Leon membuka pintu mobil bagian belakang untuk Kaluna, yang masuk dengan tenang. Dia duduk di sudut, menjauh dari Andrian, yang sudah berada di sisi lain, menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
Leon menutup pintu dan mengambil tempatnya di kursi depan, di samping pengemudi. Mobil mewah itu meluncur keluar dari area Balai Kota dalam keheningan yang memekakkan.
Mobil mewah itu meluncur membelah kegelapan malam, namun keheningan di dalamnya jauh lebih tebal dan mencekik daripada kekacauan di aula lelang yang mereka tinggalkan. Andrian dan Kaluna duduk di kursi belakang, terpisah sejauh mungkin oleh jok kulit.
“Biasanya saling mengungkapkan keunggulan satu sama lain, sekarang, keheningan ini justru lebih memusingkan daripada bergulat dengan angsa-angsa,” batin Leon saat keheningan masih mendominasi di dalam mobil itu.
Ketika mobil berhenti di depan halaman megah rumah Cassavanos, Andrian segera membuka pintu dan melompat keluar. Dia berjalan cepat menuju pintu utama, tanpa menunggu Kaluna.
Leon membantu Kaluna keluar. Tepat ketika mereka melangkah ke ruang tamu, Andrian berbalik.
Wajahnya masih dipenuhi amarah yang membara, yang kini tidak lagi tertahan oleh ancaman mata publik. Dia berteriak, suaranya menggema di lobi marmer yang luas, memecahkan keheningan rumah.
"Apa kau puas! Kau puas telah mempermalukanku di depan seluruh dewan elit kota!?"
Teriakan Andrian di lobi marmer segera mengundang perhatian. Pintu-pintu di lantai atas terbuka. Maulidah dan Alivia bergegas turun, terkejut melihat putra mahkota begitu murka.
"Ada apa ini, Andrian?" tanya Maulidah, suaranya dipenuhi otoritas yang tidak bisa diabaikan.
Andrian berbalik, amarahnya semakin memuncak dengan kehadiran mereka. Dia menunjuk Kaluna yang berdiri tegak namun pucat.
"Dia yang gila! Dia hampir membakar aset senilai triliunan di depan seluruh dewan elit kota! Dia berkata salah satu barang lelang itu palsu. Dia menuduh Balai Kota melakukan penipuan dan berteriak di depan umum! Dia benar-benar menghancurkan reputasi Sugara dan Cassavanos sekaligus dalam semalam!" raungnya, mengabaikan ketenangan yang dia cari.
Alivia terkesiap, segera menutup mulutnya dengan tangan, pandangan matanya dipenuhi rasa malu dan penghinaan yang tajam terhadap Kaluna.
“Sudah kuberitahu kemarin, tapi kalian menganggapnya hanya candaan,” singgung Alivia.
"Semua mata memandangnya, Oma! Semua media meliputnya! Mereka menyebut istriku gila! Aku sudah menoleransi kepanikannya di awal, tapi ini... ini adalah tindakan di luar batas!" bentak Andrian.
Kaluna hanya membalas tatapan mereka satu per satu, tanpa berusaha membela diri. Dia tahu, dalam lingkaran Sugara, kebenaran akan selalu kalah oleh reputasi.
Leon yang berdiri di belakang Kaluna, merasakan hawa dingin yang menjalar. Dia memilih untuk tetap diam dan tidak bergerak, menyadari bahwa ketegangan ini harus diselesaikan oleh pasangan itu sendiri.
“Andrian, tahan dirimu!” ujar Maulidah, berusaha menenangkan.
Amarah Andrian tidak berhenti di sana. Dia menarik napas, kini suaranya kembali menjadi perintah mutlak, yang dia tujukan kepada Leon.
"Leon!" panggil Andrian dingin.
Leon yang sejak tadi hanya menjadi saksi, segera merespon panggilan itu dengan menatap mata Andrian.
"Bawa Kaluna ke paviliun!" katanya, nada suaranya tanpa emosi.
Andrian menatap Kaluna untuk terakhir kalinya, matanya seperti es yang menusuk.
"Mulai malam ini, dia akan diasingkan untuk semetara, setidaknya untuk merenungi kesalahannya. Siapkan dua pelayan untuk menemaninya. Dan pastikan tidak ada yang menemui Kaluna tanpa seizinku!" titahnya lagi.
Hukuman itu menjatuhkan Kaluna ke status tawanan total. Paviliun, yang berada jauh dari rumah utama, adalah tempat yang dulunya digunakan untuk meditasi keluarga, kini menjadi penjara sunyi baginya.
Leon melangkah mendekati Kaluna. "Mari, Nona Kaluna," bisiknya lembut, berusaha memberikan sedikit martabat dalam situasi yang memalukan ini.
Kaluna mengangguk, menerima takdir yang baru. Dia melirik sekilas pada Maulidah dan Alivia, berjalan mendahului Leon menuju pintu belakang, menuju pengasingannya.
Setelah Kaluna dan Leon menghilang menuju Paviliun, keheningan tegang kembali menyelimuti lobi. Hanya ada Maulidah, Alivia dan Andrian yang masih berdiri di sana.
"Andrian, kau bertindak terlalu terburu-buru," ujar Maulidah, suaranya kini kembali tenang, namun penuh ketegasan yang mendalam.
Andrian membalikkan badan, kesabarannya hampir habis.
"Terburu-buru? Oma, dia bertindak gila! Dia mengancam properti publik dan merusak citra kita di hadapan seluruh dewan!" kata Andrian mempertahankan argumennya.
"Aku tidak membenarkan cara yang dilakukan Kaluna," potong Maulidah tajam. "Tapi kau harus sedikit mempertimbangkan pendapat Kaluna tentang barang palsu itu."
Maulidah memegang lengan Andrian, memaksanya untuk menatap matanya.
"Apa kau lupa? Gadis itu memiliki insting yang luar biasa. Insting itulah yang membuatnya berbeda. Kau sendiri tahu seberapa tajam analisisnya. Jika dia berani mengambil risiko sebesar itu di depan umum, dia pasti memiliki alasan yang sangat kuat," ujar Maulidah.
Perkataan Maulidah membuat Andrian berpikir sejenak. Memang, perkataan Kaluna tentang lukisan tadi sangat terperinci. Seolah menampilkan sebuah fakta yang ada.
Tapi, ini terlalu membingungkan untuk diterima, terutama dari mana Kaluna mendapatkan semua detail di balik lukisan itu.
Saat Andrian masih bingung dalam pikirannya sendiri, Maulidah kemudian mengingatkan Andrian akan kejadian yang lebih serius.
"Apa kau lupa saat Kaluna, dengan instingnya yang luar biasa, mampu menemukan penawar racun yang tepat dan menyelamatkanmu dari kematian? Kau seharusnya percaya pada nalurinya, bukan hanya pada keributan di media."
Andrian terdiam lagi untuk sesaat, kenangan akan malam dia hampir tewas karena racun memang menyesakkan. Namun, keangkuhan dan amarahnya lebih besar daripada rasa terima kasihnya. Dia menarik lengannya dari genggaman Maulidah.
"Itu hanya kebetulan, Oma. Dia panik, dia mencari solusi apa pun, dan secara kebetulan itu berhasil. Tapi ini berbeda. Ini adalah skandal bisnis. Ini adalah tindakan histeria, bukan analisis yang cermat," sangkal Andrian, suaranya dingin dan yakin.
Andrian menyalakan cerutunya, kepulan asap menutupi wajahnya yang tegang.
"Aku tidak akan mempertaruhkan reputasi Sugara Group hanya karena 'insting' seorang wanita yang kini jelas tidak stabil. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri dan memahami tempatnya. Pengasingan ini adalah untuk kebaikannya, dan untuk menjaga martabat keluarga."
Alivia, yang sejak tadi hanya, mengangguk setuju dengan Andrian. Dia menyembunyikan senyum kemenangan kecil di balik wajahnya. Senyum licik seolah permainan barunya kini telah dimulai.
“Bagus, Marisa dan Kajayanti telah menjalankan misi bahkan jauh lebih baik dari dugaanku,” bisik Alivia di dalam hati.
Maulidah menatap Andrian, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. Dia menyadari bahwa Andrian tidak hanya menghukum Kaluna, tetapi juga menolak untuk mengakui kebenaran yang tidak sesuai dengan kendalinya.
"Terserah kau saja. Aku harap, kau tidak menyesali keputusanmu ini," kata Maulidah dengan suara lelah.
Maulidah kemudian berbalik dan berjalan menuju kamarnya diiringi oleh Alivia, meninggalkan Andrian sendirian di lobi marmer, diselimuti asap cerutu dan kegelapan malam yang dingin.