Drama

Amarah Andrian

Penulis Yoonna
10 January 2026

Kaluna melangkah maju, menghadap kerumunan dan menunjuk lukisan di podium dengan jari telunjuknya.

"Lukisan Lula Alamanda adalah potret kekasihnya yang meninggal. Lula melukisnya dengan mencampurkan abu bakaran jasad Alen ke dalam minyak lukisannya," jelas Kaluna, mengulangi fakta mengerikan itu dengan suara lantang.

Marisa dan Kajayanti tampak tegang, rona panik mulai terlihat di wajah mereka.

Kaluna mengambil napas dalam-dalam. "Lukisan yang dipajang di sana, dengan warna hijau zaitun dan biru tuanya yang jenuh, adalah cat minyak modern yang rentan. Tapi lukisan aslinya, karena komposisi pigmennya yang fatal, yang terbuat dari abu manusia, memiliki sifat kimia yang sangat spesifik."

“Mudah sekali bagi orang awam untuk menuduh penipuan, tapi sangat sulit untuk membuktikan. Jika Anda berani mengatakan lukisan itu palsu, buktikan!" Marisa terus memprovokasi.

Kaluna menatap Marisa, sorot matanya tajam dan menghakimi.

"Lukisan aslinya dicampur dengan bahan yang pada dasarnya adalah abu bakaran. Abu jasad. Artinya... lukisan Potret Keheningan Musim Kemarau yang asli, Tuan dan Nyonya, adalah lukisan yang pada dasarnya, TIDAK AKAN TERBAKAR!"

Seluruh ruangan terkesiap. Sebuah tantangan yang ekstrem dan menghancurkan citra lukisan itu kini terucap. Kaluna baru saja menantang lelang tersebut untuk membakar lukisan seharga seratus juta dolar di tempat.

Keheningan yang mencekam segera pecah oleh suara-suara panik dan kemarahan.

"Nyonya Sugara!" seru Juru Lelang, wajahnya pucat. "Anda menyinggung seluruh integritas Balai Kota! Barang-barang lelang kami telah melalui uji forensik terketat. Lukisan ini adalah mahakarya otentik!"

Marisa, melihat peluang emas untuk kembali memojokkan Kaluna dan segera mengambil kendali keributan itu.

“Dia gila! Nyonya Sugara baru saja menyerang panitia lelang dan melecehkan barang kolektor seharga miliaran juta!” teriak Marisa, suaranya tajam dan menghakimi.

“Jelas sekali Nyonya Kaluna hanya ingin merugikan Sugara Group dan membatalkan pembelian ini demi keuntungan pribadi! Mungkin ada persaingan saham di balik ini!” sambungnya terus memprovokasi.

Kajayanti mengangguk setuju, matanya bersinar.

"Dia tidak punya bukti! Ini adalah tindakan penghinaan publik! Apakah Tuan Sugara akan membiarkan istrinya mempermalukan semua orang di sini?" hasut Kajayanti.

Bisikan-bisikan segera menyambar. Para peserta lelang, yang tadinya terkesima, kini mulai berdebat. Sebagian meragukan keaslian lukisan, tetapi sebagian besar terkejut dengan tindakan Kaluna yang begitu drastis.

Di tengah hiruk-pikuk tersebut, Ken Aji dan Raka bergegas mendekati Kaluna.

"Kaluna, Nak, cukup! Jangan bertindak gegabah," bisik Ken Aji.

Rasa khawatir di matanya bercampur dengan rasa malu. Dia berusaha meraih bahu putrinya.

Raka, dengan tatapan tenang, berdiri di sisi Kaluna, seolah menjadi perisai mentalnya.

"Kaluna, kau sudah menyampaikan poinmu. Biarkan pihak berwenang yang mengurus sisanya. Kendalikan dirimu," ujar Raka lembut, berusaha menarik Kaluna dari pusat perhatian.

Kaluna mengabaikan mereka semua. Dia merasakan Marisa dan Kajayanti semakin mendesaknya. Harga dirinya sebagai seorang analis dan kebenaran yang dia pegang teguh jauh lebih penting daripada etika lelang yang kaku.

"Lukisan itu palsu," ulang Kaluna, suaranya kini tenang namun dingin, "dan mudah sekali untuk dibuktikan. Jika kalian tidak berani membuktikan, maka kalian mengakui penipuan!"

Kaluna melirik ke sekeliling, mencari alat. Matanya menangkap seorang cowboy tua di barisan belakang yang sedang memainkan pemantik api. Tanpa ragu, Kaluna bergerak cepat, menyambar pemantik itu sebelum ada yang sempat bereaksi.

Pemantik api itu kini menyala di tangannya, menerangi wajahnya yang tegang. Kaluna melangkah tegap menuju podium lelang.

"Sekarang juga, kita akan membuktikan! Jika lukisan ini asli, dia tidak akan terbakar!" teriak Kaluna lantang, suaranya memantul di aula yang mendadak sunyi kembali. Dia mengangkat pemantik itu ke arah lukisan.

Nyala api kecil di ujung pemantik itu tampak dramatis, seolah mengancam seluruh sejarah dan kekayaan di ruangan itu.

Momen itu adalah titik didih bagi Andrian. Dia telah membiarkan Kaluna mengatasi paniknya, dia terkesan dengan analisisnya. Tetapi tindakan ekstrem ini, mengancam menghancurkan properti di depan ratusan saksi, dia bisa dituding melanggar batas otoritas dan kendali publik yang dia pegang teguh.

Saat Juru Lelang dan Marisa berdebat, dan Kaluna masih berdiri menantang dengan pemantik menyala, aula lelang meledak dalam bisikan-bisikan tajam. Para elit terkejut oleh tindakan nekat Kaluna, tidak lagi menjaga sopan santun.

"Astaga, dia benar-benar nekat! Jelas tidak stabil. Dia akan membakar aset serratus juta dollar! Tuan Sugara menikahi kegilaan, kawan, bukan kecerdasan!" cela Hartono kepada rekannya.

"Aku sudah bilang, dia rapuh! Serangan panik di awal, dan sekarang histeria publik. Keluarga Sugara benar-benar memilih wanita yang salah kali ini. Reputasi mereka hancur malam ini!" bisik Nyonya Tirtayasa sambil menutupi mulutnya.

"Tapi, tunggu sebentar... Abu bakaran jasad? Gila, apa itu benar? Lukisan itu memang terlihat terlalu baru. Jika dia benar, Balai Kota dalam masalah besar. Tapi cara dia mengungkapkannya…" Martin bahkan berpikir keras.

Kaluna mengabaikan desas-desus mereka. Matanya tertuju pada Marisa yang menyeringai licik di kejauhan. Marisa sedang memenangkan narasi, Kaluna Histeris, Bukan Kaluna Benar.

“Sudah jelas lukisan ini palsu, mengapa kalian masih juga berdebat!” teriak Kaluna, menenggelamkan bisikan di sekitarnya.

Dia mengangkat pemantik itu lebih tinggi, bersiap melangkah ke podium.

Andrian, yang sejak tadi hanya diam menyimak kekacauan yang diciptakan istrinya, langsung bangkit. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, melainkan otoritas mutlak yang dingin.

“Sudah cukup main-mainnya, Kijang Emas!” seru Andrian.

Dia melangkah cepat, menyambar pergelangan tangan Kaluna, bukan dengan cengkeraman posesif, melainkan dengan cengkeraman yang menunjukkan tidak adanya toleransi. Pemantik api di tangan Kaluna langsung terjatuh ke lantai.

Andrian menatap mata Kaluna sejenak, tatapan dinginnya menyampaikan ultimatum tanpa kata, hentikan sekarang!

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada istrinya, juru lelang, atau kerumunan yang terkesiap, Andrian menarik Kaluna menjauh dari podium dan melangkah dengan langkah otoriter menuju pintu keluar aula.

Leon segera mengikuti di belakang mereka, memberikan tatapan meminta maaf kepada penyelenggara lelang sambil bergegas menyusul Tuannya.

“Maaf atas kekacauan ini, kami akan mengurus segala kerugiannya nanti,” ujar Leon menatap hampir ke semua orang di sana.

Mereka menghilang di balik pintu beludru, meninggalkan aula lelang dalam keheningan yang parah, dengan bau anggur, parfum, dan ketegangan yang baru.

Koridor marmer di luar aula lelang terasa dingin dan sunyi, kontras tajam dengan panas dan hiruk-pikuk yang mereka tinggalkan. Andrian melepaskan cengkeramannya pada lengan Kaluna dengan sedikit kasar. Kulit Kaluna yang putih menunjukkan bekas merah dari tekanan jari-jari Andrian.

Kaluna tidak menunjukkan rasa sakit atau ketakutan. Dia hanya berdiri tegak, napasnya masih sedikit terengah, menatap punggung Andrian yang tegang.

“Apa kau puas!” bentak Andrian.

Andrian berbalik menghadapnya, wajahnya adalah topeng kemarahan yang terkontrol. Matanya, yang biasanya dingin dan kalkulatif, kini memancarkan api frustrasi dan penghinaan.

“Kau bertindak terlalu jauh. Jadi benar, kau ingin menghancurkan reputasiku di muka umum?” kata Andrian yang merendah tapi penuh penekanan.

Dia mengangkat tangan kanannya, gerakan cepat dan mengancam, seolah siap untuk melampiaskan seluruh amarahnya atas kekacauan yang terjadi.

Kaluna tidak bergeming. Dia hanya membalas tatapan Andrian, menanti pukulan yang mungkin akan datang.

Tangan Andrian terhenti di udara, hanya beberapa inci dari wajah Kaluna.

"Tuan Muda, tahan dirimu," suara Leon yang tenang dan penuh kewaspadaan terdengar, memotong ketegangan yang membeku. Leon melangkah maju sedikit, cukup untuk menempatkan dirinya di antara pasangan itu.

"Ada banyak orang di sini. Nama Sugara akan semakin tercoreng bila banyak mata melihatmu menyakiti Nona Kaluna," kata Leon lagi/

Kata-kata Leon berfungsi seperti air dingin. Andrian tersentak. Dia melihat sekeliling koridor, menyadari bahwa meskipun sepi, ada staf hotel yang mungkin bersembunyi di sudut, dan jendela-jendela tinggi Balai Kota adalah mata bagi kota.

Skandal fisik akan jauh lebih buruk daripada skandal histeria.

Andrian menarik napas tajam dan menurunkan tangannya. Namun, tangannya terkepal erat, buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak emosi di dalam dirinya. Dia tidak sanggup menatap Kaluna lagi.

"Bawa dia ke mobil," perintah Andrian datar, suaranya dipenuhi ancaman yang terpendam.

Tanpa menunggu jawaban atau melihat ke belakang, Andrian langsung berbalik dan melangkah cepat menuju mobilnya, meninggalkan Kaluna dan Leon di belakangnya.

Leon menghela napas, menoleh pada Kaluna dengan tatapan simpati.

"Mari, Nona Kaluna. Malam ini sudah cukup buruk, kumohon jangan menambah drama di sini," pinta Leon.

Kaluna menatap punggung Andrian yang menjauh. Seorang pria yang membelikannya kalung mahal untuk melindungi emosinya, tetapi hampir memukulnya karena menantang insting bisnisnya.

Dia mengangguk pada Leon, lalu mengikuti langkah suaminya dengan keheningan yang dingin.