Private room tempat Alice membuat janti temu dengan sepupu Dhani sudah dipenuhi dengan makanan dan juga minuman keras yang harganya bisa dipastikan tergolong mahal.
Alice sengaja datang lebih awal. Dia tak tahu lagi harus membuang waktu di mana. Pikirannya jauh pada Leona.
“Dia jelas-jelas lawan yang tangguh.” Alice berbicara pada gelas di tangan. “Jadi, Noah benar-benar menyukai gadis itu?”
Alice melempar gelas di tangan. Dia marah. Sangat, amat marah.
“Jadi, perempuan seperti itu, hah?” teriaknya di dalam ruangan yang hanya diisi dirinya sendiri.
Kemarahan ini benar-benar memenuhi ruangan. Terasa mencekam, aura panas benar-benar terasa. Jika saja ada orang di dalam, mungkin saja dia menjadi sasaran kemarahan Alice.
Semua sudah tahu perangai buruk Alice dan mereka memakluminya. Menurut mereka, wajar-wajar saja seorang wanita sukses memiliki karakter seperti itu. Meskipun buruk, tetapi mereka bisa menerima dengan cara positif.
“Nona,” panggil Dhani yang baru masuk bersama seorang wanita. “Kami sudah datang.”
“Oh, masuk!” Alice bicara dengan sangat angkuh.
Dhani bersama wanita itu pun masuk dan duduk di depan Alice, dipisahkan meja yang oebuh dengan makanan dan minuman.
“Kamu bisa bekerja?” tanya Alice tanpa menjelasakan dulu jenis pekerjaannya.
“Bisa, Nona. Apa saja bisa saya kerjakan,” kata wanita yang dibawa Dhani itu.
Alice mengangguk. “Makanlah dulu, nanti akan kuberi tahu pekerjaanmu.”
Wanita yang dibawa Dhani tersenyum dan melihat ke arah Dhani. Pria itu mengangguk dan mereka pun mulai menikmati makanan.
“Jadi, kamu sepupu Dhani dari pihak mana?” tanya Alice saat mereka tengah makan bersama.
“Saya dari pihak ibu, Nona,” jawab wanita itu sopan.
“Lalu, apa semua pekerjaanmu bersih?” tanya Alice langsung pada intinya. “Tidak ada yang bocor, sedikit pun?”
“Saya bisa menjamin, Nona,” jawab wanita yang tingginya itu hampir setara dengan Alice.
Alice menyesap wine di tangan sambil menatap penuh selidik sepupu dari Dhani itu. Tatapan penuh selidik itu menjalar dari atas hingga ke bawah.
“Tapi, yang akan kau tangani ini bukanlah wanita dari kalangan atas.”
Wanita itu mendelik, berpikir sejenak dan kemudian menyimpulkan sesuatu. “Wanita dari kalangan menengah?” Dia pun tersenyum. “Nona tenang saja, saya sudah terbiasa mengurusi wanita-wanita seperti itu. Mereka yang hanya ingin menaikkan derajat dan martabat keluarganya dengan cara instan.”
“Hahaha ….” Alice tertawa keras. “Kau tidak salah?”
Wanita itu melirik ke arah Dhani. Pria itu membalas dengan gelengan kepala. Saat itu juga, dalam kepala si wanita pun menangkap jawaban yang paling tepat dan benar.
“Ah, Nona. Apa tidak ada yang lain?” tanya wanita itu terlihat mulai ragu.
“Ada apa denganmu? Kau takut?” Alice mengujinya.
“Bu-bukan.” Dia menarik napas berat. “Baiklah, Nona, saya mengaku. Perempuan kelas bawah itu sangat kotor. Saya tidak pernah mau berurusan dengan mereka. Tidak satu pun dari mereka, Nona.”
Sudut kiri bibir Alice terangkat. “Kelas bawah? Dia jauh di bawah itu. Dia tidak punya keluarga. Hanya wanita yang berasal dari yatim piatu. Dia perempuan yang tidak bisa dikategorikan dari 3 kelas itu.”
Sepupu Dhani itu menutup mulutnya dan langsung merasa jijik.
“Ini.” Alice melempar uang tunai dengan jumlah yang sangat banyak. “Kalau pekerjaanmu beres, maka sisanya akan kuberikan sebanyak 5 kali lipat dari ini.”
Wanita itu membelalakkan mata. Dia tak menyangka, untuk berurusan dengan wanita dari kalangan paling rendahan akan mendapatkan bayaran setinggi ini.
“A-anda tidak menyuruh saya untuk membunuhnya, kan?” tanya wanita itu dengan pelang dan gugup.
“Tidak perlu sejauh itu, kau hanya perlu merusak dan menghancurkan reputasinya. Setelah semua beres, saya yang akan bertindak. Mengirimkanya jauh ke luar negeri dan tidak akan kembali lagi.”
“Tapi, kenapa-”
“Jangan banyak tanya?” bentak Alice memotong pertanyaan wanita itu.
Dibentak seperti itu, hanya mampu membuat dua orang di hadapannya terdiam dan tubuh mereka menegang.
“Kau hanya perlu merusak reputasinya! Kalau akhirnya kau bunuh dia, itu keputusanmu sendiri, bukan perintahku! Kau paham?” Mata Alice menatapnya sangat tajam.
Dhani menunduk, tak berani lagi menatap Alice. Dia sangat tahu, Alice bukanlah orang yang bisa diajak untuk bernegosiasi. Jika sejak awal sudah bersedia dan mengatakan “Ya” untuk menerima pekerjaan, maka tidak ada lagi jalan untuk menolak dan menghindar. Apa pun pekerjaan itu harus diterima, tentu saja dengan bayaran yang sangat besar.
Wanita itu tak menyangka, kalau dia harus mengurus perempuan dari kalangan di bawah kelas rendahan. Tapi, dia pun sangat penasaran pada perempuan itu. Kepalanya penuh tanda tanya, “Kenapa bisa, wanita sehebat Alice Silas terganggu akan kehadirannya?”
Akan tetapi, pertanyaan itu tidak akan sanggup untuk dikeluarkan oleh mulutnya. Alice sangat mendominasi.
“Baik, Nona Alice, akan saya kerjakan.” Wanita itu hanya mampu menjawab dengan menerima, tidak sanggup untuk menolak.
Lembar demi lembar dia kumpulkan dan mata Alice memicing sinis, melihat perempuan yang rela melakukan pekerjaan kotor demi uang!
Dhani membawa sepupunya itu keluar dari ruangan. Alice kembali senidirian. Manajer yang bertugas sempat menawarkan gigolo, tapi dia sedang tak ingin diganggu.
Alice menyadari sesuatu. Wanita bernama Leona Iris ini benar-benar memiliki karakter kuat, mengalahkan statusnya yang sangaaat miskin. Muncul di benaknya untuk menyelidiki latar belakang Leona.
Dia sempat berpikir untuk menggunakan “jalur belakang” untuk mendapatkan yang dia mau.
Semakin dia berpikir, semakin hatinya menjadi ciut dan takut.
“Perempuan itu menggangguku. Dia benar-benar akan menyingkirkanku dan merebut posisi istri sah Noah. Dia akan menjadi Nyonya Jasper.
Semua runtuh.
Bayangan kegagalan tidak sudah terlihat jelas. Membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
“Harus ada senjata cadangan. Harus ada kartu AS perempuan itu yang kupegang.”
Pikiran Alice jauh berkelana, mencari-cari seorang ahli dan yang paling terbaik di antara orang-orang yang pernah bekerja untuknya.
“Siapa?” teriak Alice karena tidak menemukan jawaban yang tepat.
Saat itu juga, dia langsung merasa frustrasi. Semua detektif swasta yang dia tahu bekerja dan hanya patuh pada Noah.
“Mana mungkin mereka mau menerima pekerjaan dariku? Apalagi jika menyangkut urusan dengan Noah Jasper!”
Alice bicara seolah-olah dia sedang berbicara dengan seseorang di dalam ruangan itu.
“Siapa yang membenci Noah? Pintar dan butuh uang? Siapa?”
Berteriak di dalam ruangan yang hanya berisi benda mati tak ada gunanya. Dia sadar akan hal itu, tapi tetap saja dia berteriak.
“DASAR BODOH!” maki Alice entah pada siapa.
Dia mengamuk di dalam. Di luar, Dhani hanya diam dan berjaga di depan pintu. Menjauhkan orang-orang dari jangkauan pintu dan tidak ada yang tahu siapa yang berteriak di dalam.
Ingin sekali membantu nonanya, tapi harus menunggu waktu yang tepat untuk bicara.
Dhani siap untuk membantu sang nona untuk mencari jalan keluar. Atau membawa orang yang tak mungkin bisa dijangkau dengan cara mengancam. Dia bisa melakukan apa saja untuk Alice Silas. Termasuk mati, jika itu yang dia inginkan.