Drama

Kembalinya Dua Jiwa yang Penuh Ego

Penulis Yoonna
10 January 2026

Andrian keluar dari ruang kerjanya, meninggalkan Leon yang segera menyusun strategi hukum baru. Dia melangkah cepat menyusuri koridor-koridor marmer rumah utama, momentumnya dibangun oleh rasa bersalah yang mendesak.

Ia melewati taman-taman yang terawat, langkahnya keras dan tergesa-gesa, seperti sedang mengejar musuh. Ia ingin segera menghadapi Kaluna, mengakui kesalahannya, dan mengakhiri beban yang menimpanya.

“Tuan Muda,” sapa seorang pelayan yang berpapasan dengannya.

“Di mana dia?” tanya Andrian tanpa basa-basi.

“Ada di dalam, Tuan,” ujar pelayan itu seraya berlalu.

Namun, saat dia mencapai pintu kayu Paviliun yang sederhana, pintu yang menjadi batas antara dunia arogansinya dan kebenaran Kaluna, Andrian langsung memperlambat langkahnya.

Langkahnya yang tadinya cepat dan keras kini menjadi ragu, hampir terseret. Dia berhenti total tepat di depan pintu.

Andrian mengangkat tangan, hendak mengetuk, tetapi tangannya membeku di udara.

“Bagaimana aku akan menghadapinya?” keluh Andrian.

Andrian menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Dia adalah Andrian Sugara, CEO yang mampu mengambil keputusan bernilai miliaran. Tetapi menghadapi istrinya yang dia sakiti, itu adalah keputusan tersulit yang pernah dia buat.

Dia menurunkan tangannya, merapikan jasnya yang kusut karena tergesa-gesa. Lalu, dengan suara yang jauh lebih pelan dan lebih rendah dari biasanya, dia mengetuk pintu.

“Tuk… Tuk…”

Suara tawa di dalam seketika terhenti.

Pintu dibuka oleh salah satu pelayan. Pelayan itu terkejut melihat Andrian.

"Tuan Muda?" gumam pelayan itu.

Andrian mengabaikan pelayan itu dan langsung masuk.

Di tengah ruangan, di antara model-model rajutan yang kini terlihat seperti artefak seni yang rumit, berdiri Kaluna dan Rayyan. Mereka menatap Andrian dengan ekspresi yang berbeda.

Rayyan, yang mengerti arti tatapan Andrian, tersenyum mengejek, seolah berkata, Aku bilang kan? Datanya datang.

Kedua pasang mata yang sudah lama tidak bertatapan itu bertemu. Mata Andrian, biasanya tajam dan mendominasi, kini dipenuhi rasa penyesalan yang membakar. Mata Kaluna, biasanya penuh tantangan, kini tenang, dingin, dan tertutup rapat oleh kekecewaan.

Ada gelombang emosi yang kuat mengalir di antara mereka. Di balik semua itu, ada kerinduan yang samar, keinginan untuk segera rebah dalam pelukan dan mengakhiri konflik yang melelahkan ini.

Namun, semua emosi itu tertahan oleh ego dan emosi masing-masing.

Rayyan, merasakan ketegangan yang menyesakkan, berkata pada Kaluna, "Kakak Ipar, kurasa aku harus mengambil beberapa pigmen dari studioku. Aku akan kembali nanti."

Rayyan memberi hormat singkat yang lebih ditujukan pada Kaluna, lalu menyenggol bahu Andrian saat melewati pintu, sebagai kemenangan diam-diam.

Kini, Andrian dan Kaluna sendirian.

Andrian, yang berdiri beberapa langkah di depan Kaluna, merasakan seluruh keberaniannya menguap. Dia sudah menyiapkan permintaan maaf, tetapi saat melihat ketenangan Kaluna, dia sadar betapa dalamnya luka yang dia sebabkan.

"Kaluna, aku..." Andrian memulai lagi, suaranya tercekat.

Dia ingin mengakui semuanya, tentang lukisan itu, tentang laporan forensik Leon, tentang ancaman kebangkrutan Ken Aji Corporate, dan yang terpenting, tentang harga dirinya yang bodoh.

Kaluna tidak bergerak. Dia hanya menatapnya, menunggu. Tatapan itu menuntut lebih dari sekadar kata-kata.

“Kaluna, aku…” ujar Andrian tapi kembali terhenti.

Kaluna menyilangkan tangannya di dada, tatapannya kosong ke wajah Andrian.

"Aku menyelamatkanmu dari kerugian seratus juta dollar dan kehinaan yang jauh lebih besar. Jika Sugara Group membeli lukisan palsu, nama baikmu sebagai kolektor seni berbudaya akan lebih hancur daripada drama pemantik api. Itu yang ingin kau katakana?" ujar Kaluna mendahului perkataan Anndrian.

“Kaluna….” Andrian masih berusaha berbicara, tapi kembali menggurungkan niatnya.

Dia bingung harus mengatakan apa. Mulutnya kaku, lidahnya kalut.

Andrian terdiam, tersengat oleh kata-kata Kaluna.

"Kau tidak perlu bicara, Tuan Sugara. Kau datang ke sini karena data akhirnya mengalahkan ego-mu. Bukan karena kau percaya padaku," kata Kaluna lagi, menarik Kesimpulan sendiri.

Andrian mengepalkan tangannya. Kata-kata Kaluna adalah cambuk yang kejam dan tepat sasaran.

"Kau benar," desah Andrian, akhirnya membiarkan dirinya mengaku kalah. Dia membiarkan formalitasnya jatuh.

"Aku sangat menyesal, Kaluna. Aku salah telah menarik lenganmu, aku salah telah meragukanmu, dan aku salah telah membiarkanmu di sini sendirian. Aku... aku menghukum wanita yang seharusnya kubela. Dan aku tidak punya alasan yang membenarkan tindakanku," ujarnya melangkah maju sedikit, ingin menutup jarak.

"Aku datang ke sini bukan untuk memulangkanmu dengan alasan bisnis konyol lagi," lanjut Andrian, menatapnya lurus.

“Lalu?” tanya Kaluna, matanya memancarkan harapan yang tidak terungkap jelas.

"Aku datang ke sini untuk... aku ingin kau kembali. Bukan karena bisnis. Tapi karena aku merindukanmu. Aku tidak tahan berada di rumah itu tanpamu," ujar Andrian tanpa ragu sedikitpun.

Mendengar pernyataan Andrian, Kaluna langsung berbalik membelakanginya. Dia tidak sanggup mempertahankan tatapan dinginnya. Wajahnya yang tegar seketika menunjukkan kelemahan yang dia sembunyikan selama sebulan ini.

Dia sangat ingin langsung memeluk Andrian dan melepas kerinduannya yang membuncah, kerinduan yang dia sangka akan hilang seiring berjalannya waktu.

Namun, rasa gengsi di dirinya terlalu mendominasi. Dia tidak bisa membiarkan Andrian lolos begitu saja setelah semua yang telah terjadi.

"Kau tidak berhak merindukanku, Tuan Sugara," kata Kaluna.

Suaranya bergetar, tetapi dia berusaha keras membuatnya terdengar dingin. Dia menatap ke luar jendela, membiarkan Andrian hanya melihat punggungnya.

Andrian, yang sudah berada di ujung jurang emosi, salah menginterpretasikan penolakan dan keraguan Kaluna.

"Kenapa? Apa karena sudah ada Praka di hatimu?” desak Andrian, suaranya tiba-tiba menajam, kembali diwarnai kecemburuan posesif.

Kaluna tersentak keras mendengar tuduhan itu. Dia berbalik, menikkan sebelah bibirnya.

"Praka? Praka tidak ada kaitannya dengan semua ini. Jangan bebani dia dengan dugaan-dugaan tidak mendasarmu itu, Tuan Sugara!" ulang Kaluna.

Kaluna kembali berbalik dan berdiri tegak, membiarkan kemarahan dan tuntutannya menggantung di udara.

Andrian menatap punggung Kaluna. Dia melihat guncangan halus di bahu istrinya saat Kaluna menahan air mata, dan dia sadar bahwa kecemburuannya pada Praka tadi hanya menunda waktu. Pertanyaan tentang siapa yang benar dan salah telah terjawab, yang tersisa hanyalah rasa sakit.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Andrian melangkah cepat dan langsung memeluk Kaluna dari belakang. Pelukan itu erat, posesif, dan sarat akan penyesalan. Dia menyandarkan dahinya di belakang kepala Kaluna.

"Kaluna, kumohon maafkan aku!" bisik Andrian, suaranya parau, jauh dari nada dominan seorang Tuan Muda.

Andrian mencengkeram Kaluna, seolah takut istrinya akan menghilang.

"Aku salah. Kau benar. Aku tidak akan pernah meragukanmu lagi. Aku akan melakukan apa pun yang kau minta," janji Andrian.

Pelukan itu, menghancurkan benteng ego Andrian dan mengakui kesalahannya sepenuhnya, adalah pelukan yang dinanti oleh Kaluna selama sebulan penuh pengasingan.

Kaluna memejamkan mata, merasakan kehangatan dan getaran penyesalan dari tubuh Andrian. Meskipun dia tidak berbalik, senyum tipis, penuh kemenangan, terukir di bibirnya. Dia telah berhasil, tidak hanya membuktikan kebenarannya, tetapi juga berhasil memaksa Andrian menelan harga dirinya.

Ia akhirnya mengendurkan ketegangan di tubuhnya, membiarkan dirinya bersandar pada Andrian.

"Aku akan kembali kapanpun kau mau, Tuan Sugara," bisik Kaluna, suaranya kini kembali lembut, tetapi penuh otoritas. "Tapi apa kau bersedia jika aku memiliki syarat?”

Andrian segera mengendurkan pelukannya sedikit dan memiringkan kepalanya, penuh perhatian.

"Katakan. Apa pun itu," kata Andrian.

Kaluna menggerakkan bola matanya, menyapu sekelilingnya hanya dengan gerakan mata, karena tubuhnya masih terproteksi dalam pelukan Andrian.

"Aku sudah merasa nyaman di Paviliun ini," ujar Kaluna.

Dia menoleh sedikit ke samping. Menunjuk ke meja yang penuh dengan benang rajutan dan model-model kayu yang rumit.

"Bisakah aku tetap mengunjunginya secara rutin untuk melanjutkan proyekku di sini? Hanya di sini, aku bebas bekerja."

Andrian menatap sekeliling ruangan yang kini terlihat lebih seperti studio seni dan laboratorium rahasia daripada tempat pengasingan.

"Apa kau ingin membuat Paviliunku ini menjadi kantormu yang baru?" tanya Andrian, nada suaranya kembali mengandung sedikit kelucuan posesif.

Kaluna tersenyum penuh kemenangan dan mengangkat bahunya.

Andrian melepaskan pelukan dari belakang, lalu membalik tubuh Kaluna agar mereka berhadapan. Kedua tangannya memegang pinggang Kaluna, tatapannya kini dipenuhi kasih sayang yang bercampur dengan kelegaan.

"Kalau begitu, Paviliun ini milikmu sekarang," kata Andrian, suaranya dalam dan penuh janji.

Mata Kaluna berbinar. Dia tidak menunggu lagi. Dialah yang kembali memeluk Andrian, kali ini lebih agresif dan penuh kerinduan yang tak tertahankan.

"Terima kasih, Tuan Sugara," bisik Kaluna di bahunya.

Andrian memejamkan mata, memeluknya erat-erat, menghirup aroma istrinya yang dia rindukan.

"Kau harus kembali ke rumah utama malam ini juga. Aku tidak akan menundanya lagi." Andrian memejamkan matanya, tenggelam dalam suasana hangat itu.