Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Di Paviliun, Kaluna mengisi hari-harinya dengan sibuk menciptakan beberapa helai kain dan bentuk rumit, hasil dari rajutan yang ia kerjakan dengan tekun.
Di sela-sela pekerjaannya, Kaluna sempat merasakan sepi melanda hatinya. Entah mengapa, dia begitu merindukan wajah Andrian yang sudah beberapa minggu ini tidak terlihat.
Dia ingat momen-momen bersama Andrian, yang walaupun hanya sekadar untuk berdebat atau bertukar sindiran tajam, kini dia merindukannya. Keheningan yang tercipta saat dia tidak berinteraksi dengan Andrian terasa lebih mematikan daripada amarah pria itu.
“Mesin pendingin itu, mengapa aku memikirkannya,” ujar Kaluna di dalam hatinya.
Rayyan memperhatikannya dari seberang atas meja besar, dikelilingi gulungan benang aneka warna dan sketsa-sketsa rumit.
Matahari sore menyaring masuk melalui jendela, menerangi debu halus di udara. Kaluna baru saja selesai merajut pola yang kompleks, namun bukannya segera melanjutkan, ia justru menatap kosong ke kejauhan.
"Kakak Ipar," panggil Rayyan pelan.
Kaluna tersentak kecil, seolah baru kembali dari tempat yang jauh.
"Ya, Rayyan?"
Rayyan mencondongkan tubuh sedikit, matanya yang tajam dan jujur menatap Kaluna.
"Kau sering melamun, aku sudah memperhatikannya selama beberapa hari ini. Jangan bilang kau merindukan Kakak?" Rayyan tersenyum kecil.
Wajah Kaluna memerah tipis. Dia mencoba menyangkal, "Omong kosong, Rayyan. Aku sedang merenungkan komposisi. Benang ini, bagaimana cara mengintegrasikannya ke dalam modelku agar terlihat seperti..."
"Tidak perlu mengalihkan pembicaraan dengan istilah-istilah seni," potong Rayyan lembut.
Kaluna menghela napas. "Aku hanya merindukan keberadaan yang menantang, Rayyan. Setidaknya ada yang menguras pikiranku di luar rajutan ini."
Sementara Di rumah utama, Andrian juga begitu. Dia diam-diam mengawasi Kaluna. Berkat laporan rinci dari Leon dan kamera pengawas yang dipasang tersembunyi, Andrian tahu setiap gerakan Kaluna, bahkan setiap jarum rajut yang bergerak.
"Leon," kata Andrian suatu sore.
“Iya Tuan Muda,” sahut Leon.
Andrian enunjuk ke layar monitor yang menampilkan Kaluna dan Rayyan sedang tertawa di antara gulungan benang.
"Kita harus mencari alasan membawa Kaluna kembali ke rumah utama, sebelum kedua seniman itu mengubah Paviliunku menjadi panggung pameran seni."
“Tuan Muda, kau ini kenapa?" tanya Leon hati-hati.
Andrian menaikkan alisnya, seolah membalikkan pertanyaan Leon.
“Kau tidak sedang merasa cemburu terhadap Tuan Rayyan, ‘kan?” goda Leon.
“Leon!” singgung Andrian.
Respon marah Andrian malah dibalas dengan sumbringah lebar oleh Leon.
Beberapa hari kemudian, Leon masuk ke ruang kerja Andrian dengan tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan campuran kekhawatiran dan kebingungan.
Andrian sedang menyalakan cerutunya, tampak tenang, tetapi matanya memantulkan api yang membara.
"Tuan Muda, ada masalah," lapor Leon, menutup pintu dengan pelan.
"Masalah apa lagi, Leon? Apakah wanita di Paviliun itu akhirnya merajut jebakan di pintu masuk?" tanya Andrian sinis, mengembuskan asap.
"Bukan. Ini tentang Tuan Praka. Dia ada di gerbang utama, dan dia bersikeras ingin bertemu dengan Nyonya Kaluna," jelas Leon.
Leon menatap Andrian, menantikan perintah penolakan tegas yang biasa Andrian berikan jika ada urusan pribadi yang mengganggu.
Namun, Andrian malah menghela napas, gestur yang jarang dia tunjukkan.
"Izinkan dia masuk," perintah Andrian, tenang sekali.
Leon, yang sudah siap beradu argument langsung tertegun.
"Tuan Muda? Tapi... tapi Tuan Praka akan tahu jika Nyonya Kaluna diasingkan ke Paviliun,” kata Leon.
"Biarkan saja dia tahu. Dan kita akan lihat bagaimana reaksinya," jawab Andrian, membuang asap cerutunya ke udara. Wajahnya kembali dingin dan penuh perhitungan.
Andrian mengambil posisi duduk, menyilangkan kakinya di meja.
"Bawa dia menemui Kaluna, Leon,” ujar Andrian.
Sebenarnya hanya ingin melihat reaksi Praka hanyalah alasan bagi Andrian. Andrian yang masih penarasan tentang hubungan pria itu dan istrinya, memilih untuk merahasiakannya dari Leon. Dia tidak ingin Leon menduga yang tidak-tidak lagi.
"Baik, Tuan Muda," kata Leon, meskipun dia merasa cemas akan interaksi tak terduga ini. Dia tahu Raka memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Kaluna.
Setelah percakapan itu, pintu Paviliun diketuk. Leon masuk, membawa Praka ke hadapan Kaluna yang saat ini sedang sendirian.
Praka menatap Kaluna sejenak, wajahnya mengeras, lalu pandangannya beralih ke tangan kirinya.
Secara tidak sadar, Praka memegang gelang rajut yang dia pakai sejak kecil di pergelangan tangan kirinya. Gelang itu berwarna kusam, usang, dan diselipkan di balik jam tangannya.
Seketika, kilasan masa lalu muncul di ujung matanya.
“Raka!”
Seorang gadis kecil dengan rambut panjang dan mata besar, Kaluna kecil, memberikan gelang itu saat ada luka di tangan Praka yang sudah hampir sembuh.
"Lukamu sudah sembuh, tapi akan berbekas," kata Kaluna kecil, suaranya terdengar lembut namun serius, menatap luka Praka. "Tapi gelang ini bisa menutupi bekas lukanya. Pakai ini saja."
Praka tersenyum tipis. Dia ingat Kaluna selalu berpikir ke depan, bahkan sejak kecil, Kaluna selalu berusaha meminimalkan kerusakan yang terlihat dan memikirkan solusi praktis yang penuh perhatian.
Kilasan itu memudar, meninggalkan Raka dengan pemahaman yang lebih dalam tentang Kaluna. Dia tahu, di balik permainan bisnis dan seni yang rumit ini, Kaluna hanya berusaha melindungi dirinya dari bekas luka, sama seperti dulu.
"Kaluna," sapa Praka, wajahnya menunjukkan kelegaan.
"Raka. Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kaluna, terkejut.
“Tentu saja aku harus tahu bagaimana keadaanmu setelah drama di Balai Kota," kata Praka.
Kaluna mengangguk. "Aku baik-baik saja, Raka. Aku sedang sibuk, seperti yang kau lihat."
"Kebetulan kau datang, ayo kemari!" seru Kaluna dengan semangat, langsung menarik tangan Raka ke meja kerjanya.
Praka terkejut, mengharapkan diskusi krisis, tetapi ia malah disambut dengan pemandangan rajutan dan model kayu yang rumit.
"Lihat ini!" kata Kaluna, menunjuk ke helai kain rajutan yang terstruktur.
"Ini adalah rencana desain untuk produk Amertha Corporate yang baru. Ini akan bekerja dan tentu saja akan kembali mengambil alih pasar global," imbuhnya.
Praka menatap Kaluna dengan bingung, lalu ke benang-benang rajutan di meja.
"Kaluna, bukannya memikirkan cara untuk membuktikan diri... kau malah sibuk mengembangkan bisnis?" tanya Praka, tidak percaya.
Kaluna mengangkat bahunya dengan santai.
"Perkaraku di malam lelang, tentu saja Tuan Sugara itu sudah menyelesaikannya. Ini menyangkut citra Sugara Group juga, kan? Aku tidak perlu memikirkannya lagi," jawab Kaluna, dengan nada yang sengaja dibuat acuh tak acuh.
Andrian yang sedang mengawasi mereka, tersenyum dari balik layer monitornya. Pernyataan Kaluna, secara tidak langsung telah menegaskan kepada Praka, betapa Andrian sangat melindungi Kaluna.
“Dan ini,” ujar Kaluna kembali bersemangat.
Kaluna mengambil dokumen tebal berisi sketsa dan analisis material.
"Aku sudah membuat daftar bahan-bahan dan juga materi di dokumen ini. Aku ingin kau segera menghubungi ahli desain perusahaan untuk segera membuat rencana peluncuran produk terbaru Ameertha," sambungnya sambil tersenyum.
“Baiklah, aku akan membuat rencana peluncuran secepatnya,” kata Praka.
Praka menggeleng, menyerah pada misteri Kaluna. Dia tersenyum, lalu tak lama teringat kabar baik.
"Aku punya kabar lain yang juga tak kalah penting,” kata Praka lagi.
"Oh ya? Apa itu?" Kaluna antusias.