Bab 24. Wanita Asing

Penulis alend_
08 January 2026

“Selamat siang, Nona,” sapa seorang wanita ketika Leona beridiri di halte dan menunggu bus.

“Ya, Nona?” balas Leona dengan sopan dan ramah.

Tak lupa dengan senyumnya yang memang manis terukir di wajah lelahnya.

“Hmm …. “Wanita itu tampak ragu untuk mengatakan sesuatu.

Leona masih menunggu. Lagipula, busnya belum datang, jadi masih ada waktu untuk meladeni wanita ini.

“Anda membutuhkan sesuatu?” tanya Leona yang melihat iba pada wanita ini.

‘Mungkin, dia butuh uang untuk makan?’ Dalam benak Leona, itulah alasan wanita itu mendekatinya.

“Begini, Nona,” ucap wanita itu setelah diam dan ragu untuk beberapa saat. “Saya membutuhkan perkerjaan, di tempat Anda bekerja, apa ada lowongan untuk saya?” Sejenak Leona diam dan berpikir.

“Seingat saya, tidak ada lowongan saat ini. Tapi, sebaiknya Anda langsung tanyakan ke kafe saja.”

Wajah wanita itu tampak sangat kecewa. “Apa tidak bisa Nona rekomendasikan saya ke atasan Nona?” ada unsur paksaan dalam kalimat itu.

Sayangnya, sifat dasar Leona yang selalu berpikir positif tidak menangkap makna itu.

“Maaf, tidak tempat saya bekerja, tidak bisa merekomendasi pegawai. Semua harus melalui proses seleksi.”

Leona tidak salah, itu adalah aturan yang ditetapkan oleh Irvin. Jadi, tidak ada sistem “orang dalam” untuk bisnis pribadinya.

“Begitu, kah?” Wanita itu tampak putus asa. “Terima kasih.”

Leona tersenyum. Bus datang dan dia pun bergegas naik, berharap ada bangku kosong untuknya.

Wanita tak dikenal itu menatap sambil menahan marah. Melihat wajah Leona yang tersenyum ketika duduk di bangku. Sampai bus berangkat meninggalkan halte.

“Sial! Kenapa hari ini gagal?” gumamnya. Lalu mengambil ponsel dan mengirimkan pesan, “Dhani, aku gagal hari ini.”

Tak lama, pesan balasan pun datang. “Kau sudah berdandan sangat miskin, masih saja gagal?”

“Aku pun tak mau jika bekerja seperti ini! Ini semua salahmu, kau yang menjebakku, Dhani! Jadi, kau sendiri yang harus menjelaskan pada Nona Silas!”

Dia membalas pesan dengan marah. Dan kemudian memasukkan ponsel mahalnya ke dalam tas.

“Apa kalian lihat-lihat!?” bentaknya pada orang-orang yang sedang menatapnya dengan heran dan tanda tanya.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil mewah pun berhenti dan sopir keluar untuk membukakan pintu. “Silakan masuk, Nona.”

Wanita itu masuk dengan dongkol dan penuh kemarahan. “Belum pernah aku gagal seperti ini, sebelumnya!”

Sopir melihat melalui kaca spion dan tanpa banyak tanya menjalankan mobil.

Orang-orang yang ada di halte yang memandangi dia sejak tadi menatap tidak percaya.

“Dasar orang kaya! Berpura-pura jadi orang miskin untuk mencari perhatian!” maki pria gendut dengan tangan penuh makanan.


Hari berikutnya, Leona yang tidak menyimpan kejadian di halte dalam ingatannya pun tetap menjalani hari-harinya. Kali ini dengan sangat tenang. Sungguh sangat tenang.

“Hari ini ada pegawai baru,” bisik Hannah, “tidak tahu kapan dia melamar, interview dan tes lainnya."

Leona yang sedang bersiap-siap pun berhenti sejenak. “Oh, ya? Bukannya Bos Irvin itu prosedural sekali ya?”

“Nah, itu dia, Leona. Ada yang aneh,” gumam Hannah sambil berpikir seperti seorang detektif yang sedang mengolah TKP.

Leona tertawa melihat tingkah Hannah yang lucu. “Kak Hannah sebaiknya jadi detektif saja, lebih cocok.”

Mata Hannah mendelik dan menatap Leona sambil mengedipkan mata dengan lucu. “Benar, kah? Kalau begitu, aku mau mencoba melamar polisi tahun depan.”

Keduanya tertawa karena candaan kecil itu.

Setelah keduanya rapi, mereka pun kembali ke station masing-masing. Kali ini, Hannah bertugas di lobi dan Leona bertugas di area dapur bersama Chef Rhinata.

“Hai, Chef,” sapa Leona ramah dan sopan, seperti biasanya.

“Oh, kamu sudah datang?” balas Chef Rhinata dengan wajah kusut, tak seperti biasanya.

Leona dengan cepat menyadari, ada sesuatu yang salah. Inign sekali bertanya, tapi tahu kalau tidak semua harus dipertanyakan. Begitu juga untuk saat ini.

“Saya siap menerima tugas, Chef,” kata Leona dengan pelan diiringi tarikan napas ringan.

Rhinata berhenti sejenak dan menarik napas, lalu meregangkan otot-otot kaku. Suara “krek” terdengar nyaring dari dari lehernya.

‘Ada masalah sepertinya sama kafe sejak tadi pagi.’ Dalam hati, Leona mulai menebak.

Dia sangat memahami kondisi dan situasi Rhinata saat ini, tapi tak mungkin juga Leona diam saja dan tak mendapatkan instruksi tentang apa yang harus dikerjakannya.

Rhinata berbalik. “Kamu sudah datang.” Sekadar berbasa-basi saja, tak tahu harus melampiaskan kemarahan seperti apa.

‘Ini tempat kerja!’ Hati Rhinata memperingatkan.

“Ya, Chef!” jawab Leona dengan sigap.

“Baiklah, bantu saya dengan inventory terlebih dahulu. Saya tidak bisa melakukannya. Pikiran saya sedang kacau saat ini.” Rhinata memberikan tugas pada Leona. “Saya menyesal harus mundur dari Restoran Michel kalau tahu ada kejadian seperti ini. Lebih baik, kafe ini berjalan sesuai fungsinya dan tak perlu menambah-nambahi menu!”

Leona setuju, dalam hatinya. Tapi, dia pun tak ingin mengomentari kritikan Rhinata barusan. Memang sangat salah tiba-tiba saja kafe ini menyajikan menu berbeda dengan kafe-kafe lainny.

Leona pun menundukkan kepala merasa bersalah.

‘Semua ini salah Tuan Jasper itu!’ maki Leona dalam hati.

Sikapnya berdiri pun menampakkan rasa bersalah. Merasa kalau masalah yang tak dia tahu ini pun berasal darinya.

Rhinata menyadari itu. Dan dengan tenang, berusaha tersenyum dia pun berusaha menenangkan Leona. “Kamu tidak bersalah dalam hal ini, Leona. Tenang saja. Ini adalah pengambilan keputusan secara impulsif oleh saya dan Irvin.”

Tak mengatakan apa pun, Leona hanya mengangguk dan menerima.

“Kamu urus inventory dulu ya. Saya benar-benar sangat kacau saat ini.” Rhinata tidak ingin membuat Leona semakin merasa bersalah.

“Baik, Chef.”

Leona mengambil catatan inventory dan menuju bagian belakang, tempat gudang penyimpanan makanan dan memulai pekerjaan.

Kafe beroperasi seperti biasa, kurang dari setengah jam lagi waktu kerja Rhinata habis. Dia memutuskan untuk menutup menu tambahan kafe.

“Chef, maaf.” Hannah menyela pekerjaan Rhinata dan menatap dengan ragu-ragu.

“Ada apa?”

“Ada yang memesan menu fine dinning,” ucap Hannah pelan dan menahan takut. Sejak masuk tadi, dia sudah merasakan kalau Rhinata sedang tidak baik-baik saja.

“Ya sudah, saya akan ke sana. Siapa tamunya?”

Tanpa menunggu jawaban Hannah, Rhinata meletakkan kain lap yang sejak tadi berada di pundaknya. Dia berjalan dan berniat menemui konsumen itu.

Di meja yang ditunjukkan oleh Hannah. Tampak seorang wanita dan temannya yang sedang duduk dengan angkuh.

“Maaf, menu yang Anda minta sudah tidak tersedia.” Tak ada ucapan salam yang hormat untuk menyambut pelanggan.

Wanita arogan itu pun menatap ke Rhinata dan tawanya seketika berhenti.

“Saya pelanggan di sini, Nona,” kata wanita itu.

“Ya dan saya yang mengatur menu di sini. Di sana,” tunjuk Rhinata ke arah papan di depan pintu kaca. “Tertulis menu fine dinning sudah ditutup setengah jam lalu.” Dia berusaha menahan diri.

“Tapi--”

“Anda tamu? Besok, Anda akan kembali ke tempat ini sebagai pekerja, sebagai bawahan saya. Jadi, jangan bersikap arogan.”