Drama

Bayangan Gradasi - Pernyataan Yang Mengguncang - Bab 20

Penulis Ichan
12 September 2025

Pernyataan yang Mengguncang

"Berita itu berputar di layar televisi, menghantam dada Al lebih keras daripada peluru musuh. Nama yang dipasangkan dengannya bukan sekadar rumor, itu adalah perangkap yang bisa menghancurkan segalanya, termasuk perasaannya pada Hanum."


Pemberitaan yang menghebohkan.

Cahaya televisi memenuhi ruang tamu apartemen malam itu. Hanum yang baru saja keluar dari kamar, masih mengenakan piyama sederhana, terhenti mendengar nama yang tiba-tiba disebutkan penyiar berita.

“Putra pengusaha berpengaruh, Al-Faidzin, dikabarkan akan segera dijodohkan dengan Sarina Affany Umar, putri Wakil Presiden. Kabar ini mempertegas hubungan politik antara dua keluarga besar dan dianggap sebagai aliansi strategis di tengah situasi panas saat ini.”

Hanum tercekat. Matanya membulat, menoleh ke arah Al yang berdiri membeku di depan layar. Wajah pria itu tegang, rahangnya mengeras, matanya berkilat bagai bara.

“Apa-apaan ini,” gumam Al, nyaris geram.

Hanum membuka mulut, hendak bertanya, tapi Al lebih dulu meraih remote dan mematikan televisi dengan kasar. Suara berita terputus, menyisakan hening yang menyesakkan dada.

“Al,” suara Hanum pelan. “Itu, maksudnya benar?”

Al tak menjawab. Ia hanya menunduk, menahan napas dalam-dalam seakan menahan ledakan. Lalu, tanpa sepatah kata, ia meraih jasnya, menyambar kunci mobil, dan keluar dengan langkah panjang.

Hanum terdiam di tempat, hatinya kalut. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.


Rumah keluarga Al malam itu dijaga ketat. Deretan pengawal berseragam hitam berjejer di halaman, senjata disembunyikan tapi kewaspadaan jelas terasa.

Al masuk tanpa basa-basi. Sepatunya menghentak marmer dingin, menembus ruang besar tempat ayahnya, Arman Faidzin, sedang duduk santai ditemani segelas anggur.

“Jelaskan ini!” bentak Al, melempar remote televisi ke meja kaca di depan ayahnya.

Arman hanya tersenyum tipis, sorot matanya tenang namun tajam. “Kau sudah dengar, kan? Itu bukan sekadar kabar. Itu keputusan.”

Al mengepalkan tinju. “Keputusan siapa? Aku tidak pernah setuju!”

“Kau tidak perlu setuju, Al,” jawab Arman dingin. “Dalam keluarga kita, keputusan ditentukan oleh strategi, bukan perasaan.”

“Perasaan?” suara Al meninggi. “Kau pikir aku akan menikahi orang yang bahkan tidak pernah kucintai hanya demi memperluas pengaruhmu?!”

Arman meneguk anggurnya perlahan. “Sarina adalah putri Wakil Presiden. Kau tahu artinya? Dukungan politik, perlindungan dan posisi yang lebih kokoh daripada apa pun yang bisa kita beli dengan uang.”

Al menggeleng, napasnya memburu. “Tidak. Aku tidak akan menikah dengannya.”

Tatapan Arman mengeras. “Kau tidak punya pilihan.”

Al maju selangkah, wajahnya memerah karena amarah. “Aku selalu menurut selama ini, Ayah. Aku bertarung, mempertaruhkan nyawa demi nama besar keluarga, tapi untuk hal ini, aku bilang tidak!”

“Jangan bodoh, Al!” Arman membentak, suaranya bergema. “Apa kau ingin menghancurkan keluarga ini hanya karena seorang gadis kecil yang bahkan tidak sepadan denganmu?!”

Al terdiam sepersekian detik. Kata-kata itu menusuk hatinya. Ia tahu siapa yang dimaksud. Hanum.

“Kau tidak tahu apa-apa,” desis Al lirih, tapi penuh api.

“Aku tahu segalanya!” balas Arman. “Aku tahu tatapanmu padanya. Aku tahu kenapa kau menolak Sarina. Kau pikir aku buta? Kau jatuh hati pada anak itu! Putri Firdaus!”

Al mengepalkan tinju lebih keras, nyaris meledak. “Jika kau berani merendahkannya lagi, Ayah, aku bersumpah.”

“Cukup!” Arman bangkit berdiri. Suaranya menggema, berwibawa sekaligus menindas. “Kau akan menikahi Sarina. Titik.”

“Tidak!” Al menoleh tajam. “Aku bukan boneka politikmu.”

Al berbalik. Ia berusaha kabur, melangkah cepat menuju pintu. Namun, seketika, dua pengawal besar menghadang di depannya.

“Geser!” bentak Al.

Mereka tak bergeming. Salah satunya berkata, “Maaf, Tuan Muda. Kami tidak bisa membiarkan Anda keluar sebelum Tuan Besar memberi izin.”

Al mendengus, lalu dengan gerakan cepat ia menendang meja samping, membuat vas pecah berkeping-keping. Sementara pengawal yang lengah segera mendapat hantaman siku keras ke rahang.

Pengawal kedua mencoba menangkapnya, tapi Al lebih gesit. Ia memutar tubuh, menyambar kursi dan menghempaskannya ke arah pria itu. Suara kayu pecah mengiringi jeritan tertahan.

Dalam hitungan detik, Al berhasil menerobos pintu, berlari ke luar rumah.

“Kejar dia!” teriak Arman dari dalam.

Namun, Al sudah melompat ke dalam mobil sport hitamnya. Mesin meraung, roda berputar meninggalkan bekas ban di aspal. Ia kabur menembus malam, membawa amarah dan luka yang tak lagi bisa disembunyikan.


Beberapa jam kemudian, balkon apartemen kembali jadi saksi bisu. Hanum berdiri di sana, menatap langit malam yang dipenuhi bintang, berusaha menenangkan hati.

Suara pintu terbuka keras membuatnya menoleh. Al muncul, wajahnya kusut, kemeja berantakan, napasnya masih tersengal.

Hanum menahan napas. “Al, kau kenapa?”

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya berjalan terhuyung ke balkon, lalu menjatuhkan diri di kursi. Botol-botol alkohol sudah tersusun di meja kecil, rupanya ia sempat membeli sebelum pulang.

Hanum mendekat, menatapnya dengan cemas. “Kau mabuk?”

Al menatap kosong ke arah kota yang berkilauan. “Belum, tapi aku ingin.”

Hanum menghela napas, lalu duduk di sampingnya. “Kalau ada masalah, kau bisa cerita. Jangan lari ke minuman.”

Al tersenyum miring, getir. “Masalahku tidak bisa selesai dengan cerita, Hanum. Bahkan minuman pun mungkin tak cukup.”

Hanum menatapnya dalam. Ada luka di sana, lebih dalam daripada sekadar amarah.

Hening beberapa lama. Hanya suara lalu lintas dari jalanan jauh di bawah sana yang terdengar.

Hanum akhirnya bicara, pelan. “Tadi aku lihat berita itu, tentang perjodohanmu.”

Al menoleh cepat, tatapannya tajam. “Kau percaya?”

“Aku tidak tahu harus percaya atau tidak,” jawab Hanum jujur, “tapi wajahmu tadi, seperti orang yang ingin meledak.”

Al tertawa pendek, tanpa humor. “Ledakan itu sudah terjadi, Hanum. Aku melawan Ayahku sendiri dan sekarang aku tidak tahu apa yang akan menimpa kita setelah ini.”

Hanum terdiam, hatinya tercekat mendengar kata kita.

“Aku tahu apa yang kau pikirkan,” lanjut Al, suaranya berat. “Kau pasti mengira aku menolak perjodohan itu karena keras kepala. Karena aku benci dijadikan alat politik. Itu memang benar, tapi bukan itu alasan utamanya.”

Hanum mengernyit. “Lalu apa?”

Al menatapnya lama, sangat lama, seakan ingin memastikan sesuatu. Lalu ia berkata dengan suara pelan, tapi tegas, “Karena aku mencintaimu.”

Hanum membeku.

“Aku menolak Sarina, menolak semua rencana Ayah, karena hatiku sudah milikmu, Hanum. Dari awal aku tahu ini salah, aku tahu kau adik sahabatku, aku tahu ini bisa menghancurkan segalanya, tapi aku tidak bisa lagi berpura-pura.”

Hanum menggigit bibir, jantungnya berdetak begitu cepat hingga nyaris menyakitkan.

“Al,” suaranya lirih. “Kau sadar apa yang baru saja kau katakan?”

“Aku sadar,” jawab Al mantap. “Lebih sadar daripada apa pun dalam hidupku dan aku tidak akan menariknya kembali.”

Hanum memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca. “Ini gila. Kau dan aku tidak seharusnya.”

“Tapi kenyataannya aku merasakannya.”

“Bagaimana dengan Ayah? Bagaimana dengan semua orang di luar sana? Mereka akan menghancurkanmu, Al. Mereka akan menghancurkan kita.”

Al meraih tangannya, menggenggam erat. “Biarlah. Asal aku masih bisa melindungimu, tidak ada yang lain yang penting.”

Hanum menatap genggaman itu, hatinya bergetar hebat. Ada bagian dari dirinya yang ingin menolak, tapi ada juga yang diam-diam menginginkan hal ini sejak lama.

Namun, sebelum ia bisa menjawab, suara ponselnya berdering keras dari meja dalam.

Hanum buru-buru berdiri, mengambil ponsel. Wajahnya pucat saat membaca pesan singkat yang baru masuk.

Pesan itu hanya satu kalimat.

“Kami tahu lokasi kalian. Bersiaplah, ini malam terakhir kalian merasa aman.”

Hanum menoleh ke arah Al dengan mata membelalak. “Al, mereka sudah tahu!”

Al segera bangkit, meraih pistol dari balik jaketnya. Matanya tajam, tubuhnya tegang.

Lampu apartemen tiba-tiba padam, menyisakan kegelapan total.

Dari luar, suara helikopter mendekat, disusul kilatan merah dari laser senapan yang menyorot ke arah balkon tempat mereka berdiri.

Al menarik Hanum ke belakang, membentak, “Berlindung!”

Peluru pertama menghantam kaca balkon, pecah berhamburan.

Malam yang tadi penuh pengakuan berubah jadi medan perang mematikan.

Siapa dalang yang benar-benar berada di balik serangan ini?

Mampukah Al melindungi Hanum, atau justru perasaan mereka menjadi kelemahan terbesar?