Api yang Membakar
Tak ada yang lebih cepat dari gosip. Apalagi bila gosip itu melibatkan cinta terlarang, politik, dan keluarga penguasa. Malam setelah pesta, dunia yang tenang berubah jadi panggung api.
Koran pagi itu menampilkan judul besar yang mengguncang.
'Kecupan Terlarang di Atas Kota! Putra Arman Faidzin dan Hanum Firdaus Terpergok Mesra di Rooftop Aula Negara.'
Foto buram hasil kamera ponsel terpampang di halaman depan. Siluet Al memeluk Hanum dengan bibir yang hampir bersatu jelas terlihat. Tak perlu banyak kata, publik sudah punya imajinasi liar masing-masing.
Televisi nasional menayangkan ulang gambar itu berulang kali, mengundang pengamat politik dan pakar etika keluarga. Talk show sore hingga tengah malam membahasnya tanpa henti.
Nama Al Faidzin dan Hanum Nadzneen mendadak jadi trending di seluruh media sosial.
Di balik tembok megah rumah Firdaus, Hanum duduk kaku di kamarnya. Ponselnya disita. Tirai jendela ditutup rapat. Suster pribadi yang ditugaskan menjaganya tak membiarkan ia keluar barang selangkah pun.
Ia menggenggam lututnya, menahan sesak yang menghantam dada. Malam itu di rooftop masih jelas terpatri di ingatannya, tatapan Al, genggamannya, kecupan panas yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Namun, kini semua berubah. Kecupan itu bukan lagi rahasia. Seluruh negeri sudah tahu.
“Ya Tuhan,” bisiknya lirih. “Apa yang sudah kulakukan?”
Sementara itu, di ruangan kaca lantai tiga, Firdaus duduk santai di kursinya. Jas hitamnya rapi, dasinya sempurna. Wartawan sudah menunggu di halaman depan, mikrofon siap menyerbu.
Asisten pribadinya cemas. “Pak, apakah kita tidak perlu mengeluarkan klarifikasi? Berita itu sudah meluas dan Hanum.”
Firdaus hanya tersenyum tipis, matanya dingin. “Itu urusan kecil. Fokus kita adalah konferensi pers sore ini. Agenda politik jauh lebih penting daripada gosip remaja.”
“Tapi, Pak.”
Firdaus memotong tajam, “Saya tidak akan membuang waktu membahas urusan anak-anak. Biarkan publik puas dengan rumor mereka. Kita tetap bicara soal rencana ekonomi nasional. Itu yang membuat nama kita tetap bersinar.”
Asistennya terdiam, hanya bisa menunduk.
Firdaus memang selalu begitu. Politik di atas segalanya untuk saat ini.
Berbeda dengan Firdaus, di rumah besar Faidzin, amarah meledak.
Arman Faidzin menghantam meja kayu besar hingga retak di sudutnya. Napasnya memburu, wajahnya merah padam.
“Kurang ajar!” suaranya menggema di seluruh ruangan. “Anak itu berani mempermalukan keluarga di depan seluruh negeri!”
Pengawal dan sekretaris pribadi hanya bisa menunduk, tak berani menatap matanya.
Arman melempar koran ke lantai, menunjuk foto itu dengan jari gemetar. “Lihat! Kerja sama kita dengan tiga investor asing batal pagi ini. Dana puluhan miliar menguap! Semua karena ulah tolol anak sialan itu!”
Seorang penasehat mencoba menenangkan. “Pak Arman, mungkin masih bisa dinegosiasikan. Jika kita segera mengeluarkan klarifikasi dan.”
“Diam!” bentak Arman. “Tak ada klarifikasi yang bisa menutupi ini. Semua mata sudah melihat dan lebih parah lagi.”
Ia berhenti, menghela napas panjang, lalu meremas rambutnya sendiri.
“Musuh lama kita memanfaatkan momen ini. Korupsi yang selama ini kututup rapat mulai dibongkar. Media yang dulu bisa kubungkam sekarang bersuara lantang. Mereka mengaitkan skandal cinta anakku dengan kebusukan keluargaku. Aku dipermalukan dua kali lipat!”
Sekretarisnya menelan ludah, lalu berbisik hati-hati. “Kalau begitu, apa langkah selanjutnya, Pak?”
Arman terdiam sejenak, matanya berkilat penuh dendam. “Langkah selanjutnya adalah menghabisi sumber masalah ini. Kalau Al tidak bisa dikendalikan, maka aku yang akan menyingkirkannya dan gadis itu,” ia menyeringai dingin. “Dia hanya api kecil yang menyalakan kobaran besar. Akan lebih mudah kalau aku meniupnya padam.”
Di kamar mewahnya yang kini lebih mirip sel tahanan, Al duduk di kursi sambil menatap layar televisi. Berita tentang dirinya tak berhenti mengalir.
Setiap saluran menayangkan ulang foto itu. Setiap komentator mencibirnya. Setiap headline menuduhnya sebagai anak durhaka yang merusak rencana politik besar, tapi di balik semua itu, ia hanya memikirkan satu hal, Hanum.
Ia memukul meja kecil di sampingnya, giginya terkatup rapat. “Aku tidak akan biarkan mereka menyentuhmu, Hanum. Demi apa pun.”
Pintu kamarnya diketuk. Seorang pria paruh baya masuk. Pamannya, Rahmad, yang selama ini diam di balik bayang-bayang Arman.
“Al,” katanya pelan, “kau sadar apa yang sudah kau lakukan? Kau bukan hanya menghancurkan dirimu, tapi juga keluargamu.”
Al berdiri, matanya menyala. “Aku tak peduli pada keluargaku. Mereka hanya tahu kekuasaan dan uang. Aku peduli pada Hanum!”
Rahmad mendesah berat. “Kalau begitu, kau harus bersiap. Ayahmu tidak akan tinggal diam. Dia akan mengorbankan siapa pun yang menghalangi jalannya, bahkan anaknya sendiri.”
“Biar saja.” Al mengepalkan tinju. “Aku tidak akan pernah menyerah. Kalau perlu, aku akan melawan dia.”
Malam itu, langit pusat kota dipenuhi gemerlap lampu. Namun, di balik keindahan, badai besar tengah menunggu.
Di sebuah gedung tua yang tak terawat, sekelompok pria berseragam hitam berkumpul. Pemimpin mereka, pria berwajah penuh bekas luka, menyalakan rokok sambil menatap layar laptop yang menampilkan foto kecupan Al dan Hanum.
“Kesempatan emas,” gumamnya. “Keluarga Faidzin retak. Keluarga Firdaus sibuk menutup aib. Inilah saat yang tepat untuk menyerang.”
Anak buahnya bersorak.
Pria itu tersenyum dingin. “Kita akan menculik gadis itu. Hanum Nadzneen, anaknya Firdaus. Begitu dia di tangan kita, semua kartu akan jatuh ke meja. Arman dan Firdaus akan saling gigit dan kita, akan jadi pemenang.”
Sementara itu, di kamar Hanum, ia duduk termenung di tepi ranjang. Jendela terbuka sedikit, angin malam masuk membawa hawa dingin.
Ia memeluk dirinya sendiri. “Al, apakah kau juga merasakan takut seperti aku?”
Air matanya menetes pelan. Ia tak tahu bahwa di balik kegelapan halaman rumah, bayangan hitam sudah mengintai.
Tiga jam kemudian, terdengar jeritan keras dari lantai atas rumah Firdaus. Pintu kamar Hanum terbuka dan gadis itu sudah tak ada di dalamnya. Hanya tirai yang berkibar tertiup angin, jendela tercongkel dan jejak sepatu hitam menuruni taman.
Hanum telah diculik dan kali ini, bukan hanya cinta mereka yang dipertaruhkan, tapi juga nyawa, kehormatan keluarga, dan masa depan negeri.