Suatu hari, berita mengejutkan tersebar bahwa Ruswanda, CEO yang dihormati telah masuk ke rumah sakit. Kabar ini membuat banyak orang khawatir terutama Sudarta teman dekatnya dan Subroto iparnya. Mereka segera bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk Ruswanda.

Di rumah sakit, Sudarta dan Subroto disambut oleh perawat yang mengarahkan mereka ke kamar Ruswanda. Ketika mereka masuk, mereka melihat Ruswanda terbaring di tempat tidur, terlihat lemah namun tetap berusaha tersenyum.

“Ruswanda, bagaimana keadaanmu?” tanya Sudarta dengan suara penuh kekhawatiran.

Ruswanda menghela nafas panjang. “Aku sudah tua, Sudarta. Tubuhku tidak sekuat dulu lagi. Tapi aku masih berjuang,” jawabnya dengan suara serak.

Subroto duduk di samping tempat tidur Ruswanda. “Kamu harus kuat, Ruswanda. Kami semua mendukungmu. Perusahaan ini tidak akan sama tanpamu,” katanya dengan penuh semangat.

Ruswanda tersenyum tipis. “Terima kasih, Subroto. Aku tahu kalian selalu ada untukku. Aku hanya berharap bisa melihat perusahaan ini terus berkembang, meskipun aku tidak lagi di sini.”

Sudarta menatap Ruswanda dengan mata berkaca-kaca. “Kamu telah membangun perusahaan ini selama 30 tahun, Ruswanda. Kamu telah membuatnya menjadi perusahaan terbesar di Indonesia. Itu adalah pencapaian yang luar biasa.”

Ruswanda mengangguk pelan. “Ya, aku bangga dengan apa yang telah kita capai. Tapi aku juga khawatir tentang masa depan. Aku belum memiliki anak yang bisa melanjutkan warisanku. Aku tidak tahu siapa yang akan mengambil alih perusahaan ini setelah aku pergi.”

Subroto mencoba menenangkan Ruswanda. “Jangan khawatir, Ruswanda. Kami akan memastikan bahwa perusahaan ini tetap berjalan dengan baik. Kami akan mencari seseorang yang bisa melanjutkan visi dan misi yang telah kamu bangun.”

Ruswanda menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan tatapan kosong. “Aku hanya berharap bisa melihat masa depan yang cerah untuk perusahaan ini. Aku ingin memastikan bahwa semua kerja keras kita tidak sia-sia.”

Sudarta dan Subroto saling berpandangan, merasa berat hati melihat kondisi Ruswanda. Mereka tahu bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk memastikan bahwa perusahaan tetap berjalan dengan baik bahkan tanpa kehadiran Ruswanda.

Beberapa hari kemudian, kondisi Ruswanda semakin memburuk. Dokter memberitahu Sudarta dan Subroto bahwa Ruswanda membutuhkan perawatan intensif dan mungkin harus tinggal di rumah sakit untuk waktu yang lama. Kabar ini membuat mereka semakin khawatir tentang masa depan perusahaan.

Sudarta dan Subroto memutuskan untuk mengadakan pertemuan darurat dengan para pemimpin perusahaan lainnya. Mereka membahas langkah-langkah yang harus diambil untuk memastikan kelangsungan perusahaan. Mereka juga mulai mencari kandidat yang potensial untuk menggantikan Ruswanda sebagai CEO.

Di tengah kekhawatiran ini, Abidin melihat kesempatan untuk melancarkan rencananya. Ia tahu bahwa dengan kondisi Ruswanda yang semakin memburuk, ada celah yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai ambisinya. Abidin mulai mendekati beberapa pemimpin perusahaan, mencoba mendapatkan dukungan mereka dengan janji-janji manis dan iming-iming kenaikan jabatan.

Sementara itu, Sudarta dan Subroto terus berusaha menjaga semangat Ruswanda. Mereka sering mengunjungi Ruswanda di rumah sakit, memberikan dukungan moral dan memastikan bahwa ia tahu bahwa perusahaan berada di tangan yang baik.

Suatu hari, Ruswanda merasa bahwa kesehatannya semakin memburuk dan dia harus mengambil keputusan penting untuk masa depan perusahaannya. Dia memanggil Sudarta, teman dekatnya, ke rumah sakit untuk membicarakan hal ini. Sudarta datang dengan cepat, merasa cemas melihat kondisi Ruswanda yang semakin lemah.

“Sudarta, aku butuh bantuanmu,” kata Ruswanda dengan suara serak. “Aku tidak bisa terus memimpin perusahaan dalam kondisi seperti ini. Aku ingin kamu mengambil alih sementara waktu.”

Sudarta terkejut mendengar permintaan itu. “Ruswanda, kamu tahu aku akan melakukan apa saja untuk membantu. Tapi apakah kamu yakin ini keputusan yang tepat?”

Ruswanda mengangguk pelan. “Aku tidak punya pilihan lain. Kamu adalah orang yang paling aku percayai. Kamu telah bersama-sama membangun perusahaan ini sejak awal. Aku yakin kamu bisa memimpin dengan baik.”

Sudarta merasa terharu dan bangga atas kepercayaan yang diberikan Ruswanda. “Baiklah, Pak Ruswanda. Aku akan melakukan yang terbaik untuk menjaga perusahaan ini. Tapi bagaimana dengan cabang-cabang perusahaan yang lain?”

Ruswanda tersenyum tipis. “Aku sudah memikirkan itu. Aku ingin Marcel, anakmu, untuk memimpin perusahaan cabang. Dia telah menunjukkan kemampuan dan dedikasi yang luar biasa. Aku yakin dia bisa mengelola cabang dengan baik.”

Sudarta merasa bangga mendengar nama anaknya disebut. “Terima kasih, Ruswanda. Marcel akan sangat senang mendengar ini. Dia akan melakukan yang terbaik untuk memenuhi harapanmu.”

Ruswanda mengangguk. “Dan untuk Subroto, aku ingin dia tetap menjaga kestabilan perusahaan di Malaysia. Dia telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di sana, dan aku yakin dia bisa terus melakukannya.”

Sudarta setuju dengan rencana itu. “Baiklah, Ruswanda. Aku akan segera memberitahu Marcel dan Subroto tentang keputusan ini. Kami akan memastikan bahwa perusahaan tetap berjalan dengan baik selama kamu dalam perawatan.”

Setelah pertemuan itu, Sudarta segera menghubungi Marcel dan Subroto untuk memberitahu mereka tentang keputusan Ruswanda. Marcel merasa terhormat dan bersemangat untuk mengambil tanggung jawab baru ini. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan besar untuk membuktikan kemampuannya dan membantu perusahaan keluarganya.

Subroto juga merasa bangga atas kepercayaan yang diberikan Ruswanda. Dia berjanji untuk terus menjaga kestabilan perusahaan di Malaysia dan memastikan bahwa semua operasi berjalan lancar.

Hari-hari berikutnya, Sudarta mulai mengambil alih tugas-tugas Ruswanda di kantor pusat. Dia bekerja keras untuk memastikan bahwa semua keputusan penting diambil dengan bijaksana dan perusahaan tetap berada di jalur yang benar. Marcel, di sisi lain, mulai memimpin perusahaan cabang dengan penuh semangat. Dia mengadakan pertemuan dengan timnya, menetapkan tujuan baru, dan memastikan bahwa semua proyek berjalan sesuai rencana.

Subroto, yang berada di Malaysia, terus memantau perkembangan perusahaan di sana. Dia bekerja sama dengan timnya untuk menjaga kestabilan dan memastikan bahwa semua operasi berjalan lancar. Dia juga sering berkomunikasi dengan Sudarta dan Marcel untuk memastikan bahwa semua cabang perusahaan tetap terkoordinasi dengan baik.

Sementara itu, Ruswanda merasa sedikit lega mengetahui bahwa perusahaannya berada di tangan yang baik. Dia fokus pada pemulihan kesehatannya, berharap bisa kembali bekerja suatu hari nanti. Namun, dia juga tahu bahwa dia harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

Di tengah semua ini, Abidin terus merencanakan langkah-langkahnya. Dia melihat perubahan kepemimpinan ini sebagai peluang untuk melancarkan rencananya. Dia mulai mendekati beberapa karyawan kunci, mencoba mendapatkan dukungan mereka dengan janji-janji manis dan iming-iming kenaikan jabatan.

Namun, Sudarta, Marcel, dan Subroto tetap waspada. Mereka tahu bahwa ada ancaman dari dalam dan mereka harus berhati-hati. Mereka bekerja sama untuk memastikan bahwa perusahaan tetap berjalan dengan baik dan tidak ada yang bisa merusak apa yang telah mereka bangun.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Sudarta, Marcel, dan Subroto akan berhasil menjaga perusahaan tetap stabil? Dan bagaimana rencana jahat Abidin akan mempengaruhi masa depan perusahaan? Semua akan terungkap di bab berikutnya…