Bab 27. Masih Menunggu

Penulis alend_
08 January 2026

“Dia memang tidak tertarik?” tanya Noah pada diri sendiri.

Tetapi, tetap saja telinga Kevin menangkap dengan jelas. Hanya saja, dia tahu sekali, tak tetap waktunya untuk ikut campur.

“Kevin, kau dengar, tidak?” Noah menatap Kevin dengan mata memicing.

“Ya, Pak. Saya dengar dengan jelas,” jawab Kevin dengan santai.

“Kalau dengar, kenapa tidak kau balas atau kau jawab?”

Kevin meletakkan berkas yang dipegangnya ke atas meja di ruang tamu unit hotel mereka menginap.

“Permasalahannya ada pada Nona Leona sendiri, Pak. Anda tidak menjelaskan tujuan dan alasan Anda. Bagaimana nanti hubungan palsu ini berjalan dengan baik dan sesuai dengan kesepakatan.”

“Untuk apa dijelaskan, dia tinggal terima saja. Tanda tangan kontrak dan keuntungan dari saya. Beres, kan?”

Mendengar itu, Kevin hanya bisa menggelengkan kepala saja. Kali ini, demi tujuan tuannya itu, dia harus berkata yang sebenarnya dan sejujurnya. Sudut pandangnya harus diutarakan.

“Menurut pendapat saya-” Kevin harus memulai dengan kalimat yang tepat. “Nona Leona tidak mau menerima tawaran Anda karena ada banyak wanita yang dia rasa lebih pantas menerima peran ini.” Kening Noah berkerut. “Bukannya, kau sudah pernah mengatakan itu?”

Noah tampak ragu dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan. Dia mencoba untuk mengingat lagi. “Tidak seharusnya saya yang mengatakan itu, Pak.” Kevin tidak bisa menahan diri karena terkadang bosnya ini harus diberi tahu secara blak-blakan.

Noah menatap Kevin dengan kesal, tapi dia ada benarnya juga. Mau tidak mau, dia harus mengakuinya.

“Lalu, apa yang dilakukan Leona sekarang?” tanya Noah mengalihkan pembicaraan.

“Saya tidak tahu, Pak.” Kevin benar-benar sangat sabar menghadapi konglomerat ini. “Kita sudah ada di sini seminggu lebih. Baik Anda, saya dan juga Elara sibuk dengan pekerjaan.”

Noah hanya mengangguk saja dan menerima jawaban Kevin. Dia memutuskan untuk tidak lagi bertanya perihal Leona dan kembali fokus pada pekerjaan.

Namun, otaknya masih memikirkan Leona dan cara membujuk gadis muda itu agar bersedia membantunya. Lalu, matanya melirik ke arah orang kepercayaannya itu.

“Kevin benar, tidak mungkin saya terlalu mengandalkan Kevin dalam urusan ini. Dia benar, kali ini saya pun harus mencari cara untuk membujuknya,” lirih Noah yang hanya didengar olehnya saja.

Setelah memutuskan, Noah fokus pada pekerjaannya dan memikirkan rencana untuk membujuk Leona.

Semakin larut, semakin dia memikirkan gadis belia itu. “Kenapa otak ini selalu saja mengarah pada wanita muda itu?” Noah menyesap kopi yang disediakan untuk menemaninya bekerja.

“Tuan, maaf mengganggu. Sudah waktunya Anda istirahat.” Elara datang dan mengingatkan.

“Sudah malam?” Noah melihat ke arah jendela. “Kalian juga istirahat saja.”

“Baik, Tuan,” jawab Elara dengan wajah datar. Lalu, dia membalikkan badan dan meninggalkan Noah sendirian.

“Ada apa dengan dua orang bawahanku ini? Kenapa wajah mereka sangat mengerikan seperti itu? Dan itu, si Elara. Kenapa wajahnya sangat datar? Apa dia tidak pernah tersenyum?”

Noah bicara dengan enteng, seolah-olah dia tidak seperti kedua bawahannya itu. Dia jauh lebih mengerikan dari keduanya.

Mandi dan bersiap untuk tidur, Noah pun merebahkan tubuhnya dan menutup mata hendak tidur. Tetapi, beberapa saat kemudian …

“Apa-apaan ini?” Noah bangkit untuk duduk dan mengacak-acak rambutnya. “Kenapa saya tidak bisa tidur?”

Benar, Noah tiba-tiba saja tidak bisa tidur. Padahal, tubuh dan pikirannya sudah lelah.

“Ada apa ini?!”

Sementara itu, Kevin yang baru saja meregangkan tubuh dari otot-otot kaku pun bersiap menyudahi pekerjaannya. Saat itulah satu pesan masuk ke ponselnya.

“Malam-malam begini? Ada masalah apa?” tanya Kevin pada diri sendiri.

Tak mau berpikir terlalu lama, Kevin pun membuka pesan yang dia terima. Orang yang disuruh untuk mengawasi Leona mengirimkan link dan sebuah pesan tepat di bawah pesan itu.

“Pelaku sedang saya cari tahu.”

Tidak mengerti dengan maksud pesan itu, Kevin pun mebuka link dan langsung mendapatkan video yang sudah diunggah ke internet.

“Apa ini?” Kening Kevin berkerut.

Kemudian, jari-jarinya dengan cepat menelusuri internet. Dengan judul berbeda, muncul video yang sama. Lalu, Kevin pun membuka lagi dan video lain pun bermunculan dengan editan berbeda.

Kevin menelepon si pengirim pesan. “Apa yang terjadi?” tanyanya menuntut jawaban.

“Maaf, Tuan Kevin. Saya belum bisa menemukan jawaban. Saat ini, saya sedang berusaha mencari tahu.” Suara pria di seberang terdengar lagi.

Kevin pun mendengar suara lain di seberang. Suara mesin tik yang sedang bekerja terdengar sangat cepat. Tebakannya tak mungkin salah.

“Apa kau memakai jasa peretas?”

Pria di seberang tidak langsung menjawab. Dan kevin sudah tahu jawabannya.

“Terserah saja, lakukan yang kau mau. Tapi, ingat! Jangan sampai nama baik Tuan Muda Jasper terlibat jika ada yang tahu aktifitasmu ini.”

“Ya, Tuan. Saya paham dan saya pastikan Tuan Muda tidak akan terlibat untuk hal ini.” Tiba-tiba, ada suara dari pria lain yang terdengar. “Kami menemukannya, Bos!”

“Tuan Kevin, saya segera memberi Anda kabar.”

Kevin memutus panggilan dan membiarkan dia bekerja.

“Sepertinya, Pak Noah harus tahu.”

Kevin berdiri dan bersiap untuk menemui Noah. Hanya saja, dia berhenti lagi dan berpikir lagi. Keraguan terlihat di wajahnya. Wajah lelah, mengantuk, cemas bersatu padu.

Sekali lagi, berkat wanita bernama Leona Iris, Kevin sulit mengambil keputusan.

“Pak Noah pasti akan bertindak di luar nalar nantinya.”

Dengan wajah yang sangat putus asa dan sangat siap untuk menerima semua kemarahan dari Noah, Kevin keluar dari kamarnya. Dia menuju kamar Noah.

Sebelum menekan bel, Kevin menarik napas dengan berat.

Bel pertama sudah ditekan, tetapi tidak ada respon dari dalam.

“Pak Noah sudah tidur, besok saja kalau dia bangun,” gumam Kevin meyakinkan diri.

Memutuskan untuk kembali ke kamar dan mencari solusi sendirian.

Saat kakinya mulai melangkah, suara pintu terbuka pun terdengar dan suara Noah pun menyergap masuk ke telinga Kevin.

“Ada apa?” tanya Noah dengan mata menatap tajam.

Kevin sudah bersiap untuk bicara, tapi semua kalimat yang akan dimuntahkan tertahan di ujung tenggorokan.

“Saya tidak bisa tidur, masuklah.” Setelah memerintahkan, Noah pun masuk ke dalam kamarnya. Noah duduk, tapi Kevin tetap berdiri.

“Sesuatu terjadi di ibukota, Pak,” kata Kevin memberitahukan.

Kening Noah berkerut. Dengan cepat otaknya memerintahkan untuk mengambil kesimpulan. “Apa ada yang membuat masalah di keluarga? Atau masalah di kantor?”

Kevin tidak tahu harus mengatakan apa dan bagaimana.

‘Kalau dia tahu tentang Nona Leona dari orang lain, justru akan semakin memperburuk keadaan.’ Dalam hatinya, Kevin jelas sekali bisa memahami Noah dengan baik.

“Ada apa? Katakan saja, cepat!” Noah tidak sabar.

Kevin bingung, tidak yakin jika harus langsung mengatakannya.

“Cepatlah!” desak Noah dengan tidak sabar.

“Pak, terjadi sesuatu dengan Nona Leona.”