Drama

Bab 28. Terpuruk

Penulis alend_
08 January 2026

Mendengar nama itu, Noah pun terkejut. Jantungnya seakan berhenti untuk sesaat. Nama wanita itu, entah bagaimana masuk ke dalam hatinya tanpa diberikan izin terlebih dahulu.

“Kenapa dengannya?” tanya Noah menjaga ekspresinya tetap tenang.

“Ada video yang beredar tentang Nona Leona, Pak,” jelas Kevin.

Noah menunggu dan walau tak sabar, dia tetap harus menunggu. Menjaga ekspresi wajahnya agar tidak ketahuan perasaan hatinya.

“Video apa?” tanya Noah dengan wajah yang tampaknya tidak tertarik.

Dia berusaha bersikap tenang dan tidak terganggu dengan kabar itu.

Akan tetapi, kabar berikutnya berhasil membuat Noah bereaksi, bahkan membuat perasaannya berantakan.

“Nona Leona memiliki hubungan spesial dengan dokter hewan yang sekaligus pemilik klinik hewan.”

“Tunggu! Bukannya kau yang bilang kalau dia itu!” Noah berhenti, menahan diri untuk menunjukkan kemarahannya.

‘Ada apa denganku? Kenapa aku harus marah?’ tanya Noah dalam hati.

“Pak, apa yang harus kita lakukan?” tanya Kevin, jelas sekali dia tidak mengerti dengan apa yang menjadi isi kepalanya.

Kening Noah berkerut, “Kau bertanya padaku?”

Kevin tidak menjawab, mengangguk pun dia tidak berani.

“Kau ini! Memangnya kau tidak paham?” Noah mulai kesal.

Dari luar, Noah tampak sangat tenang dan seperti tidak merasa terganggu. Padahal, di dalam benaknya, isi kepalanya mulai kacau.

“Pak, apa kita akan melanjutkan rencana ini?” tanya Kevin lagi dengan suara yang terdengar ragu-ragu.

Kepala Noah sedikit miring dan menatap Kevin penuh selidik. “Sepertinya, kau sendiri meragukan penilaianmu, Kevin!”

Suara Noah berubah, Kevin diam.

‘Nadanya sudah berbeda, dia sedang marah sekarang ini. Amat sangat marah,’ kata Kevin dalam hati.

Bukan tidak bisa menjawab, tapi saat ini, Kevin tidak memiliki keberanian untuk memberikan jawaban apa pun.

“Kau diam saja?” Noah mengernyitkan kening yang melihat reaksi Kevin.

Noah menarik napas, agak berat. Namun, dia sudah lelah dan merasa malas untuk berdebat atau marah.

“Ah, sudahlah. Kembali ke kamarmu, besok suruh orang untuk memeriksa semuanya dengan teliti. Periksa semua dengan rinci tanpa ada kesalahan sekecil apa pun”

“Baik, Pak!” jawab Kevin dengan tegas.

Kevin kembali ke kamarnya, sembari menarik napas lega. Dia merasa, malam ini dia beruntung.

“Kevin, kau beruntung, hanya malam ini saja,” monolog Kevin pelan.

Setelah berpikir sejenak, Kevin mengambil ponsel dan menghubungi orang suruhannya.

“Periksa semua secara detail, jangan terlewat kesalahan sekecil apa pun. Kalau perlu, bongkar semua lubang tikus untuk mencari tahu semua jawaban yang bisa saja disimpan dengan baik!” perintah Kevin dengan tegas.

Tidak menunggu jawaban dari lawan bicara, Kevin pun menutup panggilan telepon.

“Benar! Harus menyuruh orang lain untuk menyelidiki semua dengan jelas dan rinci baru melaporkannya.”

Kevin saat itu juga langsung merasa bodoh, merasa kalau dia tidak becus dalam bekerja. Hanya karena kesalahan kecil seperti ini.

“Bodoh sekali kau ini, Kevin!” maki Kevin pada diri sendiri. “Seharusnya masalah seperti ini bisa kau atasi sendiri!”

Sesaat itu juga, dia merasa sangat gagal.

“Kevin, pekerjaan paling bodoh seperti ini pun kau tidak bisa kendalikan?”

Merutuki diri sendiri seperti ini belum, atau bahkan tidak pernah dilakukannya. Pekerjaan paling berat, ketika memenangkan tender proyek terbesar se-Asia Timur.

Malam ini, akan menjadi malam yang panjang untuk. Kevin. Dengan pikiran yang akan terbang ke arah Leona dan masalah yang terjadi saat mereka berada di luar negeri untuk urusan bisnis.


Kevin masih menunggu hasil penyelidikan dari orang suruhannya. Noah dan gengsinya pun memaksakan diri untuk menerima jawaban tanpa meminta.

Mereka berdua sama-sama menunggu dengan cara yang berbeda. Menyibukkan diri dengan kembali fokus pada pekerjaan masing-masing.

Di negaranya, Leona sudah mulai merasa terganggu. Berita tentang dia yang memiliki kekasih gelap seorang pria dengan selisih usia jauh dengannya pun semakin gencar.

Dia kembali menjadi topik utama dalam berita.

“Aku harus gimana?” tanya Leona pada diri sendiri.

Sejak berita tentang dia kembali viral dan semakin dibesar-besarkan, Leona memutuskan mengurung diri di kamar kecilnya.

Semua panggilan telepon yang masuk, tidak diangkat. Pesan yang masuk pun sama, tidak dibuka. Leona kalut.

“Leona, kamu di dalam, kan?” Suara Karina terdengar dari luar kamar.

Tak ada jawaban, Leona hanya tenggelam dalam kesedihan dan mencoba mencari cara untuk keluar dari masalah ini.

“Leona, keluarlah. Aku paling tahu semua, kami dan semua yang di kafe pun tahu yang sebenarnya.” Karina berusaha membujuk Leona dengan suara serak, habis menangis.

“Pu-pulanglah.” Leona akhirnya memberikan jawaban. “Aku tidak mau kamu dan yang lainnya juga terlibat.”

Suara Leona terdengar sangat menyedihkan, sangat menyayat hati. Karina atau siapa pun yang mendengarnya pasti ikut merasakan sedih juga.

“Aku tidak akan pulang sebelum kau keluar. Kita cari cara untuk menyelesaikan masalah ini.”

Karina yang masih berusaha keras membujuk pun mulai memikirkan sesuatu.

“Jauhkan pikiranmu dari orang itu, Karina.” Seolah-olah tahu apa yang ada di dalam kepala sahabatnya, Leona langsung saja mencegah.

Karina terdiam, dia membenarkan ucapan Leona. Karina lalu menarik napas dengan berat.

“Lalu, kamu harus apa?” tanya Karina yang terduduk di depan pintu kamar Leona tanpa peduli keadaan sekitar.

“Sudahlah, pulang saja ya. Biarkan aku tenang dulu.” Leona masih dengan suara yang menahan untuk tidak menangis.

Keduanya terdiam di tempat masing-masing, sangat lama dan melupakan waktu.

Hingga Karina melangkah pergi membiarkan Leona sendirian, tanpa berpamitan.

Dua hari berlalu dan Karina masih menunggu. Dia bersama dr. Lucian pun semakin cemas saja. “Leona benar-benar tidak bisa dihubungi?” tanya Dokter yang masih lajang itu di usianya yang sudah 42 tahun itu.

Karina menatap pria itu dengan mata yang sembab. Dia menggelengkan kepala. Memberikan isyarat jawaban yang salah.

“Maksudku, dia tidak mau keluar menemuiku, Dokter.” Karina kembali menangis. “Dia mengurung diri di kamar.”

Kembali gadis itu menangis, memikirkan nasib sahabatnya itu.

“Tenanglah, Karina, jangan menangis terus,” bujuk Rhinata sambil mengusap-usap punggung Karina, berupaya untuk menenangkan.

“Dia ‘gak salah, Kak,” ucap Karina masih dengan tersedu-sedu.

“Iya, kita semua tahu kok. Leona itu wanita baik-baik, pekerja keras.” Rhinata mendukung Leona sepenuhnya.

“Tapi-”

“Kita hanya perlu menunggu dia untuk menenangkan diri,” potong Rhinata cepat. “Bagaimana pun juga, Leona butuh waktu.

“Leona pasti akan baik-baik saja, kan?” tanya Karina untuk meyakinkan dirinya sendiri.

“Pasti!” jawab semua orang yang ada di kafe itu.

Selain Lucian dan Karina, pemilik kafe dan semua pegawainya tidak pernah meragukan Leona. Mereka tahu usaha keras yang dilakukan oleh Leona bukanlah main-main.

Suasana hening kembali, semua hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga pintu dibuka dengan kasar dan Irvin pun muncul.

“Gawat!"