Drama

Rencana Pameran

Penulis Yoonna
10 January 2026

Kaluna dan Andrian kembali ke rumah utama Cassavanos. Leon sudah menunggu di ruang kerja. Dia terkejut melihat keduanya kembali dengan ekspresi yang kompak. Kelegaan yang mendalam bercampur rasa penyesalan.

"Tuan Muda," sapa Leon. Matanya beralih ke Kaluna.

Andrian mengangguk berat. "Leon, batalkan tuntutan hukum kita terhadap Balai Lelang."

Leon terkejut. "Tuan Muda? Tapi... pemulihan reputasi Nyonya Kaluna?"

"Sudah tidak perlu," potong Kaluna pelan, suaranya serak. "Aku sudah memenangkan reputasiku. Sekarang, fokuslah pada pemulihan nama baikmu di mata publik, Tuan Sugara. Tunjukkan pada dunia bahwa kau tidak meragukan istrimu lagi."

Andrian memandang Kaluna, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Dia mengerti bahwa permintaan Kaluna adalah pembalasan yang lebih manis daripada tuntutan hukum apa pun. Dia harus secara terbuka menunjukkan dukungannya.

"Kau mendengarnya, Leon? Siapkan pernyataan pers. Klarifikasi bahwa insiden di Balai Lelang adalah kekeliruan teknis dari pihak Balai Lelang. " ujar Andrian.

"Iya, Tuan Muda. Kebetulan saya telah mengaturnya, ini draft pernyataan yang akan kami rilis," kata Leon, menyerahkan tablet.

Andrian membaca poin-poinnya.

"Tambahkan satu kalimat, Leon, bahwa Kaluna adalah yang pertama dan satu-satunya orang yang menunjukkan kebenaran itu. Soroti bahwa klaimnya kini terbukti dan kita sangat bangga atas ketajaman analisis seninya."

"Siap, Tuan Muda. Saya akan pastikan itu menjadi berita utama besok," jawab Leon, kini kembali bersemangat.

Beberapa hari kemudian, saat Kaluna sedang memeriksa draft perjanjian Ameertha Corporate dengan beberapa kolega yang baru. Leon masuk dengan ekspresi sedikit cemas.

"Nona Kaluna, Tuan Praka ada di ruang tamu. Dia... bersikeras bertemu Anda."

Kaluna melirik Andrian yang sedang bekerja di ruang kerjanya.

"Biarkan dia masuk," kata Kaluna.

Praka masuk, mengenakan setelan kasual yang rapi. Dia langsung menyodorkan sebuah amplop elegan berstempel emas.

"Peresmiannya minggu depan. Kau bisa hadir, ‘kan?” tanya Praka.

Kaluna mengambil undangan itu. "Tentu saja, aku akan datang.”

Praka terdiam sejenak. "Tuan Sugara ikut?"

"Tentu saja. Kami adalah pasangan sekarang," kata Kaluna, matanya tenang.

Praka menghela napas. Dia mengangguk, menerima kenyataan itu.

"Bagaimana dengan draft peluncuran produk yang kuberikan? Kau sudah mengerjakannya?" tanya Kaluna, berbalik ke mode bisnis.

"Sudah. Aku sudah menyiapkan tim desain dan produksi. Tetapi, Kaluna, bisakah kau beri aku detail sedikit tentang proyek ini? Aku tahu ini tentang tekstil dan seni, tapi... $150 Juta cek ke Ken Aji Corporate, apa kau baik-baik saja?" tanya Praka, menyembunyikan kekhawatirannya tentang Kaluna yang baru saja menutup pintu emosional dengan ayahnya.

Kaluna tersenyum tipis.

"Aku baik-baik saja, Raka. Uang itu hanyalah biaya untuk memotong tali yang sudah lapuk. Tentang proyekku, aku ingin kau fokus pada estetika keabadian dan integritas. Tunjukkan pada dunia bahwa Amertha kembali dengan inovasi yang didasarkan pada kebenaran dan seni sejati."

Praka mengangguk, terpesona oleh ketenangan dan fokus Kaluna. Dia menyadari, Kaluna yang berdiri di depannya kini telah sepenuhnya melepaskan beban masa lalunya, menjadi Kaluna yang lebih kuat.

"Aku mengerti. Aku akan menyiapkan strategi peluncuran yang sangat berfokus pada narasi kebenaran. Aku akan segera kirimkan laporan perkembangannya," janji Praka.

Tepat saat itu, Andrian menghampiri, wajahnya santai, tidak ada jejak amarah atau kecemburuan. Dia mendekat dengan langkah perlahan.

"Maaf mengganggu," sapa Andrian.

Praka dan Kaluna tersenyum.

"Tuan Sugara, saya baru saja menyelesaikan diskusi bisnis dengan Kaluna. Kami membahas detail peluncuran kafe dan produk baru Ameertha Corporate," sapa Praka, berdiri dan mengulurkan tangan.

Andrian menjabat tangan Praka dengan erat, tetapi singkat. "Senang mendengarnya, Tuan Praka,” ujar Andrian ramah, menunjukkan dukungan penuhnya di hadapan Praka.

"Saya sudah menyampaikan undangannya. Aku akan menantikan kehadiran Anda berdua," balas Praka yang kemudian menoleh ke Kaluna.

Andrian tersenyum dan merangkul pinggang Kaluna. "Tentu saja, Tuan Praka,” ujarnya.

Praka mengangguk, senang melihat keharmonisan yang nyata di antara mereka. Dia menyadari, kini dia harus sepenuhnya mundur ke peran rekan bisnis.

"Kaluna, satu lagi. Ada hal penting lain yang ingin kusampaikan," ujar Praka, kali ini mengalihkan fokus dari kafe.

Praka mencondongkan tubuh sedikit, suaranya merendah. "Ini mengenai desain gaunmu yang selama ini masih menjadi rahasia perusahaan."

“Ini rahasia perushaan, ya? Baiklah, aku…” Andrian berniat menghindar dari sana, tapi Kaluna menahannya.

Mata Kaluna terpaling ke Praka. Mata itu langsung bersinar dengan minat yang tulus. "Gaun itu? Kenapa?"

Praka menatap sekilas ke arah Andrian lalu kembali menatap Kaluna.

"Akan ada pameran busana termegah se-Asia Tenggara dalam beberapa bulan ke depan," jelas Praka. "Aku berencana untuk mengikutsertakan karya agungmu itu ke acara bergengsi tersebut."

Praka menatap Kaluna dengan penuh harap.

"Aku berharap persetujuan darimu, Kaluna. Meskipun kau bukan lagi CEO Ameertha, tapi kau adalah desainernya. Aku ingin kau tetap terlibat dalam acara itu," jelas Praka.

Kaluna terdiam sesaat, memikirkan dampak pameran itu.

"Aku menyetujuinya, Raka," kata Kaluna, senyumnya kini menjadi senyum seorang ahli strategi yang melihat peluang di dunia mode. "Tapi ada syaratnya. Kita harus sangat berhati-hati."

Kaluna menjeda sebentar ucapannya, kemudian kembali berkata, "Kau harus mengikuti arahanku. Jangan dulu mengeluarkan dokumen-dokumen terkait desain itu sembarangan, terutama di luar Ameertha. Jaga kerahasiaannya."

"Tentu saja. Tapi kenapa harus seketat itu?" tanya Praka.

"Raka, kau tahu, itu acara bergengsi. Ameertha sudah banyak mendapatkan kemenangan dan penghargaan di acara-acara sebelumnya. Tentu saja banyak pihak yang akan mematai-matai bahkan menyelusup ke Ameertha hanya untuk melihat pergerakan kita. Bahkan yang paling fatal, mencontek dokumen Ameertha," jelas Kaluna.

Kaluna berkata serius. Perhitungannya sangat terperinci. Dugaan Andrian terbukti dan Praka benar, Kaluna adalah orang yang selalu memikirkan dampak yang akan terjadi bahkan beberapa waktu ke depan.

"Kita akan membuat pengumuman kejutan, Raka. Hanya kita yang tahu apa yang akan kita tampilkan," tutup Kaluna, matanya berkilat penuh rencana.

Praka mengangguk, menyadari bahwa Kaluna tidak hanya berbicara tentang metode, tetapi juga tentang persaingan bisnis yang kejam.

Praka mengangguk, menyerap semua instruksi kerahasiaan Kaluna mengenai gaun pameran.

“Dan satu lagi,” ujar Kaluna menatap ke arah Rayyan yang tidak sengaja melintas dan tertangkap matanya.

“Aku mau, Rayyan ikut terlibat di dalam pameran ini,” ujarnya penuh penekanan.

Andrian, yang selama ini diam mengamati profesionalisme Kaluna, mengerutkan kening.

"Kenapa Rayyan? Bukankah ini pameran busana? Apa hubungannya dengan melukis atau patung?" tanya Andrian, suaranya sedikit mengandung rasa ingin tahu yang skeptis.

Rayyan, yang mendengar namanya disebut, mendekat seraya menunjuk dirinya sendiri. "Aku? Kalian memanggilku?"

Kaluna tersenyum penuh rahasia. "Ya, Rayyan. Kau dibutuhkan."

Praka, yang memahami visi Kaluna, tersenyum. "Keterlibatan Rayyan adalah ide brilian, Kaluna. Dia bisa membawa dimensi seni rupa ke dalam busana. Tapi kenapa harus dirahasiakan?"

Kaluna merangkul lengan Andrian, seolah berbagi rahasia dengan suaminya. "Gaun itu adalah karya agung. Tapi agar kejutan kita sempurna dan tidak ditiru, kita harus menyamarkan desain itu seolah-olah hanya sebuah kanvas yang belum selesai."

Kaluna menatap Rayyan, matanya berkilat dengan rencana. "Rayyan akan menjadi pelukis yang menyelesaikan gaun itu di atas panggung. Seluruh dunia akan melihat karya yang tercipta secara instan, sebuah kolaborasi seni yang belum pernah ada. Tapi hanya kita yang tahu bahwa Rayyan sudah menghafal setiap detail yang akan dia lukis."

Andrian terdiam. Ekspresinya yang skeptis berubah menjadi kekaguman dingin. Dia menyadari kecemerlangan istrinya.

Kaluna tidak hanya melindungi desainnya dari peniruan, tetapi dia mengubah pameran busana menjadi sebuah performance art yang akan menarik perhatian global dan menciptakan hype yang tak tertandingi untuk Amertha.

"Fantastis," desah Andrian, menjepit dagu Kaluna dengan jari, senyum puas muncul di wajahnya. "Kau benar-benar tidak pernah gagal membuat kejutan, Nyonya Sugara."

Kaluna kemudian menoleh ke arah Rayyan, matanya serius.