Pagi harinya, Endah merasa heran mengapa foto wanita cantik yang menggoda Marcel sudah viral terlebih dahulu, padahal dia belum mengirimnya kepada siapapun. Rasa penasaran dan kekhawatiran mulai menghantui pikirannya. Dia segera menghubungi Tommy untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tommy, aku heran, kenapa foto Marcel dan wanita itu sudah viral duluan? Aku belum mengirimnya kepada siapapun,” tanya Endah dengan nada bingung.
Tommy, yang juga terkejut mendengar kabar itu, mencoba menenangkan Endah. “Aku tidak tahu, Endah. Mungkin ada orang lain yang juga mengambil foto mereka. Kita harus mencari tahu siapa yang menyebarkannya,” jawab Tommy dengan suara tenang.
Endah merasa semakin cemas. “Tapi siapa yang bisa melakukan itu? Aku sudah merencanakan semuanya dengan hati-hati. Tidak mungkin ada orang lain yang tahu,” katanya sambil menggigit bibirnya.
Tommy berpikir sejenak. “Mungkin ada seseorang yang diam-diam mengamati kita. Kita harus berhati-hati dan mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini,” katanya dengan tegas.
Sementara itu, di kantor perusahaan cabang, suasana semakin gaduh. Foto-foto Marcel dan wanita cantik itu telah menyebar dengan cepat di antara karyawan. Bisik-bisik dan tatapan curiga mulai muncul di mana-mana. Marcel, yang tidak menyadari apa yang sedang terjadi, merasa ada sesuatu yang aneh dengan suasana kantor.
Marcel memutuskan untuk mengabaikan perasaan tidak nyaman itu dan fokus pada pekerjaannya. Namun, desas-desus terus menyebar dan akhirnya sampai ke telinga Rihana. Ketika Rihana menerima pesan anonim berisi foto-foto tersebut, hatinya hancur. Dia tidak tahu harus percaya kepada siapa dan merasa sangat bingung.
Di tengah kekacauan ini, Abidin merasa puas dengan hasil rencananya. Namun, dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam mengamati setiap langkahnya. Desi, yang telah mencurigai Abidin sejak awal, mulai menyusun rencana untuk mengungkap kebenaran.
Desi, yang selalu memperhatikan detail, merasa ada yang tidak beres dengan foto-foto tersebut. Dia memutuskan untuk menyelidiki lebih lanjut. Dengan hati-hati, dia mulai mengumpulkan informasi dan mencari tahu siapa yang sebenarnya berada di balik penyebaran foto-foto itu.
Suatu malam, Desi memutuskan untuk memeriksa dokumen-dokumen di kantor Abidin. Ia menemukan beberapa catatan yang mencurigakan, termasuk daftar nama karyawan yang tampaknya menjadi target Abidin. Desi merasa cemas, tetapi ia tahu bahwa ia harus berhati-hati. Ia memutuskan untuk mengumpulkan lebih banyak bukti sebelum melaporkan temuannya kepada Ruswanda.
Sementara itu, Endah dan Tommy terus merencanakan langkah-langkah mereka. Mereka tahu bahwa mereka harus menyebarkan foto-foto tersebut dengan hati-hati agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka memutuskan untuk mengirim foto-foto itu secara anonim kepada Rihana, berharap bahwa Rihana akan percaya bahwa Marcel benar-benar berselingkuh.
Rihana, yang awalnya tidak percaya dengan desas-desus tersebut, mulai merasa cemas. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Marcel, di sisi lain, merasa bingung dengan perubahan sikap Rihana. Ia tidak mengerti mengapa istrinya tiba-tiba menjadi lebih curiga dan tidak percaya padanya.
Rihana akhirnya memutuskan untuk menghadapi Marcel dengan foto-foto tersebut. “Kak Marcel, apa ini? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku tentang wanita ini?” tanyanya dengan suara penuh emosi.
Marcel terkejut melihat foto-foto itu. “Rihana, aku tidak tahu apa yang terjadi. Wanita itu hanya seorang investor. Aku tidak pernah berselingkuh,” katanya dengan suara penuh ketulusan.
Rihana merasa hatinya hancur. “Aku ingin percaya padamu, Kak Marcel. Tapi foto-foto ini membuatku ragu. Aku tidak tahu harus percaya kepada siapa,” katanya dengan air mata mengalir di pipinya.
Marcel memeluk Rihana dengan erat. “Kita akan melalui ini bersama, Rihana. Aku akan mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini dan memastikan bahwa mereka tidak bisa menyakiti kita lagi,” katanya dengan suara penuh tekad.
Tiba-tiba, telepon Marcel berdering. Ia melihat layar dan melihat nama ayahnya, Sudarta, terpampang di sana. Dengan hati-hati, Marcel mengangkat telepon itu. Namun, sebelum ia sempat mengucapkan sepatah kata pun, suara keras Sudarta langsung terdengar di telinganya.
“Marcel!” bentak Sudarta dengan nada marah. “Apa yang sedang kamu lakukan di kantor cabang? Kamu bikin malu ayah saja! Kalau seperti ini, ayah tidak mau kamu menjadi pimpinan kantor cabang!”
Marcel terdiam sejenak, terkejut dengan kemarahan ayahnya. “Ayah, apa maksud ayah? Apa yang terjadi?” tanyanya dengan suara gemetar.
Sudarta menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Marcel, foto-foto kamu dengan wanita itu sudah tersebar di seluruh kantor. Semua orang membicarakanmu. Kamu tahu betapa pentingnya reputasi bagi perusahaan ini. Bagaimana kamu bisa melakukan hal seperti itu?”
Marcel merasa hatinya hancur. “Ayah, aku tidak tahu apa yang terjadi. Wanita itu hanya seorang investor. Aku tidak pernah berselingkuh. Ini semua pasti ada kesalahpahaman,” katanya dengan suara penuh ketulusan.
Sudarta tetap marah. “Kesalahpahaman atau tidak, kamu harus segera menyelesaikan masalah ini. Jika tidak, ayah tidak akan ragu untuk mencopot kamu dari jabatan pimpinan kantor cabang. Ayah tidak bisa membiarkan reputasi perusahaan hancur karena ulahmu.”
Marcel merasa putus asa. Ia tahu bahwa ayahnya sangat serius. “Ayah, aku akan mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini dan memastikan bahwa mereka tidak bisa menyakiti kita lagi. Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini,” katanya dengan suara penuh tekad.
Setelah telepon itu berakhir, Marcel merasa beban berat di pundaknya. Ia tahu bahwa ia harus segera bertindak untuk membersihkan namanya dan menyelamatkan reputasi perusahaan. Ia memutuskan untuk memulai penyelidikan sendiri, mencari tahu siapa yang telah menjebaknya.
Sementara itu, Rihana merasa hatinya hancur. Ia tidak tahu harus percaya kepada siapa. Foto-foto itu membuatnya ragu, tetapi ia juga ingin percaya pada suaminya. Ia memutuskan untuk memberikan Marcel kesempatan untuk menjelaskan semuanya.
Marcel dan Rihana duduk bersama di ruang tamu mereka. “Sayang, aku tahu ini sulit bagimu. Tapi aku benar-benar tidak bersalah. Aku akan mencari tahu siapa yang berada di balik semua ini dan memastikan bahwa mereka tidak bisa menyakiti kita lagi,” kata Marcel dengan suara penuh ketulusan.
Rihana menatap Marcel dengan mata berkaca-kaca. “Aku ingin percaya padamu, Marcel. Tapi foto-foto itu membuatku ragu. Aku tidak tahu harus percaya kepada siapa,” katanya dengan air mata mengalir di pipinya.
Marcel memeluk Rihana dengan erat. “Kita akan melalui ini bersama, Rihana. Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini dan membuktikan bahwa aku tidak bersalah,” katanya dengan suara penuh tekad.
Sementara itu, Endah dan Tommy merasa puas dengan hasil rencana mereka. Mereka melihat bahwa hubungan Rihana dan Marcel mulai retak. Namun, mereka tidak tahu bahwa Marcel bertekad untuk mengungkap kebenaran dan membawa mereka keadilan.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Marcel akan berhasil mengungkap rencana jahat Endah dan Abidin? Dan bagaimana nasib hubungan Rihana dan Marcel? Semua akan terungkap di bab berikutnya…