“Kafe yang kubangun sudah jadi. Aku akan meresmikannya dalam waktu dekat ini. Kafe itu masih di bawah naungan Ameertha Corporate, tapi aku memilih namaku untuk kafe itu, jika kau tidak keberatan," cerita Praka.
“Kenapa keberatan?” tanya Kaluna seraya menyambut dokumen yang disodorkan oleh Praka.
"JP Café and Resto, namanya keren! Apa menu utamanya?" Kaluna mengamati isi detail dokumen itu.
Kaluna menemukan selembar menu cetak dalam dokumen itu. Matanya menyapu lembaran itu dan dia terdiam saat melihat hidangan pembuka yang di-highlight.
"Mengapa Nasi Telur Orek kesukaanku menjadi menu utama?" tanya Kaluna, nada suaranya sedikit mengandung kepolosan yang manja.
Raka tersenyum bangga. "Apa yang Kaluna suka, maka semua orang akan suka. Aku yakin itu akan jadi signature dish di usaha baruku."
“Bukankah itu menu asal-asalan yang kau buatkan saat pertama kali memasak untukku semasa kecil dulu?” tanya Kaluna.
Raka kembali tersenyum, mengingat masakan itu ada hanya karena dia tidak bisa memasak sebelumnya. Itu hanya kegagalan saat dia ingin membuat telur ceplok untuk Kaluna.
“Lalu, mengapa kau menyukainya?” tannya Praka.
“Karena kau membuatnya dengan tulus, khusus untukku,” sahut Kaluna.
Kaluna membalikkan menu itu, senyumnya menghilang sedikit. "Tapi, jika kesukaanku bisa dinikmati semua orang, apa itu masih akan tetap spesial untukku?"
Praka tertegun. Dia mengerti maksud Kaluna yang lebih dalam, tentang menjaga sesuatu yang personal tetap unik untuk dirinya sendiri.
"Jika kau keberatan, aku akan mengganti menu utamanya dan mencoret menu itu dari daftar menu," kata Praka dengan nada yang terkontrol.
Kaluna tertawa kecil, mengembalikan menu itu.
"Aku hanya bercanda, Raka. Tentu saja aku senang jika kau memilih makanan kesukaanku sebagai menu utama,"
Ia melangkah mendekat, matanya melembut, mengingatkan pada kedekatan yang mereka miliki sebelum kedatangan Andrian.
"Tapi pastikan, menu untukku, selalu yang paling spesial, karena hanya kau yang bisa memasaknya untukku," ujar Kaluna.
Praka tersenyum puas. Matanya berbinar penuh keceriaan. “Tentu saja, untuk Kaluna, tidak akan ada yang bisa melebihi kespesialannya. Aku akan memasak sebanyak yang kau mau,” balasnya.
Di ruang kerjanya, Andrian masih mengawasi monitor kamera tersembunyi itu. Dia melihat dengan jelas interaksi mereka, tawa mereka, dan momen intens saat Kaluna berbisik tentang menu yang paling spesial kepada Praka.
Kedekatan itu kembali menyulut api cemburu di wajah Andrian. Entah mengapa, dia merasa terancam oleh keintiman yang terjalin antara Kaluna dan Praka.
Kaluna yang cemberut dan menantang adalah miliknya. Kaluna yang tersenyum manja dan memuji Praka, itu adalah pemandangan yang tidak bisa dia toleransi.
"Aku harus segera menariknya pulang," gumam Andrian.
Ide awalnya untuk membawa Kaluna kembali agar Paviliunnya tidak menjadi panggung seni kini berubah menjadi dorongan posesif yang mendesak.
Andrian berdiri, menarik jasnya ke depan dengan gerakan cepat dan tegas, menyalurkan otoritas mutlaknya.
"Aku akan ke Sugara Group. Berlama-lama di sini, otakku bisa mendidih karena mereka!" kata Andrian.
"Leon, kau di sini saja. Terus awasi mereka dan jangan biarkan terjadi masalah apapun lagi," perintah Andrian pada Leon, suaranya tajam.
Andrian tahu bahwa dengan Praka di dalam Paviliun, potensi masalah emosional dan kerahasiaan meningkat drastis. Dia ingin Praka segera pergi, tetapi ia juga perlu memastikan Kaluna tidak melakukan hal gila lain sebelum dia bisa secara resmi mengakhiri pengasingannya.
"Siap, Tuan Muda," jawab Leon, berdiri tegak.
Andrian melangkah cepat keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Leon dengan perintah untuk memantau dua orang yang paling tidak terduga di Paviliun. Leon tahu, masalah yang dimaksud Andrian bukan lagi lukisan palsu, tetapi kedekatan antara Kaluna dan Praka.
Sementara itu, beralih ke rumah megah Ken Aji, suasana jauh lebih tegang daripada di rumah Cassavanos.
Ken Aji berada di ruang kerjanya, raut wajahnya merah padam karena marah dan cemas. Di depannya, Marisa dan Kajayanti, meskipun berhasil memenangkan pertempuran melawan Kaluna, kini harus menghadapi kemarahan sang kepala keluarga.
"Kalian gila! Benar-benar gila!" teriak Ken Aji, menggebrak meja hingga dokumen-dokumen berhamburan.
“Tenanglah, Mas!” ujar Marisa.
"Kau bilang tenang? Aku baru saja menghabiskan sebagian besar sahamku untuk membayar tagihan dari Balai Lelang sebesar seratus juta dolar! Kita bangkrut sekarang! Semua ini atas kemenangan bodoh kalian atas lukisan Lula Alamanda itu!" teriak Ken Aji.
Ken Aji menjambak rambutnya sendiri, frustrasi.
"Lukisan itu kini menjadi simbol kontroversi! Siapa yang mau membelinya sekarang setelah Kaluna mengklaim itu palsu dan terbuat dari abu jasad? Kita baru saja membuang seratus juta dolar ke laut!" ujarnya lagi.
Marisa, yang berusaha terlihat tenang dan kalkulatif, melangkah maju.
"Mas, jangan panik. Lukisan itu akan menguntungkan kita secepatnya. Uang kita akan kembali berlipat ganda. Yakinlah, museum itu terpercaya dan tidak munngkin keliru," tahan Marisa.
"Ibu benar, Ayah," tambah Kajayanti, suaranya licik.
"Kita telah menang. Sugara Group terlihat bodoh karena membiarkan istrinya histeris. Kita akan menjual lukisan itu ke kolektor Timur Tengah yang tidak peduli dengan gosip lokal. Keasliannya dikonfirmasi oleh Balai Kota, bukan omongan kosong Kaluna," susulnya.
"Benar, Mas! Kita hanya perlu waktu! Ini adalah aset strategis yang kita rebut dari Sugara Group!" desak Marisa.
Namun, kemarahan Ken Aji tidak mereda. Dia melihat risiko dan kerugian finansial yang nyata.
“Diam kalian! Gara-gara kalian, aku terus saja berjarak dengan putriku sendiri. Sekarang, entah apa yang terjadi padanya di rumah Cassavanos itu. Terakhir, suaminya si bengis itu terlihat sangat marah,” keluh Ken Aji.
“Ayah lupa? Putri kesayangan ayah itu adalah gadis yang sangat licik. Tenang saja ayah, dia tidak akan kenapa-kenapa. Sakit ataupun bahagia, apa dia pernah menghubungi ayah? Tidak, ‘kan? Hanya aku dan ibu yang peduli pada ayah,” hasut Kajayanti.
“Diam! Sekali lagi kau berkata buruk tentang putriku, aku akan bungkam mulutmu itu!” bentak Ken Aji.
Marisa dan Kajayanti saling tatap. Ada kecemasan dan juga seringai licik di wajah keduanya.
"Kalian tidak mengerti! Sugara Group tidak peduli pada lukisan itu, mereka peduli pada reputasi! Dan kita baru saja membuka front perang terbuka dengan mereka!" raung Ken Aji.
Di tengah kemarahan finansial Ken Aji, ada dimensi lain dari tindakannya yang menyakitkan, perlakuannya terhadap Kaluna.
“Aku yang bodoh! Ayah yang bodoh! Bagaimana mungkin aku membiarkan ini terjadi pada putriku. Bahkan berkali-kali,” bisik Ken Aji.
Ken Aji merasakan sakit yang mendera dadanya. Lebih sakit dari tergores bilah belati.
Kaluna tidak hanya menghadapi skandal di Balai Lelang, tetapi juga keheningan Ken Aji yang memuakkan. Ken Aji, yang diam saja saat Marisa dan Kajayanti memicu emosi Kaluna, dan bahkan saat Kaluna dibawa pergi dari lelang, kini semakin menegaskan kepada Kaluna bagaimana ayahnya sebenarnya memperlakukannya.
Ken Aji yang bodoh sama sekali tidak melakukan pembelaan untuk Kaluna.
“Kenapa aku selalu bertindak salah pada putriku, kenapa aku menganggapnya bukan sebagai putri yang butuh perlindungan!” Ken Aji terus menyalahkan dirinya sendiri.
Keheningan dan penolakan Ken Aji untuk membela kebenaran Kaluna menjadi justifikasi terakhir bagi Kaluna untuk memutuskan ikatan emosional apa pun yang tersisa dengan keluarga kandungnya. Ken Aji sadar, dia hanya memikirkan uang yang hilang, bukan kehormatan putrinya.