Drama

Kecurigaan Kaluna

Penulis Yoonna
10 January 2026

Kaluna dan Andrian berjalan berdampingan menuju kamar mereka.

Meskipun telah memenangkan perdebatan dengan ancaman kontrak, Kaluna merasa ada ketidaknyamanan yang mengganjal.

Saat melewati lorong yang terhubung ke ruang tamu kecil, Kaluna melihat bayangan Alivia dan Rayyan yang saling berhadapan. Postur Alivia tampak tegang, sementara Rayyan terlihat tertekan.

"Ponselku," ujar Kaluna tiba-tiba, menyentuh saku gaunnya. "Sepertinya tertinggal di meja makan."

Andrian mengerutkan kening. "Biar Leon ambilkan besok pagi. Itu tidak penting sekarang."

"Tidak," potong Kaluna, sedikit memaksa. "Ada draft penting di sana. Aku akan kembali sebentar. Kau masuklah duluan, Tuan Sugara. Aku akan menyusul."

Andrian, yang sudah terbiasa dengan keputusan mendadak istrinya, hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya.

Kaluna menunggu hingga suara langkah Andrian menghilang, lalu berbalik diam-diam. Dia bergerak perlahan menuju lorong tempat Alivia dan Rayyan berada. Dia tidak bermaksud mencuri dengar, tetapi postur tubuh mereka yang penuh emosi menariknya.

Kaluna berhenti di balik pilar besar, suaranya teredam oleh arsitektur rumah tua Cassavanos.

"Kau punya keterbatasan, kau tidak bisa terlibat dalam keramaian. Kau tidak mengerti bagaimana aku berusaha keras melindungimu selama ini," bisik Alivia, suaranya penuh frustrasi dan kesedihan.

Rayyan mendongak, matanya yang biasanya penuh ketenangan kini dipenuhi amarah terpendam yang meledak.

"Melindungi siapa dari apa, Bu?" raung Rayyan pelan, namun nadanya menusuk. "Kau tidak melindungiku, kau membatasi semua gerakanku!"

Rayyan melangkah mundur, jaraknya menjauh dari ibunya. "Kau memintaku diam saat aku ingin bersekolah di tempat yang sama dengan Andrian, kau memintaku menahan semua keinginanku hanya karena aku tidak boleh menyahingi Andrian!"

Kaluna menahan napas. Ini bukan lagi soal fobia sosial, ini tentang persaingan tersembunyi.

"Kau membuatku mengidap diseleksia saat remaja, padahal aku bisa! Kau bilang aku harus fokus pada melukis saja. Kau tidak menyekolahkanku hingga namaku tidak pernah dikenal orang! Kau bilang, yang berkuasa hanya Andrian!"

Rayyan menunjuk ke arah kamar Andrian dan Kaluna.

"Tapi nyatanya, kau yang berlebihan! Andrian tidak pernah mengungguli dirinya sendiri! Dia membangun perusahaannya sendiri, tanpa berpikir untuk mengambil kekuasaan Cassavanos. Bukan karena Ken Aji menguasainya, hanya saja aku tidak melihat keserakahan di mata Andrian. Bahkan dia mendukung saat istrinya ingin mengubahku, memberiku harapan baru!"

Air mata mulai mengalir di pipi Rayyan, namun dia terus berbicara, melepaskan beban bertahun-tahun. "Kaluna memberiku panggung, Bu! Kaluna memberiku kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku, Rayyan, bukan sekadar pelukis rumahan. Kau hanya ingin aku tetap kecil, tetap di bawah bayang-bayang kakakku, agar posisimu di keluarga ini aman!"

Kaluna, yang mendengarkan di balik pilar, merasa seluruh tubuhnya kaku. Dia tidak hanya menemukan alasan di balik keberatan Alivia, tetapi juga inti dari masalah keluarga Cassavanos ini. Persaingan yang diciptakan oleh ibu tiri untuk memastikan putranya, Rayyan, tidak pernah mengancam dominasi Andrian.

Itu adalah strategi yang kejam dan manipulatif. Dan sekarang, Kaluna, dengan rencana pamerannya, secara tidak sengaja telah menjadi katalis yang memecahkan belenggu Rayyan.

Mendengar tuduhan Rayyan yang menyakitkan, Alivia bangkit dari duduknya dengan cepat, wajahnya memerah padam. Dia tidak lagi peduli dengan volume suaranya.

"Kau berani menuduhku? Setelah semua yang kulakukan untukmu!" seru Alivia, suaranya dipenuhi histeria yang tersembunyi.

Alivia langsung menyerang Rayyan, bukan secara fisik, tetapi dengan rentetan kata-kata yang jauh lebih menghancurkan.

Rayyan mundur selangkah, ekspresi trauma besar yang dalam dan familiar langsung muncul di wajahnya. Dia tampak seperti kembali menjadi remaja yang ketakutan, meringkuk di bawah tatapan menghakimi ibunya.

"Aku tidak akan membiarkanmu berhubungan dengan Kaluna itu," serang Alivia, menunjuk ke arah kamar Andrian dan Kaluna. "Dia hanya memanfaatkanmu, dia mau menghancurkan keluarga kita! Selama ini kau menurutiku, semuanya baik-baik saja sebelum dia datang. Sekali lagi kukatakan padamu, dengarkan aku!"

Alivia mendekat, memaksa Rayyan untuk menatap matanya yang mengancam. "Jangan pernah berniat untuk mengimbangi Andrian, atau kau... kau tidak akan lagi mendapatkan statusmu sebagai anak dari keibuanku!"

Ancaman itu adalah titik balik. Rayyan, yang sudah terpojok, justru meledak dalam raungan yang menyakitkan.

"Status? Apa selama ini aku telah mendapatkannya?" teriak Rayyan, matanya berkaca-kaca. "Itu hanya status, Bu, tapi perlakuanmu? Aku tidak pernah merasa bahwa kau menganggapku sebagai anak!"

"Anakmu hanya Andrian, kau terobsesi padanya, tapi aku... aku kau tinggalkan bersama kanvas-kanvas membosankan itu!" raung Rayyan lagi.

Di balik pilar, Kaluna mengepalkan tangannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah dan kejutan membanjiri dirinya. Ini bukan lagi sekadar konflik ibu-anak atau kecemburuan keluarga, ini adalah pola penyiksaan emosional yang disengaja.

Kaluna menyadari betapa parahnya trauma yang dialami Rayyan. Ancaman Alivia untuk mencabut status anak adalah bentuk pelecehan emosional yang dirancang untuk menjaga Rayyan tetap terkendali dan inferior dari Andrian.

“Alivia ini, dia menyerang Rayyan secara fisik dan emosional, serta fokusnya untuk mencegah Rayyan menyaingi Tuan Sugara… sungguh tidak masuk akal. Mengapa seorang ibu kandung ingin anaknya sendiri tetap terbelakang, hanya demi melindungi posisi anak tirinya?” batin Kaluna.

Kecurigaan Kaluna semakin dalam. Motif Alivia pasti jauh lebih besar daripada sekadar takut Rayyan panic attack di keramaian. Ada rahasia besar dan busuk di balik obsesi Alivia terhadap supremasi Andrian.

Kaluna mundur perlahan, berhati-hati agar tidak membuat suara. Ponsel yang dia tinggalkan di meja makan kini menjadi alasan yang sah untuk kembali.

Aku benar-benar harus menyelidiki ini, pikir Kaluna.

Dia harus mencari tahu mengapa Alivia begitu terobsesi agar Rayyan tetap berada di bawah bayang-bayang Andrian. Apa hubungan semua ini dengan masa lalu keluarga Cassavanos? Dan yang paling penting, bagaimana cara dia bisa membantu Rayyan keluar dari trauma ini tanpa memicu konflik yang lebih besar dengan Alivia.

Kaluna memutuskan untuk mengubah fokusnya dari rencana bisnis ke investigasi rahasia mengenai sejarah keluarga Sugara dan peran Alivia di dalamnya. Rayyan tidak hanya membutuhkan panggung, dia membutuhkan pembebasan.

Kaluna kembali ke kamarnya.

"Lama sekali," sapa Andrian tanpa menoleh, suaranya tenang.

"Aku mencari draft yang benar," jawab Kaluna, menutup pintu.

Dia meletakkan ponselnya, namun pikirannya masih penuh dengan raungan Rayyan dan ancaman Alivia.

Kaluna mendekati Andrian yang sedang berdiri di depan jendela, menatap ke arah halaman belakang yang gelap.

"Tuan Sugara," panggil Kaluna, nadanya lembut namun serius.

"Ya, Nyonya Sugara?"

"Tadi di ruang makan, saat Alivia dan Rayyan berdebat..." Kaluna menjeda sejenak, mencari kata yang tepat. "Apakah ada hal lain yang lebih signifikan tentang hubungan mereka selain hubungan ibu dan anak laki-laki? Maksudku, ada ketegangan yang tidak wajar."

Andrian menoleh, tatapannya sedikit bingung. "Tidak. Apa yang kau dengar, Kaluna? Itu hanya drama biasa. Rayyan memang selalu sensitif, dan Ibu terbiasa melindunginya secara berlebihan. Itu saja."

Kaluna merasa jawaban Andrian terlalu sederhana, terlalu santai. Apakah Andrian benar-benar tidak melihat pola manipulasi yang kejam itu, atau dia tahu dan memilih untuk mengabaikannya?

"Tapi... Rayyan menyebut tentang diseleksia, dan bagaimana dia tidak diizinkan menyaingimu," desak Kaluna pelan.

Andrian tersenyum tipis, meremehkan. "Rayyan, memang pernah mengalami diseleksia, makanya dia selalu gagal mendaftar sekolah di tempat-tempat berkelas. Dan persahingan, itu hanya omong kosong anak kecil yang mencari perhatian. Sudah dari dulu Ibu bersikap begitu, Kaluna. Sudahlah."

Andrian beralih dari jendela, mendekati Kaluna dengan langkah perlahan.

"Kau terlalu memikirkan ketegangan yang terjadi tadi. Istirahat saja dulu. Besok kita membahas strategi Rayyan dan peresmian kafe," bisik Andrian, meletakkan jari telunjuknya di dahi Kaluna.

Andrian menatap Kaluna dalam-dalam, memegang pinggangnya dengan kedua tangan, menarik tubuh Kaluna hingga jarak mereka hilang. Semua pertanyaan Kaluna terlupakan sejenak dalam kehangatan suaminya. Andrian mendekatkan wajahnya untuk menyentuh bibir Kaluna dengan bibirnya

Melihat dominasi Andrian saat ini, ditambah dengan bayangan agresi emosional Alivia terhadap Rayyan yang baru saja ia saksikan, memicu alarm naluriah pada Kaluna.

Kaluna langsung menghindar dengan cepat.

“Iya, sepertinya aku memang perlu beristirahat, Tuan Sugara,” ujar Kaluna.

Dia menarik diri dari pelukan Andrian, tubuhnya bergerak mundur beberapa langkah. Ciuman Andrian hanya mengenai udara kosong. Wajah Kaluna tampak tegang, mata cokelatnya dipenuhi pantulan dari amarah dan trauma Rayyan yang baru dia serap.

Andrian terdiam, tangannya yang masih terentang di pinggang Kaluna kini menggantung di udara. Ekspresinya yang santai seketika berubah menjadi kebingungan yang dingin.

“Aku harus menyelidiki ini sendiri. Jika Tuan Sugara tidak melihatnya, berarti ini adalah rahasia yang jauh lebih besar dari yang kukira,” gumam Kaluna yang hanya dia dengar sendiri sembari melangkah menuju ke kamar mandi.