Bab 43 kedatangan tamu dari pusat

07 February 2026

Matahari bersinar dengan terang, memberikan kehangatan yang menyelimuti kota. Namun, suasana di perusahaan cabang Sangar terasa mencengkam. Pagi itu, Ruswanda, seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih, berjalan dengan langkah mantap menuju kantor. Ia ingin bertemu dengan teman lamanya, Sudarta, yang kini menjadi salah satu petinggi di perusahaannya tersebut.

Setibanya di kantor, Ruswanda disambut oleh resepsionis yang ramah. “Selamat pagi, Pak Ruswanda. Pak Sudarta sudah menunggu di ruang rapat,” katanya sambil tersenyum.

Ruswanda mengangguk dan mengikuti arahan resepsionis menuju ruang rapat. Ketika pintu terbuka, ia melihat Sudarta duduk di ujung meja, terlihat sibuk dengan tumpukan dokumen di depannya. Wajah Sudarta tampak lelah, tetapi ia tersenyum lebar ketika melihat Ruswanda.

“Pak Ruswanda! Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” kata Sudarta sambil bangkit dari kursinya dan memeluk temannya.

“Pak Sudarta, senang sekali bisa bertemu denganmu lagi,” jawab Ruswanda dengan hangat. Mereka duduk dan mulai berbincang tentang masa lalu, mengenang kenangan indah saat mereka masih muda.

Setelah beberapa saat, percakapan mereka beralih ke topik yang lebih serius. Sudarta mulai menceritakan masalah yang sedang dihadapi perusahaan. “Pak Ruswanda, perusahaan ini sedang menghadapi masalah besar. Beberapa bulan yang lalu, kami kehilangan data penting yang sangat berharga. Data tersebut berisi informasi keuangan dan proyek-proyek strategis perusahaan.”

Ruswanda mengerutkan kening. “Bagaimana bisa data tersebut hilang? Apakah ada yang mencurinya?”

Sudarta mengangguk. “Kami menduga ada seseorang di dalam perusahaan yang terlibat. Kami telah melakukan penyelidikan internal dan menemukan bahwa data tersebut dihapus secara sengaja. Kami juga menemukan jejak digital yang mengarah pada seorang karyawan baru bernama Hasan.”

“Hasan? Apakah dia yang bertanggung jawab atas hilangnya data tersebut?” tanya Ruswanda dengan penasaran.

“Awalnya kami berpikir begitu,” jawab Sudarta. “Namun, setelah melakukan penyelidikan lebih lanjut, kami menemukan bahwa Hasan dijebak oleh seseorang.”

Ruswanda terkejut mendengar cerita tersebut. “Jadi, Hasan tidak bersalah?”

Sudarta menghela napas panjang. “Kami bekerja sama dengan polisi untuk menangkap pelaku itu. dan kami belum menemukan bukti apa-apa lagi, kami belum berhasil menangkapnya.”

Ruswanda terdiam sejenak, merenungkan informasi yang baru saja diterimanya. “Kalau begitu, kita harus mencari tahu siapa yang sebenarnya bertanggung jawab. Apakah ada petunjuk lain yang bisa kita ikuti?”

Sudarta mengangguk. “Kami menemukan beberapa jejak digital yang mengarah pada seorang karyawan lain, tetapi kami belum bisa memastikan siapa dia. Kami juga menemukan bahwa ada beberapa transaksi mencurigakan yang terjadi di akun perusahaan.”

Ruswanda menghela napas. “Ini semakin rumit. Kita harus berhati-hati agar tidak menuduh orang yang salah lagi. Bagaimana dengan Hasan? Apakah dia masih bekerja di sini?”

“Tidak,” jawab Sudarta. “Setelah kami menemukan bahwa dia dijebak, kami memutuskan untuk memberinya cuti sementara sampai penyelidikan selesai. Kami tidak ingin dia merasa tertekan atau disalahkan atas sesuatu yang bukan kesalahannya.”

Ruswanda mengangguk setuju. “Itu keputusan yang bijak. Kita harus memastikan bahwa semua karyawan merasa aman dan tidak ada yang merasa terancam. Apakah ada langkah lain yang bisa kita ambil untuk mempercepat penyelidikan ini?”

“Kami sedang bekerja sama dengan tim IT untuk memperkuat sistem keamanan kami,” kata Sudarta. “Kami juga telah meminta bantuan dari ahli forensik digital untuk melacak jejak pelaku. Kami berharap bisa mendapatkan hasil yang lebih konkret dalam beberapa hari ke depan.”

Ruswanda merasa sedikit lega mendengar hal itu. “Baiklah, kita harus tetap waspada dan terus bekerja sama dengan pihak berwenang. Saya yakin kita akan menemukan pelakunya dan mengembalikan data yang hilang.”

Sudarta tersenyum tipis. “Saya juga berharap begitu, Pak. Kami akan terus bekerja keras untuk menyelesaikan masalah ini.”

Ruswanda mengangguk dan berdiri dari kursinya. “Terima kasih, Pak Sudarta. Saya akan terus memantau perkembangan penyidikan ini. Jika ada yang perlu dibicarakan, jangan ragu untuk menghubungi saya.”

“Baik, Pak,” jawab Sudarta. “Saya akan segera memberitahu Anda jika ada perkembangan baru.”

Ruswanda meninggalkan ruangan dengan pikiran yang penuh. Dia tahu bahwa penyelidikan ini akan memakan waktu dan tenaga, tetapi dia bertekad untuk menemukan pelakunya dan memastikan bahwa perusahaan tetap aman. Dengan langkah yang mantap, dia berjalan kembali kantornya, siap menghadapi tantangan yang ada di depan.

Sementara itu, Rihana pergi untuk mengajar. Meski sedang hamil dua bulan, semangatnya untuk mendidik anak-anak tidak pernah surut. Setiap pagi, Marcel selalu memastikan bahwa Rihana berangkat dengan aman dan nyaman. Dia sangat mencintai Rihana dan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya dan calon bayi mereka.

Namun, di balik kebahagiaan mereka, ada ancaman yang tidak mereka sadari. Endah, mantan kekasih Marcel, diam-diam menyelidiki perkembangan Rihana. Endah merasa sakit hati dan dendam karena hubungan masa lalunya dengan Marcel berakhir dengan buruk. Dia menginginkan kehancuran bagi keluarga Marcel dan bertekad untuk melakukan apa pun untuk mencapainya.

Endah mulai mengumpulkan informasi tentang Rihana. Dia menyewa seorang detektif swasta untuk mengawasi setiap gerakan Rihana. Setiap kali Rihana pergi mengajar, detektif itu mengikuti dari kejauhan, mencatat setiap detail kecil yang mungkin berguna bagi Endah. Endah berharap bisa menemukan celah yang bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan kebahagiaan Rihana dan Marcel.

Suatu hari, ketika Rihana sedang mengajar di kelas, dia merasa ada yang aneh. Dia merasa seperti diawasi, tetapi tidak bisa memastikan dari mana perasaan itu berasal. Dia mencoba mengabaikannya dan fokus pada murid-muridnya, tetapi perasaan itu terus menghantuinya sepanjang hari.

Sementara itu, Marcel juga mulai merasa cemas. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi tidak bisa menempatkan jarinya pada apa itu. Dia memutuskan untuk berbicara dengan Rihana tentang perasaannya. Malam itu, setelah makan malam, mereka duduk bersama di ruang tamu.

“Rihana, apakah kamu merasa ada yang aneh belakangan ini?” tanya Marcel dengan cemas.

Rihana mengangguk. “Ya, aku merasa seperti diawasi saat mengajar. Tapi aku tidak tahu siapa atau apa yang menyebabkan perasaan itu.”

Marcel menghela napas. “Aku juga merasa ada yang tidak beres. Mungkin kita harus lebih berhati-hati dan waspada.”

Rihana setuju. Mereka memutuskan untuk meningkatkan keamanan di sekitar rumah mereka dan lebih berhati-hati saat bepergian. Marcel juga memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang siapa yang mungkin mengawasi mereka.

Sementara itu, Endah semakin gencar dalam usahanya. Dia mulai menyebarkan desas-desus tentang Rihana di tempat kerja dan di lingkungan sekitar. Dia berharap bisa merusak reputasi Rihana dan membuatnya kehilangan pekerjaan. Namun, Rihana tetap tegar dan tidak membiarkan desas-desus itu mempengaruhi pekerjaannya.

Suatu hari, Endah bertemu dengan Tommy di sebuah kafe yang sepi. Tommy adalah mantan kekasih Rihana, dan dia memiliki dendam yang mendalam terhadap Marcel. Mereka duduk di sudut ruangan, berbicara dengan suara pelan agar tidak ada yang mendengar.

“Jadi, kamu juga punya masalah dengan Marcel?” tanya Endah, matanya menyipit penuh kecurigaan.

Tommy mengangguk. “Ya, dia menghancurkan hidupku. Aku ingin dia merasakan penderitaan yang sama.”

Endah tersenyum tipis. “Kita punya tujuan yang sama, Tommy. Mungkin kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan Marcel dan Rihana.”

Tommy memandang Endah dengan penuh minat. “Apa rencanamu?”

Endah mendekatkan wajahnya ke Tommy dan berbisik, “Aku punya beberapa ide, tapi kita harus berhati-hati. Kita tidak bisa membuat kesalahan.”

Tommy mengangguk setuju. “Baiklah, aku ikut dengan rencanamu. Apa langkah pertama kita?”

Endah tersenyum licik. “Langkah pertama adalah membuat mereka merasa aman. Kita akan biarkan mereka berpikir bahwa ancaman sudah berakhir. Dan saat mereka lengah, kita akan menyerang.”

Tommy tersenyum puas. “Aku suka cara berpikirmu, Endah. Mari kita mulai rencana ini.”

Mereka berdua tertawa pelan, merencanakan langkah-langkah mereka dengan hati-hati. Apa yang akan dilakukan Marcel untuk melindungi keluarganya? Dan apakah Endah dan Tommy akan berhasil dalam rencana jahat mereka? Semua akan terungkap di bab berikutnya…