Hampir satu bulan berlalu, sejak pengasingan Kaluna.
Di sore yang tenang, Rayyan berjalan melewati ruang tamu rumah utama. Membawa kanvas kecil, palet, dan beberapa kuas yang baru dibeli. Dia terlihat bergegas dan antusias.
Andrian duduk di sofa tunggal, tenggelam dalam dokumen Sugara Group. Mendengar langkah kaki di karpet tebal, dia mendongak dan melihat perlengkapan seni Rayyan.
"Mau ke mana?" tanya Andrian dingin, menghentikan Rayyan.
Rayyan berhenti, menatap Andrian tanpa rasa takut.
"Ke mana lagi? Kakak iparku sendirian di Paviliun. Aku harus menemaninya. Dia butuh asisten seninya,” jawabnya.
Andrian meletakkan dokumennya. "Tidak perlu ke sana lagi. Kaluna akan segera pulang ke rumah utama."
Rayyan menaikkan alisnya, mencerminkan ketidakpercayaan.
"Apa kau sudah meredakan amarahmu? Hampir satu bulan kakak iparku terasingkan di sana. Kenapa kau baru sadar untuk membawanya kembali?" tanya Rayyan.
Rayyan melangkah mendekat, matanya menantang Andrian.
"Kenapa dia harus kembali? Karena kau kasihan padanya? Atau sudah ada bukti bahwa dia tidak bersalah?"
Pertanyaan Rayyan yang menusuk langsung mengenai inti masalah, membuat Andrian tersulut emosi.
"Jangan lagi menyinggung lukisan itu, Rayyan! Beritanya sudah hilang, skandal itu sudah kukubur!" bentak Andrian.
Rayyan tertawa, tawa hampa yang penuh ejekan.
"Beritanya mungkin hilang, tapi sakit hati kakak ipar tidak akan hilang dengan cepat," katanya.
Rayyan mencondongkan tubuh sedikit, suaranya tenang namun mengandung ancaman.
"Kau akan menyesal, Tuan Muda," katanya, menyebut Andrian dengan panggilan formal. "Kakak ipar tidak bersalah. Kau akan menyesal jika kebenarannya sudah terungkap nanti."
Andrian membanting dokumen di tangannya ke meja kaca. "Sudahlah, Rayyan! Tidak ada gunanya terus membuktikan dia tidak bersalah! Yang dipercayai orang adalah data, bukan cerita."
Rayyan menyeringai ejek, memasukkan kuas ke dalam tasnya.
"Datanya akan datang sebentar lagi. Siap-siap untuk menjewer telingamu sendiri seperti keledai di depan Kakak Ipar."
Rayyan kemudian melanjutkan langkahnya, meninggalkan Andrian yang kini tenggelam dalam kombinasi antara kemarahan karena dihina, dan kecemasan tersembunyi karena ancaman Rayyan yang terdengar terlalu meyakinkan. Andrian tahu, Rayyan tidak pernah bicara besar tanpa dasar, terutama jika menyangkut seni.
Ancaman Rayyan yang sarat ejekan tentang, datanya yang akan datang sebentar lagi, baru saja menggema di ruang tamu seketika menjadi seperti kalimat ramalan yang tepat.
Leon, yang baru kembali dari urusan mendesak, berlari mendatangi Andrian. Dia terengah-engah, wajahnya pucat. Di tangannya, dia membawa beberapa surat kabar dan sebuah tablet yang menyala.
"Tuan Muda! Tuan Muda!" seru Leon, hampir tidak terkendali.
Andrian, yang baru saja hendak melampiaskan amarahnya karena dihina Rayyan, terkejut melihat kepanikan Leon.
"Ada apa, Leon? Kendalikan dirimu!" bentak Andrian.
Leon meletakkan tumpukan surat kabar yang sebagian besar berbahasa asing itu di atas meja.
"Lukisan itu, Tuan Muda. Lukisan Lula Alamanda," Leon menarik napas dalam-dalam. "Lukisan itu terbukti palsu. Nyonya Kaluna benar."
Leon menunjuk ke surat kabar yang terbentang di meja. Beberapa di antaranya menampilkan berita utama yang mengejutkan.
‘Klaim Kontroversial di Balai Lelang Terbukti Benar: Lukisan Lula Alamanda Palsu, Ken Aji Corporate Tuntut Ganti Rugi Balai Kota'
'Kerugian Finansial Ken Aji Corporate: Terancam Bangkrut Setelah Pembelian Aset Fiktif'
"Ini, Tuan Muda, fakta-fakta yang baru diterima dari kontak forensik. Lukisan itu bukan karya asli tangan Lula Alamanda. Perusahaan Ken Aji Corporate telah melayangkan tuntutan kerugian finansial karena lukisan itu terbukti palsu," lapor Leon, nadanya dipenuhi kemenangan dan kekhawatiran yang bercampur.
Andrian terdiam. Kemarahan di wajahnya perlahan berubah menjadi rasa dingin yang membeku.
Leon kemudian menggeser tablet itu ke hadapan Andrian.
"Bukan hanya itu, Tuan Muda. Kami menemukan arsip yang mengonfirmasi cerita tragis di balik lukisan itu," ujar Leon lagi.
Di layar tablet terdapat salinan novel tulisan tangan Lula Alamanda yang berisi kisah cintanya dengan Alen. Leon membacakan poin-poin penting dengan cepat.
"Novel itu menceritakan kisah cinta Lula dan Alen, dan bagaimana keadaan Lula setelah kematian Alen. Beberapa bulan setelahnya, Lula ditangkap oleh pihak kepolisian. Karena sebuah tindakan kriminal yang mencuri abu bakaran jasad dan menjadikannya sebagai palet lukisan."
Leon menelan ludah.
"Di sana juga tertulis, alasan mengapa lukisan itu dianggap keajaiban. Lula mencampur abu bakaran itu dengan bahan epoxy resin tahan panas. Lula menulis bahwa lukisan itu tidak akan lapuk meski terkubur ratusan tahun di dalam tanah atau terbakar api sekalipun. Itu adalah lambang keabadian untuk kekasihnya yang telah pergi untuk selamanya, Tuan Muda," papar Leon.
Andrian kini berdiri kaku, matanya menatap tajam pada tablet dan surat kabar itu. Pikirannya berpacu, menggabungkan semua kepingan. Klaim histeria Kaluna, tantangannya dengan pemantik api, dan kini, bukti yang tak terbantahkan.
Kaluna benar. Sepenuhnya benar.
Dan dia, sang Tuan Muda yang logis dan selalu benar, telah mengasingkan istrinya karena membela kebenaran itu. Dia telah membela Balai Lelang yang korup dan menghukum istrinya sendiri.
“Leon, bagaimana aku bisa sebodoh ini?” tanya Andrian tanpa mengharap jawaban dari Leon.
Pernyataan Leon yang didukung data dan berita utama surat kabar itu menghantam Andrian Sugara seperti tinju. Fakta itu, sebuah kebenaran yang dingin dan tak terbantahkan, menghancurkan benteng keyakinannya.
Andrian merasakan darah seolah ditarik dari kepalanya. Wajahnya yang tegang karena amarah kepada Rayyan kini memucat. Tubuhnya lemas dan mundur beberapa langkah dari meja. Matanya terpaku pada tablet, tetapi pikirannya memutar kembali rekaman malam lelang.
Dia mengingat bagaimana beringasnya dia saat menarik lengan Kaluna dengan paksa.
Dia mengingat bagaimana tangannya terangkat, hampir menampar Kaluna di depan umum.
Dia mengingat bagaimana dia sama sekali tidak membela Kaluna sedikit pun saat kontroversi itu terjadi, justru menghukumnya, mengasingkannya, dan menyebutnya histeris.
Rasa malu, rasa bersalah, dan yang paling mematikan bagi seorang Andrian Sugara, kesalahan yang sangat besar, menghantamnya sekaligus.
Tubuhnya ambruk seketika ke sofa yang tadi dia duduki. Dia menutupi wajahnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mencengkeram tepi sofa dengan kuat, berusaha menahan guncangan batinnya.
Dia, Sang Tuan Muda yang selalu memegang kendali dan selalu benar, ternyata menjadi orang paling bodoh dalam drama ini.
"Leon," suara Andrian serak, nyaris tak terdengar.
Leon berdiri kaku, cemas melihat keruntuhan mental tuannya yang jarang terlihat.
"Tuan Muda?"
Andrian menarik napas panjang, merangkai kembali suaranya yang patah. Dia mendongak, matanya kini memancarkan tekad yang berbeda, bukan lagi amarah, melainkan penyesalan yang mendalam.
"Batalkan niat memulangkannya, Leon. Aku tidak berhak membawanya kembali," kata Andrian, suaranya kini kembali pada otoritasnya, tetapi dipenuhi beban.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan Muda?" tanya Leon.
"Pertama, segera hubungi tim hukum. Siapkan tuntutan balik terhadap Balai Lelang bukan untuk kerugian finansial, tetapi untuk pemulihan reputasi Nyonya Sugara. Kedua, cari tahu apa yang terjadi pada perusahaan Ken Aji setelah kejadian ini. Dan yang ketiga..." Andrian menutup matanya sejenak. "Aku akan melakukannya sendiri."