Endah sedang termenung di kamarnya, merenungi kejadian-kejadian yang telah berlalu. Ia merasa beruntung karena Rihana, istri Marcel, telah memaafkannya. Kesalahan besar yang hampir membuatnya masuk penjara kini hanya menjadi kenangan pahit. Meskipun Rihana mengalami keguguran akibat insiden tersebut, ia tetap memaafkan Endah dengan hati yang besar.

Hari-hari berlalu, namun rasa bersalah dan marah masih menghantui Endah. Ia tahu bahwa kesalahannya telah menyebabkan banyak penderitaan, terutama bagi Rihana dan Marcel. Namun, ada satu orang yang tidak bisa ia maafkan yaitu Tommy. Tommy adalah orang yang telah mengkhianatinya, menyebabkan semua masalah ini terjadi.

Suatu hari, Endah memutuskan untuk menghadapi Tommy. Ia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dengan tekad yang bulat, ia pergi ke rumah Tommy. Ketika tiba di sana, ia merasa gugup namun tetap berusaha tegar. Ia mengetuk pintu dengan keras, berharap bisa melabrak Tommy dan menuntut penjelasan atas penghianatannya.

Tommy membuka pintu dengan wajah terkejut. “Endah? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya dengan suara gemetar.

Endah menatap Tommy dengan mata penuh amarah. “Aku datang untuk menuntut penjelasan, Tommy. Kenapa kamu mengkhianatiku? Kenapa kamu membuat hidupku hancur?” teriaknya.

Tommy mencoba menenangkan Endah. “Endah, tenanglah. Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku tidak bermaksud menyakitimu.”

Endah tidak bisa menahan emosinya. “Tidak bermaksud menyakitiku? Kamu tahu apa yang telah kamu lakukan? Karena kamu, aku hampir dipenjara karena ulahmu!” katanya dengan suara bergetar.

Tommy menundukkan kepala, merasa bersalah. “Aku tahu, Endah. Aku tahu aku telah membuat kesalahan besar. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku terjebak dalam situasi yang sulit.”

Endah tidak bisa menerima alasan Tommy. “Terjebak dalam situasi yang sulit? Itu bukan alasan untuk mengkhianati temanmu sendiri! Kamu tahu betapa pentingnya kepercayaan dalam persahabatan dan kamu menghancurkannya begitu saja.”

Tommy mencoba menjelaskan lebih lanjut. “Endah, aku benar-benar menyesal. Aku tidak tahu bagaimana cara memperbaiki semuanya. Aku hanya berharap kamu bisa memaafkanku suatu hari nanti.”

Endah menatap Tommy dengan mata penuh kebencian. “Baiklah, mungkin kali ini Rihana menang, tapi suatu hari pasti akan aku balas,” katanya dengan suara dingin.

Tommy terkejut mendengar kata-kata Endah. “Apa kamu bilang! Kalau kamu hendak menyakiti Rihana, hadapi aku dulu!” katanya dengan suara tegas.

Endah tersenyum licik. “Okelah, kita saja buat rencana agar hubungan Rihana dan Marcel hancur, bagaimana?” katanya dengan nada penuh tipu daya.

Tommy terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Endah. Meskipun hatinya masih dipenuhi rasa bersalah, ada bagian dari dirinya yang merasa tertarik dengan ide tersebut. “Idemu bagus juga, bolehlah kita buat rencana yang lebih licik lagi,” katanya akhirnya.

Endah merasa puas mendengar persetujuan Tommy. “Baiklah, kita harus merencanakan ini dengan hati-hati. Kita tidak bisa membuat kesalahan lagi,” katanya dengan penuh semangat.

Mereka berdua mulai merencanakan langkah-langkah mereka dengan hati-hati. Endah tahu bahwa untuk menghancurkan hubungan Rihana dan Marcel, mereka harus menemukan cara untuk menanamkan keraguan dan ketidakpercayaan di antara mereka. Mereka memutuskan untuk memulai dengan menyebarkan desas-desus dan fitnah yang bisa merusak kepercayaan Rihana terhadap Marcel.

Beberapa hari kemudian, Endah dan Tommy mulai melaksanakan rencana mereka. Mereka mulai menyebarkan desas-desus di kalangan teman-teman dan rekan kerja Rihana dan Marcel. Mereka membuat cerita-cerita palsu tentang perselingkuhan dan kebohongan yang dilakukan oleh Marcel. Mereka berharap bahwa dengan cara ini, Rihana akan mulai meragukan kesetiaan suaminya.

Rihana, yang awalnya tidak percaya dengan desas-desus tersebut, mulai merasa cemas. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Marcel. Di sisi lain, merasa bingung dengan perubahan sikap Rihana. Ia tidak mengerti mengapa istrinya tiba-tiba menjadi lebih curiga dan tidak percaya padanya.

Endah dan Tommy terus melanjutkan rencana mereka. Mereka mulai mengirim pesan-pesan anonim kepada Rihana, mengklaim bahwa mereka memiliki bukti perselingkuhan Marcel. Rihana merasa semakin tertekan dan bingung. Ia tidak tahu harus percaya kepada siapa.

Suatu malam, Rihana memutuskan untuk menghadapi Marcel. “Kak Marcel, aku tidak tahu apa yang harus aku pikirkan. Ada begitu banyak desas-desus dan fitnah tentangmu. Aku merasa bingung dan tidak tahu harus percaya kepada siapa,” katanya dengan suara penuh emosi.

Marcel merasa terluka mendengar kata-kata Rihana. “Rihana, aku tidak tahu dari mana semua ini berasal. Aku mencintaimu dan aku tidak pernah melakukan hal-hal yang mereka katakan. Kamu harus percaya padaku,” katanya dengan suara penuh ketulusan.

Rihana merasa hatinya hancur. Ia ingin percaya pada Marcel, tetapi desas-desus dan fitnah yang terus-menerus membuatnya ragu. “Aku ingin percaya padamu, Marcel. Tapi semua ini terlalu banyak untukku,” katanya dengan air mata mengalir di pipinya.

Marcel memeluk Rihana dengan erat. “Kita akan melalui ini bersama, Rihana. Aku akan mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini dan memastikan bahwa mereka tidak bisa menyakiti kita lagi,” katanya dengan suara penuh tekad.

Sementara itu, Endah dan Tommy merasa puas dengan hasil rencana mereka. Mereka melihat bahwa hubungan Rihana dan Marcel mulai retak. Namun, mereka tidak tahu bahwa Marcel bertekad untuk mengungkap kebenaran dan membawa mereka keadilan.

Suatu hari, Endah mencoba untuk menjebak Marcel. Dia menyewa wanita cantik bayaran untuk berpura-pura menjadi investor di perusahaan cabang. Wanita itu, dengan penampilan yang anggun dan sikap yang ramah, segera menarik perhatian Marcel. Mereka mulai berbicara tentang investasi dan peluang bisnis, tetapi wanita itu memiliki agenda tersembunyi.

Dengan cerdik, wanita itu mulai mendekati Marcel secara fisik, membuatnya terlihat seperti mereka sedang bermesraan. Marcel, yang tidak menyadari jebakan ini, tetap bersikap profesional, meskipun merasa sedikit tidak nyaman dengan kedekatan wanita tersebut. Namun, wanita itu terus mendekat, membuat situasi semakin mencurigakan.

Abidin, yang kebetulan berada di sana untuk urusan bisnis, melihat tingkah laku wanita itu. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dan memutuskan untuk mengamati lebih dekat. Dengan hati-hati, Abidin mengambil beberapa foto dari kejauhan, memastikan bahwa ia mendapatkan bukti yang cukup untuk menunjukkan bahwa Marcel tampak berselingkuh.

Setelah mendapatkan foto-foto tersebut, Abidin merasa puas. Dia tahu bahwa foto-foto ini bisa digunakan untuk menghancurkan reputasi Marcel dan merusak hubungannya dengan Rihana. Abidin segera mengirim foto-foto itu kepada beberapa karyawan, berharap desas-desus akan menyebar dengan cepat.

Keesokan harinya, kantor perusahaan cabang menjadi gaduh. Bisik-bisik dan tatapan curiga mulai muncul di antara karyawan. Marcel, yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, merasa ada sesuatu yang aneh dengan suasana kantor. Dia melihat beberapa karyawan berbisik-bisik sambil menatapnya dengan tatapan penuh arti.

Marcel memutuskan untuk mengabaikan perasaan tidak nyaman itu dan fokus pada pekerjaannya. Namun, desas-desus terus menyebar dan akhirnya sampai ke telinga Rihana. Ketika Rihana menerima pesan anonim berisi foto-foto tersebut, hatinya hancur. Dia tidak tahu harus percaya kepada siapa dan merasa sangat bingung.

Di tengah kekacauan ini, Abidin merasa puas dengan hasil rencananya. Namun, dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam mengamati setiap langkahnya. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Dan bagaimana reaksi Marcel dan Rihana ketika mengetahui kebenaran di balik foto-foto tersebut? Semua akan terungkap di bab berikutnya…