Bab 25. Clare, si Wanita Suruhan

Penulis alend_
08 January 2026

Wanita asing itu terdiam dan malu.

Rhinata benar-benar menelanjanginya dengan kata-kata sarkas.

“Clare, kamu bekerja di sini?” tanya teman wanita yang bernama Clare Anderson. “Jadi, berita tentang keluargamu yang bangkrut itu, benar?”

Teman yang dibawa Clare semakin memojokkan. Clare gelapan dan ingin membantah, tapi dia kembali menyadari situasinya.

‘Sial! Kalau saja aku tahu pekerjaan dari Dhani ada hubungan dngan Irvin dan Rhinata, aku pasti tak akan menerima pekerjaan dari Nona Alice!’ rutuknya dalam hati.

Clare Anderson, sepupu dari Dhani berhasil masuk kerja di Kafe Luxy karena rasa iba Irvin.

Sehari sebelumnya, dia datang dengan wajah memelas untuk mencari pekerjaan. Bertemu dengan Danish dan berakting seperti seorang yang terdesak dan membutuhkan pekerjaan.

Awalnya, melalui Danish, Ivin menolak karena memang tidak ada kebutuhan untuk menerima pegawai. Tetapi, wajah sedih dan tampak kelaparan dari Clare membuat pegawai lain di kafe membujuk Irvin menerimanya.

Tak tega mendengar cerita sedih dari para pegawainya, Irvin menerima dengan status percobaan selama tiga bulan.

Clare tentu saja menerima, toh dia tak butuh waktu lama untuk mendapatkan yang dia inginkan dari Leona. Setelah semua beres, dia akan berhenti dan pergi dengan tenang.

Clare menandatangani kontrak kerja dan Danish yang memimpin. Baik Irvin, maupun Rhinata memercayakan Kafe Luxy di tangan Danish untuk mewakili mereka, jika tak ada satu pun dari kedua pemilik itu yang in charge di kafe.

Sial untuk Clare, ketika tadi pagi dia datang dan mulai bekerja. Dia justru bertemu rival terberat dan satu-satunya wanita yang dia benci Rhinata Lan. Datang dengan kewenangan penuh atas Kafe Luxy dan juga wanita yang paling dihormati di tempat kerjanya ini.

“Jadi, Nona Clare, apakah Anda sanggup membayar makanan yang hendak Anda pesan?” Rhinata tidak membiarkan Clare untuk membela diri.

Teman Clare berdiri. “Kamu sudah membuatku malu, Clare.” Dia berdiri dengan angkuh.

“Tunggu,” tahan Clare dan memegang lengan temannya itu.

“Apa? Kau sendiri tidak membantah ucapan chef ini.”

“A-aku ….” Namun, Clare harsu menahan semua ucapannya yang akan keluar dari mulutnya.

‘Tidak, Clare. Sudah cukup kau bertingkah gegabah. Ingat! Nona Alice tidak menerima kau mundur dari pekerjaan ini!’ tahan Clare dalam hati.

Tanpa menunggu lagi, Clare pun terpaksa melepaskan tangan wanita itu. Dan memilih melanjutkan pekerjaannya.

Sesaat setelah temannya pergi, Clare pun ikut meninggalkan Kafe Luxy.

Rhinata bernapas dengan lega. Saingannya yang jahat itu sudah pergi dan untungnya, saat itu jam yang tidak sibuk dan tak ada konsumen yang datang.

Dari arah dapur, Leona menyaksikan adegan itu. Meski tak memahami yang terjadi, dia tahu kalau alasan Rhinata bukanlah dia. Leona kembali menarik napas dengan lega dan pikirannya yang sempat berantakan pun kembali normal.

“Tapi, sepertinya aku pernah bertemu perempuan itu?” tanya Leona pada diri sendiri dengan suara lirih.

“Maaf ya, semuanya.” Rhinata yang merasa bersalah pun bersuara. “Membuat kalian semua sempat tidak nyaman ketika bekerja.”

“Iya, Chef,” jawab semua pekerja serentak.

Hari berlanjut, semua bekerja dengan tenang, kecuali Clare. Dia selalu bekerja di bawah tekanan yang dia ciptakan sendiri.

Dan semakin dia tertekan, semakin dia bersemangat untuk segera menyelesaikan semua pekerjaannya. Clare bekerja dengan lihai, semua yang dia butuhkan sudah ada di tangannya dalam bentuk rekaman.

Secara diam-diam, merekam semua kegiatan Leona di dalam dan di luar kafe. Termasuk interaksinya yang sangat intens dengan pemilik klinik hewan.

Semua dilaporkan kepada Alice.

“Jadi, dokter hewan ini sangat dekat dengan si miskin itu?” tanya Alice yang tampak puas.

“Ya, Nona. Lihat saja mereka berdua. Bahkan, ketika dia break saja dia makan di klinik itu bersama dokter itu. Apa namanya kalau bukan memiliki hubungan khusus?”

Alice mengangguk-angguk, merasa tak sia-sia sudah membayar mahal sepupu Dhani ini.

“Benar, Nona. Hanya saja, saya tidak bisa mengambil informasi apa pun di dalam klinik itu.

Bahkan, semua pegawi klinik itu pun tak ada yang mau berbicara ketika saya berusaha mencari tahu.”

Alice tidak kecewa mendengar itu, dia tidak ingin merusak dedikasi seseorang dalam pekerjaannya.

“Tidak perlu, mereka yang bekerja di dalam klinik itu berbeda denganmu,” ucap Alice dengan sarkas tanpa memedulikan perasaan Clare yang langsung merasa terhina.

“Saya hanya mendapatkan informasi ini saja dari pemilik klinik dan Leona Iris itu, Nona,” kata Clare dengan suara pelan dan menahan rasa sakit.

Alice mengalihkan pandangan padanya dan menatap dengan sorot tanpa ucapan terima kasih.

‘Sial! Dia merasa sangat hebat karena uang sudah dia berikan padaku?’ Clare tidak bisa menerima perlakuan itu, tapi dia pun tak bisa berbuat apa-apa.

“Baiklah,” ucap Alice lagi. “Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyanya lagi sambil mencondongkan badan.

“Membunuh karakternya, mungkin?” tanya Clare yang tak memiliki rencana apa pun saat ini.

Sejenak, Alice memikirkan ide Clare.

“Dia memang wanita pekerja keras, tapi dia sudah menggangguku.” Alice bermonolog.

Sebenarnya, Clare tidak mengerti, bagian mana dari Leona yang mengganggu Alice. ‘Nanti saja kutanyakan pada Dhani,’ ucapnya dalam hati. Menghapus rasa penasaran.

“Tapi, dia itu tidak pantas dan kenapa dia tidak tahu diri?” Lagi, ucapan Alice yang menghina Leona tak bisa dipahami oleh Clare.

“Mulai besok, saya akan melanjutkan rencana saya, Nona. Saya akan membuat Leona kehilangan karakternya. Saya akan-”

“Oh, tunggu dulu,” sela Alice.

“Ada lagi yang Anda butuhkan, Nona?”

“Dokter itu, rekam lebih banyak kegiatan mereka. Setiap mereka bertemu dan setiap mereka melakukan komunikasi. Semuanya!”

Clare hanya mengangguk dan menerima. Meski harus mencari cara untuk memenuhi permintaan Alice itu.

“Itu saja, kau bisa pergi sekarang,” usir Alice dengan menggerakkan tangan kirinya.

“Baik, Nona.” Clare dengan patuh menjawab.

Dan dengan patuh pula dia bangkit dari duduk dan keluar dari ruang kerja mewah milik Alice.

“Hebat sekali Nona Silas itu. Dia bisa sukses di umur segini dan tidak ada yang bisa menyainginya di usia yang sama. Dia itu benar-benar pekerja keras atau dapat dukungan keluarganya?” gerutu Clare sambil melihat ke sekeliling.

Di sepanjang ruang kerja yang dilewatinya, semua pegawai Alice bekerja dengan serius. Hanya suara ketikan dari papan tik saja yang terdengar.

“Dia benar-benar membuat aturan kerja yang sangat ketat dan disiplin.”

Saat itu juga, Clare langsung merinding.

“Aku tak mungkin bisa bekerja di tempat seperti ini. Lihat saja, tak ada satu pun dari mereka yang tersenyum.”

Suara dering ponsel Clare berbunyi, sontak semua mata memandang ke arahnya.

“Nona, tolong aktifkan mode hening di ponsel Anda,” ucap seorang pria yang tampak sudah sangat kusut. Pria itu menunjuk ke arah dinding dan menunjukkan poster “Jangan ada suara tidak penting ketika Anda sedang bekerja”.

Clare dengan cepat melangkah dan keluar dari gedung. Dia sudah tidak tahan berada di dalam gedung milik Alice Silas ini.