Endah duduk di kamarnya, merencanakan langkah berikutnya dengan hati-hati. Dia tahu bahwa untuk menghancurkan kebahagiaan Marcel dan Rihana, dia harus melakukan sesuatu yang lebih drastis. Pikiran jahatnya berputar-putar, dan akhirnya dia menemukan cara yang kejam untuk mencapai tujuannya: membuat Rihana keguguran.
Endah tahu bahwa Tommy, mantan kekasih Rihana, masih memiliki perasaan yang kuat terhadapnya. Dia memutuskan untuk memperalat Tommy tanpa memberitahunya bahwa Rihana sedang mengandung. Dengan cara ini, Tommy akan menjadi alat yang sempurna untuk melaksanakan rencananya tanpa menyadari dampak sebenarnya dari tindakannya.
Endah menghubungi Tommy dan mengatur pertemuan di tempat yang sepi. Ketika mereka bertemu, Endah mulai berbicara dengan nada yang penuh simpati. “Tommy, aku tahu kamu masih mencintai Rihana. Aku juga tahu bahwa kamu ingin melihat Marcel menderita.”
Tommy mengangguk, matanya penuh dengan kebencian. “Ya, aku ingin dia merasakan sakit yang sama seperti yang aku rasakan.”
Endah tersenyum tipis. “Aku punya rencana yang bisa membuat itu terjadi. Tapi aku butuh bantuanmu.”
Tommy memandang Endah dengan penuh minat. “Apa rencanamu?”
Endah mendekatkan wajahnya ke Tommy dan berbisik, “Kita harus membuat Rihana mengalami kecelakaan kecil. Sesuatu yang tidak terlalu mencurigakan, tetapi cukup untuk membuatnya terluka. Dengan begitu, Marcel akan merasa bersalah dan menderita.”
Tommy ragu sejenak. “Tapi aku tidak ingin menyakiti Rihana. Aku hanya ingin Marcel menderita.”
Endah menghela napas. “Aku mengerti, Tommy. Tapi ini satu-satunya cara untuk membuat Marcel benar-benar merasakan penderitaan. Percayalah padaku, ini akan berhasil.”
Tommy akhirnya setuju, meskipun dengan hati yang berat. Dia tidak tahu bahwa Rihana sedang mengandung, dan Endah sengaja menyembunyikan fakta itu darinya. Mereka mulai merencanakan bagaimana cara membuat Rihana mengalami kecelakaan kecil tanpa mencurigakan.
Beberapa hari kemudian, Endah dan Tommy memutuskan untuk melaksanakan rencana mereka. Endah memberi tahu Tommy bahwa Rihana akan pergi ke taman setelah mengajar. Tommy mengikuti Rihana dari kejauhan, menunggu momen yang tepat untuk bertindak.
Ketika Rihana sedang berjalan di taman, Tommy meletakkan kulit pisang di jalur yang akan dilalui Rihana. Dia berpura-pura tidak tahu sampai Rihana terpeleset dan jatuh cukup keras. Rihana terkejut dan merasakan sakit yang tajam di perutnya. Tommy segera meminta maaf dan membantu Rihana bangun, berpura-pura tidak sengaja.
Rihana merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Dia segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Dokter memberitahunya bahwa dia mengalami keguguran. Rihana merasa hancur dan tidak bisa menahan tangisnya. Marcel segera datang ke rumah sakit setelah mendengar kabar tersebut dan memeluk Rihana dengan erat.
Marcel merasa marah dan sedih. Dia tahu bahwa ini bukan kecelakaan biasa. Dia mulai mencurigai bahwa ada seseorang yang sengaja ingin menyakiti mereka. Dia memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut dan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini.
Sementara itu, Endah merasa puas dengan hasil rencananya. Dia berpikir bahwa dia telah berhasil menghancurkan kebahagiaan Marcel dan Rihana. Namun, dia tidak tahu bahwa Marcel sedang menyusun rencana untuk mengungkap kebenaran dan membawa pelaku keadilan.
Marcel mulai mengumpulkan bukti dan mencari tahu siapa yang berada di taman pada hari kejadian. Dia menemukan rekaman CCTV yang menunjukkan Tommy berada di dekat Rihana saat kecelakaan terjadi. Marcel merasa marah dan kecewa.
Tommy datang kepada Endah dengan wajah penuh kemarahan dan kebingungan. “Endah, apa yang terjadi? Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa Rihana sedang hamil?” tanyanya dengan suara yang bergetar.
Endah tersentak mendengar pertanyaan itu. Dia tidak menyangka Tommy akan mengetahui kebenaran secepat ini. “Tommy, tenang dulu. Aku bisa menjelaskan,” jawabnya dengan suara yang berusaha tetap tenang.
Tommy tidak bisa menahan emosinya. “Menjelaskan? Kamu tahu apa yang telah terjadi? Rihana keguguran! Aku tidak pernah ingin menyakiti dia, apalagi bayinya!”
Endah mencoba mendekati Tommy, tetapi dia mundur, menolak untuk didekati. “Tommy, aku tidak tahu dia sedang hamil. Aku hanya ingin membuat Marcel menderita. Aku tidak pernah bermaksud untuk menyakiti Rihana atau bayinya.”
Tommy menatap Endah dengan mata penuh kebencian. “Kamu berbohong! Kamu tahu betapa pentingnya Rihana bagi Marcel. Kamu tahu bahwa menyakiti dia akan menghancurkan Marcel. Kamu menggunakan aku untuk rencana jahatmu!”
Endah merasa terpojok. Dia tahu bahwa dia harus berpikir cepat untuk menyelamatkan dirinya. “Tommy, dengarkan aku. Kita bisa memperbaiki ini. Kita bisa mencari cara untuk membuat Marcel menderita tanpa menyakiti orang lain.”
Tommy menggelengkan kepala. “Tidak, Endah. Aku sudah cukup dengan rencana jahatmu. Aku tidak akan membiarkan kamu menggunakan aku lagi. Aku akan pergi ke polisi dan memberitahu mereka semuanya.”
Endah merasa panik. “Tommy, jangan lakukan itu. Jika kamu pergi ke polisi, kita berdua akan masuk penjara. Pikirkan tentang masa depanmu. Pikirkan tentang apa yang akan terjadi pada kita.”
Tommy terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Endah. Dia tahu bahwa dia telah terlibat dalam sesuatu yang sangat salah, tetapi dia juga tahu bahwa dia tidak bisa terus hidup dengan rasa bersalah ini. “Aku tidak peduli, Endah. Aku harus melakukan hal yang benar. Aku harus memberitahu kebenaran.”
Dengan itu, Tommy berbalik dan meninggalkan Endah sendirian. Endah merasa ketakutan dan marah. Dia tahu bahwa jika Tommy pergi ke polisi, semuanya akan berakhir. Dia harus menemukan cara untuk menghentikannya sebelum terlambat.
Sementara itu, Marcel dan Rihana berusaha untuk pulih dari kejadian tragis yang menimpa mereka. Rihana merasa hancur, tetapi dia tahu bahwa dia harus kuat untuk Marcel. Mereka berdua bertekad untuk menemukan siapa yang bertanggung jawab atas keguguran Rihana dan membawa mereka keadilan.
Marcel mulai menyelidiki lebih dalam. Dia menemukan bahwa Tommy adalah orang yang menyebabkan kecelakaan itu, tetapi dia juga menemukan bahwa Tommy mungkin tidak bertindak sendirian. Marcel merasa bahwa ada seseorang di balik semua ini, seseorang yang memiliki dendam pribadi terhadapnya.
Marcel memutuskan untuk menghubungi Tommy dan mencoba mendapatkan informasi lebih lanjut. Dia tahu bahwa Tommy mungkin merasa bersalah dan mungkin bersedia untuk bekerja sama. Marcel mengatur pertemuan dengan Tommy di tempat yang aman dan tenang.
Ketika mereka bertemu, Marcel langsung ke intinya. “Tommy, aku tahu kamu yang menyebabkan kecelakaan itu. Tapi aku juga tahu bahwa kamu tidak bertindak sendirian. Siapa yang ada di balik semua ini?”
Tommy merasa terpojok, tetapi dia tahu bahwa dia harus memberitahu kebenaran. “Marcel, aku minta maaf. Aku tidak tahu bahwa Rihana sedang hamil. Endah yang merencanakan semuanya. Dia yang ingin menghancurkanmu.”
Marcel merasa marah dan kecewa, tetapi dia tahu bahwa dia harus tetap tenang. “Terima kasih, Tommy. Aku akan memastikan bahwa Endah mendapatkan apa yang pantas dia dapatkan. Tapi aku juga butuh bantuanmu untuk membawa dia keadilan.”
Tommy mengangguk setuju. “Aku akan membantu. Aku tidak ingin hidup dengan rasa bersalah ini lagi.”
Dengan itu, mereka berdua mulai merencanakan langkah berikutnya. Mereka tahu bahwa ini tidak akan mudah, tetapi mereka bertekad untuk membawa Endah keadilan dan memastikan bahwa dia tidak bisa menyakiti orang lain lagi.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Marcel dan Tommy akan berhasil membawa Endah keadilan? Semua akan terungkap di bab berikutnya…