Tawaran Kerja Baru

09 January 2026

Sore itu langit tampak sedikit mendung, cahaya matahari meredup perlahan di balik gedung-gedung pertokoan.

Arema merapikan tas selempangnya, berpamitan pada Nita dan pegawai lain, lalu melangkah keluar dari toko pakaian. Badannya terasa pegal, tapi langkahnya tetap ringan.

Ada kepuasan tersendiri setiap kali ia berhasil melewati hari dengan jujur, meski lelah. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju kos.

Pikirannya melayang pada rencana malam nanti—apakah ia sempat mampir melihat gerobak martabaknya yang rusak parah, atau sekadar beristirahat lebih awal.

Baru beberapa langkah meninggalkan toko, sebuah suara memanggilnya.

"Rema."

Arema berhenti. Ia menoleh ke arah suara itu dengan sedikit ragu. Di pinggir jalan, sebuah mobil hitam mengilap terparkir rapi.

Kaca jendelanya terbuka, dan di balik kemudi tampak sosok yang sudah cukup ia kenal sejak insiden beberapa hari lalu.

Jordi. CEO Grup Wijaya itu turun dari mobil, mengenakan kemeja abu-abu dan celana bahan gelap. Auranya tetap tenang, berwibawa, tapi tidak menakutkan.

"Eh, Bapak," sapa Arema refleks, sedikit kikuk.

Ia masih belum terbiasa berhadapan dengan orang yang status sosialnya jauh di atas dirinya.

Jordi tersenyum kecil. "Aku lihat kamu keluar dari toko baju, jadi aku turun nyamperin kamu. Itu tempat kerja kamu, ya?" Ia menunjuk ke arah toko di belakang Arema.

Arema mengangguk. "Iya, Pak. Aku kerja di situ dari pagi sampai sore."

"Pantas," gumam Jordi pelan. "Kamu kelihatan capek."

Arema tersenyum canggung. "Namanya juga kerja, Pak."

Jordi membuka pintu mobil. "Ayo, masuk. Kita cari gerobak baru."

Jantung Arema berdetak sedikit lebih cepat. Ia menatap mobil itu, lalu menatap Jordi. "Sekarang, Pak?"

"Iya. Mumpung masih sore," angguk Jordi.

Arema ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk, antara sungkan, heran, dan sedikit cemas.

Mobil melaju meninggalkan deretan toko. Namun, arah yang mereka ambil terasa asing bagi Arema. Bukan ke kawasan pasar atau bengkel gerobak, melainkan ke pusat kota.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah. Bangunannya megah, dengan lampu-lampu keemasan dan petugas berseragam rapi di pintu masuk.

Arema menelan ludah. "Kok Bapak ajak aku ke sini?" tanyanya sambil mengerutkan kening. "Bukannya mau cari gerobak?"

Jordi tersenyum santai. "Kita makan dulu. Kamu pasti belum makan, kan?"

Arema ingin menolak, tapi perutnya justru berbunyi pelan, seolah mengkhianatinya. Wajahnya memerah.

"Masuk saja," kata Jordi sambil berjalan lebih dulu.

Dengan langkah canggung, Arema mengikutinya. Di dalam, suasana restoran terasa begitu asing baginya, meja-meja tertata rapi, lantai mengilap, aroma makanan mahal bercampur wangi parfum para tamu.

Mereka duduk di dekat jendela. Pelayan datang membawa menu.

"Pesan apa saja yang kamu mau," ujar Jordi.

Arema membuka menu dengan tangan sedikit gemetar. Harga-harganya membuatnya hampir menutup kembali buku itu.

"Yang murah aja, Pak," katanya pelan.

Jordi terkekeh. "Tenang. Aku yang bayar."

Akhirnya mereka memesan beberapa menu. Tak lama, hidangan pun datang. Arema menatap piring di depannya, ragu-ragu untuk menyuap.

"Silakan dimakan," kata Jordi.

Perlahan, Arema mulai menyuapkan makanan ke mulut. Rasanya enak, sangat enak hingga membuatnya lupa sejenak pada segala beban hidup.

Beberapa saat mereka makan dalam diam. Kemudian Jordi meletakkan sendoknya. Tatapannya tertuju pada Arema, serius namun lembut.

"Sebenarnya," katanya pelan, "aku nggak tega lihat perempuan bekerja sekeras kamu. Pagi kerja di toko, malam jualan martabak. Itu berat."

Arema terdiam. Ia menunduk, memainkan ujung sendoknya.

"Aku cuma nggak mau nyusahin orang lain, Pak," jawabnya jujur. "Aku pengin mandiri."

Jordi mengangguk. "Itu yang bikin aku salut."

Ia menarik napas sejenak, lalu melanjutkan, "bagaimana, kalau kamu kerja di tempatku?"

Arema terbelalak. "Kerja di tempat Bapak? Di perusahaan?"

"Iya." Jordi mengangguk.

"Tapi, sekolahku nggak tinggi, Pak," ucap Arema buru-buru. "Aku cuma lulusan SMA. Aku nggak ngerti apa-apa soal perusahaan besar."

Jordi tersenyum lagi, kali ini lebih hangat. "Gampang saja. Nanti aku ajarin. Kamu bisa jadi asisten pribadiku."

Arema terpaku. Kalimat itu terasa terlalu besar untuk dicerna. "Asisten pribadi?" ulangnya pelan.

"Iya. Aku butuh orang yang jujur, tekun, dan bisa dipercaya. Dan aku lihat itu ada di kamu. Kebetulan, asistenku belum lama mengundurkan diri, karena ia mau melahirkan. Dan, setelah melahirkan, tentu saja dia sangat repot mengurus anak. Jadi dia memutuskan untuk berhenti kerja, kebetulan suaminya juga kerja di perusahaan yang gajinya cukup buat menghidupi anak istrinya."

"Terus, kenapa istrinya kerja, kalau suaminya cukup menghidupinya?" tanya Arema heran.

"Ia kerja hanya untuk mencari kesibukan sambil nunggu lahiran," jawab Jordi tenang.

Arema menggeleng pelan. "Tapi, Pak, gerobakku ...."

"Aku tetap akan memberikanmu gerobak martabak yang baru," potong Jordi dengan tenang. "Kamu bisa taruh di rumah dulu. Mungkin orang tua kamu mau kembali berjualan, atau kamu sendiri nanti. Yang penting, aku sudah ganti rugi atas kerusakan gerobak kamu."

Mata Arema berkaca-kaca. "Kenapa Bapak sebaik ini sama aku?" tanyanya lirih.

Jordi terdiam sejenak. "Karena aku tahu rasanya berjuang sendirian. Dan karena aku nggak mau lihat orang baik diperas keadaan."

Arema menunduk, air matanya jatuh ke pipi. Cepat-cepat ia menyekanya. "Aku mau rundingan dulu sama orang tuaku, Pak," katanya jujur.

"Tentu saja boleh," jawab Jordi. "Aku juga nggak maksa. Kamu pikirkan dulu matang-matang."

Setelah makan, mereka kembali ke mobil. Di perjalanan, Jordi menyerahkan sebuah kartu nama.

"Hubungi aku kalau kamu sudah siap."

Arema menerima kartu itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak, Pak."

Jordi tersenyum. "Hati-hati di jalan."

Mobil berhenti di depan kos Arema. Perempuan itu turun, berdiri menatap mobil itu pergi perlahan.

Di tangannya, kartu nama itu terasa berat, bukan karena bahannya, tapi karena harapan dan kemungkinan yang terkandung di dalamnya. Arema menatap langit senja.

"Mungkin, ini rejeki tak terduga," batinnya.

**

Hari Minggu akhirnya tiba. Sejak pagi suasana kos Arema terasa lebih sepi dari biasanya. Toko tempatnya bekerja libur.

Ia membereskan kamar kosnya sekadarnya, lalu bersiap pulang ke rumah orang tuanya.

Perjalanan pulang membuat pikirannya penuh. Sepanjang jalan, bayangan wajah Jordi, tawarannya, dan kartu nama yang masih tersimpan rapi di dompetnya terus terlintas.

Ia sendiri belum sepenuhnya percaya bahwa semua itu benar-benar terjadi padanya.

Sesampainya di rumah, Salma sudah menyambutnya di depan pintu dengan senyum hangat, sementara Wawan baru saja hendak berangkat kerja, menyempatkan diri menyambut putrinya datang.

"Rema," sapa Salma sambil memeluk putrinya erat. "Kamu kurusan, Nak."

Arema tersenyum kecil. "Capek dikit, Bun."

Mereka bertiga lalu duduk di ruang tengah. Setelah meneguk segelas teh hangat, Arema mulai bercerita.

Dari awal mula gerobak martabaknya ditabrak mobil, bagaimana ia kaget dan panik, sampai akhirnya tahu bahwa orang yang menabraknya adalah Jordi, CEO Grup Wijaya.

Arema juga menceritakan bagaimana Jordi bersedia mengganti kerugian, membelikan gerobak baru, hingga menawarkan pekerjaan sebagai asisten pribadi.

Salma mendengarkan dengan mata berbinar, sementara Wawan menyimak dengan wajah serius.

"Wah, bagus itu, Ma," ujar Salma penuh semangat. "Bunda setuju dan dukung kamu. Kerja di perusahaan besar itu gajinya besar, tau. Hidup kamu bisa lebih terjamin."

Arema menunduk, sedikit ragu. "Aku takut nggak bisa, Bun."

Wawan akhirnya angkat bicara. "Betul, Ma, kesempatan itu jarang datang dua kali. Tapi ayah pesan satu hal," katanya tegas namun lembut. "Kamu tetap harus jujur. Jangan pernah macam-macam, jangan bikin kecewa bos kamu. Jaga diri, jaga nama baik keluarga."

Arema mengangguk mantap. "Iya, Yah. Aku janji."

Di dalam hatinya, ada rasa takut, tapi juga harapan baru yang perlahan tumbuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya mungkin benar-benar akan berubah arah.Sore itu langit tampak sedikit mendung, cahaya matahari meredup perlahan di balik gedung-gedung pertokoan.

Arema merapikan tas selempangnya, berpamitan pada Nita dan pegawai lain, lalu melangkah keluar dari toko pakaian. Badannya terasa pegal, tapi langkahnya tetap ringan.

Ada kepuasan tersendiri setiap kali ia berhasil melewati hari dengan jujur, meski lelah. Ia berjalan menyusuri trotoar menuju kos.

Pikirannya melayang pada rencana malam nanti—apakah ia sempat mampir melihat gerobak martabaknya yang rusak parah, atau sekadar beristirahat lebih awal.

Baru beberapa langkah meninggalkan toko, sebuah suara memanggilnya.

"Rema."

Arema berhenti. Ia menoleh ke arah suara itu dengan sedikit ragu. Di pinggir jalan, sebuah mobil hitam mengilap terparkir rapi.

Kaca jendelanya terbuka, dan di balik kemudi tampak sosok yang sudah cukup ia kenal sejak insiden beberapa hari lalu.

Jordi. CEO Grup Wijaya itu turun dari mobil, mengenakan kemeja abu-abu dan celana bahan gelap. Auranya tetap tenang, berwibawa, tapi tidak menakutkan.

"Eh, Bapak," sapa Arema refleks, sedikit kikuk.

Ia masih belum terbiasa berhadapan dengan orang yang status sosialnya jauh di atas dirinya.

Jordi tersenyum kecil. "Aku lihat kamu keluar dari toko baju, jadi aku turun nyamperin kamu. Itu tempat kerja kamu, ya?" Ia menunjuk ke arah toko di belakang Arema.

Arema mengangguk. "Iya, Pak. Aku kerja di situ dari pagi sampai sore."

"Pantas," gumam Jordi pelan. "Kamu kelihatan capek."

Arema tersenyum canggung. "Namanya juga kerja, Pak."

Jordi membuka pintu mobil. "Ayo, masuk. Kita cari gerobak baru."

Jantung Arema berdetak sedikit lebih cepat. Ia menatap mobil itu, lalu menatap Jordi. "Sekarang, Pak?"

"Iya. Mumpung masih sore," angguk Jordi.

Arema ragu sejenak, lalu mengangguk. Ia masuk ke dalam mobil dengan perasaan campur aduk, antara sungkan, heran, dan sedikit cemas.

Mobil melaju meninggalkan deretan toko. Namun, arah yang mereka ambil terasa asing bagi Arema. Bukan ke kawasan pasar atau bengkel gerobak, melainkan ke pusat kota.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah. Bangunannya megah, dengan lampu-lampu keemasan dan petugas berseragam rapi di pintu masuk.

Arema menelan ludah. "Kok Bapak ajak aku ke sini?" tanyanya sambil mengerutkan kening. "Bukannya mau cari gerobak?"

Jordi tersenyum santai. "Kita makan dulu. Kamu pasti belum makan, kan?"

Arema ingin menolak, tapi perutnya justru berbunyi pelan, seolah mengkhianatinya. Wajahnya memerah.

"Masuk saja," kata Jordi sambil berjalan lebih dulu.

Dengan langkah canggung, Arema mengikutinya. Di dalam, suasana restoran terasa begitu asing baginya, meja-meja tertata rapi, lantai mengilap, aroma makanan mahal bercampur wangi parfum para tamu.

Mereka duduk di dekat jendela. Pelayan datang membawa menu.

"Pesan apa saja yang kamu mau," ujar Jordi.

Arema membuka menu dengan tangan sedikit gemetar. Harga-harganya membuatnya hampir menutup kembali buku itu.

"Yang murah aja, Pak," katanya pelan.

Jordi terkekeh. "Tenang. Aku yang bayar."

Akhirnya mereka memesan beberapa menu. Tak lama, hidangan pun datang. Arema menatap piring di depannya, ragu-ragu untuk menyuap.

"Silakan dimakan," kata Jordi.

Perlahan, Arema mulai menyuapkan makanan ke mulut. Rasanya enak, sangat enak hingga membuatnya lupa sejenak pada segala beban hidup.

Beberapa saat mereka makan dalam diam. Kemudian Jordi meletakkan sendoknya. Tatapannya tertuju pada Arema, serius namun lembut.

"Sebenarnya," katanya pelan, "aku nggak tega lihat perempuan bekerja sekeras kamu. Pagi kerja di toko, malam jualan martabak. Itu berat."

Arema terdiam. Ia menunduk, memainkan ujung sendoknya.

"Aku cuma nggak mau nyusahin orang lain, Pak," jawabnya jujur. "Aku pengin mandiri."

Jordi mengangguk. "Itu yang bikin aku salut."

Ia menarik napas sejenak, lalu melanjutkan, "bagaimana, kalau kamu kerja di tempatku?"

Arema terbelalak. "Kerja di tempat Bapak? Di perusahaan?"

"Iya." Jordi mengangguk.

"Tapi, sekolahku nggak tinggi, Pak," ucap Arema buru-buru. "Aku cuma lulusan SMA. Aku nggak ngerti apa-apa soal perusahaan besar."

Jordi tersenyum lagi, kali ini lebih hangat. "Gampang saja. Nanti aku ajarin. Kamu bisa jadi asisten pribadiku."

Arema terpaku. Kalimat itu terasa terlalu besar untuk dicerna. "Asisten pribadi?" ulangnya pelan.

"Iya. Aku butuh orang yang jujur, tekun, dan bisa dipercaya. Dan aku lihat itu ada di kamu. Kebetulan, asistenku belum lama mengundurkan diri, karena ia mau melahirkan. Dan, setelah melahirkan, tentu saja dia sangat repot mengurus anak. Jadi dia memutuskan untuk berhenti kerja, kebetulan suaminya juga kerja di perusahaan yang gajinya cukup buat menghidupi anak istrinya."

"Terus, kenapa istrinya kerja, kalau suaminya cukup menghidupinya?" tanya Arema heran.

"Ia kerja hanya untuk mencari kesibukan sambil nunggu lahiran," jawab Jordi tenang.

Arema menggeleng pelan. "Tapi, Pak, gerobakku ...."

"Aku tetap akan memberikanmu gerobak martabak yang baru," potong Jordi dengan tenang. "Kamu bisa taruh di rumah dulu. Mungkin orang tua kamu mau kembali berjualan, atau kamu sendiri nanti. Yang penting, aku sudah ganti rugi atas kerusakan gerobak kamu."

Mata Arema berkaca-kaca. "Kenapa Bapak sebaik ini sama aku?" tanyanya lirih.

Jordi terdiam sejenak. "Karena aku tahu rasanya berjuang sendirian. Dan karena aku nggak mau lihat orang baik diperas keadaan."

Arema menunduk, air matanya jatuh ke pipi. Cepat-cepat ia menyekanya. "Aku mau rundingan dulu sama orang tuaku, Pak," katanya jujur.

"Tentu saja boleh," jawab Jordi. "Aku juga nggak maksa. Kamu pikirkan dulu matang-matang."

Setelah makan, mereka kembali ke mobil. Di perjalanan, Jordi menyerahkan sebuah kartu nama.

"Hubungi aku kalau kamu sudah siap."

Arema menerima kartu itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih banyak, Pak."

Jordi tersenyum. "Hati-hati di jalan."

Mobil berhenti di depan kos Arema. Perempuan itu turun, berdiri menatap mobil itu pergi perlahan.

Di tangannya, kartu nama itu terasa berat, bukan karena bahannya, tapi karena harapan dan kemungkinan yang terkandung di dalamnya. Arema menatap langit senja.

"Mungkin, ini rejeki tak terduga," batinnya.

**

Hari Minggu akhirnya tiba. Sejak pagi suasana kos Arema terasa lebih sepi dari biasanya. Toko tempatnya bekerja libur.

Ia membereskan kamar kosnya sekadarnya, lalu bersiap pulang ke rumah orang tuanya.

Perjalanan pulang membuat pikirannya penuh. Sepanjang jalan, bayangan wajah Jordi, tawarannya, dan kartu nama yang masih tersimpan rapi di dompetnya terus terlintas.

Ia sendiri belum sepenuhnya percaya bahwa semua itu benar-benar terjadi padanya.

Sesampainya di rumah, Salma sudah menyambutnya di depan pintu dengan senyum hangat, sementara Wawan baru saja hendak berangkat kerja, menyempatkan diri menyambut putrinya datang.

"Rema," sapa Salma sambil memeluk putrinya erat. "Kamu kurusan, Nak."

Arema tersenyum kecil. "Capek dikit, Bun."

Mereka bertiga lalu duduk di ruang tengah. Setelah meneguk segelas teh hangat, Arema mulai bercerita.

Dari awal mula gerobak martabaknya ditabrak mobil, bagaimana ia kaget dan panik, sampai akhirnya tahu bahwa orang yang menabraknya adalah Jordi, CEO Grup Wijaya.

Arema juga menceritakan bagaimana Jordi bersedia mengganti kerugian, membelikan gerobak baru, hingga menawarkan pekerjaan sebagai asisten pribadi.

Salma mendengarkan dengan mata berbinar, sementara Wawan menyimak dengan wajah serius.

"Wah, bagus itu, Ma," ujar Salma penuh semangat. "Bunda setuju dan dukung kamu. Kerja di perusahaan besar itu gajinya besar, tau. Hidup kamu bisa lebih terjamin."

Arema menunduk, sedikit ragu. "Aku takut nggak bisa, Bun."

Wawan akhirnya angkat bicara. "Betul, Ma, kesempatan itu jarang datang dua kali. Tapi ayah pesan satu hal," katanya tegas namun lembut. "Kamu tetap harus jujur. Jangan pernah macam-macam, jangan bikin kecewa bos kamu. Jaga diri, jaga nama baik keluarga."

Arema mengangguk mantap. "Iya, Yah. Aku janji."

Di dalam hatinya, ada rasa takut, tapi juga harapan baru yang perlahan tumbuh. Untuk pertama kalinya, ia merasa hidupnya mungkin benar-benar akan berubah arah.