Malam itu, Paviliun kembali sunyi. Kaluna dan Andrian berjalan kembali ke rumah utama, tangan mereka saling menggenggam, sebuah pemandangan yang tak pernah dilihat oleh para pelayan.
Saat mereka melewati ruang tamu, mereka berpapasan dengan Rayyan yang sedang kembali membawa pigmen. Rayyan melihat tangan mereka yang bertautan dan langsung mengerti.
"Wah, wah. Bagaimana Andrian? Benar, ‘kan? Kau akhirnya menjewer telingamu sendiri," goda Rayyan dengan senyum lebar.
Andrian hanya mendengus, tetapi tidak marah. Dia menoleh ke Kaluna yang hanya tertawa kecil.
Rayyan mengedipkan mata pada Kaluna. "Selamat datang kembali, Kakak Ipar. Aku senang kau bisa menjinakkan Singa ini."
Kaluna tersenyum penuh rahasia. "Aku tidak menjinakkannya, Rayyan. Aku hanya membuatnya mengakui siapa ratu-nya."
Mereka melanjutkan langkah ke kamar utama, meninggalkan Rayyan yang berdiri di ruang tamu, tersenyum puas. Dia tahu, meskipun Kaluna telah melalui masa sulit, posisinya kini jauh lebih kuat di sisi Andrian.
Keesokan harinya, sementara suasana kembali hangat di rumah Cassavanos, di Ken Aji Corporate, badai sudah mencapai puncaknya.
Ken Aji duduk di kursi kantornya, tangannya gemetar. Di depannya, Marisa dan Kajayanti berdiri tegang. Setelah berita tentang lukisan palsu itu pecah, semuanya berantakan.
"Seratus juta dolar," bisik Ken Aji, matanya kosong.
"Seratus juta dolar hilang hanya dalam semalam. Bank-bank menarik pinjaman. Investor asing membatalkan kontrak," imbuhnya dengan sedikit menaikkan nada bicaranya.
Marisa mencoba mempertahankan ketenangannya yang palsu.
"Mas, kita masih bisa menuntut Balai Lelang. Itu bukan salah kita. Kajayanti sudah menghubungi tim hukum," ujarnya.
"Tuntut? Kau pikir itu mudah?" teriak Ken Aji, memukul meja. "Sugara Group sudah lebih dulu bergerak. Mereka menuntut Balai Lelang untuk kerusakan reputasi Nyonya Sugara. Kita yang membayar harga penuh untuk lukisan palsu itu, justru terlihat lemah dan bodoh karena lambat bertindak!"
Kajayanti melangkah maju, wajahnya pucat. "Ayah, ada yang lebih buruk. Salah satu bank utama... mereka mengancam akan menyita aset kita jika kita tidak segera melunasi sebagian pinjaman."
Ken Aji terhuyung mundur. "Menyita? Mereka tidak bisa! Aset-aset itu adalah jaminan kita!"
"Mereka bisa, Ayah, karena nilai saham kita anjlok drastis setelah berita itu," bisik Kajayanti.
"Tidak ada yang mau berbisnis dengan perusahaan yang membeli lukisan palsu dengan harga fantastis," kata Kajayanti, hati-hati.
Ken Aji menatap tajam ke arah Marisa dan Kajayanti, tatapan penuh kebencian dan penyesalan.
"Ini semua salah kalian!" raungnya. "Obsesi bodoh kalian untuk mengalahkan Kaluna! Kalian tidak hanya menghancurkan reputasi perusahaan, kalian menghancurkan seluruh warisan keluarga!"
Marisa, yang tidak pernah mau disalahkan, melawan.
"Mas, jangan salahkan kami! Kaluna yang memulai ini! Dia histeris di Balai Lelang, dia yang menyebar rumor abu itu. Dia hanya ingin kita hancur!" tegasnya.
Ken Aji menutup mata, menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, Marisa. Kau salah. Kaluna tidak menyebar rumor. Kaluna mengatakan kebenaran. Kita yang menolak mendengarnya."
Ken Aji membuka matanya, dan di sana terlihat jelas sebuah keputusan yang menyakitkan.
"Aku sudah memutuskan. Kita harus mengambil langkah drastis. Aku akan menjual sebagian aset utama Ken Aji Corporate untuk membayar utang dan menstabilkan saham," kata Ken Aji.
Kajayanti terkejut. "Menjual? Aset?"
Ken Aji menatap putrinya, ekspresinya dingin.
Marisa langsung berteriak. "Tidak! Itu keuntungan strategis kita! Kita butuh itu!"
"Kita butuh udara untuk bernapas, Marisa!" bentak Ken Aji.
Marisa, terkejut mendengar rencana Ken Aji menjual aset perusahaan, langsung menyela. Ini bukan sebuah rencana penyelamatann, tapi kebangkrutan.
"Tunggu, Mas! Kenapa harus menjual aset utama kita? Kenapa tidak menjual sedikit aset Cassavanos yang saat ini masih dalam genggamanmu?" Marisa menyarankan, matanya licik, melihat celah lain untuk menyelamatkan keuangan mereka tanpa mengorbankan keuntungan strategis.
Ken Aji menatap Marisa dengan tatapan dingin.
"Tidak," tolak Ken Aji tegas. "Aku tidak akan menyentuh aset itu."
"Kenapa?" desak Marisa. "Itu bisa menutup lubang utang kita tanpa merusak inti Ken Aji Corporate!"
"Ferdinan mempercayakan saham Cassavanos untuk aku jaga, Marisa, bukan merusaknya," kata Ken Aji, suaranya tajam.
Dia merasakan kesetiaan lama kepada sahabatnya.
"Hanya sedikit, Mas. Kita bisa menjual sebagian kecil yang tidak signifikan. Tidak ada yang akan tahu," bujuk Marisa
Ken Aji berdiri, tingginya menjulang di atas Marisa, aura kemarahannya memuncak.
"Sedikit ataupun banyak, kita tidak berhak untuk Cassavanos!" bentak Ken Aji. "Aku sudah cukup merusak. Aku tidak akan menambah dosa dengan mengkhianati amanah Ferdinan dan menghancurkan masa depan Kaluna lebih jauh lagi!"
Marisa terdiam, menyadari bahwa emosi dan prinsip Ken Aji yang jarang sekali muncul. Telah memblokir jalur pelarian ini.
"Siapkan penjualan aset komersial," perintah Ken Aji kepada Kajayanti, suaranya kini kembali dingin dan berbisnis.
Ken Aji mengeluarkan napas berat, merasakan sakit yang sama di dadanya saat dia memikirkan Kaluna.
"Dan aku akan menemui Kaluna," tambahnya pelan.
Marisa dan Kajayanti tertegun. "Untuk apa, Mas? Untuk meminta bantuan dari Ameertha?" tanya Marisa, suaranya merendah.
Ken Aji menatap ke luar jendela, di mana dia bisa melihat bayangan kantor Ameertha yang megah.
"Tidak. Bukan untuk meminta bantuan bisnis," jawab Ken Aji, suaranya serak.
"Aku akan menemuinya untuk meminta maaf, dan yang lebih penting... Aku harus tahu apakah dia masih menganggapku sebagai ayahnya atau tidak, setelah kejadian ini," sambungnya.
Ken Aji menarik napas lagi, sebuah bunyi yang berat dan sarat penyesalan. Dia menatap pantulan dirinya di jendela.
Pria yang dia lihat adalah seorang pemimpin yang hancur, bukan karena musuh bisnis, melainkan karena kesombongan keluarganya sendiri.
"Aku akan menemui Kaluna," ulang Ken Aji dengan suara serak, mengukuhkan tekadnya.
Dia berbalik, melangkah melewati Marisa dan Kajayanti yang masih terpaku.
Tepat saat dia hendak meraih kenop pintu ruangannya, pintu itu lebih dulu didorong dan terbuka dari luar.
Ken Aji tertegun. Di ambang pintu, berdirilah dua sosok yang seharusnya tidak dia lihat bersama, Kaluna dan Andrian Sugara.
"Mas..." Marisa terkesiap, segera merapikan diri dan mendekat ke sisi suaminya, mencoba mempertahankan ilusi kesatuan. Kajayanti hanya bisa menunduk.
Ken Aji melepaskan kenop pintu. Langkahnya yang tergesa-gesa tadi kini membeku. Dia tidak perlu mencari Kaluna. Kaluna telah datang kepadanya.
Kaluna dan Andrian melangkah masuk, berhenti beberapa langkah di depan meja Ken Aji. Andrian tidak melepaskan genggamannya dari tangan Kaluna.
"Pagi, Tuan Kinan," sapa Andrian datar, suaranya dingin dan bernada formalitas yang menusuk.
Marisa yang pertama angkat bicara, berusaha memecah ketegangan yang menyesakkan.
"Kaluna! Kenapa kamu datang ke sini? Kau ingin mentertawakan kami?” tudingnya.
Kaluna menoleh sedikit ke arah Marisa, matanya tak memancarkan emosi. Dia menarik tangannya dari genggaman Andrian, membuat semua orang memperhatikan pergerakannya.
Kaluna kemudian melipat kedua tangannya di dada, mengambil alih panggung sepenuhnya.
"Aku datang ke sini karena aku mendengar kalian sedang mengadakan obrolan keluarga yang cukup penting, kalau tdiak salah tentang kebangkrutan," ujar Kaluna, menyebut kata itu dengan penekanan yang menusuk.