Pertarungan penawaran yang cepat dan sengit terjadi antara Andrian di barisan depan, dan Marisa bersama Kajayanti di sudut. Angka-angka melonjak dengan cepat, lima juta, enam juta, sepuluh juta!
"Sepuluh juta," balas Andrian datar, tanpa menoleh.
"Sepuluh juta seratus!" seru Kajayanti.
Kaluna, yang sudah mulai tenang dan keluar dari zona bisingnya, kini melihat lukisan itu dengan alis berkerut tajam. Bukan karena trauma emosional, melainkan karena analisis visual yang dingin.
Bingkai kayu ek yang terlalu baru... Catnya... warnanya terlalu jenuh untuk usia belasan tahun...
Dia menyentuh lengan Andrian. "Tuan Sugara, hentikan," bisiknya.
Andrian tidak mengindahkan. Dia mengangkat tangannya lagi.
“Lima belas juta!" teriak Andrian.
"Lima belas juta dua ratus!" balas Marisa cepat, senyum kemenangannya melebar.
Rencananya adalah memancing Andrian hingga harga maksimal, membuatnya menghabiskan uang untuk item yang meragukan.
“Marisa, apa yang kau lakukan? Kau akan menghabiskan uang sebanyak itu untuk sebuah lukisan? Sejak kapan kau tertarik dengan lukisan?” protes Ken Aji yang sejak tadi hanya diam menyimak.
“Diamlah! Aku menyukainya,” sahut Marisa berkilah.
Saat Andrian ingin menaikkan penawaran lagi, Kaluna tiba-tiba berdiri dan menghentikannya.
"Tuan Sugara! Lukisan itu palsu!" desak Kaluna, suaranya naik satu oktaf, berusaha menarik lengan Andrian yang kaku.
Andrian menoleh ke Kaluna, ekspresi dinginnya berubah menjadi marah karena dia diinterupsi di depan umum.
"Diam, Kaluna! Ini adalah orisinalitas Lula. Sebuah nilai strategis yang besar bagi Sugara Group. Bagaimana kau bisa bilang ini palsu?" bisik Andrian, nadanya penuh ketidakpercayaan.
"Aku tahu pola kuasnya! Potret karya Lula selalu memiliki garis bayangan yang spesifik di dagu modelnya. Garis pada lukisan itu dibuat terlalu lembut dan tidak sinkron dengan tekstur catnya! Ini adalah penipuan! Mereka memancingmu!" Kaluna balas berbisik cepat, matanya memancarkan kebenaran yang yakin.
Andrian menatap Kaluna sejenak, menilai kejujuran dan keyakinan dalam mata istrinya.
Namun, harga diri dan naluri bisnisnya, yang jarang sekali salah, menolak untuk menerima kritik ini. Terutama dari seseorang yang dia anggap baru dalam lingkaran bisnisnya.
Dia mengabaikan Kaluna, menarik tangannya, dan berdiri.
"Lima puluh juta!" teriak Andrian.
Marisa dan Kajayanti terkesiap, tetapi bukan karena jumlahnya. Mereka terkejut karena Andrian berhasil menembus batas harga yang mereka harapkan untuknya.
Juru lelang, dengan kegembiraan yang jelas, mengacungkan palu.
"Lima puluh juta dolar, dari Tuan Sugara! Ada lagi? Sekali..."
"Tunggu!" seru Kaluna, kali ini dia berdiri dan meraih bahu Andrian.
Dia tahu konsekuensi tindakannya, tetapi rasa takut akan kerugian dan citra Sugara Group jauh lebih kuat.
Seluruh ruangan, termasuk Marisa dan Kajayanti, menoleh pada drama di barisan depan.
Kaluna tidak punya pilihan. Dia harus bertindak ekstrem.
Andrian menatap Kaluna sejenak. Dia telah siap meneriakkan angka berikutnya, tetapi kata-kata "Tuan Sugara, hentikan," yang diucapkan dengan nada tegas dan dingin, jauh berbeda dari kepanikan sebelumnya, membuatnya menoleh.
"Apa?" bisik Andrian, alisnya sedikit terangkat, masih memegang pena penawaran.
"Lukisan itu palsu," ulang Kaluna sekali lagi, tanpa emosi di matanya, fokus sepenuhnya pada lukisan di podium.
"Lihat bingkainya, itu terlalu baru. Tapi yang paling fatal adalah catnya." Dia melanjutkan, suaranya sangat rendah agar tidak terdengar, tetapi penuh otoritas analitis.
"Lukisan Lula Alamanda ini bertema Potret Keheningan Musim Kemarau, sangat terkenal, bukan karena keindahannya, tapi karena sejarahnya yang mengerikan."
Kaluna mencondongkan tubuh sedikit, memastikan Andrian fokus padanya.
"Lukisan itu adalah potret pacarnya Lula sendiri, pria yang bernama... Alen yang meninggal karena kecelakaan. Lula yang gila karena duka, memutuskan untuk tidak menggunakan pigmen biasa. Lula nekat menggunakan bahan lukisan yang berasal dari abu bakaran jasad Alen sendiri. Itu sebabnya lukisan itu terlihat begitu melankolis, buram, dan hanya didominasi warna abu-abu dan cokelat mati yang senada, mencerminkan debu dan abu," jelas Kaluna.
Napas Kaluna menjadi lebih tenang saat dia menganalisis, mengambil alih kendali mentalnya sepenuhnya.
“Apa kau yakin?” tanya Andrian skeptis.
"Lukisan yang dipamerkan di sana itu memiliki warna hijau zaitun dan biru tua yang jenuh di balik kabut putihnya. Jelas sekali itu cat berbasis minyak modern. Goresan kuasnya terlalu tebal. Lukisan aslinya hampir transparan. Aku tahu betul sejarah koleksi ini. Lukisan ini replika yang dibuat dengan ahli, tapi pembuatnya gagal meniru pigmen dan goresan kuas seorang seniman yang melukis dengan abu kekasihnya sendiri."
Andrian menatap Kaluna dengan tatapan baru, terkesan, dan sedikit merinding. Dia tidak hanya terkesan pada pengetahuan detailnya yang mengerikan, tetapi juga pada kemampuan Kaluna memisahkan emosi pribadinya untuk melakukan analisis bisnis yang tajam.
"Seratus juta dolar!" teriak Kajayanti dari sudut, suaranya terdengar cemas.
“Kajayanti, kau gila?” tanya Marisa.
“Tenanglah ibu, Tuan Muda itu tidak akan mengalah dengan cepat,” ujar Kajayanti sangat yakin.
Marisa mencondongkan tubuh ke depan, matanya berkedip penuh kegelisahan, berharap Andrian kembali menyerang balik.
“Kajayanti, kau ingin menghancurkanku?” hardik Ken Aji tiba-tiba.
“Wah-wah… rupanya Nona Kajayanti sangat mengincar lukisan itu, berani sekali menawarkan harga fantastis!” ujar Praka dari kejauhan.
Andrian menatap lukisan di podium, kemudian beralih menatap Kaluna. Rasa terkesan pada detail pengetahuannya bercampur dengan amarah karena harga dirinya dan insting bisnisnya terancam dibantah di depan umum.
“Ayah, ini… tidak salah? Kau menyerahkan bidding pada Kajayanti? Lihat kekacauan yang dia ciptakan!” ujar Kaluna berusaha mengingatkan Ken Aji.
Ken Aji tersentak. Perkataan Kaluna seorang secara tidak sengaja telah mengungkapkan hiarkinya yang tidak lagi tegas di dalam keluarganya sendiri.
“Kau tak perlu khawatir, Kaluna. Dia memiliki uang, dia akan membayarnya,” sahut Ken Aji yang sebenarnya sangat cemas, berusaha menutupi ketakutannya.
Kaluna kembali duduk di kursinya.
“Bahkan asetnya saja tidak mencapai delapan puluh dolar,” gumam Kaluna dengan suara yang hanya terdengar oleh Andrian..
Juru lelang, melihat jeda yang tiba-tiba dari barisan Sugara, mulai menghitung.
"Seratus juta dolar! Ditawarkan oleh Nona dari Ken Aji Corporate! Ada lagi dari Tuan Sugara? Apakah Anda akan melanjutkannya?" Juru lelang mengulangi, matanya tertuju ke barisan depan, berharap drama ini segera menghasilkan angka yang lebih tinggi.
Andrian, nalurinya yang tidak ingin kalah berkobar hebat, siap mengangkat pena penawaran lagi.
Namun, sebelum tangannya sempat bergerak, Kaluna menahan lengan Andrian dengan cengkeraman yang sangat kuat, tatapannya dingin dan tajam, mengisyaratkan sebuah peringatan keras.
"Jangan," bisik Kaluna dengan isyarat, tanpa suara, hanya melalui sorot matanya yang penuh keyakinan.
"Kenapa, Tuan Sugara? Apakah Anda takut dengan harga segitu? Ataukah Nyonya Kaluna di samping Anda hanya ingin merugikan Sugara Group dan Cassavanos dengan menghalangi pembelian strategis ini?" seru Marisa, suaranya sengaja dikeraskan.
Kajayanti menyeringai licik. "Jangan bilang Tuan Sugara akan kalah melawan Ken Aji malam ini hanya karena didikte oleh istri yang tidak tertarik pada lukisan. Bukankah harga diri Sugara Group lebih mahal dari seratus juta dolar?"
Provokasi itu berhasil. Wajah Andrian memerah, matanya kembali tertuju pada pena penawaran. Menarik diri sekarang adalah sebuah kekalahan memalukan. Dia sudah siap berteriak, "Se—"
Tepat serpihan kata itu keluar, Kaluna berdiri tegak dan berteriak, mengabaikan semua sopan santun dan etika lelang yang kaku.
"Kenapa kau tidak mendengarkanku? Lukisan itu palsu!" teriak Kaluna, suaranya melengking keras, mengalahkan suara juru lelang dan membuat seluruh ruangan hening seketika.
Marisa tertawa keras, sinis, dan mengejek.
"Benarkah, Nona Kaluna? Kau ingin Tuan Sugara mengurungkan niat kalian tapi dengan menuding yang bukan-bukan. Kau telah melempar penghinaan untuk pihak penyelenggara dengan menyebut itu adalah barang palsu,” pancing Marisa.