Drama

Menjadi Incaran Kejahatan

Penulis Yoonna
10 January 2026

Malam itu, aula lelang Balai Kota diselimuti nuansa emas dan beludru. Udara dipenuhi aroma anggur mahal, parfum, dan ketegangan investasi. Ketika Andrian Sugara melangkah masuk, keheningan yang singkat segera menyambutnya. Namun, kali ini, yang menyedot perhatian adalah sosok di sisinya.

Kaluna tampak berbeda. Gaun malam biru gelapnya membalutnya dengan elegan, sederhana namun mahal. Dia tidak mengenakan perhiasan berlebihan, hanya satu set berlian warisan keluarga yang memancarkan cahaya dingin, membuat fokus tertuju pada aura tenangnya.

Andrian, mengenakan tuksedo klasik, memimpin dengan otoritas mutlak. Tangannya berada di punggung bawah Kaluna. Sebuah gerakan posesif yang menunjukkan kepada semua orang bahwa dia adalah miliknya.

“Mereka mengendalikan pembicaraan,” bisik Kaluna, suaranya pelan di tengah desingan bisikan di sekitarnya.

Matanya memancarkan ketenangan yang kontras dengan denyutan kecil di urat nadinya, sisa-sisa kecemasan yang dia redam.

“Itu yang kita inginkan,” balas Andrian datar, suaranya hanya untuk Kaluna.

“Mereka melihat koneksi yang tidak bisa mereka pecahkan. Ingat, kau adalah cerminan kekuasaan Sugara malam ini. Tunjukkan pada mereka bahwa kau tidak terpecahkan,” sambungnya.

Saat mereka baru berjalan beberapa langkah menuju area VIP, langkah Andrian terhenti. Di hadapan mereka, berdiri sepasang pria yang langsung menarik perhatian Kaluna, sekaligus menusuk lapisan pertahanan Andrian.

Yang pertama adalah Ken Aji, Ayah Kaluna. Wajahnya yang tegang dan sorot matanya yang khawatir bercampur rasa bersalah membuat Kaluna menegang sesaat.

“Kaluna,” sapa Ken Aji, suaranya serak.

Dia bergerak cepat, seolah ingin meraih tangan putrinya, namun terhenti oleh kehadiran Andrian yang memancarkan peringatan.

“Ayah,” jawab Kaluna dingin, formal, tanpa emosi yang berarti.

Di samping Ken Aji, berdiri sosok lain, Raka. Raka adalah tipe pria yang memancarkan kehangatan yang tidak dimiliki Andrian. Ramah dan tampak santai dalam setelan jasnya. Matanya langsung tertuju pada Kaluna, dan senyum tulusnya berbeda dengan senyum misterius Rayyan atau senyum palsu Alivia.

“Kau datang,” ujar Raka lembut kepada Kaluna, mengabaikan Andrian sejenak.

Andrian merasakan genggaman tangannya di punggung Kaluna mengeras sedikit. Kedua pria ini adalah bagian dari masa lalu sensitif Kaluna.

Raka mengalihkan pandangannya ke Andrian dengan tatapan hormat, namun ada ketegasan di dalamnya.

“Selamat malam, Tuan Sugara,” sapa Raka.

“Selamat malam juga, Tuan Praka. Senang melihatmu,” jawab Andrian tajam.

Raka tersenyum tipis. Matanya kembali ke Kaluna, memperhatikan detail kecil yang tidak disadari oleh Andrian.

“Kau terlihat sedikit tegang, Kaluna,” ujar Raka. “Pergelangan tangan kirimu pasti sudah mulai sakit, kan? Ruangan ini terlalu panas untukmu.”

Kaluna terdiam. Dia baru saja mengganti posisi tangan kirinya karena pergelangan tangannya mulai kaku, kebiasaan kecil yang muncul saat kecemasannya memuncak di tengah keramaian. Itu adalah detail yang hanya diketahui oleh orang yang sangat mengenalnya.

Andrian mengerutkan kening. Tiba-tiba, dia menyadari, dia tidak tahu apa-apa tentang detail sekecil itu, namun Raka mengetahuinya. Kecemburuan yang dingin dan tajam menusuknya, bukan hanya karena Raka mendekati istrinya, tetapi karena Raka seolah-olah sangat tahu kebiasaan sensitif Kaluna yang baru dia ketahui sedikit.

“Kau tahu benar, Raka,” Kaluna mengakui dengan suara hampir tak terdengar.

“Raka,” potong Andrian dingin, nadanya penuh otoritas, “Kau tampaknya terlalu peduli dengan detail sensitif istriku.”

Raka menoleh ke arah Andrian, senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi serius.

“Aku hanya tahu kebiasaan Kaluna, Tuan Sugara,” balas Raka. “Apalagi di acara lelang. Biasanya, dia akan mencari tempat di sudut, di mana dia bisa melihat semua orang tanpa terlihat jelas. Dan dia akan meminum air dingin, bukan sampanye. Itu membantu fokusnya.”

“Tapi malam ini, dia datang bersamaku. Di manapun dia akan duduk, selama di sampingku, kupastikan dia merasa nyaman, Tuan Praka,” ujar Andrian penuh penegasan.

Raka tersenyum kecil dan mencondongkan tubuh sedikit. Dia mengabaikan Andrian. Suaranya merendah seolah dia hanya berbicara kepada Kaluna, sebuah gerakan yang semakin memicu kemarahan Andrian.

“Ingat, Kaluna. Fokus pada apa yang penting. Abaikan keramaian. Aku yakin kau akan membuat statement yang tak terlupakan malam ini. Seperti biasanya.”

Raka kemudian berdiri tegak, membungkuk ke arah Andrian dan Kaluna, lalu pergi.

Andrian memejamkan mata sesaat. Dia telah membuat Kaluna menjadi cerminan kekuasaannya. Namun dalam beberapa detik, Raka berhasil membalikkan keadaan, menunjukkan bahwa dia memegang kunci rahasia kelemahan Kaluna, sesuatu yang Andrian harus perjuangkan untuk dapatkannya.

Tiba-tiba, Ken Aji, yang masih terlihat linglung setelah percakapan singkatnya dengan Kaluna, mendekati mereka lagi.

“Tunggu, Kaluna,” bisik Ken Aji, mengabaikan kehadiran Andrian sejenak. “Siapa tadi Raka?”

Kaluna menoleh ke ayahnya, dan dengan sengaja meninggikan suaranya sedikit, memastikan Andrian juga mendengar setiap kata. Ini adalah deklarasi.

“Raka?” ulang Kaluna, seolah nama itu tidak penting.

“Dia adalah wali kuasa untuk semua saham pribadiku, Ayah,” ungkap Kaluna.

Ken Aji tersentak, tatapannya yang khawatir berubah menjadi terkejut total. Mulutnya sedikit terbuka, dia mencoba mencerna kalimat putrinya.

“Wali... kuasa?” Ken Aji terhuyung sedikit.

Kaluna memiliki aset yang besar di beberapa usahanya, tetapi dia tidak tahu bahwa putrinya telah menyerahkan kontrolnya kepada orang lain, apalagi Raka.

“Kenapa dia? Siapa dia sebenarnya? Dan apa maksudnya semua saham? Kau... kau tidak sedang dalam masalah, kan?” tanya Ken Aji untuk memastikan hal penting ini.

Ken Aji hendak bertanya lebih jauh, menuntut penjelasan mengapa dia tidak pernah tahu tentang keputusan finansial sebesar itu, terutama setelah trauma Kaluna di masa lalu.

Namun, sebelum Ken Aji sempat melontarkan pertanyaan lain, suara palu berdentum nyaring dari podium lelang.

“Hadirin sekalian, selamat malam. Lelang Tahunan Barang Antik akan segera dimulai!”

Suara MC yang bersemangat menguasai ruangan. Lampu utama meredup, menyisakan sorotan dramatis pada panggung utama.

Ken Aji terdiam, tenggelam dalam kejutannya. Dia harus menunda interogasinya.

Sementara Kaluna dan Andrian mengambil tempat duduk mereka di barisan terdepan area VIP. Dikelilingi oleh para elit bisnis yang bergengsi, di sudut ruangan yang sedikit tersembunyi, namun strategis untuk mengamati seluruh lantai, dua pasang mata tajam sedang mengikuti setiap gerakan Kaluna.

Marisa dan Kajayanti duduk di balik meja kecil, menyesap sampanye, tetapi fokus mereka terpatri pada pasangan Sugara yang baru.

“Lihatlah dia, Ibu,” bisik Kajayanti, seringai kecil muncul di sudut bibirnya saat dia melihat Andrian dengan posesif menempatkan tangan di belakang kursi Kaluna. “Dia benar-benar menyukai peran Nyonya Muda. Betapa naifnya.”

Marisa tertawa pelan, suaranya terdengar seperti pecahan kaca.

“Nyonya Muda yang rapuh, Sayang. Dia lupa bahwa dia baru saja berdiri di panggung yang paling rentan. Andrian mungkin melindunginya dari Alivia, tetapi dia tidak akan bisa melindunginya dari publik,” ujarnya.

Marisa meletakkan gelasnya dengan hati-hati. Tatapannya menjadi gelap dan penuh perhitungan.

“Kaluna sudah terlalu banyak membuat kita malu, Kajayanti. Insiden di galeri seni bulan lalu, dan bagaimana dia dengan dingin memojokkan kita di acara pernikahnnya. Dia selalu lolos dari kekacauan yang seharusnya dia hadapi.”

Marisa mengingat dendam pribadinya. Kaluna selalu menjadi duri dalam ambisi mereka untuk mendominasi lingkaran seni dan sosial yang sama.

“Malam ini adalah pembalasannya, Bu?” tanya Kajayanti, matanya berbinar dengan antisipasi.

Marisa tersenyum penuh makna.

“Tentu saja. Malam ini, kita harus memancingnya. Kita harus membuat Kaluna membuat kekacauan yang sempurna, sebuah skandal yang tidak bisa ditutupi oleh uang atau nama Sugara. Sebuah serangan kecemasan yang dilihat oleh ratusan saksi mata. Andrian Sugara mungkin mengendalikan media, tapi dia tidak bisa mengendalikan istrinya sendiri yang kehilangan kendali,” ujar Marisa penuh ambisi.

“Bagaimana kita akan melakukannya?” desak Kajayanti.

Marisa menghela napas, seolah itu adalah tugas yang membosankan. “Celahnya ada di mana-mana. Kelemahan terbesarnya adalah suara-suara di sekitarnya dan fokus yang terlalu intens pada objek lelang. Kita hanya perlu mencari cara untuk memutusnya dari ketenangan yang dia bangun. Dan aku tahu persis objek apa yang akan memicunya.”

Marisa mencondongkan tubuh sedikit, berbisik rencana jahatnya kepada Kajayanti, yang matanya melebar karena rasa gembira. Mereka berdua kemudian kembali ke tempat duduk mereka, tampak seperti dua wanita sosialita yang tidak berbahaya.

Sementara di kepala mereka, mereka sedang menyusun serangan psikologis yang paling kejam terhadap Kaluna.

Target mereka sudah jelas, membuat Kaluna mengalami serangan panik di depan umum dan membuktikan kepada seluruh lingkaran elit bahwa dia adalah Nyonya Sugara yang tidak layak, yang akan membawa nama keluarga Cassavanos dalam skandal.