Semua orang yang tadinya sibuk dengan pikiran masing-masing pun terkejut dan mengalihkan perhatian ke arah pintu masuk.
Hari ini sepi sekali, sejak pagi, tidak ada satu pun konsumen yang datang.
Kalau dihitung-hitung, sejak 3 hari kafe tidak ada konsumen, satu pun.
“Ada apa?” tanya Rhinata begitu Irvin datang dan mengejutkan mereka.
Irvin terlihat bingung, dia tidak tahu harus memulai dari mana dulu.
“Cepatlah bicara, katakan apa yang terjadi? Kenapa wajahmu panik begini?” Wajah Rhinata benar-benar menunjukkan kekhawatiran.
Irvin, pemilik sekaligus pengelola Kafe Luxy duduk lemas dan memejamkan mata. Menarik napas dengan berat. Wajahnya sangat tegang.
Semua menunggu dengan tegang.
“Kafe kita terancam ditutup,” kata Irvin dengan suara pelan.
Tentu saja semua yang mendengar pun terkejut. Menatap Irvin dengan kebingunan.
“Kamu itu, kalau mau prank kita, tidak seharusnya dengan candaan mengerikan seperti itu! Itu sama saja dengan doa,” kritik Rhinata menahan kesal.
Irvin menatap Rhinata dengan mata sendu. “Tidak, aku sedang tidak bercanda,” katanya lagi dengan wajah serius.
Dia mengeluarkan tablet dari tas kerja yang dibawa dan menunjukkan satu surel. Rhinata menerima dan membaca dengan serius dan teliti.
Saat membaca, mata Rhinata tiba-tiba membulat dan mulut terbuka. Lututnya lemas dan tubuhnya pun lunglai. Untung saja Irvin dengan sigap menopang tubuh kekasihnya itu dan mendudukkan dengan posisi yang baik.
“Si-siapa yang menyebarkan cerita buruk ini?” tanya Rhinata dengan suara yang terdengar hampir menangis.
“Ada apa, Kak?” tanya Karina yang semakin bertambah khawatir.
Baik Rhinata atau Irvin, tidak memberikan jawaban. Mereka berdua tampak sangat hancur.
“Ada apa, sih?” Karina yang merasa diabaikan pun mengambil tablet dan membaca.
Sama seperti Rhinata, Karina juga sangat terkejut. Tidak menyangka dengan isi surat elektronik yang dibacanya. “Bagaimana mungkin? Siapa? Kenapa?”
Pertanyaan Karina benar-benar membuat yang lainnya saling menatap dengan bingung.
Irvin menutup mata dengan kedua tangannya. “Bisa-bisa, kafe ini akan ditutup.”
Kalimat mengejutkan keluar dari mulut Irvin dan membuat para pegawainya terkejut dan tidak percaya.
“Tapi apa alasannya? Apa sebabnya? Selama ini kalian selaku melakukan pekerjaan dengan baik.” dr. Levian terkejut mendengar berita dari Irvin itu.
“Ada yang melaporkan kafe. Mereka mengatakan kalau kafe ini tidak higienis, tidak menyajikan bahan baku premium dan memberikan harga yang tidak sesuai dengan bahan yang tertulis di menu dan-” Irvin mengangkat kepalanya.
“Dan apa, Kak?” tanya Karina yang semakin merasa tidak nyaman dan dia sangat gelisah.
Sesuatu terlintas di kepala Karina yang tidak sanggup diutarakan.
“Dan semua pegawai di sini melakukan banyak tindak kecurangan.” Kepala Irvin kembali menunduk dan dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
“APA?!” Sontak semua yang ada di sana pun terkejut.
“Kami tidak seperti itu, Pak! Kami selalu bekerja dengan jujur,” sambut Emma yang tidak terima dengan tuduhan itu.
“Emma, aku tahu itu. Tidak pernah aku meragukan kalian dalam urusan pekerjaan,” jelas Irvin tanpa menatap lawan bicara.
Semua hening, mereka kembali diam. Kembali dengan semua pikirannya yang sangat kacau. Mereka berusaha mencari tahu, apa dan di mana letak kesalahan mereka selama ini.
Karina mengambil ponsel dan mempertimbangkan untuk menghubungi Leona.
‘Apa aku harus memberitahukan Leona tentang masalah ini?’ tanya Karina dalam hati.
Keraguan meliputi perasaan Karina, kegelisahan tampak di wajahnya. Memegang ponselnya dengan perasaan gelisah dan tidak tenang.
Pikiran kacau membuat Karina berusaha menahan diri untuk menyembunyikan perasaannya. Sayang, Irvin menangkap kegelisahan adik sepupunya itu.
“Ada apa, Karina?” tanya Irvin dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
Hatinya seperti digerakan oleh sesuatu yang tak bisa dipahami.
Karina tergagap dan berusaha untuk menyembunyikan perasaannya. “Tidak, Kak, aku tidak apa-apanya,” jawabnya asal-asalan.
Irvin langsung tahu, ada sesuatu yang salah. “Jangan khawatir, Karina. Katakan saja.”
“Ak-aku tidak yakin.” Karina menjawab dengan suara pelan.
“Tidak apa-apa. Katakan saja semua yang kamu pikirkan.”
“Kak ….” Karina menatap Irvin dengan mata yang sudah ingin menangis.
Kini, semua perhatian beralih kepada Karina. Dia mengedarkan pandangan, menatap balik setiap mata yang memandangnya dengan penuh tanda tanya.
Jantung Kirana berdebar dengan kencang, pikirannya tidak bisa tenang dan rasa bersalah untuk alasan yang tidak jelas pun menjadi beban di dalam hati.
“Aku tidak yakin-” Suara Karina sangat pelan.
“Kita bisa pikirkan dengan tenang. Ada banyak orang di sini dan ada banyak kepala yang bisa mencoba memahami kegelisahannya.” Rhinata mencoba untuk membuat Karina tenang.
“Begini … hmm … tapi, aku tidak yakin.” Suara Karina semakin saja, sudah hampir tak terdengar. Mereka, lawan bicara Kirana diam dan menunggu. Sorot mata memancarkan keingintahuan yang sangat besar.
Kirana dengan jantung yang masih berdebar pun mulai bicara, “Aku merasa, masalah ini ada hubungannya dengan Leona dan Tuan Noah.”
Seperti tersengat listrik dan di waktu yang sama pula oksigen tiba-tiba hilang. Mereka semua terkejut, serentak.
“Hubungannya apa?” dr. Lucian bertanya dengan heran.
“Bagaimana menjelaskannya ya?” tanya Kirana yang bingung sendiri.
“Hmm, bisa jadi ada hubungannya,” kata Emma memberikan pendapatnya.
Kirana tampak semakin gelisah. Bagaimana pun juga, Leona adalah sahabat terbaiknya.
‘Apa yang kau lakukan, Karina? Kenapa malah membuat Leona seperti dalang di balik masalah kafe ini?’ Dalam hati, Karina menyesali perkataannya.
Wajah muram penuh dengan rasa bersalah itu ditangkap Rhinata dengan cepat. Tangan Rhinata terangkat dan memeluk Karina sambil merasa mengusap-usap punggungnya.
“Tenanglah, mungkin bukan karena Leona, tapi memang ada orang yang membenci Irvin atau aku,” ucap Rhinata menenangkan.
“Iya, benar, Kirana. Maaf, aku tidak bermaksud menyalahkan Leona,” sesal Emma dan merasa bersalah melihat wajah Kirana yang semakin suram.
Yang lain pun berusaha menenangkan.
“Sudahlah. Daripada kita hanya menebak-nebak saja, lebih baik kita cari tahu alasan di balik masalah ini.” Irvin memutuskan untuk menyudahi hari ini.
“Kalau begitu, mari kita mulai dengan memeriksa standar kebersihan kita. Apakah ada yang salah dan tidak sesuai dengan SOP. Setelah itu, kita langsung memperbaiki,” usul Rhinata.
“Benar,” sambut Robert cepat. “Dan kalau boleh saya usul, Pak Irvin sebaiknya memeriksa surel itu dan ajak betermu si penulis surel.”
“Benar juga kamu.” Irvin setuju dengan yang dikatakan oleh Robert. “Mari kita cari tahu letak kesalahannya di mana. Robert, kamu ikut saya dan Chef Rhinata tolong amankan semua rekaman CCTV yang kita punya demi menyelamatkan kafe ini.”
“Baik!” jawab Rhinata dengan penuh senyum.
Karina merasa tenang, semua yang dia pikirkan ternyata salah. “Benar, mana mungkin Leona jadi penyebab semua ini?” gumamnya.
Hatinya pun semakin tenang, perasaannya sungguh semakin membaik.
“Sudah tenang sekarang?” tanya dr. Lucian yang melihat Karina sudah menghapus air mata dan sudah kembali tersenyum.
Karina mengangguk.
Saat mereka sudah merasa tenang, setidaknya untuk saat ini.
“Permisi, Dokter,” sapa suara wanita dari arah punggung dr. Lucian.
Lucian menoleh, “Ada apa?” tanyanya dengan senyum tipis.
“Ada masalah di klinik,” kata wanita yang merupakan perawat di kliniknya.
Wajah serius, cemas, khawatir dari wanita itu membuat Lucian dengan cepat memahami situasi. Dia berdiri dan wajahnya pun semakin tegang.