Kecupan Terlarang di Atas Kota
Apartemen itu kini hancur porak-poranda. Ledakan dari granat kejut membuat kaca jendela pecah berserakan. Hanum bersembunyi di balik meja, tubuhnya gemetar. Al berdiri di depannya, pistol teracung, melepaskan tembakan cepat ke arah bayangan yang berusaha masuk dari balkon.
“Hanum, jangan keluar!” teriaknya.
Suara helikopter di atas kepala memekakkan telinga. Kilatan laser merah terus menari di dinding, menandakan para penyerbu tak main-main.
Al menggertakkan gigi. “Brengsek! Mereka berhasil melacak kita secepat ini.”
Beberapa orang bersenjata masuk lewat pintu utama. Al melempar meja, menjadikannya tameng, lalu menembakkan dua peluru. Dua musuh roboh, tapi sisanya semakin banyak.
Hanum berteriak, “Al, kita terjebak!”
“Tenang!” Al menarik tangannya, menyeret Hanum ke lorong sempit. Ia mengeluarkan senjata cadangan dari pergelangan kakinya. “Ikuti aku. Jangan lepaskan tanganku apa pun yang terjadi.”
Mereka berlari di lorong, menembus asap dan debu. Namun, semakin jauh mereka bergerak, semakin jelas bahwa musuh sudah mengepung dari segala arah.
Di ujung lorong, pintu besi darurat tertutup rapat. Al menendangnya sekali, dua kali, hingga pintu terbuka. Mereka berhasil sampai ke tangga darurat, tapi suara langkah musuh menggema di belakang.
Hanum hampir jatuh. Namun, Al mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan tanpa pikir panjang. “Pegangan erat, Hanum!”
Mereka menuruni tangga, tapi begitu sampai lantai bawah, kilatan lampu mobil hitam menyorot tajam. Puluhan orang bersenjata mengepung, senapan otomatis diarahkan tepat ke dada Al.
Al menghentikan langkah. Napasnya memburu, tubuhnya tegang.
Dari kegelapan, sebuah sosok muncul. Wajah dingin yang sudah ia kenal sejak lahir. Ayahnya.
Arman Faidzin melangkah maju, diapit pengawal. Senyumnya tipis, penuh kemenangan. “Sudah cukup, Al. Kau tidak bisa lari lagi.”
Al mengepalkan tangan. “Kau yang mengirim mereka?”
Arman mengangkat bahu. “Kau memaksa, Nak. Kau menolak keputusan keluarga, kau memberontak. Maka inilah akibatnya.”
Hanum menunduk, tubuhnya kaku dalam pelukan Al. Ia tahu, keadaan mereka sudah tak seimbang.
Arman melanjutkan, “Letakkan senjatamu, atau gadis itu mati di depan matamu.”
Al menoleh pada Hanum, lalu kembali menatap ayahnya. Mata mereka bertemu, dua generasi yang saling menantang, tapi malam itu, pilihan Al habis.
Dengan wajah penuh amarah, ia menjatuhkan pistolnya ke lantai.
Malam itu menjadi titik balik. Apartemen rahasia Firdaus terbongkar. Media dengan cepat mencium peristiwa tersebut, meski berita yang keluar hanya separuh kebenaran.
Al tak bisa berkutik. Ia dibawa kembali ke rumah besar keluarganya, dikurung dalam pengawasan ketat. Hanum sendiri diamankan oleh Firdaus, dibawa pulang dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.
Pemberitaan di televisi esok paginya meledak. Aliansi politik antara keluarga Arman Pratama dan Wakil Presiden diumumkan semakin kokoh. Al akan dijodohkan dengan Sarina Affany Umar. Semua kamera menyorot wajah Sarina yang anggun, senyumnya manis, seolah sudah menjadi calon istri yang sempurna.
Tak ada yang tahu bahwa di balik layar, ada hati yang hancur, hati Hanum dan Al.
Seminggu kemudian, malam pesta besar digelar. Aula megah dipenuhi pejabat, pengusaha, dan keluarga terhormat. Lampu kristal menggantung, musik klasik mengalun, kamera media berkilat tanpa henti.
Firdaus hadir dengan gagah, balutan jas hitam membuatnya tampak semakin berwibawa. Di sampingnya, Hanum berdiri anggun dengan gaun putih sederhana. Senyum tipis menghiasi wajahnya, meski hatinya penuh luka.
Di sisi lain ruangan, Al muncul bersama Sarina. Wajahnya tampan, setelan jasnya sempurna, tapi matanya dingin seperti batu. Ia menggenggam tangan Sarina hanya karena tuntutan, bukan keinginan.
Mata Al dan Hanum bertemu sejenak.
Hanya sekejap, tapi itu cukup untuk membuat dada mereka sama-sama bergetar.
Namun, keduanya berpura-pura tak saling mengenal.
Hanum menunduk, berusaha menyembunyikan air mata. Al mengepalkan tinju, menahan diri agar tidak melangkah menghampiri.
Acara berlangsung penuh basa-basi politik. Firdaus berjabat tangan dengan Arman, keduanya menunjukkan persatuan yang hanya ada di permukaan. Media sibuk memotret Al dan Sarina yang tampak serasi.
Namun, di dalam dada Al, bara tak lagi bisa dipadamkan.
Ia menatap Hanum yang berdiri di samping ayahnya. Senyum gadis itu palsu, matanya kosong.
Al merasa dadanya perih. Setiap detik yang berlalu adalah siksaan.
Akhirnya ia berbisik pada Sarina, “Aku izin sebentar, ke toilet.”
Sarina tersenyum manis. “Baiklah, aku tunggu.”
Al melangkah pergi, tapi bukan menuju toilet. Tatapannya tertuju pada Hanum.
Saat Hanum berjalan ke sisi aula untuk mengambil napas, tiba-tiba sebuah tangan kuat menarik pergelangan tangannya.
“Al,” suaranya tercekat.
“Diam,” bisik Al tajam, matanya penuh kerinduan bercampur amarah.
Hanum menoleh cemas, memastikan tak ada yang memperhatikan. Syukurlah semua tamu sibuk dengan musik dan tarian.
Al menariknya dengan cepat menuju pintu samping, menaiki tangga darurat, hingga akhirnya mereka sampai di rooftop.
Malam kota terbentang di hadapan mereka. Lampu-lampu berkelip bagai bintang, angin malam menerpa wajah.
Hanum terengah, menarik tangannya dari genggaman Al. “Apa yang kau lakukan? Kalau seseorang melihat.”
“Aku tidak peduli!” potong Al, suaranya pecah. “Aku tidak tahan lagi, Hanum. Melihatmu berdiri di samping Firdaus, berpura-pura tidak mengenalku, sementara aku harus tersenyum palsu dengan Sarina. Itu menyiksa!”
Hanum menunduk, hatinya bergetar hebat. “Al, ini berbahaya. Kalau Ayah tahu.”
“Ayahmu sudah tahu. Ayahku juga. Semua orang tahu aku bukan boneka politik dan aku tidak peduli apa pun yang akan terjadi setelah ini.”
Al melangkah mendekat, menatapnya dalam. “Aku hanya peduli padamu.”
Hanum terpaku. Matanya bergetar, bibirnya ingin menolak, tapi tubuhnya lemah di hadapan tatapan itu.
Tanpa aba-aba, Al meraih wajahnya, mendekatkan bibir mereka.
Sebuah kecupan lembut namun panas mendarat di bibir Hanum.
Hanum terperangah, tubuhnya kaku, tapi seiring detik berlalu, ia tak mampu lagi melawan. Jantungnya berdetak liar, darahnya berdesir, seluruh tubuhnya terbakar oleh kehangatan yang ia pendam selama ini.
Al menahan napas di antara kecupan, lalu berbisik di sela-sela bibir mereka, “Inilah alasan aku menolak Sarina. Karena aku hanya inginmu, Hanum.”
Air mata Hanum jatuh tanpa bisa ditahan. Ia tahu ini salah, tapi hatinya berteriak sebaliknya.
Mereka terjebak dalam pelukan, seolah dunia berhenti berputar.
Namun, kebahagiaan itu hanya sekejap.
Dari balik pintu rooftop yang setengah terbuka, sepasang mata mengintai. Senyum sinis terbit di wajah itu.
Seseorang sudah melihat segalanya.
Suara langkah menjauh, cepat, menuju aula tempat para pejabat masih sibuk bersulang.
Hanum melepaskan diri dengan wajahnya yang panik. “Al, kalau ada yang tahu.”
Al menggenggam tangannya erat. “Aku tidak peduli. Biar dunia tahu. Aku tidak akan melepaskanmu lagi,” tapi yang tak mereka sadari, rahasia mereka baru saja bocor. Dan begitu kebenaran sampai ke telinga Arman dan Firdaus, bukan hanya cinta mereka yang akan dipertaruhkan, tapi juga nyawa.
Ada saksi yang melihat kecupan terlarang itu, siap melaporkan kebenaran ke pihak yang bisa menghancurkan mereka.