Pistol di tangan Al masih teracung, ujungnya berkilat oleh cahaya redup lorong rumah sakit. Hanum menahan napas, jantungnya berdegup kencang dan ketika pintu terbuka lebih lebar, sosok itu tampak jelas, membawa wajah yang selama ini dianggap sekutu, namun kini menyimpan pengkhianatan.
Sosok di balik pintu itu ialah lelaki bernama Rendra Prakoso, salah satu tangan kanan Firdaus yang selama bertahun-tahun dipercaya mengurus urusan lapangan. Rambutnya disisir rapi, jas hitamnya masih berbau parfum mahal, tapi tatapannya gugup.
“Rendra?” suara Al penuh curiga, dingin seperti baja. “Apa yang kau lakukan di sini, malam-malam begini?”
Hanum merapat ke belakang Al, tubuhnya bergetar. Ia mengenal Rendra sebagai sosok yang sering mendampingi ayahnya di berbagai acara resmi, seseorang yang tampak sopan dan setia.
Rendra mengangkat tangan, pura-pura tenang. “Aku hanya memeriksa keamanan. Aku dengar ada pergerakan mencurigakan di sekitar rumah sakit. Jadi.”
Al memotong dengan suara tajam. “Bohong. Kau bukan datang untuk melindungi, kau datang untuk memastikan sesuatu. Katakan sekarang, siapa yang memerintahkanmu?”
Tatapan Rendra goyah. Sejenak wajahnya pucat, lalu kembali berusaha tegak. “Aku, aku hanya menjalankan perintah.”
“Dari siapa?” Al menekan.
Rendra terdiam, tapi sorot matanya sudah cukup jadi jawaban. Ia bukan dalang, hanya kaki tangan yang diperintah oleh seseorang yang lebih besar.
Hanum terisak kecil. “Kau, mengkhianati Papa?”
Al mendekat, menempelkan moncong pistol ke kening Rendra. “Sekali saja kau mencoba mendekati Hanum lagi tanpa izin, aku pastikan kau bernyawa hanya dalam ingatan.”
Rendra menelan ludah, wajahnya pucat pasi. Ia mundur pelan, lalu kabur tanpa banyak bicara. Namun, sebelum pintu tertutup, Al bisa membaca jelas satu hal di raut wajahnya penuh ketakutan sekaligus ancaman tak kasatmata.
Hari berganti. Operasi Firdaus berhasil dan perlahan ia pulih. Hanya balutan di bahu yang mengingatkan bahwa ia sempat ditembak di dermaga. Meski begitu, semangatnya tak pudar sedikit pun.
Beberapa minggu kemudian, ia sudah kembali menduduki kursi jabatannya. Para kolega politik datang menjenguk, sebagian membawa karangan bunga, sebagian membawa senyum palsu. Firdaus tahu, di balik ucapan manis mereka, ada yang ingin melihatnya jatuh.
Namun, berkat pemberitaan media yang masif, posisinya kini lebih kokoh. Publik memandangnya sebagai korban teror politik, bukan lagi sekadar pengendali kekuasaan dan simpati rakyat justru memperkuat pijakannya.
Di ruang kerjanya, Firdaus menatap keluar jendela, lalu bergumam lirih, “Kalian ingin merebut kursi ini dengan darah anakku? Maka aku akan balas dengan darah kalian sendiri.”
Untuk menunjukkan bahwa dirinya masih berdiri tegak, Firdaus mengadakan sebuah pertemuan besar. Aula megah disulap menjadi ruang penuh lampu kristal, kursi empuk dan meja panjang berlapis kain beludru.
Para pejabat, pengusaha, hingga keluarga besar Al turut hadir. Senyum, tawa dan kilatan kamera memenuhi ruangan, namun di baliknya terselip aura persaingan yang pekat.
Hanum duduk di samping ayahnya, berusaha tenang meski hatinya masih trauma. Ia mengenakan gaun sederhana berwarna biru muda, membuat wajahnya tampak lembut di tengah keramaian. Sementara Al berdiri tak jauh, mengenakan setelan hitam, tatapannya tajam mengawasi setiap sudut ruangan.
Beberapa kolega mendekati Firdaus, menyalami dengan penuh hormat. Ada pula yang mendekati Al, mencoba berbasa-basi, tapi segera surut ketika berhadapan dengan sorot matanya yang tak ramah.
Di sisi lain ruangan, Rendra terlihat. Ia masih bertugas, wajahnya datar. Namun, Al tahu, lelaki itu bukan lagi sekutu sejati. Ia hanya bidak kecil dari dalang besar yang belum terungkap.
Pertemuan itu berlangsung penuh formalitas, tapi Firdaus berhasil menunjukkan satu pesan jelas: ia kembali, lebih kuat dan siap melawan siapa pun yang berani mengganggu.
Setelah acara itu, Firdaus memutuskan sesuatu. Ia ingin Hanum dan Al beristirahat di tempat aman. Di sebuah apartemen.
Maka dipilihlah sebuah apartemen rahasia di pusat kota dengan sistem keamanan canggih dan akses terbatas. Tidak ada yang tahu kecuali orang-orang terdekat. Firdaus berkata, “Di sana kalian bisa tenang. Tidak ada penyusup, tidak ada serangan. Aku butuh kalian berdua tetap hidup untuk langkah berikutnya.”
Hanum menyambut dengan lega, meski masih ada rasa khawatir. Al hanya mengangguk, selalu waspada pada apa pun.
Malam pertama di apartemen itu terasa berbeda. Tidak ada suara langkah mencurigakan, tidak ada teriakan ancaman. Hanya keheningan kota yang terdengar dari balik jendela kaca.
Hanum duduk di meja kerja apartemen, membuka laptopnya. Cahaya layar menerangi wajahnya yang serius. Jemarinya sibuk mengetik, sesekali berhenti untuk menatap catatan kuliah yang sudah lama terbengkalai.
“Aku harus menyelesaikan tugas-tugas ini,” gumamnya lirih. “Aku sudah terlalu lama ketinggalan. Aku tidak mau semuanya sia-sia hanya karena politik dan kekerasan.”
Ia membuka file demi file, membaca materi, lalu mulai menulis laporan panjang. Matanya penuh tekad meski tubuhnya masih lelah.
Di sofa seberang, Al duduk diam. Ia seolah santai, tapi pandangannya tak pernah lepas dari Hanum. Setiap kali gadis itu menghela napas, mengernyitkan kening atau menepuk dahi karena salah mengetik, Al memperhatikan.
Ada sesuatu yang berbeda dalam tatapan itu. Bukan sekadar kewaspadaan seorang pelindung, tapi juga sesuatu yang lebih dalam, rasa yang selama ini ia pendam rapat-rapat.
Hanum menoleh sebentar. “Kenapa kau menatapku begitu?” tanyanya, kening berkerut.
Al cepat-cepat mengalihkan pandangan. “Tidak. Aku hanya memastikan kau baik-baik saja.”
Hanum mendesah pelan, lalu kembali fokus pada laptopnya, tapi di dalam hati, ia merasakan sesuatu. Ada kehangatan aneh setiap kali menyadari Al selalu mengawasinya.
Waktu berjalan. Malam semakin larut. Hanum masih menatap layar, matanya mulai lelah. Al bangkit, berjalan pelan mendekat.
“Kau butuh istirahat,” katanya datar.
“Aku belum selesai,” jawab Hanum, nada suaranya keras kepala.
Al berdiri di sampingnya, lalu menunduk sedikit. “Hanum, jika kau memaksakan diri, kau hanya akan jatuh sakit. Apa kau mau ayahmu tambah khawatir?”
Hanum mendongak, menatap mata Al dari jarak dekat. Ada ketegasan sekaligus kelembutan di sana. Ia terdiam, lalu perlahan menutup laptopnya.
“Baiklah,” bisiknya.
Al menarik kursi, menatapnya sebentar sebelum akhirnya berbalik. Namun, Hanum sempat menangkap sesuatu, tatapan yang tidak biasa, tatapan yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, malam itu benar-benar tenang. Tidak ada suara tembakan, tidak ada jeritan, tidak ada ancaman. Hanum tertidur di kamar, sementara Al berjaga di ruang tamu.
Ia duduk sambil membersihkan senjatanya, tapi pikirannya melayang. Bayangan wajah Hanum saat menatapnya tadi terus muncul. Ada rasa asing yang menyelinap ke dalam dirinya, rasa yang bisa jadi kelemahan di medan perang, tapi sekaligus alasan untuk tetap bertahan hidup.
“Hanum,” gumamnya, lirih nyaris tak terdengar.
Namun, di luar apartemen yang katanya aman, seseorang sedang mengamati. Dari gedung seberang, sebuah teleskop diarahkan tepat ke jendela kamar Hanum.
Orang itu berbicara pelan melalui alat komunikasi. “Target berada di lokasi. Mereka pikir ini tempat aman, tapi jejak sudah kita temukan.”
Suara lain menjawab dari seberang. “Jangan terburu-buru. Biarkan mereka merasa nyaman dulu. Lalu kita serang ketika mereka lengah.”
Teleskop bergeser, menyorot Al yang sedang duduk di ruang tamu. “Pelindungnya juga ada. Pastikan rencana berjalan sempurna. Kali ini, tidak boleh gagal.”
Lampu apartemen perlahan padam, meninggalkan kegelapan malam yang menyimpan bahaya baru.
Siapa dalang sebenarnya di balik Rendra dan kelompok yang mengincar Hanum dan kapan serangan berikutnya akan datang, saat Al dan Hanum mulai merasa aman?