalau dia mengejar Tuan Noah Jasper sejak usia muda.”
Leona membelalakkan mata sambil membulatkan mulutnya selebar mungkin.
“Sudah sejak umur 20 tahun, Nona Alice mengejar cinta Tuan Noah. Bahkan, ada yang mengatakan kalau dia sudah menyukai Tuan Noah sejak masa remaja.”
“Umur 20 tahun? Sekarang, berapa umur nona itu?”
“39 tahun.”
“Umur Tuan Noah?”
Rhinata tersenyum. “Sama. 39 tahun.”
Leona berpikir beberapa detik. “Bisa disimpulkan, sudah hampir 20 tahun?!” Dia bergidik. “Kenapa ada wanita seperti itu?”
“Tentu saja ada,” sambung Hannah dari arah counter table. “Jika itu Tuan Jasper atau siapa pun dari Keluarga Jasper, mereka layak untuk diperjuangkan.”
Gelengkan kepala Leona kembali membuat mereka tersenyum geli. Leona memang berbeda dengan wanita-wanita kebanyakan.
“Kenapa harus menyia-nyiakan masa muda dengan mengejar-ngejar lelaki? Apalagi tidak disukai?” tanya Leona dengan kening berkerut.
“Hahaha ….” Semua yang ada di dalam kafe tertawa.
“Leona, pria yang dikejar itu, sekarang ini sedang mengejarmu.” Hannah sedang berusaha menyadarkan teman kerjanya itu.
“Heeh?!” Leona tidak mengerti dengan yang mereka katakan.
Beberapa saat kemudian, Leona sadar yang mereka maksudkan. Ingin sekali dia menjelaskan, tapi rasanya tidak mungkin. Dia masih menyimpan sendiri sambil berusaha untuk keluar dari masalah ini.
“Ah, sudahlah. Mari kita bekerja.” Leona berjalan menuju area dalam.
“Cieee … dia malu-malu ini.” Hannah iseng menggoda.
Disambut dengan teriakan godaan dari yang lainnya.
Di depan lokernya, Leona berpikir sejenak.
‘Kalau saja kalian semua tahu apa yang harus kulalui dari semua ini? Kalau saja kalian tahu, tawaran yang diberikan untukku dari Tuan Noah itu. Kalian pasti akan menganggapku remeh. Kalian pasti akan merendahkanku. Mencapku sebagai perempuan gila uang.’
Leona menarik napas dengan berat. Jika saja ada orang di tempat yang sama, mereka pasti akan bertanya, kesusahan apa yang diterima oleh Leona.
“Ah, sudahlah. Kesusahan hari ini hanya untuk hari ini. Kesusahan untuk besok, pikirkan besok saja.”
Menutup mata, menarik napas panjang dan mengembuskan dengan pelan. Leona melakukan sebanyak 7 kali. Tak ada alasan yang pasti untuk jumlah kecil itu, hanya faktor keterbiasaan saja.
Mematut diri di depan cermin, memeriksa detail penampilan dan bersiap untuk memulai pekerjaan.
“Hari ini mulailah dengan semangat. Setelah pekerjaan ini, ada pekerjaan lain yang siap untuk dihadapi!”
Leona menguatkan dirinya.