Drama

Trik baru

Penulis Yoonna
10 January 2026

Keesokan paginya, Kaluna keluar dari kamar setelah mandi, diselimuti oleh perasaan tegang yang masih membekas dari perdebatan malam sebelumnya. Dia melirik ke sisi tempat tidur Andrian yang sudah rapi dan kosong.

Biasanya, Andrian akan meninggalkan catatan atau setidaknya mencium keningnya sebelum pergi untuk bisnis, terutama jika dia harus berangkat sepagi ini. Keheningan itu terasa tidak biasa.

Kaluna menuruni tangga dan mencegat seorang pelayan yang sedang membersihkan vas bunga di lobi.

"Permisi, apakah kau melihat Tuan Sugara?" tanya Kaluna.

Pelayan itu sedikit membungkuk. "Selamat pagi, Nona. Tuan Muda pergi pagi-pagi sekali. Katanya ada masalah mendesak di Sugara Group yang harus diselesaikan segera."

Kaluna mengerutkan kening. "Dia tidak meninggalkan pesan?"

"Tidak, Nona. Hanya itu yang beliau sampaikan kepada sopir," jawab pelayan itu.

Kaluna bergumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "Biasanya bilang kalau akan pergi, aneh. Apa dia marah?"

Dia menduga, sikap dingin Andrian semalam, setelah dia menghindar dari Andrian mungkin adalah penyebab kepergian mendadak ini.

Kaluna menepis pikiran-pikiran aneh tentang kemungkinan Andrian marah atau sengaja menghindarinya. Dia kembali menatap pelayan tadi, seorang wanita lansia yang biasa dipanggil Naima, yang tampak sudah lama bekerja di rumah Cassavanos.

"Naima," panggilnya, suaranya kini melunak, berbeda dari nada formal yang biasa dia gunakan.

Pelayan itu berbalik, matanya yang teduh memberikan isyarat, "Ada apa, Nyonya?"

Kaluna melangkah mendekat, matanya menilai Naima. Pelayan itu tidak menunjukkan kegugupan yang biasa dimiliki staf muda. Dia tampak tenang dan berwibawa.

"Kau terlihat sudah akrab dengan rumah ini, juga kebiasaan-kebiasaan orangnya," kata Kaluna, mengambil nada percakapan kasual, bukan interogasi. "Apa kau sudah lama bekerja di sini?"

Naima tersenyum tipis, senyum yang membawa serta beban tahunan. "Sudah lama sekali, Nyonya Kaluna. Sejak Almarhum Tuan Besar masih muda, dan sebelum Tuan Muda lahir."

"Ah, kalau begitu, kau pasti orang yang paling tahu seluk-beluk keluarga ini," ujar Kaluna, memuji.

Kaluna menarik napas, memutuskan untuk langsung menyentuh inti masalah secara tidak langsung.

"Naima, semalam aku sempat khawatir melihat ketegangan antara Ibu Alivia dan Rayyan. Aku ingin tahu," Kaluna merendahkan suaranya sedikit, seolah membagi sebuah rahasia, "apakah Tuan Rayyan memang selalu... memiliki keterbatasan seperti yang Ibu Alivia selalu katakan? Maksudku, apakah sejak kecil dia memang sakit-sakitan atau sulit beradaptasi?"

Naima terdiam sesaat, matanya berpaling sekilas ke arah lorong yang menuju studio Rayyan. Ekspresi di wajahnya berubah, ada gurat kesedihan dan sedikit kehati-hatian yang tidak dapat dia sembunyikan sepenuhnya.

"Tuan Rayyan..." Naima memulai, suaranya bergetar halus. "Sejak kecil, Tuan Rayyan adalah anak yang sangat pintar dan ceria, Nyonya. Dia tidak pernah takut pada keramaian. Justru dia adalah anak yang paling ingin tahu dan suka bertanya tentang dunia luar."

Naima berhenti sejenak. Dia kembali menatap Kaluna, seolah mengukur apakah Kaluna adalah orang yang tepat untuk mendengar kebenaran yang tersembunyi.

“Tapi Nyonya Alivia…” Naima sedikti ragu.

Kaluna mencondongkan tubuh sedikit, jantungnya berdegup lebih cepat.

“Kenapa dengan Alivia? Bisakah kau beritahu aku detailnya?"

"Nyonya Alivia selalu khawatir Tuan Rayyan akan terluka jika dia berinteraksi terlalu banyak dengan dunia luar. Dia... dia bilang, Tuan Rayyan hanya anak seorang istri kedua, dia tidak boleh lebih menonjol dari pewaris. Seolah-olah dia takut, jika Tuan Rayyan terlalu cemerlang, dia akan mengambil perhatian yang seharusnya diterima Tuan Andrian."

"Dia membandingkan mereka sejak awal?" tanya Kaluna, tidak percaya.

"Bukan hanya membandingkan, Nyonya. Nyonya Alivia membuat aturan ketat. Tuan Rayyan tidak diizinkan masuk ke sekolah yang sama dengan Tuan Andrian, padahal Rayyan lulus tes masuk dengan nilai jauh lebih baik. Semua surat penolakan sekolah Rayyan selalu datang dari Nyonya Alivia, bukan dari sekolahnya."

Kaluna mengepalkan tangan. Manipulasi sistematis yang Rayyan tuduhkan semalam ternyata benar adanya. Naima baru saja mengonfirmasi bahwa Alivia telah sengaja membuat Rayyan terisolasi dan inferior.

"Dan mengenai keahliannya melukis?" desak Kaluna.

"Itu adalah satu-satunya hal yang diizinkan Nyonya Alivia agar Tuan Rayyan tetap sibuk dan jauh dari persaingan akademis atau bisnis dengan Tuan Andrian. Dia menciptakan tembok di sekeliling Tuan Rayyan, Nyonya. Tuan Rayyan tidak memiliki fobia keramaian, dia memiliki fobia kehilangan restu ibunya karena melawan kehendaknya."

Naima menunduk, matanya menunjukkan rasa kasihan yang mendalam. "Hanya orang-orang lama di rumah ini yang tahu, Nyonya. Dan kami semua takut untuk bicara."

Kaluna mengangguk, amarahnya memuncak, tetapi dia berusaha mengendalikannya. Sekarang dia tahu, Andrian tidak hanya mengabaikan, dia adalah korban lain dari persaingan yang diciptakan Alivia, bahkan tanpa disadarinya.

"Terima kasih, Naima. Kau sudah sangat membantuku. Aku akan pastikan kerahasiaan ini terjaga," janji Kaluna.

Kaluna berjalan cepat menuju ruang kerjanya, pikirannya dipenuhi oleh informasi baru ini. Rencananya untuk Rayyan bukan hanya sekadar comeback bisnis, tapi sebuah pembebasan yang harus dilakukan segera sebelum Alivia menemukan cara lain untuk menghancurkannya.

Di kantor Sugara Group, Andrian duduk di balik meja kerjanya yang luas, dikelilingi oleh layar monitor dan tumpukan file yang tertata rapi. Namun, pikirannya jelas jauh dari laporan keuangan.

Pagi ini, dia sengaja melarikan diri dari Cassavanos, bukan hanya karena masalah di Sugara Group, tetapi juga karena ekspresi tegang Kaluna semalam dan penolakannya.

"Jeni," panggil Andrian, nadanya jauh lebih santai daripada saat dia membahas akuisisi korporat.

Jeni, seorang wanita muda yang cerdas, segera berdiri di hadapannya. "Ya, Tuan Muda?"

Andrian menyandarkan tubuhnya ke kursi, memutar-mutar pena di tangannya. Ia terlihat canggung, sesuatu yang sangat jarang terlihat dari penguasa Sugara Group itu.

"Jeni, apa yang kau suka?" tanya Andrian tiba-tiba.

Jeni tertegun, terdiam tidak mengerti apa yang Tuan Muda itu katakan. Apakah ini pertanyaan pribadi atau ada hubungannya dengan proyek baru?

Andrian menghela napas, menyadari betapa anehnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

"Maksudku," ulang Andrian, sedikit meluruskan duduknya, "apa yang wanita suka dari seorang pria? Atau, apa yang membuat seorang wanita merasa... istimewa?"

Jeni langsung mengerti. Andrian Sugara, sang CEO yang dingin dan logis, kini sedang menghadapi masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan kalkulasi, hubungan rumah tangga.

Jeni tersenyum tipis, menjaga profesionalismenya. "Aku mengerti! Apa istri Anda sedang berulang tahun, Tuan Muda? Atau, mungkin, Tuan Muda ingin memberinya kado kejutan?"

"Bukan," kata Andrian cepat. Raut wajahnya berubah sedikit memerah, suatu hal yang akan langsung dibantah jika ada orang lain yang melihatnya.

"Aku... aku hanya ingin membuatnya terkesan padaku. Atau setidaknya... ah, lupakan saja," kata Andrian salah tingkah, frustrasi karena dia tidak bisa merumuskan perasaannya menjadi poin-poin logis.

Jeni mencondongkan tubuh sedikit, berbicara dengan nada yang lebih menenangkan.

"Mungkin, hal-hal kecil yang menyentuh hati, Tuan Muda. Seperti kejutan yang menunjukkan perhatian, meskipun itu hanya hal sederhana," ujar Jeni.

"Hal kecil?" Andrian terlihat skeptis.

"Memberi bunga, misalnya," jawab Jeni. "Atau membawakan makanan kesukaannya di tengah hari kerja."

Andrian menggeleng. "Aku tidak yakin. Sepertinya, Kaluna tidak begitu menyukai bunga."

"Tidak suka ya," sanggah Jeni yang kebingungan dengan senyum sabar.

"Tetapi, melalui bunga itu, Tuan Muda bisa menunjukkan perhatian kecil terhadapnya. Bahwa di tengah kesibukan Tuan Muda, dia tetap ada di pikiran. Dia mungkin memang tidak menyukainya, tapi dia akan terkesan dengan ketulusan di balik hal kecil itu," jelas Jeni.

Andrian terdiam. Jeni benar. Kaluna menghargai tindakan, terutama tindakan yang menunjukkan dia diprioritaskan.

"Kau benar, Jeni. Urusan Sugara Group bisa menunggu sedikit," ujar Andrian.

Dia bangkit, berjalan ke jendela, dan mengeluarkan ponselnya. Dia menoleh ke Jeni.

"Jeni, siapkan mobilku. Aku akan kembali ke Cassavanos. Dan, tolong pesankan buket mawar biru yang paling langka. Kirimkan ke Paviliun Cassavanos. Pastikan mawar itu tiba dalam satu jam."

"Baik, Tuan Muda," jawab Jeni.

Andrian menjauh sedikit dari Jeni, menekan nomor cepat. "Leon?"

Suara Leon terdengar segera. "Tuan Muda? Ada masalah mendesak di Sugara Group?"

"Aku sudah di jalan kembali. Urusan Sugara Group sudah kuambil alih. Dengarkan baik-baik, Leon. Aku ingin kau melakukan ini segera."

Andrian memberikan serangkaian instruksi yang kini dia bingkai sebagai perhatian kecil yang memiliki dampak besar.

"Hubungi Pengacara Surya sekarang. Katakan aku ingin dia segera datang ke Cassavanos. Bahasannya adalah Perjanjian Perlindungan Korporat Sugara-Ameertha. Kontrak itu harus memastikan tidak ada personil Ameertha yang dapat ditarik paksa dari posisinya oleh siapa pun, bahkan dari internal keluarga Cassavanos."

"Siap, Tuan Muda. Saya akan bergerak sekarang," jawab Leon, meski sedikit terpaku pada permintaan yang tiba-tiba itu