Drama #Humor #Baper

AIR LEMON DAN AIR MATA

09 January 2026

Hari itu Harlia melakukan satu ritual penting.

Bukan mandi bunga. Bukan doa khusus.

Melainkan…

MENANDAI KALENDER.

Dengan spidol merah menyala.

“LAMARAN.”

Ia menulisnya besar-besar, lalu menarik garis tebal seolah tanggal itu adalah musuh bebuyutannya. Harlia menatap kalender cukup lama.

Tidak ada lonjakan bahagia. Tidak ada loncatan girang. Tidak ada teriakan, “AKHIRNYA!”

Yang ada cuma…

“Kenapa gue malah pengen nangis ya…?”

Harlia menjatuhkan spidol ke kasur, lalu berdiri di depan cermin lemari.Ia menatap pantulan dirinya sendiri dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Diam.

Sepuluh detik.

Lalu tangan kanannya bergerak.

JWEERRR.

Perutnya.

“Aduh!”

Tangannya pindah ke lengan.

JWEERRR.

“Kenapa kamu banyak banget, sih?”

Pipi.

CUBIT.

“Dan kamu kenapa nggak pernah mau diajak kurus barengan?”

Harlia mencondongkan badan ke cermin.

“Gue dilamar, loh,” katanya ke bayangannya sendiri. “LAMARAN. BUKAN BERLEMAK.”

Pantulan di cermin tentu saja tidak menjawab. Harlia menghela napas panjang.

“Gimana caranya tampil… normal?”

Ia memutar badan, melihat profil sampingnya.

“Normal versi siapa?” gumamnya. “Versi BMI? Versi majalah? Versi tante-tante julid?”

Ia mengangkat kedua tangan, mengamati lipatan-lipatan yang setia menemani hidupnya.

“Gimana caranya Mrs. Puff berubah jadi putri duyung cantik dalam seminggu?”

Ia menepuk pipinya sendiri.

“Bukan seminggu, Har. Ini mah butuh mukjizat.”

Harlia menjatuhkan diri ke kasur. Stres jangan ditanya. Pikirannya berputar antara lamaran, foto, keluarga Topan, dan ang-orang dengan bisik-bisik mereka yang berbahaya.

“Kok gede amat?”

“Kok nggak diet dari dulu?”

“Kok mau ya, Topan?”

Harlia bangkit lagi dengan mata menyala.

“ENGGAK.”

Ia mengambil ponsel.

“Gue harus usaha.”

Dan seperti semua orang yang stres dan punya akses internet. Harlia melakukan keputusan impulsif paling berbahaya.

BELI E-BOOK.

Judulnya berbunyi:

“LANGSING DALAM 7 HARI: TERBUKTI, CEPAT, TANPA AMPUN.”

Harlia membaca deskripsinya.

– Turun 5–7 kg – Detox ekstrem – Disiplin tinggi – Tidak cocok untuk yang mudah menyerah

Harlia mengangguk.

“Ini gue banget.”

klik beli dan E-book langsung terbuka. Mata Harlia berbinar. Semua terdengar dan terlihat mudah untuk dilakukan. Pasti bisa.

HARI PERTAMA: DETOKS CAIRAN TOTAL.

“Minum air lemon hangat setiap dua jam. Dilarang nasi. Dilarang gula. Dilarang bahagia.”

Harlia menelan ludah.

“Ya Allah…”

Tapi ia sudah terlanjur.

PAGI DI KANTOR.

Harlia datang membawa botol minum BESAR SEKALI. Isinya air putih dan irisan lemon yang terlihat seperti korban.

Rina menatap heran.

“Kok minumnya kayak mau naik gunung?”

Harlia tersenyum kaku.

“Diet.”

Rina menyipitkan mata.

“Kamu diet atau nyiapin upacara adat?”

Harlia tidak menjawab.

Jam sembilan, miinum air lemon.

Jam sepuluh, minum air lemon.

Jam sebelas... perutnya berbunyi.

KRRRKKK.

Rina menoleh.

“Itu perut kamu atau printer rusak?”

Harlia tertawa palsu.

“Hehe.”

Jam dua belas. Semua staf makan siang. Aroma ayam goreng menyebar seperti teror. Harlia duduk menatap botolnya.

“Minum air,” gumamnya. “Air itu juga makanan.”

Rina duduk di depannya sambil makan.

“Kamu nggak makan?”

Harlia menggeleng dengan mata berkaca-kaca.

“Aku… minum aja.”

Rina berhenti mengunyah.

“Har.”

“Iya?”

“Kamu kelihatan kayak tokoh sinetron yang mau meninggal.”

Jam satu. Harlia mulai pusing.

Jam dua, tangannya terasa dingin.

Jam tiga, pandangannya agak berkunang-kunang.

Rina memperhatikan dengan panik.

“Harlia, kamu kenapa?”

Harlia berdiri.

“Aku… mau ke toilet.”

Baru dua langkah—

“WOI.”

Harlia limbung. Rina langsung berdiri.

“Har?!”

Harlia pegangan meja.

“Aku kayak… ringan… kayaknya udah dikit langsing.”

“ITU BUKAN LANGSING, ITU DEHIDRASI!”

Rina meraih botol Harlia.

“KAMU CUMA MINUM AIR LEMON SEHARI?”

Harlia mengangguk lemah. Rina nyaris teriak.

“YA ALLAH, KAMU MAU LAMARAN ATAU MAU MASUK UGD?!”

Beberapa staf menoleh. Harlia duduk lagi, kepalanya di meja.

“Aku pengen cantik… Rin.”

Rina langsung emosi campur panik.

“Cantik itu hidup, HAR!” Ia menyambar roti dari tasnya. “MAKAN!”

“Aku nggak boleh.…”

“BOLEH.”

“E-booknya bilang—”

“E-BOOK ITU NGGAK AKAN DATENG KE PEMAKAMAN KAMU.”

Harlia terdiam. Rina menyodorkan roti.

“Makan, buru!”

Pelan-pelan Harlia menggigit. Dua menit kemudian…

“Enakan makan, Rin.”

Rina mendelik.

“Kamu pikir?!!”

Harlia menyesap air putih biasa. Pusingnya berkurang.

“Rina…”

“Iya?”

“Aku lebay, ya?”

Rina menarik kursi.

“Kamu bukan lebay.”

“Terus?”

“Kamu panik.”

Harlia menatap botol lemonnya dengan wajah bersalah.

“Aku cuma takut.”

“Takut apa?”

“Takut kelihatan kayak… Mrs. Puff.”

Rina tertawa kecil.

“Mrs. Puff itu punya restoran sukses.” Harlia melirik.

“Serius?”

“Serius, kalau nikah sama Mr. Crab.”

Harlia tersenyum kecil. Rina menepuk pundaknya.

“Lamaran itu soal niat, Har. Bukan soal perut kamu lipat berapa.”

Harlia menghela napas. E-book itu masih terbuka di ponselnya. Ia menekan tombol hapus.

“Dietnya nanti aja, deh!”

Rina mengangguk.

“Nah.”

Perut Harlia berbunyi lagi. Kali ini normal.

KRRRKKK.

Rina tersenyum.

“Itu tanda kamu masih hidup.”

Harlia tertawa kecil. Dan untuk hari itu, ia memilih tetap jadi Mrs. Puff yang bernapas, daripada putri duyung yang pingsan sebelum lamaran.

Hari berikutnya....

Kantor pagi itu tidak ada yang istimewa. AC tetap terlalu dingin. Printer tetap bunyi kayak batuk perokok. Kopi pantry tetap pahit seperti hidup. Yang berbeda hanya satu, gosip hari ini naik kelas.

Dan sumbernya…

Arin.

Arin berdiri santai di dekat meja pantry, memegang gelas kopi latte, senyum tipis tapi bermakna. Di sekelilingnya ada tiga staf perempuan dan dua laki-laki yang jelas-jelas sedang menikmati sarapan berupa gibah.

“Eh, kalian udah dengar belum?” kata Arin pelan tapi cukup jelas. “Harlia katanya mau dilamar.”

Salah satu staf mengangkat alis.

“Harlia? Yang itu?”

“Yang mana?”

“Yang gede itu, loh!”

Arin mengangguk sambil mengaduk kopinya.

“Katanya maharnya…”

Ia berhenti sejenak, sengaja membangun suspense.

“Tiga. Miliar.”

Hening setengah detik. Lalu....

“HAH?!”

“TIGA MILIAR?!”

“BUAT DIA?!”

Tawa meledak.

“GILA, YA?!”

“MAHAL BANGET.”

“ITU MAH BUKAN MAHAR, ITU INVESTASI JANGKA PANJANG.”

Arin tersenyum kecil, pura-pura menahan tawa.

“Aku juga kaget.”

Salah satu staf laki-laki menyindir.

“Tiga miliar mending beli apa, ya?”

Staf lain langsung menyahut,

“Daging sapi, lah.”

“Berapa ton tuh?”

“Kalau beli sapi hidup juga bisa dapet sekampung.”

Yang lain menepuk meja.

“Eh tapi cocok sih.”

“Apanya?”

“Kan katanya sapi makin gede makin mahal.”

HAHAHAHAHA.

Tawa cekikikan berderai seperti hujan batu.

“Bener juga.”

“Kalau ditimbang kiloan, Har itu premium.”

“Wagyu A5.”

“Marbling-nya kelihatan.”

“HAHAHAHA.”

Arin menutup mulut, seolah menahan, tapi matanya berbinar menikmati. Padahal....

Tidak jauh dari situ. Di balik lemari arsip. Harlia dan Rina berdiri.

Diam.

Tidak bergerak. Tidak bernapas normal. Semua kata itu... masuk utuh. Tidak ada yang terpotong. Tidak ada yang samar.

Rina mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras. Matanya memerah.

Sementara Harlia…

Harlia berdiri kaku seperti patung taman. Kupingnya panas. Dadanya sesak. Pikirannya kosong, tapi sakitnya penuh.

Rina menoleh. Melihat Harlia tersenyum kecil. Senyum palsu. Senyum orang yang sedang menahan runtuh.

Dan di situlah... Rina meledak. Ia melangkah cepat ke pantry.

“EH!!”

Suara Rina keras. Semua langsung menoleh.

“Apa?”

Rina menatap satu per satu wajah di depannya.

“Kalian ini pada mikir nggak sih kalau ngomong?”

Suasana langsung tegang. Arin mengangkat alis.

“Kita cuma bercanda.”

“BERCANDA?” Rina tertawa pendek. “Nyamain manusia sama sapi itu bercanda?”

Salah satu staf nyengir.

“Baper amat.”

Rina mendekat satu langkah.

“Kalau gue bilang otak lo segede kacang polong, itu juga bercanda?”

“Eh, santai dong!”

“Justru gue santai,” kata Rina. “Lo semua yang kebablasan.”

Arin menyilangkan tangan.

“Rina, kamu jangan lebay. Semua orang di sini juga tahu kok itu cuma guyon.”

Rina menoleh tajam ke Arin.

“Lucu ya guyonan yang cuma bikin satu orang jadi bahan hinaan?”

Arin tersenyum tipis.

“Kita kan cuma ngomongin fakta.”

“FAKTA APA?!!” Rina membentak. “Fakta kalau kalian nggak punya empati?”

Salah satu staf tertawa canggung.

“Udah, Rin. Jangan dibawa serius.”

Rina menunjuk ke arah mereka.

“Kalian tuh tipikal orang yang kalau orangnya nggak ada, berani. Tapi kalau Harlia berdiri di sini—”

Ia menunjuk ke belakang. Ke arah Harlia. Yang kini semua mata melihat. Harlia berdiri dengan wajah pucat. Senyumnya tipis. Matanya berkaca-kaca tapi tidak jatuh.

“—kalian bakal ketawa, nggak?” lanjut Rina.

Hening.

Tidak ada yang menjawab. Arin melangkah maju.

“Harlia, kamu jangan dengerin. Ini cuma salah paham.”

Harlia tersenyum kecil.

“Oh.”

Ia mengangguk pelan.

“Berarti aku sapi, ya?”

Semua tersentak.

“Har—”

“Tenang,” kata Harlia cepat. “Aku ngerti, kok.”

Ia menoleh ke Arin.

“Terima kasih, ya.”

Arin bingung.

“Untuk apa?”

“Udah ngingetin aku,” suara Harlia bergetar, “kalau di tempat ini… aku cuma bahan cerita.”

Rina langsung meraih tangan Harlia.

“Udah.”

Ia menatap semua orang itu dengan mata penuh amarah.

“Kalian nikmatin aja tawa kalian.”

Rina menarik Harlia pergi.

Langkah cepat. Melewati lorong. Keluar gedung. Begitu pintu kaca tertutup.

Harlia berhenti.

Bahunya turun. Air mata jatuh tanpa suara. Rina langsung memeluknya.

“Maaf,” kata Rina pelan. “Gue harusnya nyeret lo dari tadi.”

Harlia tertawa kecil sambil menangis.

“Gue kira udah kebal.”

Rina mengusap punggungnya.

“Manusia nggak ada yang kebal sama mulut jahat.”

Harlia menghela napas panjang.

“Rin.”

“Iya?”

“Kalau aku sapi…”

Rina mendengus.

“Lo sapi paling mahal di pasaran. Limosin super. Dengan bonus hati emas.”

Harlia tertawa di sela tangis. Ia menghapus air matanya.

“Makasih, ya.”

Rina tersenyum.

“Gue di sini sama lo, Har. Lo jangan ngerasa sendirian.”

Mereka duduk di bangku luar gedung. Diam sejenak menikmati angin pagi yang tumben bertiup.

Dunia tetap berisik. Tapi, setidaknya mereka tidak sendirian. Dan di antara tawa kejam, persahabatan tetap jadi tempat pulang.