Drama

Penolakan Alivia

Penulis Yoonna
10 January 2026

"Tapi, Rayyan belum pernah terlibat dalam acara apapun, apa kau yakin? Ini acara bergengsi Kaluna, semua mata, bahkan dari seluruh lapisan dunia akan menyaksikannya," tanya Andrian, suaranya dipenuhi keraguan.

"Kau pasti bisa, Rayyan. Aku percaya padamu," kata Kaluna, meyakinkan.

“Tapi Kaluna, Rayyan… selama ini Rayyan hanya mengisi hari-harinya dengan lukisan. Dia belum pernah terlibat dalam urusan bisnis, bahkan dunia luar yang ramai,” kata Andrian lagi.

“Itulah kesempatan bagi Rayyan untuk memunculkan dirinya. Siapa yang menyangka, Cassavanos punya karakter yang luar biasa di dalamnya. Nama Sugara juga akan semakin terpandang saat kau menunjukkan dukungan penuh atas Rayyan yang mencintai seni,” jelas Kaluna pada Andrian.

Kaluna berhasil menyentuh logika Andrian. Mesin Pendingin ini sangat haus akan pengakuan. Kaluna sangat pintar mendominasi suasana, dengan membawa ciri khas usaha Perhotelan Sugara sendiri yang mengedepankan unsur seni di dalamnya.

Kaluna menoleh kembali ke Rayyan, kembali ke mode negosiasi strategisnya. "Besok malam, kau ikut hadir dalam peresmian kafe Praka. Kita akan mengadakan meeting singkat di sana. Sebuah meeting di acara peresmian? Siapa yang tahu, ada meeting dalam acara peresmian itu?" perintah Kaluna.

Andrian menggelengkan kepalanya, batinnya mendesah, betapa cerdik dan luar biasanya pemikiran Kaluna, dia selalu punya cara.

"Tentu saja, itu sempurna. Tidak ada yang akan mencurigai pertemuan bisnis di tengah perayaan,” ujar Andrian.

Rayyan menghela napas, menimbang beban tanggung jawab besar itu. "Aku akan memikirkannya," jawabnya, nadanya masih ragu.

"Bagus," timpal Kaluna. "Kau adalah kunci untuk menyempurnakan drama ini, Rayyan. Persiapkan studionya. Aku ingin kau membuat sketsa dan pigmen yang unik. Dan ingat, tidak ada yang boleh tahu tentang detail desain gaun itu."

Praka mengangguk serius, menyadari betapa besarnya pertaruhan ini.

"Baiklah. Ini akan menjadi comeback yang sangat dramatis untuk Ameertha. Aku akan mengurus logistik, Tuan Sugara, Kaluna. Aku permisi," tutup Praka seraya berbalik untuk pergi.

Malam harinya, suasana di ruang makan Cassavanos terasa tegang. Alivia duduk dengan tegang di kursinya, menanti prosesi makan itu berakhir.

Saat hidangan penutup disajikan, Alivia langsung menyentuh topik utama, mengabaikan basa-basi.

"Kaluna," panggil Alivia, nadanya jauh dari sapaan manis, melainkan penuh peringatan.

"Aku sudah mendengar rencana pameran gaunmu. Itu brilian, aku akui. Tapi aku menolak keras ide melibatkan Rayyan," Lanjutnya.

Kaluna menatap ibu mertuanya dengan tenang. "Aku mengerti kekhawatiranmu, Ibu, tapi Rayyan sudah setuju."

"Setuju?" Alivia meletakkan sendoknya dengan suara keras. "Dia anakku! Aku tahu dia lebih baik dari siapa pun di ruangan ini. Rayyan setuju karena dia terpengaruh, atau karena dia ingin membuktikan sesuatu pada dirinya sendiri. Tapi, Kaluna, kau tahu seberapa rentan dia di keramaian."

“Kau selalu meragukan sesorang karena kerentanannya, Ibu. Tapi bagaimana dia bisa berkembang jika kita terus membatasinya hanya karena dia rentan,” sanggah Kaluna.

Alivia menyandarkan tubuhnya, menunjukkan dominasi seorang ibu. "Rayyan adalah seniman, dia bukan maskot untuk Ameertha. Kau ingin dia menjadi bagian dari drama yang kau buat, kau ingin dia melukis di bawah sorotan lampu dan jutaan mata, padahal dia saja kesulitan keluar dari studionya sendiri."

"Justru itu intinya, Bu. Jika kita selalu membatasi Rayyan di studionya. Tapi Rayyan punya bakat luar biasa yang layak dilihat dunia. Ini adalah panggung yang tepat untuk dia keluar," balas Kaluna, suaranya tetap terkontrol dan logis.

"Keluar? Atau terjatuh? Jika terjadi kesalahan sedikit saja, itu bukan hanya akan menghancurkan pameranmu, tapi akan menghancurkan kepercayaan diri Rayyan yang baru saja dibangun." Alivia membalas dengan tajam.

Andrian, yang sejak tadi hanya menyimak, akhirnya angkat bicara, mencoba menengahi.

"Bu, aku mengerti kekhawatiran Ibu. Tapi Kaluna benar, ini peluang besar," kata Andrian.

"Gaun itu akan menjadi perpaduan seni rupa dan fashion yang paling jujur. Ini akan membedakan Ameertha. Nama Sugara akan semakin terpandang karena mendukung seni murni, dan Rayyan akan menjadi simbolnya," sambungnya.

"Nama Sugara! Kau hanya memikirkan nama dan bisnis, sama seperti ayahmu. Aku memikirkan anakku! Kau lupa bagaimana sulitnya menjaga Rayyan selama ini?" desis Alivia, melirik Andrian dengan tatapan dingin.

Semua mata kembali tertuju pada Rayyan, yang wajahnya menunjukkan perjuangan batin antara keinginan ibunya dan dorongan dari Kaluna.

"Bu…," panggil Rayyan pelan. "Aku... aku sudah memikirkannya. Aku tahu Ibu khawatir."

Rayyan mengambil napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. "Aku capek bersembunyi. Aku ingin mencoba. Ini ide gila, aku tahu. Tapi... aku percaya pada visi Kakak Ipar. Jika ini bisa membuat karya seni dihargai dan menjadi inspirasi, aku mau mengambil risiko. Aku tidak mau hanya menjadi seniman yang luar biasa di studionya saja."

Alivia terdiam, wajahnya menunjukkan keterkejutan dan patah hati, karena saat ini Rayyan mulai berani untuk melawan naluri perlindungannya.

Kaluna menggunakan momen krusial ini. Dia menatap Alivia dengan tegas, tapi sedikit melembutkan suaranya.

"Bu, Aku tidak memaksa Rayyan. Aku mengajaknya, dan dia setuju. Aku tahu risikonya, dan aku akan bertanggung jawab penuh jika ada yang salah di atas panggung. Tapi tolong, jangan jadikan kekhawatiran Ibu sebagai alasan untuk mengunci potensinya," janji Kaluna.

Suasana di ruang makan menjadi semakin dingin setelah Rayyan menyatakan kesediaannya, namun Alivia masih belum puas dan berusaha membalikkan keputusan putranya.

"Rayyan, kau tidak perlu melakukan ini. Ibu akan bicara pada Andrian, dia pasti mengerti," desak Alivia, tatapan memohon beralih ke Andrian.

Andrian, meskipun memahami kekhawatiran ibunya, hanya mengangkat bahu sedikit, isyarat bahwa dia percaya pada penilaian istrinya.

Alivia kembali menatap Kaluna dengan mata menyala. "Kau tidak bisa memaksanya, Kaluna! Kau tidak berhak mempertaruhkan kesehatan putraku—"

Saat itulah Kaluna memutuskan untuk mematikan perdebatan itu. Dia berbicara dengan suara yang sangat dingin dan datar, memotong ucapan Alivia.

"Maaf, Bu, ini bukan lagi masalah emosional atau keluarga," ujar Kaluna, senyum tipis, namun mematikan, terukir di bibirnya.

"Sejak aku mengelola Paviliun, Rayyan bekerja denganku. Kami memiliki kontrak profesional yang jelas, yang juga mencakup proyek-proyek promosi besar Ameertha. Aku adalah bos yang meminta bawahanku melakukan sesuatu. Rayyan terikat kontrak dengan itu. Jika dia menolak, aku tidak hanya akan menuntut Rayyan atas pelanggaran kesepakatan bisnis, tapi juga Keluarga Cassavanos karena merusak aset dan rencana strategis utama perusahaan."

Kata-kata itu menghantam Alivia seperti tamparan. Wajahnya seketika pucat. Dia tahu betul, tuntutan hukum dari seorang CEO Ameertha Group adalah bencana yang jauh lebih besar daripada sekadar kekhawatiran seorang ibu.

Kaluna telah mengubah perdebatan personal menjadi ancaman korporat yang serius.

Alivia terdiam, tidak mampu membalas. Dia menyadari Kaluna tidak akan berhenti. Dia akan menggunakan kekuasaan dan hukum untuk mendapatkan yang dia inginkan.

Di samping Kaluna, Andrian tersenyum puas.

“Kijang Emas ini selalu punya cara. Ketika persuasi emosional atau logika bisnis gagal, dia menggunakan senjata terkuatnya, dominasi hukum dan finansial. Hal ini memastikan tidak ada orang, bahkan anggota keluarganya sendiri, yang dapat menghalangi visi strategisnya,” batin Andrian.

"Baiklah, Kaluna," ucap Alivia tajam, suaranya mengandung janji dendam dingin. "Kau menang. Tapi jika ada hal buruk terjadi pada Rayyan, ingatlah, uang tidak akan pernah bisa menebus itu."

Kaluna hanya mengangguk tipis, mengakhiri perdebatan tanpa emosi lebih lanjut. "Tugasku adalah memastikan dia bersinar, Bu. Bukan merusaknya."

Kaluna tersenyum memandang ke arah Rayyan yang saat ini telah percaya penuh padanya.