Lucian menatap pegawainya itu dengan serius. Tanda tanya di matanya jelas sekali menunjukkan kekhawatiran yang sangat besar.
“Ah.” Lucian tersadar. “Karina, saya kembali ke klinik dulu ya. Sepertinya ada pasien gawat darurat.”
Karina menangkap sesuatu yang salah. Dia berdiri begitu Lucian meninggalkan kafe. Kakinya ingin melangkah, tapi rasanya berat.
“Apa tidak masalah kalau aku tanya?” Karina bertanya-tanya pada diri sendiri.
Dia menggigit bibirnya, khawatir dan cemas. Kembali, hal buruk melanda pikirannya.
“Tidak mungkin, kan?” gumam Karina bertanya pada diri sendiri. “Bukan karena Leona, kan?”
Saat itu juga, Karina membantah dan meyakinkan dirinya sendiri kalau masalah ini tidak ada hubungannya dengan Leona.
“Ya, benar! Leona hanya gadis biasa. Mana mungkin dia bisa menjadi penyebab masalah ini.”
Karina menarik napas untuk menenangkan dirinya. Menjauhkan semua pikiran buruk dan mencoba untuk menghubungi Leona lagi.
“Tidak diangkat lagi,” keluh Karina.
Tapi, dia tidak menyerah. Terus melanjutkan untuk menghubungi sahabatnya, Leona. Tetapi, sama seperti sebelumnya, Leona tidak mengangkat atau pun menolak.
Panggilan telepon dibiarkan begitu saja.
Karina menghela napas. Mencoba kembali memahami situasi Leona.
Di sebelah kafe, tepatnya klinik hewan dr. Lucian. Keadaan pun sama kacaunya dengan Kafe Luxy.
“Siapa yang handle Browny?” tanya Lucian yang baru saja menyelesaikan operasi darurat anjing ras Papillon.
“dr. Shopia, Dok,” jawab wanita yang memanggil Lucian tadi, seorang perawat.
“Kalian sudah menghubungi dia?” tanya Lucian dengan menatap tajam ketiga wanita yang bekerja di kliniknya itu. Dua orang perawat dan seorang kasir.
“Su-sudah, Dok,” jawab mereka serentak dan suara pelan.
Lucian marah. Dia mengambil benda di atas meja kerjanya secara acak. Dan langsung melempar ke arah berlawanan dari posisi ketiga wanita itu berdiri.
Ketiganya tentu saja terkejut, meskipun hal ini sudah sering terjadi.
dr. Lucian, dokter hewan yang terkenal perfeksionis dan selalu rapi di setiap pekerjaannya.
“Kenapa hal ini bisa terjadi?” tanya Lucian menuntut jawaban.
Tidak ada yang bisa menjawab, semua menutup mulut.
“Kalian diam saja?” Lucian memicingkan mata. “Itu artinya, kalian bertiga terlibat malpraktik ini!” tegasnya lagi dengan suara dingin.
Sontak ketiga wanita itu pun terkejut dan saling pandang.
“Ti-tidak, Dok, kami tidak tahu sama sekali,” jawab perawat yang tadi memanggilnya.
“Lalu, mana catatan medis milik Browny?” tuntut Lucian dengan sorot mata yang tajam dan membunuh.
Lucian memang dikenal baik, ramah dan sopan, tetapi untuk urusan pekerjaan terlebih lagi jika menyangkut nyawa, dia bisa saja menjadi sangat kejam.
Untuk Lucian, hewan pun sama berharganya dengan manusia. Termasuk hewan liar sekali pun.
“dr. Shopia melakukannya sendirian, Dokter. Kami tidak diizinkan untuk terlibat.” Perawat itu menyeka air matanya. “Kami diancam akan dipecat, Dok.”
Mata Lucian membola dan tidak percaya mendengar itu.
“Dipecat?” Lucian meradang.
Dia menunjukkan kemarahan, wajah putih berubah menjadi merah. Detak jantung ikut meningkat drastis.
Lucian benar-benar marah.
“Dasar bodoh kalian! Klinik ini milikku, siapa dia berani memecat yang bekerja di bawahku?”
“Maafkan kami, Dokter.”
“Keluar,” usir Lucian dengan marah.
Tanpa banyak bicara, ketiga wanita itu pun melangkah keluar dari kantor Lucian. Mereka masih takut akan nasib mereka berikutnya.
Lucian menutup klinik sebelum waktunya. Memutuskan untuk mencari tahu masalah yang terjadi.
Namun, saat dia sangat fokus pada pekerjaannya, dia teringat pada tiga orang pegawainya itu. Lucian berdiri dan keluar, menemui mereka. Kali ini, dia sudah lumayan tenang.
Di ruang tunggu staf, Lucian memandangi wajah-wajah lemah tak berdaya itu. Raut wajah mereka seolah-olah bersiap untuk menghadapi eksekusi mati saja.
“Kalian pulanglah. Hari ini klinik akan saya tutup lebih cepat,” perintah Lucian, lalu membalikkan badan dan berniat untuk kembali ke ruangannya.
“Dok,” panggil pegawai yang bekerja sebagai kasir.
Lucian berhenti dan menoleh. “Ada apa?” tanyanya.
“Sepertinya masalah ini tidak sederhana, Dok,” kata Kasir itu lagi.
Kening Lucian berkerut. “Apa maksudmu!?”
“Berita tentang Browny sudah tersebar luas di internet.”
Seperti sudah menduga akan ada kejadian seperti ini, Lucian hanya mengangguk.
“Kalian pulanglah dan istirahat. Untuk besok tunggu kabar dari saya,” kata Lucian lagi.
“Dok, apa yang bisa kami bantu?” tanya perawat yang lain.
“Pulanglah, kalian istirahat. Jangan bicara dengan siapa pun mengenai kejadian hari ini.” Lucian memberikan perintah. Dia harus berjaga-jaga. “Naik taksi langsung ke rumah masing-masing. Besok klaim ongkos taksi.”
Setelah mengatakan itu, Lucian kembali ke ruangannya. Ketiga pegawainya itu pun hanya bisa menerima perintah saja dan bersiap-siap menutup klinik. Mematikan semua lampu dan menutup klinik, lalu mereka pulang dengan taksi sesuai yang diperintahkan. Seperti tidak ada orang di dalam.
Lucian sendirian di ruangannya. Memikirkan dengan tenang dan mencari tahu akar masalahnya.
“Apa ini memang ada hubungannya dengan Leona dan Noah Jasper?” tanya Lucian pada diri sendiri. Namun, sesaat kemudian, secara naluriah Lucian membantah mentah-mentah.
“Ini hanya kebetulan saja. Atau, Leona jadi korban karena memang ada yang ingin menghancurkanku.”
Lucian duduk di kursi kerjanya, menutup mata dan menengadahkan kepala. Tidak.
Dia tidak merasakan pusing sama sekali. Dan memang sudah bersiap untuk menghadapi masalah berat seperti ini.
“Hanya perlu menginterogasi Shopia saja dan cari tahu, kenapa Leona sampai harus dilibatkan.” Ada satu yang dipikirkan oleh Lucian, orang-orang yang membuat masalah ini adalah orang-orang yang berasalah dari masa lalu.
“Atau, pria brengsek itu?” Tiba-tiba saja satu orang yang terhubung dengan masa lalunya pun muncul dalam kilasan di pikirannya.
Lucian yakin kalau yang menjadi penyebab masalahnya saat ini adalah pria yang sudah menjadi suami dari mantan kekasihnya, cinta pertama sekaligus cinta terakhirnya.
“Ya … itu pasti dia.” Lucian pun tertawa. “Lalu, kalau dia tahu kami punya anak di luar nikah, apa yang akan dia lakukan?”
Sorot mata Lucian berubah menjadi dingin dan kejam. Bibirnya tersenyum miring dan sangat sinis. “Tahan, Ian, jangan sampai orang lain yang tidak ada hubungannya dengan masa lalumu terlibat dalam masalah pribadimu.” Lucian mengingatkan diri sendiri.
Ada yang membuat Lucian untuk tidak bertindak gegabah. Berita yang melibatkan dia dengan Leona, seorang wanita muda yang seumuran dengan anak kandungnya. Anak yang tidak pernah dia temui, sudah dipisahkan darinya dan dibuang oleh keluarga kekasihnya.
Suara erangan kecil dari aning yang baru sadar dari obat bius pun mengalihkan perhatiannya.
“Browny, kau sudah bangun?” sapa Lucian lalu bangkit beridiri.
Sejak selesai operasi tadi, anjing kecil itu dengan sengaja dibawa ke ruangannya. Dan diletakkan di atas brankar yang ada di ruangan itu.
Dia berdiri dan mendekat ke brankar.
“Siapa yang membuatmu jadi begini?” tanya Lucian sembari mengelus kepala berbulu halus itu.
“Pemilikmu atau dr. Shopia?”
Siapa pun itu, satu yang pasti untuk Lucian. Mencari masalah dengannya, sama saja mencari cara untuk mati!