Di pagi hari yang tenang, Abidin membuka komputernya seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang aneh. Beberapa file penting tampak telah diakses tanpa izin. Rasa curiga mulai merayapi pikirannya. Dengan cepat, Abidin memeriksa log aktivitas dan menemukan bahwa seseorang telah membobol komputernya.
Dengan jantung berdebar, Abidin melacak jejak digital yang ditinggalkan oleh peretas tersebut. Setelah beberapa saat, ia menemukan bahwa Desi, seorang karyawan yang tampaknya tidak mencurigakan adalah pelakunya. Abidin merasa marah dan khawatir. Jika rencananya terbongkar, semua usahanya untuk menjatuhkan Marcel akan sia-sia.
Abidin memutuskan untuk mengambil tindakan drastis. Ia mengirimkan pesan kepada Desi dengan nada yang sangat mengancam. “Desi, aku tahu apa yang telah kamu lakukan. Jika kamu berani membocorkan informasi ini, aku tidak akan ragu untuk menghabisimu. Ingat, aku bisa melakukan apa saja untuk melindungi rencanaku.”
Desi, yang sedang duduk di mejanya, terkejut menerima pesan tersebut. Ia merasa ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Desi tahu bahwa Abidin adalah orang yang berbahaya dan tidak akan ragu untuk melakukan ancaman tersebut. Dengan tangan gemetar Desi mencoba membalas pesan itu, berharap bisa meredakan kemarahan Abidin.
“Abidin, aku tidak bermaksud untuk membocorkan apapun. Aku hanya ingin memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan sistem kita. Tolong, jangan lakukan apa-apa padaku,” tulis Desi dengan penuh ketakutan.
Abidin membaca pesan Desi dengan senyum sinis. “Baiklah, Desi. Aku akan memberimu kesempatan. Tapi ingat, satu kesalahan lagi dan kamu akan menyesal seumur hidupmu,” balas Abidin dengan nada dingin.
Desi merasa lega, meskipun rasa takut masih menghantuinya. Ia tahu bahwa ia harus berhati-hati dan tidak boleh membuat kesalahan lagi. Namun, di dalam hatinya, Desi merasa bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan rencana jahat Abidin.
Sementara itu, Abidin merasa puas dengan ancamannya. Ia yakin bahwa Desi tidak akan berani membocorkan informasi apapun. Namun, ia juga tahu bahwa ia harus lebih berhati-hati. Abidin mulai memperketat keamanan komputernya dan memastikan bahwa tidak ada lagi celah yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain.
Hari-hari berikutnya, Desi merasa semakin tertekan. Ia tidak bisa tidur nyenyak dan selalu merasa diawasi. Desi tahu bahwa ia harus mencari cara untuk mengungkap kebenaran tanpa membahayakan dirinya sendiri. Dengan hati-hati, ia mulai mengumpulkan bukti-bukti tentang rencana jahat Abidin.
Suatu malam, Desi memutuskan untuk menghubungi Siska sekretaris Ruswanda di perusahaan Pusat, yang juga mencurigai Abidin. Mereka bertemu di tempat yang aman dan membicarakan langkah-langkah yang harus diambil. Siska merasa terkejut mendengar ancaman yang diterima Desi, tetapi ia juga merasa bahwa ini adalah kesempatan untuk mengungkap kebenaran.
“Kita harus berhati-hati, Desi. Abidin adalah orang yang berbahaya. Tapi kita tidak bisa membiarkan dia terus melakukan rencana jahatnya,” kata Siska dengan suara tegas.
Desi mengangguk. “Aku tahu, Siska. Aku akan melakukan apa saja untuk menghentikan Abidin. Tapi kita harus memastikan bahwa kita memiliki bukti yang cukup sebelum melaporkannya kepada Ruswanda.”
Siska dan Desi mulai bekerja sama untuk mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan. Mereka tahu bahwa ini adalah tugas yang berbahaya, tetapi mereka juga tahu bahwa mereka harus melakukannya demi kebaikan perusahaan dan semua orang yang terlibat.
Suatu hari, Abidin sedang sibuk di kantornya ketika teleponnya berdering. Ia melihat layar dan melihat nomor rumah sakit. Dengan cepat, ia mengangkat telepon itu. “Halo, ini Abidin,” katanya.
“Pak Abidin, kami ingin memberitahu bahwa istri Anda, Destia, telah melahirkan. Selamat, Anda sekarang menjadi ayah dari seorang bayi laki-laki yang sehat,” kata suara di ujung telepon.
Abidin merasa hatinya melompat kegirangan. “Terima kasih! Saya akan segera ke rumah sakit,” katanya dengan suara penuh kebahagiaan. Ia segera membereskan pekerjaannya dan bergegas menuju rumah bersalin.
Sesampainya di rumah bersalin, Abidin disambut oleh perawat yang mengarahkan ke kamar Destia. Ketika ia masuk, ia melihat Destia terbaring di tempat tidur dengan senyum lelah namun bahagia. Di sampingnya, seorang bayi mungil terbungkus selimut.
“Sayang, kamu luar biasa,” kata Abidin dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih telah memberikan hadiah terindah ini.”
Destia tersenyum lemah. “Aku senang kamu di sini, Kang Mas. Lihatlah bayi kita, dia begitu sempurna.”
Abidin mendekati bayi mereka dan dengan hati-hati menggendongnya. “Selamat datang di dunia, anakku,” bisiknya dengan penuh kasih sayang.
Sementara itu, kabar kelahiran bayi Abidin menyebar dengan cepat di kalangan teman-teman dan rekan kerja. Marcel, yang mendengar kabar tersebut, memutuskan untuk menjenguk Abidin di rumah bersalin. Ia mengajak istrinya, Rihana, untuk ikut serta.
“Kak Marcel, kita harus menjenguk Abidin dan Destia. Ini adalah momen penting bagi mereka,” kata Rihana dengan penuh semangat.
Marcel mengangguk. “Tentu, sayang. Mari kita pergi sekarang.”
Sesampainya di rumah bersalin, Marcel dan Rihana disambut oleh perawat yang mengarahkan mereka ke kamar Destia. Ketika mereka masuk, mereka melihat Abidin sedang menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang.
“Abidin, selamat! Kami sangat senang untukmu,” kata Marcel dengan senyum lebar.
Abidin tersenyum dan mengangguk. “Terima kasih, Marcel. Ini adalah momen yang sangat istimewa bagi kami.”
Rihana mendekati Destia dan memeluknya. “Selamat, Destia. Bayimu sangat tampan,” katanya dengan suara lembut.
Destia tersenyum lemah. “Terima kasih, Rihana. Kami sangat bahagia.”
Marcel dan Rihana menghabiskan beberapa waktu bersama Abidin dan Destia, berbicara tentang kebahagiaan menjadi orang tua dan rencana masa depan mereka. Tidak ada yang mencurigai bahwa di balik topeng kebahagiaan Abidin, ada rencana jahat yang sedang berlangsung.
Setelah beberapa saat, Marcel dan Rihana pamit untuk pulang. “Kami akan datang lagi besok. Istirahatlah dengan baik, Destia,” kata Marcel sebelum mereka pergi.
Abidin mengangguk. “Terima kasih telah datang. Kami sangat menghargainya.”
Ketika Marcel dan Rihana meninggalkan rumah bersalin, Abidin merasa lega. Ia tahu bahwa ia harus tetap menjaga topeng kebahagiaannya agar tidak ada yang mencurigai rencana jahatnya. Namun, di dalam hatinya, ia merasa sedikit bersalah karena harus menyembunyikan kebenaran dari teman-temannya.
Di tengah kebahagiaan ini, Abidin tahu bahwa ia harus tetap fokus pada rencananya. Ia tidak bisa membiarkan apapun menghalangi tujuannya. Dengan tekad yang kuat, Abidin berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya, meskipun itu berarti harus mengorbankan orang-orang terdekatnya.
Abidin menyadari bahwa kebahagiaan yang ia rasakan saat ini hanyalah sementara. Di balik senyum dan tawa, ada ambisi yang membara di dalam hatinya. Ia tahu bahwa untuk mencapai tujuannya, ia harus tetap waspada dan tidak boleh lengah. Setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat, setiap keputusan harus diambil dengan hati-hati.
Dengan tekad yang kuat, Abidin berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya. Tidak ada yang bisa menghalanginya, tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia siap untuk menghadapi segala rintangan, siap untuk mengorbankan apapun yang diperlukan. Bahkan jika itu berarti harus mengorbankan orang-orang terdekatnya, Abidin tidak akan ragu.
Ia tahu bahwa jalan yang ia pilih penuh dengan bahaya dan tantangan. Namun, Abidin tidak gentar. Ia telah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan. Ia telah merencanakan setiap langkah dengan teliti, memastikan bahwa tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh musuh-musuhnya.
Setiap kali ia melihat wajah bayi mungilnya, Abidin merasa hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan. Namun, ia juga tahu bahwa kebahagiaan ini tidak boleh membuatnya lengah. Ia harus tetap fokus pada tujuannya, tetap berpegang pada rencananya. Ia tidak bisa membiarkan apapun menghalangi jalannya.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apakah Abidin akan berhasil menyembunyikan rencana jahatnya dari Marcel dan Rihana? Dan bagaimana nasib hubungan mereka ketika kebenaran akhirnya terungkap? Semua akan terungkap di bab berikutnya…