Masih pukul empat dini hari, langit gelap gulita. Udara sejuk menusuk kulit, membawa aroma khas tanah basah setelah hujan semalam.
Di dapur kecil rumah mereka, Naufal dengan cekatan membantu Adelia menyiapkan kotak-kotak makanan.
Aroma rempah-rempah harum memenuhi ruangan, berpadu dengan aroma kopi yang diseduh Adelia. Kelelahan tampak jelas di wajah ibunya itu, dan senyum tetap terukir di bibirnya.
“Nak, sudah siap tiga puluh kotak?” tanya Adelia dengan suara sedikit serak. Ia mengoleskan sambal hijau ke atas ayam bakar, gerakannya terampil dan cepat, walau terlihat sedikit terburu-buru.
Naufal mengangguk. “Sudah, Ma. Semuanya untuk Pak Erwin.” Ia menunjuk tumpukan kotak makan yang tertata rapi di atas meja. Setiap kotak berisi nasi putih, ayam bakar, sayur urap, dan sambal hijau, menu andalan usaha makanan rumahan Adelia yang baru berjalan tiga bulan. Usaha kecil yang Adelia jalankan di sela-sela pekerjaannya sebagai petugas di Bandara.
“Alhamdulillah,” gumam Adelia lega. “Semoga rezeki kita selalu lancar, Nak.”
“Aamiin. Biar aku saja yang antar ke kantor pak Erwin sebelum ke sekolah, Ma,” tawar Naufal.
“Tidak, Nak. Biar mama saja sekalian ke kantor,” Adelia melihat jam di dinding. “Kamu istirahat sambil menunggu subuh.”
“Mama juga butuh istirahat, Ma,” timpal Naufal mengingatkan.
Adelia tersenyum, mengusap kepala Naufal. “Terima kasih, anak baik mama. Oya, tunggu sebentar di sini,” kata Adelia lalu meninggalkan meja sebentar. Ia kembali dengan sebuah buku tabungan dan kartu ATM.
“Kamu simpan ini,” ucap Adelia menyerahkannya pada Naufal. “Tahun ini kamu sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah. Nanti setiap kali mama gajian dan punya rezeki lebih, mama akan menambahkan ke dalam tabungan ini.”
Naufal memandang isi buku tabungan itu. “Nanti, aku tambahkan juga dari uang jajananku, ya, Ma? Uang dari kerja juga bisa aku tambahkan.”
Adelia menggeleng. “Jangan, Nak. Tugasmu sekarang fokus belajar agar bisa menjadi apa yang kamu inginkan. Stop dulu kerja paruh waktunya, ya? Uangmu simpan saja untuk tabunganmu sendiri. Jangan campurkan ke tabungan ini. Biar mama saja.”
“Tapi mama nanti capek,” kata Naufal khawatir.
“Tidak apa-apa, Nak. Sudah kewajiban mama,” jawab Adelia lembut.
Naufal memandang ibunya. “Aku mau melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian, Ma. Apa boleh?”
“Kenapa Akpol, Nak?” tanya Adelia penasaran.
“Ingin seperti Om Revan,” jawab Naufal.
“Kenapa hanya melihat Om Revan? Om Kevin juga sosok yang hebat, lho. Dia juga berdedikasi pada negaranya,” kata Adelia mengingatkan Naufal pada sosok lain yang bisa menjadi panutan.
Naufal terdiam sejenak. Ia tahu Kevin juga mendedikasikan diri untuk negara sebagai anggota TNI.
“Ada hal lain yang ingin aku lakukan saat berada di instansi itu,” jawabnya nyaris tak terdengar.
Masih membekas dalam ingatannya pengkhianatan ayahnya bersama Chintya. Permintaannya pada kedua kakak lelaki ibunya untuk tak mencari keberadaan ayah kandungnya bukan tanpa alasan.
“Ya sudah. Terserah kamu saja. Mama mendukung apapun keputusan yang kamu ambil. Mama istirahat dulu, ya? Kamu bisa bereskan mejanya, Nak?”
“Bisa, Ma,” jawab Naufal.
“Terima kasih, Nak,” ucap Adelia sebelum meninggalkan dapur.
“Ingin ku cari di manapun dua pencuri yang mengkhianati mama,” gumam Naufal. “Harus aku yang menemukan mereka, bukan orang lain.”
7 tahun berlalu sejak hari itu.
Di ruang Satuan Reserse Narkoba Polresta, Naufal duduk tegak. Seragam reskrim hari seninnya—kemeja putih bersih, dasi merah menyala, dan celana hitam—menonjolkan posturnya yang gagah. Rambutnya yang dulu lurus kini terpotong pendek, rapi, dan tegas, mencerminkan disiplin seorang perwira.
Tatapannya tajam, berkilat tekad, menunjukkan kedewasaan dan tanggung jawab yang diembannya. Lulusan akpol dengan predikat sangat memuaskan, ia siap menghadapi tantangan baru: memberantas jaringan narkoba yang merajalela di kota kelahirannya.
Aroma kopi yang samar-samar tercium dari cangkir di mejanya membawanya kembali ke pagi-pagi di dapur rumahnya. Aroma itu mengingatkannya pada perjuangan dan pengorbanan ibunya, adelia.
Wanita tangguh itu telah pensiun dari pekerjaannya di maskapai penerbangan, dan semangatnya tak pernah padam. Usaha makanan rumahannya berkembang pesat, berkat kerja keras dan bantuan beberapa karyawan.
Kini, Adelia menikmati masa pensiunnya dengan merawat kebun kecil di belakang rumah, menanam bunga-bunga kesayangannya, dan memetik hasil jerih payah selama ini. Akhzam, adik Naufal yang kini berusia delapan tahun, selalu menemani hari-hari ibunya, mengisi kesunyian rumah dengan gelak tawa anak-anak.
Hari ini, operasi besar menanti. Naufal dan timnya menuju lokasi yang informan sebut sebagai “kampung narkoba.” Suasana tegang, dan di balik kegugupannya yang tersembunyi, ia mengingat pesan ibunya, “Mama mendukungmu,” dan nasihat kedua pamannya, Kevin tentang disiplin, serta Revan tentang keadilan. Ini adalah ujian sesungguhnya, operasi pertamanya yang memimpin tim secara penuh.
Di ruang briefing, Naufal menatap anggota timnya, wajahnya sedikit tegang. “Target kita Ricky. Informan menyebut lokasi ini ‘kampung narkoba’, jadi antisipasi situasi yang tak terduga. Ini operasi pertama saya memimpin tim secara penuh, jadi saya butuh kerja sama tim yang solid.” Suaranya terdengar tenang, berusaha meyakinkan diri sendiri dan timnya. “Aipda Dimas, pimpin Tim Elang. Bripka Razak, Tim Gagak. Peralatan dan senjata harus prima. Keselamatan tim adalah prioritas utama. Ingat, lebih baik aman daripada menyesal.”
“Siap, Dan. Tim Elang siap. Meskipun ini operasi pertama Komandan memimpin, kami percaya pada kemampuan Komandan,” Dimas berusaha mencairkan suasana tegang.
“Tim Gagak siap, Dan. Kami akan mendukung sepenuhnya.”
Naufal membuka laptop, menunjukkan peta dan foto Ricky. “Ini Ricky. Licik, koneksi luas, dan tempat persembunyian rahasia. Dimas, kamu pimpin penyerbuan. Razak, siapkan tim cadangan dan jalur evakuasi. Saya akan berada di pusat komando, mengawasi perkembangan.” Ia berusaha terlihat percaya diri, meskipun jantungnya berdebar kencang.
“Siap, Dan,” ucap Dimas.
“Siap, Dan. Tim cadangan sudah siap siaga,” kali ini Razak yang menjawab.
“Cepat, tepat, minimalisir risiko. Komunikasi terjaga. Laporkan setiap perkembangan. Ingat, keselamatan tim nomor satu. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika diperlukan,” Naufal mengingatkan.
Pukul 14.00 WIB, tim bergerak. Di perjalanan, radio komunikasi berdengung dengan laporan singkat dan instruksi. Ketegangan terasa, dan Naufal berusaha memimpin dengan tenang dan tegas.
Di lokasi, Naufal memberi arahan terakhir, “Elang, masuk! Gagak, siaga di posisi cadangan! Ingat prosedur!” Serbuan cepat dan tepat. Perlawanan terjadi, tembakan, teriakan, perintah singkat bercampur aduk. Tim terlatih Naufal mengendalikan situasi, meskipun Naufal beberapa kali harus memberikan instruksi tambahan untuk mengantisipasi situasi yang tak terduga.
Beberapa jam kemudian, operasi berakhir. Ricky dan anak buahnya tertangkap, barang bukti sabu dan ekstasi disita. Naufal menghampiri Dimas dan Razak, suaranya lega, “Bagus, kerja sama timnya solid! Operasi sukses!” Kelelahan terasa, dan kepuasan melingkupi mereka. Naufal merasakan beban yang terangkat dari pundaknya.