Drama #Humor #Baper

AKU CAPEK JADI AKU

09 January 2026

Harlia pulang dengan langkah seperti balon kempis. Tasnya berat. Bukan karena isinya, tapi karena hatinya. Begitu pintu rumah dibuka....

“Har!”

Suara ibunya menyambut dengan nada ceria berlebihan.

“Coba sini! Ibu nemu lagi model kebaya yang cakep banget!”

Biasanya, Harlia akan menjawab seadanya.

Tapi kali ini, ia hanya berdiri.

Diam.

Sepatunya belum dilepas. Matanya kosong. Ibunya yang sedang menggelar beberapa foto baju di meja ruang tamu langsung berhenti bergerak.

Ekspresinya berubah pelan. Seperti Wi-Fi yang sinyalnya turun satu bar.

“Kamu kenapa?” tanya ibunya curiga.

Harlia menggeleng. Ibunya mendekat.

“Mukamu kenapa kayak abis kalah arisan?”

Harlia tetap diam. Ibunya mulai panik.

“Har? Di kantor ada apa? Kamu sakit? Topan kenapa? Jangan bilang mahar batal—”

“BU!”

Harlia akhirnya berteriak. Ibunya kaget.

“Ih! Ngagetin!”

Harlia melempar tas ke sofa. Lalu, DUDUK. Napasnya memburu.

“Aku capek!” katanya keras.

Ibunya langsung pasang tangan di pinggang.

“Capek apa lagi? Kamu ini tiap hari capek padahal kerjanya duduk!”

Harlia berdiri lagi.

“AKU PENGEN LANGSING!”

Ibunya terdiam.

“AKU PENGEN CANTIK!”

Ibunya berkedip.

“KAYAK CEWEK-CEWEK DI LUAR SANA!”

Ibunya refleks menjawab, “Ya diet, lah!”

Harlia menggeram.

“BUKAN DIET INSTAN! AKU PENGEN… PENGEN SEKALI SEUMUR HIDUP NGACA TERUS NGGAK NANGIS!”

Ibunya terdiam beberapa detik. Lalu....

“Ya Allah....” Ibunya menghela napas panjang. “Dengerin, ya.”

Nada ibunya berubah. Tidak lagi nyaring. Lebih ke lelah tapi sayang.

“Kamu kira ibu nggak pernah pengen langsing?”

Harlia tertegun.

“Ibu dulu,” lanjut ibunya, “waktu umur kamu, bisa nangis cuma gara-gara rok nggak muat.”

Harlia memandang ibunya.

“Ibu juga pernah insecure. Tapi ibu nggak tantrum kayak kamu,” lanjut ibunya cepat.

“Ibu nangis di kamar mandi, diam-diam.”

Harlia nyengir sambil nangis.

“Oh… jadi nurun, ya?”

Ibunya mencubit lengan Harlia.

“Kurang ajar.”

Harlia terisak kecil.

“Aku capek dibahas orang, Bu.”

Ibunya mendekat. Mengelus kepala Harlia.

“Ibu tahu.” Harlia bersandar ke dada ibunya. “Tapi kamu jangan benci badan kamu.”

Harlia menggeleng pelan.

“Susah.”

Saat itulah pintu rumah terbuka. Ayah Harlia masuk.

“Mendadak rumah kayak pasar,” katanya santai. “Ada diskon apa?”

Ibunya menoleh.

“Anakmu tantrum lagi.”

Ayah Harlia menaruh tas.

“Kenapa kali ini?”

Harlia menoleh ayahnya dengan mata bengkak.

“Aku pengen langsing,” katanya lirih.

Ayah Harlia tersenyum kecil.

“Oh.”

Ia duduk di sofa.

“Harlia,” katanya pelan, “kalau mau langsing, itu butuh proses.”

Harlia mendesah.

“Semua yang bagus itu nggak instan,” lanjut ayahnya.

Ibunya menyahut, “Kecuali mie.”

Ayah mengangguk.

“Itu juga bikin tambah gemuk.”

Harlia terkekeh kecil. Ayah melanjutkan, “Kamu mau berubah? Bisa. Tapi pelan.”

Harlia mengangguk.

“Yang penting konsisten.”

Ibunya menepuk tangan.

“Nah! Setuju. Jadi besok kita mulai makan sayur!”

Harlia panik.

“Bu, jangan ekstrem.”

Ayah tertawa.

“Sekarang,” kata ayah, “kamu fokus ke lamaran dulu.”

Ibunya langsung semangat lagi.

“Nah, itu dia!”

Ibunya menyeret Harlia ke meja.

“Pilih. Ini. Ini. Ini.”

Harlia menatap foto-foto baju. Lalu mengernyit.

“Bu…”

“Kenapa?”

“Ini kayak gorden.”

Ibunya tersinggung.

“Ini kebaya modern!”

“Modern tahun berapa?”

Ibunya menunjuk yang lain.

“Kalau ini?”

“Kayak taplak meja.”

“Yang ini!”

“Bu, itu warnanya kayak stabilo.”

Ibunya mendengus.

“Kamu ini susah banget.”

Ayah ikut melihat.

“Yang ini bagus.”

Harlia menatap.

“Yah, itu kayak seragam pengajian.”

Ayah mengangguk.

“Ya, pengajian elite.”

Ibunya mengomel.

“Kamu tuh pengen cantik tapi maunya ribet!”

Harlia duduk lesu.

“Bu, aku pengen yang bikin aku ngerasa aku manusia, bukan lontong daun.”

Ibunya terdiam. Lalu berkata, “Berarti kita harus ke tukang jahit.”

Harlia menoleh.

“Serius?”

Ibunya mengangguk.

“Biar sesuai badan kamu.”

Harlia tersenyum kecil.

“Tapi,” lanjut ibunya cepat, “itu mahal.”

Harlia mengangguk.

“Dan lama.”

Harlia mengangguk lagi.

“Dan ibu pasti ngomel.”

Harlia tertawa kecil.

“Deal.”

Ayah tertawa.

Ibunya berdiri.

“Sekarang mandi. Mukamu kayak abis kehujanan.”

Harlia berdiri patuh. Tapi sebelum pergi, ia menoleh.

“Bu?”

“Iya?”

“Makasih, ya.”

Ibunya melirik.

“Iya iya.”

Tapi senyumnya muncul.

Dan malam itu, di rumah yang penuh omelan,

Harlia merasa tidak cantik pun tidak apa-apa,

asal tidak sendirian.

Hari berikutnya....

Hari itu matahari terasa lebih terik dari biasanya. Atau mungkin Harlia saja yang lebih sensitif karena waktu lamaran tinggal menghitung hari, sementara bajunya masih sebatas wacana dan doa ibu-ibu komplek.

Di depan sebuah ruko kecil bertuliskan “JAHIT RAPI BU YATI”. Harlia berdiri sambil menghela napas panjang.

“Bu…,” katanya ragu, “kayaknya waktunya mepet banget.”

Ibunya melirik jam tangan.

“Justru itu makanya kita ke sini.”

Pintu ruko dibuka. Seorang wanita paruh baya dengan kacamata menggantung di hidung menoleh sambil tetap menjahit.

“Iya, mau jahit apa?”

Ibunya Harlia tersenyum.

TERSENYUM.

Harlia sampai refleks menoleh ke ibunya.

Ini ibu gue? Yang biasanya bentak-bentak tukang parkir?

“Bu Yati,” kata ibunya lembut, “kami mau jahit kebaya buat lamaran.”

Bu Yati berhenti menjahit.

“Lamaran kapan?”

“Minggu depan.”

Jarum jatuh.

“HAH?!”

Bu Yati langsung berdiri.

“Minggu depan?! Bu, ini bukan mau bikin mie instan!”

Ibunya tetap tersenyum.

“Iya, saya tahu.”

Bu Yati menghela napas panjang.

“Bu, ini tuh waktunya mepet banget.”

Ibunya mengangguk.

“Iya.”

Harlia menahan napas, siap melihat ibunya berubah jadi mode galak.

Tapi yang terjadi.... Ibunya malah menangkupkan tangan.

“Bu Yati,” katanya lembut, “tolong ya. Ini buat anak saya.”

Harlia menatap ibunya.

Serius ini ibu gue?

Bu Yati terdiam.

Ibunya melanjutkan, “Anak saya jarang minta apa-apa. Kalau soal badan, dia sering minder. Saya pengen di hari lamarannya dia ngerasa cantik.”

Harlia menelan ludah. Dadanya terasa hangat.

Bu Yati menghela napas lagi, kali ini lebih pelan.

“Modelnya gimana?”

Harlia tercekat.

“Beneran bisa, Bu?”

Bu Yati mengangguk.

“Bisa. Tapi jangan rewel.”

Ibunya langsung menjawab, “Dia nggak rewel.”

Harlia refleks menoleh.

“Bu—”

“DIAM,” kata ibunya cepat tapi lembut. “Kali ini kamu diem.”

Bu Yati mengukur badan Harlia.

“Pinggang segini…”

Harlia meringis.

“Paha segini…”

Harlia memejamkan mata.

Ibunya berdiri di sampingnya, menggenggam tangannya pelan.

“Tenang,” bisik ibunya.

Dan untuk pertama kalinya, Harlia tidak merasa seperti objek timbangan.

Selesai dari tukang jahit, perut mereka berbunyi serempak. Ibunya tersenyum.

“Makan bakso, yuk!”

Harlia mengangguk cepat.

“Ayuk!”

Mereka duduk di warung bakso pinggir jalan. Bakso datang mengepul. Harlia makan lahap. Ibunya juga. Hening damai.

Sampai....

“Semuanya empat puluh delapan ribu.”

Ibunya merogoh tas.

Diam.

Merogoh lagi.

Diam.

“Ih,” katanya pelan, “dompet ibu mana, ya?”

Harlia menelan ludah.

“Ibu…,” katanya pelan, “jangan bercanda.”

Ibunya membalik tas, tapi kosong.

“Ya Allah....”

Harlia ikut panik.

“Dompetnya ketinggalan di tukang jahit apa, ya?”

Ibunya mengangguk pelan. Tukang bakso melipat tangan.

“Jadi gimana, Bu?”

Ibunya tersenyum kaku.

“Sebentar ya, Pak.”

Harlia berbisik panik, “Bu, aku juga nggak bawa uang. Aku cuma bawa HP.”

Tukang bakso mendengus.

“Jangan-jangan mau kabur?”

“NGGAK!” kata Harlia cepat.

Ibunya menoleh ke tukang bakso.

“Pak, bisa QRIS?”

“NGGAK BISA.”

Harlia hampir nangis. Tukang bakso mulai ngomel.

“Ini udah sering kejadian, Bu. Makan dulu baru bingung bayarnya.”

Ibunya menunduk.

“Saya beneran lupa, Pak.”

“Ya mau gimana sekarang?”

Harlia merasa semua mata memandang. Tiba-tiba....

“Pak, bakso satu,  dibungkus!”

Suara itu datang dari belakang. Harlia menoleh.

Jordi.

Dengan jaket lusuh, helm di tangan, wajah santai seolah ini bukan adegan krisis. Tukang bakso langsung berubah nada.

“Oh iya, Mas.”

Lalu kembali ke Harlia.

“Yang ini gimana?”

Jordi melirik. Melihat wajah panik Harlia. Melihat ibunya yang gelagapan. Jordi langsung mengeluarkan dompet.

“Pak,” katanya tenang, “sekalian yang ini saya bayar.”

Tukang bakso langsung senyum menerima uang selembar seratus ribuan dari Jordi.

“Oh, siap!”

Ibunya terbelalak.

“Loh, Mas?!”

Jordi mengangkat tangan.

“Nggak apa-apa, Bu.”

Harlia berdiri.

“Mas Jordi, makasih banget.”

Ibunya langsung menangkup tangan.

“Ya Allah, Mas. Terima kasih ya.”

Jordi tersenyum.

“Sama-sama, Bu. Harlia.”

Ibunya makin semangat.

“Masnya baik banget. Kenal sama Harlia juga.”

Harlia mulai gelisah.

Ibunya melanjutkan, “Nanti datang ya ke nikahan anak saya ya, Mas.”

SUNYI.

Harlia membeku.

Jordi terdiam.

Tukang bakso berhenti mengaduk kuah.

Harlia menoleh cepat.

“BU—”

Ibunya tersenyum polos.

“Biar tau bakso mana yang harus dibungkus.”

Jordi tertawa kecil.

“Oh…”

Harlia tersenyum kaku. Ibunya menepuk lengan Jordi.

“Makasih ya, Mas. Budi baik nggak dilupain.”

Jordi mengangguk.

“Iya, Bu.”

Tapi saat mata Jordi bertemu mata Harlia, ada sesuatu yang menggantung. Bukan lucu. Bukan ringan. Namun tegang.

Dan Harlia tahu…

Undangan itu mungkin terdengar sepele. Tapi bisa jadi masalah besar yang belum sempat dimengerti siapa pun.