Polisi datang ke rumah Endah untuk memberikan keterangan. Endah membuka pintu dengan wajah tenang, meskipun hatinya berdebar kencang. Dua polisi berpakaian dinas berdiri di depan pintu, salah satunya memperkenalkan diri sebagai Inspektur Rahman.

“Selamat pagi, Bu Endah. Kami dari kepolisian. Kami ingin berbicara dengan Anda mengenai insiden yang terjadi di taman beberapa hari yang lalu,” kata Inspektur Rahman dengan suara tegas namun sopan.

Endah mengangguk dan mempersilahkan mereka masuk. “Silakan masuk, Pak. Ada apa ini sebenarnya?”

Setelah duduk di ruang tamu, Inspektur Rahman mulai menjelaskan. “Kami sedang menyelidiki insiden yang menyebabkan Rihana mengalami keguguran. Kami memiliki bukti CCTV yang menunjukkan bahwa Tommy, seorang kenalan Anda, meletakkan kulit pisang di jalur yang dilalui Rihana, menyebabkan dia jatuh.”

Endah berpura-pura terkejut. “Tommy? Saya tidak mengenal siapapun bernama Tommy. Dan saya tidak tahu apa-apa tentang insiden itu.”

Polisi lainnya, Sersan Budi, menatap Endah dengan tajam. “Bu Endah, kami memiliki bukti yang cukup kuat. Kami hanya ingin mendengar versi Anda dari kejadian ini.”

Endah tetap tenang. “Seperti yang saya katakan, saya tidak mengenal Tommy dan saya tidak tahu apa-apa tentang insiden itu. Saya tidak bersalah.”

Sementara itu, di tempat lain, Tommy merasa terpojok. Dia tahu bahwa bukti CCTV menunjukkan dia yang meletakkan kulit pisang, tetapi dia tidak tahu bahwa Rihana sedang hamil. Rasa bersalah dan ketakutan menghantuinya setiap saat. Dia tahu bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki kesalahannya.

Tommy memutuskan untuk pergi ke kantor polisi dan memberikan keterangan. Dia berharap dengan mengakui kesalahannya, dia bisa mendapatkan keringanan hukuman. Ketika dia tiba di kantor polisi, dia langsung menuju meja resepsionis.

“Saya Tommy. Saya ingin memberikan keterangan tentang insiden di taman beberapa hari yang lalu,” katanya dengan suara gemetar.

Petugas resepsionis memandangnya dengan penuh minat. “Silahkan duduk, Pak Tommy. Kami akan segera memanggil penyidik.”

Beberapa menit kemudian, Tommy dibawa ke ruang penyelidikan. Di sana, dia bertemu dengan Inspektur Rahman dan Sersan Budi. Mereka memulai interogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang tajam.

“Tommy, kami memiliki bukti CCTV yang menunjukkan bahwa Anda meletakkan kulit pisang di jalur yang dilalui Rihana. Apa yang Anda katakan tentang ini?” tanya Inspektur Rahman.

Tommy menghela napas panjang. “Ya, itu benar. Saya yang meletakkan kulit pisang itu. Tapi saya tidak tahu bahwa Rihana sedang hamil. Saya tidak pernah bermaksud untuk menyakiti dia atau bayinya.”

Inspektur Rahman mengangguk. “Kami mengerti, Tommy. Tapi Anda harus tahu bahwa tindakan Anda telah menyebabkan kerugian besar. Rihana mengalami keguguran dan keluarganya sangat menderita.”

Tommy merasa air mata mengalir di pipinya. “Saya sangat menyesal. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan untuk memperbaiki ini.”

Sersan Budi menatap Tommy dengan penuh simpati. “Tommy, yang terbaik yang bisa Anda lakukan sekarang adalah bekerja sama dengan kami. Apakah ada orang lain yang terlibat dalam rencana ini?”

Tommy terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Ya, ada. Endah yang merencanakan semuanya. Dia yang menyuruh saya untuk melakukan itu.”

Inspektur Rahman dan Sersan Budi saling berpandangan. Mereka tahu bahwa ini adalah informasi penting yang bisa membantu mereka menyelesaikan kasus ini. “Terima kasih, Tommy. Kami akan menyelidiki lebih lanjut dan memastikan bahwa semua yang terlibat mendapatkan hukuman yang setimpal.”

Sementara itu, di rumah Endah, polisi terus mengajukan pertanyaan. Endah tetap bersikeras bahwa dia tidak bersalah dan tidak mengenal Tommy. Namun, dengan pengakuan Tommy, polisi memiliki bukti yang cukup untuk menangkap Endah.

Beberapa hari kemudian, polisi kembali ke rumah Endah dengan surat perintah penangkapan. Endah tidak bisa lagi mengelak. Dia dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi lebih lanjut. Di sana, dia bertemu dengan Tommy yang sudah memberikan keterangan lengkap.

Endah merasa marah dan terpojok. Dia tahu bahwa rencananya telah gagal dan dia harus menghadapi konsekuensinya. Namun, dia masih berusaha untuk mencari cara untuk keluar dari situasi ini.

Endah merasa darahnya mendidih ketika mendengar bahwa Tommy telah memberikan keterangan tentang perannya kepada polisi. Dia tidak percaya bahwa Tommy, yang dianggap sebagai sekutu, telah mengkhianatinya. Rasa marah dan panik bercampur aduk dalam dirinya.

“Tommy! Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?” pikir Endah dengan penuh kemarahan. Dia merasa terpojok dan tidak tahu harus berbuat apa. Semua rencananya hancur berantakan dan sekarang dia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya.

Di ruang interogasi, Endah berusaha mempertahankan ketenangannya. Namun, matanya yang berkobar menunjukkan betapa marahnya dia. “Saya tidak tahu apa yang Tommy katakan kepada kalian, tapi dia berbohong! Saya tidak terlibat dalam rencana apapun,” katanya dengan suara yang bergetar.

Inspektur Rahman menatap Endah dengan tajam. “Endah, kami memiliki bukti yang cukup kuat. Tommy telah memberikan keterangan lengkap tentang peran Anda dalam insiden ini. Kami juga memiliki rekaman CCTV yang menunjukkan bahwa Tommy meletakkan kulit pisang atas perintah Anda.”

Endah merasa semakin terpojok. Dia tahu bahwa dia tidak bisa lagi mengelak. “Baiklah, saya akui bahwa saya mengenal Tommy. Tapi saya tidak pernah menyuruhnya untuk menyakiti Rihana. Itu semua adalah ide Tommy,” katanya dengan suara yang lebih tenang, mencoba mencari celah untuk menyelamatkan dirinya.

Sersan Budi menggelengkan kepala. “Endah, kami tahu bahwa Anda yang merencanakan semuanya. Tommy hanya mengikuti perintah Anda. Kami memiliki cukup bukti untuk menahan Anda.”

Endah merasa putus asa. Dia tahu bahwa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan untuk menghindari hukuman. “Baiklah, saya akui. Saya yang merencanakan semuanya. Tapi saya tidak tahu bahwa Rihana sedang hamil. Saya hanya ingin membuat Marcel menderita,” katanya dengan suara yang penuh penyesalan.

Inspektur Rahman mengangguk. “Terima kasih atas pengakuan Anda, Endah. Kami akan memastikan bahwa Anda mendapatkan hukuman yang setimpal.”

Endah merasa air mata mengalir di pipinya. Dia tahu bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dan harus menghadapi konsekuensinya. Namun, dia juga merasa marah dan kecewa pada Tommy yang telah mengkhianatinya.

Sementara itu, Tommy merasa lega setelah memberikan keterangan kepada polisi. Dia tahu bahwa dia telah melakukan hal yang benar, meskipun itu berarti mengkhianati Endah. Dia berharap bahwa dengan bekerja sama dengan polisi, dia bisa mendapatkan keringanan hukuman dan memperbaiki kesalahannya.

Marcel dan Rihana merasa sedikit lega setelah mendengar bahwa Endah telah ditangkap. Mereka tahu bahwa ini adalah langkah pertama menuju keadilan. Namun, mereka juga tahu bahwa perjalanan mereka belum berakhir. Mereka harus terus berjuang untuk pulih dari kejadian tragis ini dan membangun kembali kehidupan mereka.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana nasib Endah dan Tommy setelah pengakuan mereka? Dan bagaimana Marcel dan Rihana akan melanjutkan hidup mereka setelah semua ini? Semua akan terungkap di bab berikutnya…