Bab 26. Rekam!

Penulis alend_
08 January 2026

“Leona, ambilkan alat kebersihan dan lap muntahan anak kecil itu,” perintah Clare dengan arogan.

“Apa katamu?” Irvin yang mendengar itu pun langsung meradang.

“Eh, Irvin, sudah datang?” sapa Clare dengan semangat.

Dia bebas sekarang karena Rhinata mengambil cuti kerja selama seminggu. Merasa memiliki kesempatan untuk mendekati Irvin.

“Clare, kalau aku tahu kau yang melamar pekerjaan, sudah pasti kau tidak akan kuterima bekerja di sini!”

“Irvin, aku-”

“Saya itu bosmu!” potong Irvin dengan tegas. “Leona dan yang bekerja di sini adalah seniormu.

Jadi, yang pantas memberikan perintah hanya mereka. Dan kau?” tunjuk Irvin. “Hanya pegawai percobaan selama tiga bulan.”

Clare kembali merasa terhina. Pekerjaan dari Alice rasanya sangat berat untuk dirinya. Memang, uang dia dapatkan sangat banyak, jauh lebih banyak dari tarif yang selalu dia kenakan selama ini.

Namun, bebannya juga sangat berat. Tambah lagi, dia bertemu dengan pria yang sangat dicintai dan saingan terberatnya.

‘Sekarang, tambah aku harus tunduk sama perintah manusia dari kalangan paling menjijikkan?’ maki Clare dalam hati.

Tak bisa berbuat apa-apa, Clare hanya diam dan semakin bertekad untuk menyelesaikan misinya di kafe ini.

“Baik, Pak,” jawab Clare membuat yang lainnya pun tersenyum.

“Ambil alat kebersihan dan bersihkan semuanya!” perintah Irvin tegas. ‘Gara-gara kau, Rhinata marah padaku! Harusnya, kau tidak muncul di depanku selamanya!’ Dia hanya mampu memaki dalam hati.

Clare terpaksa bekerja sambil matanya mengawasi Leona. Tepat saat itu, saat jam Leona istirahat, Lucian Orion pun masuk.

“Leona, kamu istirahat jam berapa?” tanya Lucian dengan tersenyum.

“Ini, saya sedang istirahat, Dokter. Ada apa?” tanya Leona penasaran. Tidak seperti biasanya Lucian mencarinya seperti ini.

“Sini, ikut saya,” ajak Lucian sambil menarik lengan Leona lembut.

“Ini dia kesempatanku!” lirih Clara, lalu merekam adegan itu.

Mengawasi sekitar dan mengikuti Leona hingga ke klinik hewan. Dari luar dengan batas kaca, Clara merekam semuanya.

Di dalam ruangan, Lucian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya. Tak ada orang lain di sana, hanya mereka berdua saja. Di pintu, tergantung tanda tutup.

“Ini milik bayiku. Bayi perempuanku yang hilang 21 tahun lalu,” ucap Lucian dengan kebahagian dan haru yang luar biasa. Ada genangan air di kedua matanya. “Saya menemukan kalung ini, Leona. Itu berarti, sebentar lagi anak perempuanku pasti akan kutemukan.”

“Wah, selamat, Dokter. Saya yakin, anak perempuan Dokter pun pasti akan sangat bahagia.”

Lucian menatap Leona penuh kehangatan. Kedua tangannya meraih dan menggenggam kedua tangan Leona.

“Saya yakin, Leona pun akan bertemu dengan kedua orang tuamu.”

Leona tersenyum. “Iya, Dok,” katanya.

‘Tapi, aku yakin sekali, kalau mereka dengan sengaja membuangku, Dokter. Seandainya, ayahku seperti Dokter Lucian ini, aku pasti akan sangat bahagia.’ Hati Leona berdesir saat mengatakan itu.

Dia sudah tak berharap apa pun dari orang tuanya. Dia sudah menyerah, bahkan sebelum mulai mencari. Menyadari dia tak memiliki apa pun untuk berjuang dan memperjuangkan haknya sebagai anak.

Mereka saling berpelukan. Lucian memeluknya seperti pelukan seorang ayah, begitu pun dengan Leona. Lucian sudah seperti ayah untuknya.

Lagi dan lagi, Clare merasa beruntung dengan adegan ini. Dia masih saja merekam dengan ponselnya. Tentu dengan seringai licik di bibirnya.

“Sebentar lagi, pekerjaanku dan urusanku dengan perempuan rendahan itu akan selesai sampai di sini!” gumam Clare dengan berapi-api.

Lucian melepaskan pelukan dan mengambil sesuatu yang lain dari dalam tas kerjanya.

“Ini, jangan menolak ya. Ini hanya cokelat saja. Leona sudah seperti anak buat saya. Maka, saya pun ingin berperan sebagai ayah untuk Leona,” kata Lucian menyerahkan cokelat yang sudah jelas harganya tak murah.

“I-ini, kan, cokelat mahal, Dok. Apa tidak masalah?”

“Tentu saja tidak, Leona. Itu hanya cokelat dan ini-” Lucian kembali menyerahkan sesuatu.

“Ini apa, Dok?” Leona ragu-ragu menerima.

Tetapi, tangan Lucian menarik lengan dan meletakkan kotak kecil itu di telapak tangan Leona. Membuka dan mengeluarkan isinya.

“Kemarin, saat seminar, saya menang lucky draw dan mendapatkan hadiah gelang perak ini. Perak murni, tapi desainnya untuk wanita.” Lucian memakaikan gelang itu ke tangan Leona.

“Tapi, Dok-”

“Saya tidak mungkin membuangnya. Kalau tidak diberikan ke kamu, sama siapa lagi? Anak perempuan saya belum ditemukan. Hanya baju bekas itu saja yang masih tersimpan di gudang rumah orang tua saya.”

Lucian dan Leona mengalihkan pandangan ke arah baju bayi yang tadi dibawa dan dipamerkan oleh Lucian.

“Panitia acara memang berniat menukarkan hadiah, saya bilang, saya akan berikan untuk putri saya. Umurnya sudah 21 tahun,” jelas Lucian sambil mata menerawang membayangkan wajah putrinya yang mirip dengannya atau mantan kekasihnya-ibu kandung Leona.

Leona tidak tega merusak harapan dan mimpi Lucian dengan menolak pemberian itu. Dia pun kembali menerima hadiah dari Lucian dengan tersenyum.

“Ah, saya lapar sekali. Mari kita makan. Saya beli ayam goreng kesukaan Leona.”

“Dokter sempat-sempatnya beli ayam.” Leona tersenyum.

“Saya, kan, sedang belajar menjadi seorang ayah yang baik dan pengertian pada putrinya. Leona dan putri saya umurnya sama, maka dari itu, saya belajar dari sekarang.”

Leona mengangguk. “Dok, apa mantan kekasih Dokter itu menyembunyikan putri kalian di tempat yang jauh?”

“Ya, sudah pasti dia akan melakukan itu. Mungkin, dia melakukan itu karena keluarganya juga.”

“Dokter tidak mencoba lagi untuk menemui mereka?”

“Tidak bisa, Leona. Mereka keluarga konglomerat, bisa-bisa orang lain yang terkena imbasnya jika saya bertindak gegabah.”

“Kira-kira, putri Dokter disembunyikan di mana?”

Lucian terdiam dan berpikir. “Melihat dari cara mereka bermain, putriku mereka bawa ke luar negeri dan diserahkan kepada salah satu keluarga mereka.”

Saat mendengar itu, Leona pun mengerti. “Itu sebabnya, Dokter selalu ikut dalam setiap kegiatan atau acara-acara kesehatan hewan di luar negeri?”

Lucian yang sedang menyajikan ayam goreng, sandwich dan kola untuk mereka berdua pun berhenti sejenak dan tersenyum.

“Kamu benar-benar pintar, Leona,” puji Lucian.

Mereka pun menikmati makanan yang dibeli oleh Lucian.

Clare sudah menyimpan dalam rekaman semua kejadian di depan matanya. Dia masuk, kembali ke dalam kafe.

“Dari mana kau?” bentak Irvin yang sudah sangat marah. “Berani sekali meninggalkan pekerjaan. Kalau kau tidak suka, kau bisa mengundurkan diri saat ini juga.”

“Baik! Saya akan pergi sekarang juga! Tidak perlu membayar apa pun dari yang sudah saya kerjakan selama di sini.” Clare yang merasa sudah menang pun berani memberontak.

“Tidak ada yang perlu dibayar, kau tidak bekerja selama hampir seminggu di sini! Pergi kau!” usir Irvin.

Konsumen terakhir sore itu sudah pergi dan jam sibuk akan mulai sekitar 15 menit lagi. Itu sebabnya, Irvin tidak khawatir jika harus bertindak kasar kepada pegawai baru itu.