Drama

Bayangan Gradasi - Darah Yang Terselubung - Bab 23

Penulis Ichan
12 September 2025

Darah yang Terselubung

Kekuasaan bisa mengendalikan media, menutup mulut rakyat, bahkan mengatur pernikahan, tapi ada satu hal yang tak bisa dikendalikan siapa pun, cinta dan cinta itulah yang kini mengancam membakar seluruh dinasti politik keluarga Faidzin dan Firdaus.


Kabar penculikan Hanum menyebar dengan cepat.

Media tak berani memberitakan terang-terangan, tapi bisikan itu meluas di kalangan elit politik. 'Putri Firdaus hilang.' Kalimat pendek itu menjadi bahan gosip dari ruang rapat kabinet hingga meja makan restoran mewah.

Di rumah besar Faidzin, Al mendengar kabar itu dari mulut Rahmad, pamannya.

“Hanum, hilang?” suara Al bergetar, dadanya serasa ditusuk belati.

Rahmad menatapnya dengan wajah suram. “Malam tadi. Pengawal rumah Firdaus lengah. Jendela kamarnya terbuka, tirai berkibar dan jejak sepatu hitam ditemukan di taman. Hingga kini, tak ada jejak ke mana dia dibawa.”

Al menumbuk meja hingga retak. “Bangsat! Aku harus keluar dari sini.”

Rahmad menggeleng cepat. “Tidak semudah itu. Rumah ini dipenuhi penjaga. Ayahmu sudah memerintahkan agar kau tidak boleh ke luar sampai situasi politik mereda. Dia tahu kau akan mencari gadis itu.”

Al menatap lurus, matanya merah padam. “Justru karena itulah aku harus pergi. Kalau Hanum ada di tangan musuh, maka setiap detik yang lewat bisa berarti nyawanya melayang.”

Rahmad menarik napas panjang. “Kau tak tahu apa yang kau hadapi, Al. Musuh ayahmu bukan orang sembarangan. Mereka sengaja menculik Hanum untuk menjadikanmu umpan.”

Al mendengus. “Kalau begitu, biar aku yang jadi umpannya. Selama Hanum selamat.”

Rahmad menatap keponakannya itu dan untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang tak pernah ia temukan di wajah Arman, keberanian tulus.


Sementara itu, di gedung pemerintahan, Firdaus berdiri di depan cermin besar. Wajahnya dingin, tapi matanya tampak bimbang. Di luar ruangan, suara para menteri, wartawan dan staf masih riuh membicarakan konferensi pers yang baru saja selesai.

Ia menutup dasinya, lalu berbisik pada dirinya sendiri. “Hanum, bertahanlah.”

Tiba-tiba pintu diketuk. Salah satu pengawal pribadinya masuk, membisikkan sesuatu. Firdaus menoleh, alisnya terangkat.

“Al Faidzin ingin bertemu diam-diam, Pak. Malam ini.”

Firdaus terdiam beberapa detik, lalu senyum samar muncul di bibirnya. “Bawa dia. Jangan sampai ada yang tahu.”


Malam itu, Al berhasil melarikan diri. Dengan bantuan Rahmad, ia menyelinap melewati jalur servis rumah besar Faidzin, menyamar sebagai salah satu pekerja. Satu kali ia hampir ketahuan, tapi keberanian dan nalurinya membawanya lolos.

Hanya ada satu tujuan di benaknya, yaitu menemukan Hanum.

Mobil hitam sederhana membawanya ke sebuah rumah aman di pinggiran kota. Di situlah Firdaus sudah menunggunya, duduk di kursi kulit dengan segelas anggur merah.

Saat Al masuk, mata mereka bertemu, dua pria yang terikat oleh gadis yang sama.

“Pak Firdaus,” Al menyapa dingin.

“Al,” jawab Firdaus tanpa senyum. “Aku takkan bertele-tele. Kau tahu kenapa kupanggil kemari.”

Al mengepalkan tinju. “Kalau ini soal Hanum, aku akan lakukan apa pun. Katakan di mana dia.”

Firdaus menggeleng perlahan. “Kalau aku tahu, aku tidak akan duduk diam di sini. Penculiknya licin, meninggalkan jejak samar, tapi aku yakin musuh keluargamu yang melakukannya. Mereka ingin memukul Arman lewat anakmu dan memukul aku lewat putriku.”

Al maju selangkah. “Kalau begitu, biarkan aku mencarinya.”

Firdaus menatapnya tajam, lalu bangkit dari kursinya. “Aku tidak bodoh, Al. Aku tahu apa yang terjadi di rooftop malam pesta itu. Aku tahu kau mencintai putriku dan aku tahu Hanum juga mencintaimu.”

Al tercekat, jantungnya berhenti sepersekian detik.

Firdaus melanjutkan dengan suara berat, “Aku tidak pernah percaya pada cinta. Politik selalu mengajarkanku bahwa kasih sayang hanyalah kelemahan, tapi malam itu, ketika kulihat wajah Hanum hancur karena dirimu, aku sadar, ada hal yang tak bisa kulawan. Maka dengarkan baik-baik, aku merestui kalian berdua.”

Al membelalak. “Apa katamu?”

Firdaus menepuk bahunya dengan keras “tapi ada syarat. Kau harus berjanji padaku, Al. Kau harus menjadi pelindung Hanum. Selamanya. Bukan hanya dari musuhmu, tapi juga dari keluargamu sendiri.”

Al menunduk, air matanya nyaris jatuh. “Aku sudah berjanji pada diriku sendiri sejak lama. Aku akan melindungi Hanum, meski harus melawan dunia.”

Untuk pertama kalinya, Firdaus tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita berdiri di pihak yang sama.”

Namun, di balik percakapan itu, badai politik semakin menggila.

Arman Faidzin dihantam berita korupsi yang diangkat kembali oleh media bebas. Rekening gendut, suap proyek besar dan manipulasi dana negara satu per satu diungkap. Para lawan politiknya mencium darah, menyerang tanpa ampun.

Sementara itu, aliansi yang seharusnya dibangun dengan Firdaus goyah. Publik bertanya-tanya, bagaimana mungkin dua keluarga yang saling terikat melalui skandal anak-anaknya bisa memimpin negeri dengan stabil?

Sarina Affany Umar, tunangan politik Al, dijadikan bahan olok-olok media. 'Calon pengantin yang ditinggalkan demi cinta terlarang,' begitu tulis sebuah majalah mingguan.

Di balik layar, keluarga Umar mulai menekan. “Batalkan perjodohan itu atau hubungan politik kita selesai.”

Arman meradang. Ia menyalahkan semua orang kecuali dirinya sendiri dan di tengah amarahnya, ia merencanakan sesuatu yang lebih gelap.


Di rumah yang aman, Rahmad kembali mendatangi Al. Wajahnya lebih pucat dari biasanya, tangannya gemetar memegang sebuah map cokelat.

“Al,” katanya lirih, “kau harus tahu sesuatu sebelum semuanya terlambat.”

Al mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”

Rahmad menyerahkan map itu. “Selama ini, aku diam, arena Arman memerintahkanku menutup mulut, tapi sekarang keadaan sudah di luar kendali. Kau harus tahu kebenaran.”

Al membuka map itu. Di dalamnya ada salinan dokumen kelahiran, foto lama dan catatan medis. Matanya menelusuri satu demi satu hingga napasnya tercekat.

“Ini tidak mungkin.”

Rahmad menatapnya dengan wajah getir. “Ya. Arman Faidzin bukan ayah kandungmu. Kau bukan darah dagingnya.”

Dunia Al runtuh seketika. Semua yang ia benci, semua yang ia lawan, semua yang ia kira warisan darah, ternyata bukan.

“Kalau begitu, siapa orangtuaku?” suaranya pecah, nyaris tak terdengar.

Rahmad menggeleng. “Identitas mereka belum jelas. Arman menyembunyikannya rapat-rapat. Yang kutahu, kau diambil dari sebuah tempat dua puluh dua tahun lalu. Dia membesarkanmu bukan karena cinta, tapi karena alasan politik. Kau adalah pion sejak lahir.”

Al meremas map itu hingga hampir robek. “Brengsek! Jadi selama ini aku hanya alat untuknya?”

Rahmad menepuk bahunya. “Aku tahu ini berat, tapi kau harus gunakan kebenaran ini sebagai senjata. Kalau kau bukan darahnya, maka kau bebas. Kau tidak terikat lagi oleh warisan kotor keluarga Faidzin. Kau bisa memilih jalanmu sendiri.”

Al menatap jauh, matanya berkilat. “Jalan yang kupilih adalah Hanum. Apa pun yang terjadi.”


Sementara itu, di markas musuh, Hanum duduk di kursi besi dengan tangan terikat. Wajahnya pucat, bibirnya kering.

Seorang pria berwajah luka, pemimpin kelompok penculik menatapnya dengan senyum sinis. “Kau tahu, Hanum? Kau bukan hanya putri Firdaus. Kau adalah kunci untuk menghancurkan dua keluarga sekaligus. Ayahmu dan ayah kekasihmu akan saling mencabik demi menyelamatkanmu dan aku akan duduk manis, menonton mereka jatuh.”

Hanum menatapnya dengan mata penuh api. “Kau salah. Al tidak akan diam. Dia akan datang menjemputku.”

Pria itu tertawa panjang. “Itu yang kuharapkan. Biarkan dia datang. Karena begitu dia menginjakkan kaki di sini semua akan berakhir.”


Di tengah malam, sebuah pesan misterius masuk ke ponsel Al. Hanya satu kalimat, dikirim dari nomor tak dikenal.

“Jika kau ingin melihat Hanum hidup, datang sendiri ke dermaga tua sebelum fajar. Jangan bawa siapa pun.”

Al menatap layar itu dengan napas memburu.

Di tangannya masih tergenggam map yang membongkar jati dirinya.

Di hatinya hanya ada satu tekad, yaitu menyelamatkan Hanum, meski harus melawan darah, keluarga, dan seluruh dunia.

Namun, ia tak tahu dermaga itu bukan sekadar jebakan. Di sana, rahasia tentang orangtua kandungnya juga menunggu untuk diungkap.