Drama

Trauma Kaluna

Penulis Yoonna
10 January 2026

Dua hari berlalu. Keadaan Andrian membaik pesat, didorong oleh tekadnya yang kuat dan perawatan intensif dari Dokter Surya. Dan tentu saja, perhatian diam-diam dari Kaluna.

Andrian turun dari kamarnya. Langkahnya di tangga sudah kembali kokoh, ekspresinya kembali dingin dan penuh kendali, meskipun ada sedikit kehangatan tersembunyi di matanya. Dia mengenakan setelan kasual yang nyaman, namun tetap terlihat dominan.

Langkah pertamanya adalah menuju ruang makan utama, di mana aroma hidangan mewah Cassavanos mulai menyebar. Di sana, dia menemukan Maulidah, Alivia dan Martin yang sudah duduk di tempat masing-masing.

"Apa kau sudah pulih? Mengapa turun dari kamarmu?" sapa Maulidah dengan anggukan kepuasan.

"Aku tidak suka membuang waktu, Oma," jawab Andrian datar, menarik kursi di ujung meja.

Saat matanya menyapu ruangan, dia merasakan kekosongan yang jelas. Hanya ada empat kursi yang terisi.

Andrian mengernyit. Dia tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dia berharap menemukan Kaluna duduk di sisinya, atau setidaknya di meja yang sama. Selama dia sakit, gadis itu tidak pernah meninggalkannya, namun kini, dia menghilang.

Dia menoleh ke Leon, yang berdiri tegak di belakang kursinya. Leon hanya menggelengkan kepala samar, mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu keberadaan Nona Muda.

"Di mana... istriku?" tanya Andrian, suaranya terdengar dingin dan sedikit menuntut, memotong percakapan santai Alivia dan Maulidah.

Alivia mengangkat alisnya, tampak terkejut dengan nada Andrian yang mengandung kepemilikan.

Andrian masih berdiri di depan meja makan. Entah dari mana asalnya, marah dan frustrasi mendidih di dalam dirinya. Namun redam seketika, saat sebuah suara lembut namun tegas memecah ketegangan.

"Tuan Sugara, kau turun?"

Andrian menoleh. Di sana, Kaluna berdiri di lorong dekat pintu.

Dia mengenakan dress linen berwarna beige yang sederhana dan rambutnya diikat longgar.

Di tangannya, dia membawa nampan kecil berisi mangkuk keramik putih. Ekspresinya tenang, tidak menunjukkan jejak keterkejutan atau rasa bersalah karena telah pergi tanpa pamit.

"Kau... dari mana saja?" Andrian mulai, suaranya kembali datar dan terkontrol.

"Dari dapur," jawab Kaluna, melangkah mendekat.

"Aku membawakan makananmu," kata Kaluna yang mengangkat nampan itu sedikit.

Andrian melirik mangkuk itu.

"Bubur lagi? Tidak mau, aku sudah bosan dengan makanan pasien itu," tolak Andrian, memasang wajah tidak tertarik.

Kaluna tidak gentar. Dia berjalan melewatinya dan meletakkan nampan itu di meja konsol terdekat.

"Karena kau memang pasien, Tuan Sugara," sangkal Kaluna, nadanya lembut namun penuh penekanan. "Kau baru pulih dari racun. Dinding lambungmu pasti sensitif, dan tubuhmu butuh energi yang mudah dicerna untuk pemulihan luka internalmu."

Andrian mengernyit. "Tapi itu bubur, Kaluna," keluhnya.

Kaluna tersenyum tipis. "Bubur ini dicampur irisan daging ikan gabus. Ikan gabus sangat tinggi albumin, sangat cocok untuk pemulihan dan penyembuhan luka pasca-operasi, apalagi pasca-racun."

Dia menatap mata Andrian dengan pandangan yang tulus. "Dokter Surya sudah mewanti-wanti. Kau tidak boleh makan makanan berat dulu. Kau harus makan ini."

Andrian masih bergeming. Keinginannya untuk kembali ke meja makan dan menunjukkan dominasinya lebih kuat daripada kebutuhan fisiknya.

"Aku bilang tidak!" bantahnya.

"Baiklah," kata Kaluna, mengambil mangkuk bubur itu kembali.

Dia mengambil sendok kecil yang tersedia, mengaduk bubur lembut itu, dan mencicipinya sedikit.

"Ini benar-benar enak," tambah Kaluna.

Dia mengambil satu sendok penuh bubur ikan gabus yang hangat dan mengulurkannya ke depan mulut Andrian.

"Aku juga akan makan ini, makan bersamaku, Tuan Sugara!” katanya pelan, menatap mata Andrian dengan mata memohon.

Andrian menatap sendok di depannya, lalu beralih ke mata Kaluna. Tatapannya tegas, tetapi ada kehangatan yang tak terhindarkan di dalamnya. Dia tahu dia kalah.

Dia membuka mulutnya. Kaluna tersenyum puas, menyuapkan bubur itu dengan hati-hati.

Andrian menelan, ekspresi dinginnya sedikit melunak. Rasa bubur yang creamy dan gurihnya ikan gabus memang jauh lebih baik dari yang dia bayangkan.

"Sekarang kau sudah makan. Kenapa kau tadi begitu marah?" goda Kaluna.

Andrian tidak menjawab. Dia hanya menatap Kaluna dengan intens.

Maulidah yang sedari tadi duduk kaku, kini tersenyum tipis. Dia menoleh sedikit ke arah Leon yang duduk di sebelahnya.

Leon, sang ajudan yang selalu berwajah tegang, kali ini mengangguk samar, membenarkan apa yang ada dalam pikiran Maulidah.

"Selama ini, tidak ada yang bisa membuat Andrian luluh dan mengubah keputusannya secepat itu. Dia selalu dingin, kaku, dan tidak bisa didebat. Tapi gadis ini... dia benar-benar pengecualian," batin Maulidah, sambil menyilangkan tangannya dengan elegan.

Di sisi lain, ekspresi Alivia dan Martin jauh lebih rumit.

Alivia tampak terkejut. Garis senyum sinisnya menghilang, digantikan oleh kerutan bingung. Rasa cemburu samar mulai muncul, karena dia tahu betul bahwa perhatian Andrian adalah sesuatu yang sulit didapatkan, bahkan olehnya.

"Dia tadi mau membongkar seluruh kota hanya karena Kaluna tidak ada. Dan sekarang, dia mau disuapi seperti anak kecil. Siapa sebenarnya gadis ini?" kata Martin di dalam hati.

Andrian sudah menghabiskan beberapa suapan bubur dari Kalun. Dia menatap Kaluna, yang masih memegang mangkuk dan sendok, dengan sorot mata yang sulit diartikan.

Andrian menoleh ke samping, tatapannya beralih dari Kaluna menuju Maulidah, seolah meminta persetujuan tak terucapkan.

"Besok malam," umum Andrian, sengaja membuat jeda, "ada acara Lelang Tahunan Barang Antik. Acara paling penting untuk menambah koleksi jaringan bisnis kita. Dan aku akan hadir. Bersama Nyonya Andrian Sugara."

Seluruh ruangan kembali membeku, kali ini lebih lama.

Alivia tersentak, tatapannya yang gelisah berubah menjadi terkejut. Acara Lelang adalah panggung utama yang selama ini, hanya dia yang paling sering mendampingi Andrian di acara-acara publik.

Martin mengerutkan kening. "Bukankah itu terlalu mendadak, Tuan Muda? Kaluna baru beberapa hari di keluarga Cassavanos. Kita bisa memperkenalkan dia secara perlahan..."

"Tidak ada waktu untuk bergerak perlahan, Paman," potong Andrian dingin.

"Pasar menyukai kecepatan dan kejelasan. Aku tidak hanya akan memperkenalkannya. Aku akan membuat pernyataan bahwa kemitraan ini kuat dan strategis," sambungnya.

Kaluna tidak menunjukkan keterkejutan. Dia menerima tatapan dari seluruh keluarga dengan tenang, matanya memancarkan kepercayaan diri penuh.

Keheningan dingin setelah pengumuman lelang itu segera dipatahkan oleh Alivia. Senyum manisnya kini digantikan oleh ekspresi khawatir yang tampak sangat meyakinkan.

"Andrian, tunggu sebentar. Aku tidak yakin ini ide yang bagus," ujar Alivia, suaranya naik satu oktaf, penuh kekhawatiran yang disamarkan.

Andrian menoleh, matanya tajam. "Kenapa, Ibu?"

"Tentu saja aku sangat senang Kaluna akan mendampingimu. Tapi... aku sempat mendengar dari Marisa bahwa Kaluna memiliki masa lalu yang sangat... sensitif dengan keramaian dan tekanan publik. Ada riwayat gangguan kecemasan parah, bahkan... ah, sudahlah, mungkin aku salah dengar," ujar Alivia, menghela napas dramatis.

Meski berkata dia salah dengar, Alivia telah menanamkan keraguan yang mematikan. Semua mata kini menatap Kaluna dengan campuran rasa ingin tahu dan penghakiman.

Pada saat itu juga, benteng Kaluna runtuh. Nama Marisa dan pengungkapan tentang gangguan kecemasan menusuknya. Ekspresi tenangnya mendadak memudar, digantikan oleh kerentanan yang jarang terlihat.

“Jangan sakiti aku, aku tidak gila! Ayah… bawa aku pulang!” Tiba-tiba, bisikan-bisikan suaranya pada saat kecil dulu mulai terdengar lagi, memenuhi telinga Kaluna.

Tanpa sadar, Kaluna sedikit menyembunyikan dirinya di belakang punggung Andrian. Gerakan kecil yang penuh arti, seolah mencari perlindungan fisik dari tatapan menghakimi yang menimpanya.

"Ibu, hentikan omong kosong itu," kata Andrian, suaranya datar dan dingin, tidak menunjukkan emosi.

“Kaluna tidak pernah memiliki gangguan jiwa, tapi trauma. Trauma yang sangat dalam yang diciptakan oleh seseorang di masa lalunya," imbuhnya.

"Andrian, kau tidak mengerti. Lelang itu sangat penting. Ini bukan acara keluarga. Ini tentang wajah perusahaan di mata publik," ujar Alivia, menekankan setiap kata.

Kaluna mengepalkan tangan di bawah meja. Dia harus berjuang keras menahan dorongan untuk membela dirinya sendiri.

Andrian merasakan ketegangan Kaluna. Dia memandang Alivia dengan tatapan yang sangat dingin, memancarkan otoritas penuh Tuan Sugara.

"Ibu," ujar Andrian, suaranya pelan, dingin, dan mematikan, "Aku akan mengatakannya sekali lagi. Kaluna adalah Istriku. Keputusan untuk membawanya ke Lelang adalah keputusanku, bukan permohonan yang harus disetujui komite."

Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap seluruh meja, memastikan pesannya didengar oleh semuanya.