Leon kembali ke rumah utama. Dia langsung menuju ruang kerja pribadi Andrian di lantai atas.
Andrian sudah berada di sana, di balik meja marmer hitamnya. Dia tidak sedang bekerja, hanya duduk diam, dengan sebatang cerutu yang sudah lama padam di asbak. Matanya masih memancarkan kelelahan dan kekecewaan.
Melihat Leon masuk, Andrian mengangkat kepala.
"Bagaimana?" tanya Andrian dingin.
Suaranya kembali dikendalikan, namun ada nada cemas yang disamarkan.
Leon tahu yang dimaksud Andrian. "Nona Kaluna baik-baik saja, Tuan Muda. Dia nampak tenang saat saya tinggalkan."
Andrian memfokuskan matanya yang tajam pada Leon. "Reaksinya? Apa yang dia katakan? Apa dia memohon?"
"Dia tidak mengatakan apa-apa, Tuan Muda. Dia hanya memiliki permintaan untukku kerjakan," jawab Leon.
Mata Andrian membulat sedikit. Perhatiannya langsung teralih dari amarah menjadi rasa penasaran.
"Permintaan? Apa yang dia inginkan?” tanya Andrian lagi.
Leon tersenyum tipis, mengeluarkan sobekan kertas dari saku dalam jasnya.
"Bukan apa-apa, Tuan Muda. Dia hanya meminta ini." Leon menyerahkan kertas daftar Kaluna kepada Andrian.
Andrian mengambilnya dengan gerakan cepat, matanya menyapu daftar tulisan tangan Kaluna yang rapi. Alisnya berkerut semakin dalam.
"Permintaan macam apa ini?" gumam Andrian, membaca item-item di daftar itu.
Benang wol, jarum rajut, beberapa batang kayu kecil tipis, dan lem super kuat.
Leon mengangkat bahu.
"Aku juga tidak mengerti, Tuan Muda. Tadinya kupikir, Nona Kaluna akan memintaku untuk membantunya mencari bukti diluar keterbatasannya atau untuk melawan Anda, tapi ternyata tidak. Dia hanya meminta barang untuk bermain-main."
Andrian meletakkan kertas itu, lalu menatap Leon dengan tatapan aneh. Matanya membulat, seolah memikirkan kemungkinan yang absurd.
"Benang-benang wol ini..." Andrian berpikir keras, lalu suaranya tiba-tiba penuh kecurigaan yang lucu, "Apa dia akan membuat perangkap untuk mengikatku dengan benang-benang ini?"
Leon terkekeh kecil, sesuatu yang jarang ia lakukan di hadapan Tuannya. Dia hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum.
Andrian menghela napas, gestur kekalahan yang jarang dia tunjukkan. Kecurigaan dan rasa bersalahnya kini saling bersaing.
"Terus awasi dia, Leon," perintah Andrian, suaranya melembut tetapi tetap otoriter.
"Berikan apapun yang dia inginkan. Tapi ingat, dia harus tetap baik-baik saja. Jangan ada yang berani mengganggunya, apalagi sampai mengusik mentalnya," ujar Andrian sambil mengembalikan daftar bawang itu pada Leon.
Leon mengangguk. "Siap, Tuan Muda.”
….
Pagi hari di Paviliun terasa tenang dan damai, kontras tajam dengan kekacauan semalam. Kaluna duduk di dekat jendela, menatap taman yang berkabut, saat pintu Paviliun diketuk dengan pelan.
Salah satu pelayan membuka pintu. Wajahnya langsung menunjukkan kebingungan. Kaluna, yang sudah terbiasa dengan formalitas pengasingannya, segera bertanya.
"Ada apa?"
"Nona... Tuan Rayyan," bisik pelayan itu, ragu.
Rayyan melangkah masuk, mengabaikan tatapan ragu pelayan.
Dia masih mengenakan kaus yang sama dari semalam, noda cat yang mengering, dan rambutnya terlihat acak-acakan, seperti baru saja tidur beberapa jam di studionya.
Kaluna bangkit dengan terkejut.
"Rayyan! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kaluna setengah berbisik. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tulus.
"Tidak boleh ada yang mendatangi Paviliun tanpa izin dari Tuan Sugara. Kau akan terkena masalah karena hal ini," ujar Kaluna lagi.
Rayyan tersenyum tipis, senyumnya tidak sinis, melainkan seperti senyum seorang anak nakal yang berhasil melanggar peraturan tanpa terdeteksi.
"Aturan itu dibuat untuk orang-orang yang berpihak pada ketidakpedulian, Kakak Ipar," balas Rayyan, melangkah mendekat. "Tapi aku adalah pengecualian. Saat Andrian memilih untuk tidak memihakmu, maka aku akan menjadi temanmu."
Rayyan mengamati ruangan itu sejenak, tatapannya menyiratkan kesepian yang mendalam.
Rayyan menarik nafas dan mengangkat bahunya.
"Andrian tidak akan bisa menjangkauku, atau memaksakan aturannya padaku. Karena, kau tahu, selama ini aku hanya dianggap sebagai pembuat masalah dan tidak mengerti apa-apa," kata Rayyan seraya duduk di kursi kayu yang membelakangi tumpukan buku-buku.
Kaluna memberi isyarat kepada pelayan untuk keluar, dan pelayan itu menurutinya.
"Aku asing di mata keluarga. Apalagi di lingkungan Cassavanos. Bahkan namaku hampir tidak ada yang mengenalnya," lanjutnya.
Kaluna ikut duduk, mendengarkan perkataan Rayyan dengan serius.
"Tapi kau, Kakak Ipar. Kau memberiku tempat. Kau membuatku merasa ingin mengenal dunia luar, di luar kanvas dan pigmenku," tutur Rayyan lagi.
Dia menatap Kaluna dengan jujur.
"Selama ini aku tidak punya teman. Tapi kau adalah satu-satunya orang yang mau mengobrol denganku, bukan tentang bisnis atau saham. Selama ini, fokus semua orang hanya tertuju pada Andrian sebagai putra mahkota. Bahkan Ibu saja, Ibu tidak pernah melirikku hanya untuk tahu keadaanku."
Mendengar curahan hati Rayyan, Kaluna merasakan sakit yang menusuk. Dia kembali ingat pada sikap dingin Alivia terhadap Rayyan.
Kenapa Alivia acuh pada Rayyan, padahal Rayyan adalah anak kandungnya, sedangkan pada Andrian, Alivia sangat hangat bahkan perhatian pada Andrian? Ini mencurigakan.
"Sejahat-jahat ibu, tidak akan dia mengasingkan anaknya sendiri seperti ini. Jelas aku benar-benar harus menyelidiki ini," batin Kaluna. Ada lapisan intrik baru yang jauh lebih dalam dari sekadar persaingan bisnis.
Mereka terus mengobrol tentang lukisan Lula Alamanda dan seluk-beluk seni rupa yang hanya dipahami oleh Rayyan. Hingga keheningan Paviliun dipecahkan oleh suara ketukan pintu lagi.
Seorang pelayan masuk, diikuti oleh Leon yang membawa beberapa kantong belanja besar.
"Nona Kaluna, ini semua yang anda minta tadi malam," kata Leon, sedikit terengah.
Leon menaruh kantong-kantong itu di meja. Di dalamnya terdapat aneka bahan-bahan rajutan, beberapa batang kayu kecil tipis, dan botol besar lem super kuat.
"Terima kasih, Leon," ucap Kaluna, matanya bersinar melihat alat-alatnya.
Leon menatap ke sisi lain ruangan. “Tuan Rayyan, kau…” ujar Leon namun terhenti.
Rayyan tersenyum mendekati meja, tangannya yang penuh noda cat menyentuh salah satu gulungan benang rajutan.
"Benda-benda ini, apa yang akan kau lakukan dengan ini, Kakak Ipar?” tanya Rayyan.
Kaluna tersenyum, senyum misterius yang membuat wajahnya yang pucat terlihat kembali hidup.
"Ini adalah rencana bisnisku yang baru, Rayyan. Mau membantuku?" kata Kaluna sambil mengambil satu gulngan benang.
Rayyan menatapnya lurus. Dia sangat membenci bisnis, namun dia terpesona oleh Kaluna dan keberaniannya.
"Aku tidak tertarik dengan bisnis. Tapi jika kau membawa seni ke dalamnya, maka aku akan menjadi mitramu, Kakak Ipar," katanya, menunjuk ke noda cat di kausnya.
Leon, yang baru saja meletakkan kantong belanjaan, tertegun di tempatnya. Perintah Andrian agar Kaluna tidak terganggu, perintah Rayyan agar Kaluna dibantu, dan sekarang kedua orang yang paling bertentangan dengan dunia Andrian ini bersatu.
“Kalau begitu, aku permisi dulu, Nona Kaluna, Tuan Rayyan,” ujar Leon.
Leon tahu dia harus segera melapor. Dia hanya mengangguk sopan dan berbalik untuk pergi.
Saat Leon melangkah cepat meninggalkan Paviliun, Rayyan memanggilnya. "Leon! Jangan lupakan yang kubilang semalam!"
Leon berhenti sejenak, menoleh sekilas ke arah Rayyan tanpa melihat Kaluna, dan hanya mengangguk singkat. Tidak ada sepatah kata pun yang diucapkan, namun pesan rahasia itu tersampaikan: Penyelidikan lukisan harus dilanjutkan.
Kaluna, yang sedang sibuk menggeledah barang-barang yang dibawakan Leon, tidak menyadari pertukaran kode tersebut.
Leon segera tiba di ruang kerja Andrian. Andrian sudah berganti pakaian, terlihat rapi, tetapi ketegangan masih terpancar dari bahunya.
"Sudah kau bawa barang-barangnya?" tanya Andrian tanpa basa-basi.
"Sudah, Tuan Muda. Semuanya sudah diantar ke Paviliun," lapor Leon.
"Bagaimana keadaannya?"
"Nona Kaluna sangat baik," jawab Leon jujur. "Dia terlihat tidak memiliki beban sedikit pun. Dia justru sibuk dengan barang-barang yang saya bawa."
Leon kemudian ragu sejenak. "Tapi, ada satu masalah di sana. Tuan Rayyan datang ke Paviliun dan sekarang bersama dengan Nona Kaluna."
Leon menunggu reaksi murka dari Andrian, tetapi itu tidak terjadi. Andrian justru mengangkat bahunya.
"Biarkan saja Rayyan di sana," kata Andrian, suaranya terdengar lelah dan dingin.
"Mereka punya selera yang sama, sama-sama menyukai hal-hal yang tidak praktis. Rayyan bisa menjadi teman Kaluna agar dia tidak stres sendirian,” imbuhnya.
Andrian mengambil cerutunya dan menyalakannya, kepulan asap menutupi wajahnya yang kompleks.
Keputusan itu didorong oleh dua hal. Satu, untuk memastikan Kaluna tidak benar-benar histeris sendirian.
Lalu, dia menganggap Rayyan tidak penting dan tidak berpotensi menimbulkan ancaman nyata, sehingga kehadirannya di Paviliun tidak akan mengubah status pengasingan Kaluna.
"Yang penting dia diawasi dan diberikan kebutuhannya. Aku tidak mau ada skandal baru di sini," tutup Andrian.
Leon mengangguk, lega bahwa Rayyan, si pembuat masalah, justru menjadi tameng yang sempurna untuk Kaluna.