Leon berjalan di samping Kaluna menuju Paviliun, bangunan terpisah yang hening, di bawah sinar bulan yang samar. Keheningan mereka jauh lebih dingin daripada udara malam. Leon, yang biasanya tegas dan tenang, kali ini terasa dipenuhi keraguan.
Saat mereka tiba di pintu kayu Paviliun, Leon berhenti, menoleh kepada Kaluna yang wajahnya masih pucat namun matanya tenang.
"Nona Kaluna," ujar Leon, suaranya lembut, jauh dari nada formalnya di hadapan Andrian. "Saya tahu Tuan Muda keterlaluan. Itu tidak dapat diterima."
Kaluna mengangguk kecil, membiarkan kata-kata Leon menggantung di udara.
"Mohon jangan bersedih. Tuan Muda sedang dilingkupi amarah dan harga diri yang terluka di depan umum. Tindakannya tadi hanyalah luapan emosi sesaat yang dikendalikan oleh keangkuhan. Nanti, saat dia sudah tenang, dia akan menyesal. Percayalah, semua akan pulih seiring berjalannya waktu," lanjut Leon, berusaha menasihati. "
“Tak masalah, Leon. Lagipula, aku sudah terbiasa dengan semua itu. Bentakan, ketidakpercayaan, bahkan penolakan. Dulu, aku berlatih itu setiap hari, seperti akan berperang,” ujar Kaluna.
Kalimatnya mengandung candaan, tapi itu sebuah kebenaran. Leon menyadari itu.
Leon memandangnya dengan tatapan yang dipenuhi simpati. "Anda telah membuktikan kebenaran Anda di sana, Nona. Itu yang terpenting. Saya... Saya siap membantu Anda. Jika Anda membutuhkannya—"
Kaluna menggeleng pelan, senyum tipis terukir di bibirnya, dingin dan pahit.
"Terima kasih, Leon. Tapi kurasa itu tidak perlu,” sahut Kaluna.
Dia menarik napas dalam-dalam, menatap pintu di hadapannya, seolah menerima pengasingannya.
"Aku harus sendiri dulu untuk saat ini," ujar Kaluna.
Leon mengangguk dengan berat. Dia mengerti.
Dia memberikan hormat singkat dan berbalik untuk pergi, meninggalkan Kaluna dan dua pelayan yang berjaga di ambang pintu.
"Leon!" panggil Kaluna tiba-tiba, suaranya rendah namun tegas, menghentikan langkah asisten pribadi itu.
Leon segera berbalik, penuh harap.
Kaluna melangkah mendekat, “Aku berubah pikiran, jika kau bersedia… bisakah kau membantuku?” tanyanya.
“Oh, tentu saja!” ujar Leon refleks, ada sedikit rasa terkejut di matanya.
Kaluna menyapu ruangan di sekitarnya.
"Paviliun ini sepi. Aku butuh teman. Bisakah kau mencarikan beberapa barang untukku?" tanya Kaluna, hati-hati.
Leon mengangguk penuh tekad. "Katakan, Nona. Apa yang kau butuhkan?"
Leon menarik buku catatan kecil dan pena dari saku jasnya, buku yang selalu dia bawa untuk mencatat instruksi mendadak dari Andrian.
"Pinjam sebentar," pinta Kaluna.
Tanpa menunggu persetujuan, Kaluna mengambil buku dan pena itu.
Dia dengan cepat menulis beberapa baris barang di dalamnya. Goresan penanya tenang dan rapi, jauh dari kesan histeria. Lalu mengembalikannya kepada Leon.
"Ini," kata Kaluna.
Leon segera membaca daftar tulisan tangan Kaluna. Matanya membulat saat melihat beberapa item yang diminta, item yang sangat spesifik dan tidak lazim.
"Saya akan mengurusnya, Nona Kaluna. Malam ini juga," jawab Leon, nadanya kini dipenuhi kekaguman baru. Dia menyelipkan kertas itu ke saku dalam jasnya.
"Besok saja, sudah larut malam. Kurasa, tidak ada lagi toko yang buka untuk barang-barang seperti itu,” kata Kaluna.
Leon memberi hormat sekali lagi, kali ini dengan rasa hormat yang mendalam.
“Baiklah Nona, saya akan kembali lagi besok,” ujar Leon yang bergegas pergi, menuju kegelapan.
Kaluna melihat kepergian Leon, senyum kecil seorang ahli strategi terukir di bibirnya. Dia sudah siap untuk pengasingan ini.
Leon melangkah cepat menyusuri koridor marmer yang sunyi menuju garasi, kepalanya penuh dengan daftar permintaan aneh Kaluna dan strategi tersembunyi yang mungkin ia susun.
Leon memperlambat langkahnya. Sambil membaca ulang daftar barang yang diinginkan Kaluna.
"Kupikir, dia akan meminta akses. Dia butuh sebuah laptop atau tablet, bahkan akses internet nirkabel yang stabil. Setidaknya item-item untuk membantunya menyusun sebuah pembuktian diri. Tapi yang dia inginkan hanya benda-benda aneh ini,” batin Leon seraya kembali menyimpan sobekan kertas itu ke saku jasnya.
“Tuan dan Nyonya ini, sama-sama memiliki pemikiran yang aneh. Pantas saja mereka bertemu lalu berjodoh. Mereka sangat serasi,” gumam Leon seraya mentertawakan bos dan istri bosnya itu.
Tepat ketika dia melewati pintu besar menuju ruang tamu utama, sebuah bayangan muncul dari balik pilar.
"Leon," sebuah suara berat memotong langkahnya.
Leon tersentak dan berbalik. Sosok itu adalah Rayyan.
Rayyan biasanya ada di studionya, melukis, terpisah dari hiruk-pikuk bisnis dan sosial. Dia mengenakan kaus oversized yang penuh noda cat, kontras dengan setelan jas mahal Leon.
"Tuan Rayyan?" Leon menyembunyikan keterkejutannya.
Mata Rayyan yang tajam menatap Leon. "Aku dengar teriakan Kakak. Suasana di sini terasa... panas. Apa yang terjadi di lelang?"
Leon menaikkan alisnya sedikit. Ini adalah pertama kalinya Rayyan menunjukkan ketertarikan pada keributan domestik.
"Untuk pertama kalinya Tuan Rayyan peduli terhadap masalah di dalam rumah," sindir Leon dengan nada yang hanya dia berani gunakan pada Rayyan.
Rayyan mengabaikan sindiran itu.
"Aku bertanya tentang kakak ipar. Apa yang dia lakukan sehingga membuat Andrian semurka itu? Dan kenapa dia diasingkan ke Paviliun?" tanya Rayyan lagi.
Melihat keseriusan Rayyan, Leon menghela napas dan menjelaskan dengan singkat kejadian di Balai Lelang. Mulai dari klaim Kaluna tentang lukisan palsu, tantangannya yang dramatis, hingga kemarahan Andrian.
Mendengar detail tentang lukisan itu, Rayyan tiba-tiba tampak linglung. Dia mengusap dagunya yang dipenuhi cat.
“Tunggu, lukisan karya Lula Alamanda?” ujar Rayyan mengulang perkataan Leon.
“Iya, seniman legendaris yang namanya sudah terkubur bersama lukisan fenomenalnya sendiri,” jawab Leon seolah tahu benar tentang lukisan itu.
"Lukisan itu ya..." gumam Rayyan sambil mengangguk yakin.
"Artinya… kakak ipar benar," sambungnya lagi.
"Benar?" tanya Leon.
"Lukisan Lula Alamanda, Potret Keheningan Musim Kemarau," Rayyan menegaskan.
"Aku pernah membaca tentang kisah itu saat di sekolah seni. Kisah cintanya yang tragis dengan Alen... dan pigmen abu bakaran jasad. Itu adalah kisah horor yang terkenal di kalangan kolektor dan seniman," ungkap Rayyan.
Rayyan menoleh, matanya bersinar dengan semangat seorang seniman, bukan pebisnis.
"Jika Kaluna berani mengambil risiko sebesar itu di depan umum, dia pasti yakin seratus persen. Dia memiliki mata seorang analis seni sejati," tambah Rayyan.
Leon mencoba bersikap realistis. "Tuan Rayyan, terlepas dari kebenarannya, reputasi kita harus diselamatkan. Masalah ini akan redup seiring berjalannya waktu, secepatnya orang-orang akan melupakannya. Kita selalu memiliki akses untuk membungkam media dan beberapa kolega, dan mengurus kerugian finansial."
Rayyan menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuat noda cat di kausnya bergerak.
"Itu cara pikir Andrian, hapus masalah dari pandangan publik, dan itu akan hilang. Itu salah," ujar Rayyan tegas.
“Maksud Anda?” Leon memusatkan pandangannya pada wajah Rayyan.
"Kita harus mencegah mereka melupakan kejadian itu. Sejarah itu harus digali dan diungkapkan untuk menyelamatkan reputasi kakak ipar sendiri, bukan sekadar reputasi Sugara Group! " jawab Rayyan.
Rayyan menatap Leon, kini memberikan perintah seolah-olah dia adalah atasan Leon.
"Masalah tidak akan hilang hanya dengan menghapusnya dari publik. Leon, kau harus tetap menyelidiki kasus ini, tentang kebenaran lukisan itu. Jangan biarkan Andrian membungkamnya. Nama kakak ipar harus diperbaiki, bahkan di mata Andrian sendiri,"
Leon terdiam, mencerna kata-kata itu.
Kaluna bukan hanya mengungkap rahasia masa lalu. Seorang pecinta seni yang selama ini menutup dirinya saja seperti Rayyan bahkan ikut bersuara di pihak Kaluna. Artinya, yang dikatakan Kaluna bisa jadi ada benarnya.
Leon mengangguk. "Saya mengerti, Tuan Rayyan. Saya akan mengurusnya."