Drama

Suntikan Dana yang Berujung Penghinaan

Penulis Yoonna
10 January 2026

Ucapan Kaluna tentang kebangkrutan, membuat Ken Aji tersentak. Kemarahan yang dipicu oleh ego segera menggantikan rasa penyesalan.

Dia berdiri lagi, menatap Kaluna dengan mata menyala.

"Bangkrut? Kau puas?" raung Ken Aji.

Mata Kajayanti membulat sempurna, seraya menunjuk ke arah Andrian, lalu berkata, "Kau datang ke sini hanya untuk pamer siapa suamimu, ‘kan? Kau menyebarkan kontroversi abu pemantik api itu, kau menghina Balai Lelang, dan sekarang kau datang ke sini, di tengah kesulitan kami, untuk mengejek kami!"

Marisa, yang mendapatkan celah, segera mendukung. "Benar! Kau sengaja melakukannya, Kaluna! Kau ingin kami hancur! Kau melampiaskan dendammu pada kami, dengan cara ini!"

Kaluna terpaku. Matanya yang sebelumnya memancarkan ketenangan kini dipenuhi kekecewaan yang mendalam. Dia menatap Ken Aji, ayahnya, yang sekali lagi memilih untuk memercayai fitnah daripada kebenaran darinya.

"Ayah," bisik Kaluna, suaranya tercekat.

"Jangan panggil aku Ayah! Mau apa kau datang ke sini? Aku tidak butuh simpati ataupun belas kasihanmu!" teriak Ken Aji, menunjuk ke Kaluna.

Andrian, yang selama ini menahan diri, maju selangkah. "Tuan Kinan, jaga ucapan Anda. Kaluna tidak datang untuk menuntut, dia datang untuk—"

"Tuan Sugara, biarkan saja dia bicara," potong Kaluna, meletakkan tangannya di dada Andrian.

Ken Aji melihat interaksi itu, dan amarahnya semakin memuncak. Dipicu oleh rasa cemburu saat melihat kedekatan dan dukungan yang diberikan Andrian kepada Kaluna. Dukungan yang seharusnya dia berikan.

"Bicara apa lagi, Kaluna? Apa yang mau kau dengar?" desak Ken Aji, suaranya dipenuhi hinaan. "Kau sudah mendapatkan yang kau mau! Reputasi kami hancur, saham kami anjlok, dan kau, dengan angkuh, datang ke sini bersama suamimu seolah kau adalah pemenang perang."

Dia menyandarkan kedua tangannya di meja, mencondongkan tubuh ke depan, matanya menyipit penuh tuduhan.

"Kau pikir aku bodoh? Kenapa kau begitu gigih saat itu? Kenapa kau harus membuat drama tentang abu dan pemantik api itu di Balai Lelang? Kau tidak peduli tentang lukisan itu! Kau hanya ingin kami terlihat bodoh di depan seluruh kolektor seni dunia! Bukankah itu yang kau inginkan?” tuding Ken Aji lagi.

“Aku tidak membuat drama ayah, tapi istri dan putri kesayanganmu itu yang memulainya,” bantah Kaluna.

Marisa segera menimpali, "Lihatlah dia, Mas! Dia masih membela diri karena dia tahu kita benar! Dia ingin melihat kita merangkak memohon ampun padanya!"

"Diam, Marisa!" teriak Ken Aji pada istrinya.

Ken Aji kembali menatap Kaluna. "Kau berhasil, Kaluna. Puas? Aku hancur. Kau menang. Apa lagi yang kau harapkan dari Ayahmu ini? Kata-kata maaf? Kau tidak butuh itu!"

Ken Aji melangkah dari mejanya, berjalan perlahan mendekati Kaluna, tatapannya menyakitkan.

"Kau terlalu mirip ibumu! Selalu merasa benar sendiri, selalu merasa paling menderita, dan tidak pernah memikirkan konsekuensi dari tindakanmu. Kau hanya tahu cara membuat masalah dan membiarkan orang lain membersihkannya!"

Kaluna menutup matanya sejenak. Tuduhan yang menyangkut almarhum ibunya adalah yang paling melukai. Ini bukan lagi tentang bisnis atau lukisan, ini adalah serangan pribadi, sebuah penolakan yang paling menyakitkan dari ayahnya.

“Aku memang tidak membutuhkan kata-kata maaf, ayah. Itu tidak perlu, aku tidak menyukainya,” ujar Kaluna, masih berusaha tenang.

Kaluna kemudian mengambil tas kecilnya yang elegan dan menarik keluar sebuah amplop.

Dia berjalan maju ke meja Ken Aji, mengabaikan Marisa dan Kajayanti. Dia meletakkan amplop itu di atas dokumen-dokumen keuangan Ken Aji yang berserakan.

"Sebenarnya… aku datang ke sini karena khawatir denganmu, ayah. Aku bermaksud untuk memberikan suntikan dana," ujar Kaluna, suaranya kini kembali dingin dan bergetar karena sakit hati yang tak tertahankan.

Ken Aji, Marisa, dan Kajayanti sama-sama menatap amplop itu dengan bingung.

"Ini adalah corporate check dari Ameertha Group," jelas Kaluna. "Cek senilai serratus lima puluh juta dolar."

Ketiganya langsung terdiam. Cek dengan angka fantastis itu diletakkan di sana, seolah bukan apa-apa. Jumlah itu jauh lebih besar dari kerugian lukisan palsu mereka.

"Aku bermaksud ingin berdamai denganmu, Ayah. Meskipun kau memilih menuduhku," lanjut Kaluna, air mata mulai menggenang.

"Kau tetap Ayahku. Dan aku tidak tega melihat kehancuran Ken Aji Corporate. Aku harap dana ini bisa melunasi hutangmu dan menstabilkan saham."

Kaluna tidak menunggu respons dari mereka. Dia menatap ayahnya yang kini terpaku di kursi, menatap cek itu dengan tatapan kosong.

"Ayo, Tuan Sugara," kata Kaluna kepada Andrian, membalikkan badan dengan cepat.

Andrian menatap Ken Aji dengan campuran jijik dan kemarahan. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, melainkan hanya mengangguk dan mengikuti Kaluna.

Pintu tertutup. Suara isakan Kaluna yang tertahan di bahu Andrian terdengar samar-samar.

“Mas,” ujar Marisa, namun Ken Aji hanya mengangkat tangannya, menghentikan langkah Marisa.

Ken Aji masih terpaku. Dia menatap cek itu. Angka $150,000,000.00 terukir jelas. Perusahaan miliknya yang sedang sekarat baru saja diselamatkan oleh putri yang baru saja dia tuduh ingin menghancurkannya.

Dia menoleh ke arah Marisa dan Kajayanti. Ekspresi mereka sama terkejutnya, tetapi ada kilatan mata licik yang muncul di wajah Marisa saat dia melihat jumlah di cek itu.

Ken Aji meraih cek itu. Tangannya gemetar hebat, bukan lagi karena ketakutan bangkrut, tetapi karena rasa bersalah yang tak tertandingi.

"Dia..." Ken Aji menelan ludah. "Dia datang untuk menyelamatkanku. Dan aku... aku menuduhnya... Aku menghancurkan perasaannya lagi."

Ken Aji mendongak, matanya menatap tajam ke arah Marisa dan Kajayanti.

Tatapan itu adalah tatapan penuh kemarahan yang tertuju pada dua orang yang baru saja dia dengarkan hasutan mereka, yang menyebabkan dia mengkhianati putrinya lagi, dan lagi.

"Kalian," desis Ken Aji. "Kalian telah membuatku mengkhianati putriku sendiri. Kalian membuatku membuang satu-satunya orang yang masih peduli pada kita!"

Ken Aji meremas cek itu di tangannya, merasakan dinginnya kertas tebal itu. Dia telah kehilangan kepercayaan putrinya, padahal putrinya baru saja memberikan nyawa baru untuk perusahaannya yang terancam bangkrut.

"Mas, tunggu!" sela Marisa, tangannya terulur ke cek itu. "Bukan salah kami! Dia yang memulai dengan sandiwara di Balai Lelang! Tapi lihat! Sekarang kita selamat! Kita punya miliaran dolar! Kita bisa..."

PLAK!

Ken Aji menampar Marisa. Suara tamparan itu nyaring dan mematikan. Ini adalah pertama kalinya Ken Aji melakukan kekerasan fisik terhadap istrinya.

"Diam!" raungnya. "Uang ini tidak ada harganya dibandingkan dengan perasaan putriku! Aku baru saja membunuh hatinya yang tersisa untukku! Kalianlah yang harus disalahkan atas kehancuran keluarga ini, bukan Kaluna!"

Marisa tersentak, memegangi pipinya yang memerah. Kajayanti hanya bisa mundur ketakutan.

Ken Aji masih tersentak di meja kerjanya. Penyesalannya kini terasa sangat nyata dan sangat pahit.

Ken Aji melonggarkan remasan tangannya pada cek itu. Matanya kembali menatap angka-angka penyelamat itu dengan kosong. Meskipun Kaluna telah memberinya jalan keluar, dia tidak akan pernah bisa menebus luka yang telah dia torehkan.

"Kalian berdua keluar," perintah Ken Aji, suaranya kini kembali dingin dan berbisnis, tetapi penuh ancaman. "Aku tidak ingin melihat kalian berdua di hadapanku saat aku membereskan kekacauan yang kalian ciptakan. Kalian tidak diizinkan mendekati aset perusahaan, aset Cassavanos, maupun dana dari Ameertha ini. Paham?"

Marisa, meskipun marah dan tersinggung, menyadari bahwa Ken Aji saat ini berada di ambang kehancuran mental dan finansial. Dia bangkit, memegangi pipinya, dan menarik Kajayanti yang masih terpaku.