Lelang dimulai. Suara juru lelang yang bersemangat bergema di aula Balai Kota, diiringi dentingan palu yang tegas. Kaluna duduk tegak di samping Andrian.
Andrian tampak tenang, tangan kanannya bersandar di sandaran kursi Kaluna, gerakan kecil yang memberinya kontak fisik yang menenangkan sekaligus menjaga jarak dari keramaian.
Kaluna benar-benar fokus. Dia mengabaikan bisikan dan tatapan di sekitarnya. Pikirannya terserap pada objek-objek yang dipamerkan, berusaha menganalisis nilainya dan potensi strategisnya. Dia telah mengambil air dingin yang disajikan oleh pelayan dan sesekali meminumnya.
"Item pertama untuk malam ini adalah sebuah mahakarya dari periode Dinasti Qing, sebuah Guci Keramik Famille Rose dengan lukisan naga yang langka! Harga pembuka, satu juta dolar!" umum juru lelang.
Penawaran segera melonjak, tetapi Andrian tidak tertarik. Dia hanya mengangguk samar kepada Leon yang berdiri di belakangnya.
"Apa yang kau cari?" bisik Kaluna.
"Bukan guci tua itu," jawab Andrian datar. "Aku mencari koneksi, bukan barang. Ada tiga item yang akan kita bidik. Item itu akan memberikan kita akses ke pasar yang selama ini tertutup untuk Sugara."
Kaluna mengangguk, menganalisis. Dia menghargai transparansi Andrian yang memperlakukannya sebagai mitra bisnis, bukan hanya aksesori.
Di sudut ruangan, Marisa dan Kajayanti memperhatikan Kaluna dengan saksama.
"Dia tampak tenang, Bu. Bahkan air dingin itu tidak membuatnya tegang," bisik Kajayanti dengan sedikit kejengkelan.
"Sabar, Sayang," balas Marisa dingin, melirik papan daftar lelang.
"Semua ketenangan itu hanya topeng. Dia sedang menunggu. Dan begitu dia melihat targetnya, topeng itu akan retak," imbuhnya.
Sesaat kemudian, juru lelang kembali mengetuk palu.
"Item selanjutnya! Sebuah perhiasan yang memiliki bersejarah milik seorang bangsawan dari Huang Cheng. Kami persembahkan, Kalung Zamrud dan Berlian, Tragedi Aletta!"
Lampu sorot bergerak dramatis, menyorot sebuah kalung yang terbuat dari berlian yang dipangkas rumit dan batu zamrud berukuran besar di bagian tengahnya. Keindahan kalung itu memancarkan cahaya hijau gelap yang tampak memesona sekaligus mencekam.
Kaluna, yang sedang menyesap airnya, tiba-tiba membeku total.
Tangan yang memegang gelas air itu mendadak kaku, jari-jarinya memutih karena cengkeraman yang kuat. Matanya terpatri pada kalung di atas podium, sorotnya tidak lagi menganalisis, tetapi terkejut dan ketakutan.
“Kalung itu... itu kalung Ibu,” gumam Kaluna.
Bisikan-bisikan masa lalu mulai merangkak, menusuk telinganya.
Andrian merasakan ketegangan yang tiba-tiba dari Kaluna. Tubuh istrinya menegang seperti kawat baja.
"Kaluna?" bisik Andrian, menoleh ke arahnya.
Kaluna tidak merespons. Dia tidak bisa memalingkan pandangannya dari Kalung Zamrud itu. Kalung itu, yang dahulu sering dipakai oleh ibunya.
Ayah bilang dia akan menjualnya untuk membayar hutang... tapi dia tidak pernah menjualnya. Dia memberikannya kepada Marisa, tapi sekarang...
Kilasan memori traumatis datang seperti gelombang tsunami, mengombang-ambingkan pertahanan mental Kaluna. Suara bisikan di sekitarnya yang tadinya teredam, kini terdengar keras, menuduh, dan menghakimi.
"Dia gila!"
"Kenapa dia di sini?"
"Lihat dia! Dia gemetar!"
Suara-suara itu seolah bukan berasal dari orang-orang di sekitarnya, melainkan dari kepala Kaluna sendiri. Dia mulai bernapas pendek, tersengal-sengal, berusaha menghirup udara yang terasa mendadak tipis.
Pergelangan tangannya mulai sakit, tetapi dia tidak peduli. Seluruh fokusnya adalah bagaimana melarikan diri dari pandangan kalung hijau gelap itu.
Andrian segera menyadari bahwa ada perubahan warna wajah Kaluna dan tarikan napasnya yang cepat.
Tatapannya menyapu ruangan, dan matanya bertemu dengan tatapan Marisa dan Kajayanti di sudut, yang tersenyum sinis. Andrian langsung mengerti, ini disengaja.
"Kaluna, lihat aku," perintah Andrian dengan suara pelan namun tegas. Dia meraih bahunya, memaksanya untuk memalingkan wajah dari podium.
Kaluna berusaha melawan, matanya masih terfokus pada Kalung Zamrud yang memicu terornya.
"Tidak! Tidak! Jangan biarkan mereka... jangan biarkan mereka mengambilnya lagi!" bisik Kaluna, suara paniknya tercekik.
Andrian tahu dia harus bertindak cepat, sebelum Kaluna benar-benar kehilangan kendali di depan ratusan mata. Dia tidak peduli dengan reputasi Sugara saat ini, yang terpenting adalah Kaluna.
“Nomor Bidding 005…” Tiba-tiba, suara yang sedikit menenangkan untuk Kaluna terdengar lantang.
"Ya, Tuan Praka? Apakah Anda ingin mengajukan penawaran?" tanya juru lelang.
"Ya. Aku akan menawar Kalung Tragedi Aletta itu. Berapa pun harga yang dibutuhkan, aku akan membelinya,” sahut Praka.
Praka tahu persis dari mana dan milik siapa kalung itu, juga betapa berartinya bagi Kaluna.
Praka tidak ingin keberadaan kalung itu akan memicu masalalu Kaluna lagi. bagaimanapun juga, selain Kaluna, maka dialah orang harus mendapatkan kalung itu.
"Sepuluh Juta!" teriak seorang penawar lain.
”Seratus juta!” balas Praka.
“Sial! Dia lagi,” batin Andrian saat mendengar suara Praka.
Andrian yang memperhatikan gelagat Praka dan bagaimana perubahan suasana hati Kaluna, malah berpikir bahwa Praka akan menjadi sahingan baginya.
“Ohh, jadi kau ingin memenangkan hati Kaluna dengan ini? Aku tidak akan membiarkannya,” batin Andrian lagi.
Andrian menarik Kaluna mendekat, memeluknya dengan erat, menenggelamkan wajahnya ke dada Andrian. Gerakan itu sangat tidak terduga dan terbuka, memamerkan kerentanan mereka berdua.
"Dengarkan aku, kau aman. Itu hanya barang. Itu masa lalu. Fokus pada suaraku, Kaluna. Aku bersamamu," bisik Andrian di telinga Kaluna, suaranya dalam dan menenangkan.
“Nomor Bidding 001!” teriak Andrian.
Juru lelang menoleh, terkejut melihat Andrian yang biasanya dingin tiba-tiba berteriak.
Suasana ruangan kembali membeku, kali ini dengan keterkejutan yang nyata. Andrian Sugara, yang dikenal hanya berburu aset strategis, tiba-tiba menawar perhiasan kuno dengan semangat yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya.
Marisa dan Kajayanti terkejut. Rencana mereka berhasil memicu Kaluna, tetapi justru gagal karena Andrian mengubah trauma itu menjadi penawaran yang agresif.
"Apa kau hanya ingin membuang-buang uang, Tuan Muda? Ini tidak ada nilai strategisnya!" teriak Martin dari barisan belakang.
Andrian mengabaikannya. Dia memegang Kaluna lebih erat.
"Lima ratus juta!" teriak Andrian, meninggikan suaranya di atas semua bisikan.
"Tuan Sugara! Itu lebih dari sepuluh kali harga pembukaan! Apakah Anda yakin?" tanya juru lelang.
"Aku yakin," jawab Andrian dingin. "Aku tidak akan membiarkan barang ini dimiliki oleh orang lain. Palu!"
Dalam keheningan yang panjang dan tegang, juru lelang melihat sekeliling. Tidak ada yang berani menantang harga yang dilemparkan dengan otoritas Sugara dan alasan yang jelas-jelas emosional.
DENTUM!
"Terjual! Kepada Tuan Andrian Sugara, untuk lima ratus juta rupiah!"
Andrian melepaskan Kaluna sedikit, tetapi masih memegang erat bahunya. Dia mengalihkan pandangannya dari Kaluna ke wajah Marisa yang kini tampak marah di sudut ruangan. Tatapan itu adalah sebuah ancaman.
Kaluna, yang perlahan-lahan kembali sadar, mendongak. Dia menyadari Andrian baru saja membelikannya benda yang memicu teror terbesarnya, dengan harga yang tidak masuk akal, hanya untuk mengendalikan situasi dan melindunginya.
"Kenapa... kenapa kau membelinya?" bisik Kaluna, air mata menghangat di matanya.
Andrian hanya menatap matanya yang masih rapuh.
“Karena Praka menawarnya, tentu saja itu untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan kalung itu karena Praka,” bisik Andrian sambil memancarkan senyum manisnya.
“Dasar!” seru Kaluna, terkesima dengan ucapan Andrian.
Lelang berlanjut. Setelah item-item awal yang bernilai tinggi, juru lelang memperkenalkan item yang ditunggu-tunggu oleh banyak kolektor seni sejati.
"Hadirin sekalian! Item berikut adalah mahakarya yang hilang, ditemukan setelah terkubur lebih dari ratusan tahun! Kami persembahkan, lukisan orisinal dari pelukis legendaris, Potret Keheningan Musim Kemarau karya Lula Alamanda!" umum juru lelang dengan dramatis.
"Lukisan ini dikenal sebagai koleksi pribadi seseorang yang sangat terkenal di masa lalu. Harga pembuka, dua juta dolar!" ujar juru Lelang itu lagi.
Lukisan itu adalah potret wajah seorang pria yang tampak melankolis di balik sebuah kabut putih tebal.
Andrian, yang sejak tadi hanya bersikap acuh tak acuh, seketika mencondongkan tubuh ke depan. Mata dinginnya memancarkan ketertarikan yang nyata. Bukan karena lukisannya, tapi sejarah yang melekat dan nama senimannya.
Lukisan ini adalah aset prestisius yang akan meningkatkan koleksi seni Sugara Group dan menyempurnakan citra mereka sebagai patron seni yang berbudaya.
Dari sudut ruangan, Marisa dan Kajayanti saling bertukar pandang. Itu adalah sinyal.
"Tiga juta dolar!" seru Marisa, yang biasanya tidak tertarik pada seni, mengajukan penawaran pembuka dengan senyum manis yang mengganggu.