Waktu beranjak dan menjelang malam, Kaluna sudah selesai bersiap-siap untuk menghadiri acara peresmian kafe JP. Dia mengenakan gaun berwarna biru yang kalem, warna yang memuji ketenangan dan aura misteriusnya.
Tepat saat Kaluna menyentuh kalungnya di depan cermin, pintu kamar terbuka. Andrian masuk, dia baru saja kembali ke rumah.
Andrian, yang seharusnya kelelahan setelah seharian penuh mengurus urusan di kantor, segera menghentikan langkahnya. Dia kembali terpana dengan kecantikan istrinya itu. Semua dokumen dan masalah bisnis di Sugara Group seolah menguap dari pikirannya.
Dia berjalan mendekat, menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya.
"Aku mencari ke bawah, ternyata kau masih di sini," sapa Andrian. Dia berhenti beberapa langkah di belakang Kaluna.
"Aku baru saja selesai," jawab Kaluna, sedikit berbalik.
Andrian tersenyum tipis, lalu menarik tangannya dari belakang. Dia langsung mengeluarkan bunga mawar biru langka berharga puluhan juta itu. Buket itu disusun dengan indah, melambangkan misteri dan ketulusannya.
Kaluna terdiam sejenak, menatap mawar biru yang terkesan berlebihan itu, tetapi dia tersenyum tipis.
"Mawar biru?" tanya Kaluna. "Terima kasih, Tuan Sugara. Mawar ini... indah. Tapi sedikit berlebihan." Kaluna mengamati label toko di buket itu.
Andrian menghela napas lega. "Jeni bilang aku harus melakukan hal kecil yang menyentuh hati. Aku tidak tahu bagaimana melakukan hal kecil, jadi aku membuatnya mahal saja," katanya jujur.
Kaluna tertawa kecil. Dia mengambil bunga itu dan meletakkannya di meja rias. Matanya memancarkan godaan yang cerdas.
"Ohya? Aku baru tahu, Tuan Sugara. Sepertinya, kau sedikit nakal ya sekarang. Ada wanita lain yang bisa mengarahkanmu selain aku. Siapa Jeni itu? Sekretaris yang kau pinjam dari bagian HRD?"
Andrian terdiam. Dia tidak menyangka Kaluna akan menyentilnya tentang Jeni.
"Dia hanya staf administrasi, Kaluna. Dia hanya memberikan saran umum. Aku yang mengembangkannya menjadi tindakan korporat yang legal," bela Andrian, ekspresinya sedikit kesal karena Kaluna meragukan idenya.
"Oh, begitu ya? Jadi, kau berdiskusi mendalam dengan Nona Jeni tentang bagaimana caramu membuat istrimu terkesan, dan dia mengarahkanmu pada mawar biru yang langka ini?" selidik Kaluna.
Wajah Andrian sedikit tegang. Dia merasa disudutkan. Dia sudah melakukan upaya besar, bukan hanya bunga, tetapi juga kontrak perlindungan. Namun, Kaluna justru fokus pada Jeni.
"Ayolah, Kaluna… aku hanya bertanya, dia menjawab. Aku yang memutuskan untuk membelinya," elak Andrian.
Kaluna mengangguk-angguk, tidak berhenti menggoda. “Apa dia juga menyarankanmu untuk mengambil alih meeting dengan Praka?”
Andrian merasa serba salah. Dia melakukan semua ini demi Kaluna, namun Kaluna menggodanya tentang wanita lain.
Dia merasa bingung, apakah dia melakukan kesalahan dengan menyebut Jeni.
"Astaga, Nona! Apa aku telah salah bicara?" tanya Andrian, menggosok kasar kepalanya. Suaranya sedikit mengandung kebingungan dingin.
Kaluna segera menyentuh pipi Andrian dengan lembut.
"Kau menghilang sepanjang hari. Urusan Sugara Group sudah selesai?" Kaluna merapikan lipatan kerah jas Andrian.
"Ya… dan, maafkan aku tidak sempat memberitahumu sebelum pergi," balas Andrian, matanya kini menunjukkan keseriusan. Dia tidak ingin pembicaraan ini hanya berakhir pada bunga.
Andrian melangkah lebih dekat, merangkul pinggang Kaluna.
"Aku juga sudah meminta Leon mengundang Pengacara Surya ke rumah ini. Perjanjian Perlindungan Korporat Sugara-Ameertha sudah disiapkan," sambung Kaluna.
Kaluna tertegun. Dia mengabaikan bunga dan fokus pada tindakan korporat yang protektif itu.
"Kau... untuk apa semuanya?" tanya Kaluna sedikit curiga.
"Aku tidak hanya akan mendukung idemu, Kaluna. Aku memastikan tidak ada seorang pun di keluarga ini yang bisa menghalangi visimu atau menyakiti adikku lagi. Perjanjian itu adalah jaminanku. Sekarang, Rayyan adalah aset Ameertha Corporate yang tidak bisa diganggu gugat, bahkan oleh Ibu," jelas Andrian.
Kaluna menatap Andrian. Ekspresinya yang selalu tenang kini dipenuhi kekaguman yang nyata.
Andrian secara tidak langsung telah mencerna semua yang terjadi semalam. Dia memilih cara paling efektif untuk memenangkan kepercayaan darinya, dengan kekuatan korporat dan perlindungan total.
"Terima kasih, Tuan Sugara," bisik Kaluna.
Andrian tersenyum puas. Dia menyentuh dagu Kaluna dan mengangkatnya.
"Siap untuk mengenalkan dunia yang lebih luas kepada Rayyan?” tanya Andrian.
Kaluna mengangguk. “Tentu saja!” serunya.
“Kalau begitu, mari kita pergi!" ajak Andrian.
Kaluna menatapnya dalam-dalam. "Aku hanya tidak menyangka, di antara sekian banyak wanita di Sugara Group, Nona Jeni yang berhasil membuat Tuan Sugara kembali ke rumah dengan mawar. Dia pantas mendapat bonus besar."
Goda Kaluna lagi sembari kembali meraih buket mawar itu dan mengangkatnya dari meja riasnya.
"Tentu saja, Nyonya Sugara. Jeni akan mendapat bonus," ujar Andrian.
Andrian meraih tangan Kaluna, dan mereka berjalan keluar kamar, menuju acara peresmian kafe JP. Siap untuk menghadapi malam yang penuh dengan diplomasi dan pameran kekuatan baru mereka.
Kafe JP tampak ramai dan sesak. Cahaya temaram yang elegan menyoroti desain interior yang memadukan unsur seni modern dan sentuhan tekstil Ameertha yang berkelas.
Andrian dan Kaluna tiba di lokasi, membuat kehebohan kecil saat mereka melangkah masuk. Kaluna, anggun dalam balutan gaun biru kalem, masih menenteng buket mawar biru pemberian Andrian.
“Dia istri Tuan Sugara, membawa mawar biru yang langka,” ujar seorang tamu dari kejauhan.
“Nona itu, dia sangat beruntung. Suaminya sangat meratukan dia,” imbuh yang lainnya.
Di belakang mereka, Leon dan Rayyan menyusul. Rayyan terlihat sedikit tegang di tengah keramaian, tetapi dia memaksakan diri untuk tetap melangkah.
Tak lama setelah mereka memasuki venue, Praka menghampiri mereka dengan senyum lebar, mengenakan setelan kasual yang elegan.
"Selamat datang, Tuan Sugara," sapa Praka, menjabat tangan Andrian dengan erat.
Mata Praka langsung beralih ke buket mawar biru di tangan Kaluna.
"Kaluna, mawar biru? Sangat tidak biasa," sindir Praka, nadanya mengandung rasa ingin tahu dan sedikit kecemburuan. "Tuan Sugara pasti sangat berusaha. Atau... ini adalah pajangan yang sengaja dibawa untuk menunjukkan bahwa 'Mesin Pendingin' ini akhirnya bisa romantis?"
Kaluna tersenyum, mengabaikan sindiran itu. "Kafe-mu luar biasa, Raka,” ujarnya mengalihkan perhatian.
Andrian maju sedikit, merangkul pinggang Kaluna dengan tegas, menarik istrinya lebih dekat dengannya.
"Tentu saja, Tuan Praka. Mawar ini hanya sebuah hadiah kecil. Tapi, Nyonya Sugara tetap membawanya," ujar Andrian, suaranya tenang.
Andrian menatap Praka dengan tatapan mata yang tajam dan penuh kebanggan baru.
Tak lama kemudian, Ken Aji, melangkah masuk, ditemani oleh Marisa dan Kajayanti. Tatapan Ken Aji dingin, langsung menuju Kaluna yang berdiri bersama Andrian dan Rayyan.
Ken Aji segera mengabaikan Andrian dan berjalan lurus ke arah putrinya.
"Kaluna, aku menerima laporan bahwa kafe ini, kafe JP ini... modal operasional awalnya berasal dari pinjaman atas nama aset Ameertha, bukan?" Ken Aji langsung menusuk ke inti masalah, tatapannya menyiratkan tuduhan.
"Ini bukan tempatnya, Ayah," potong Kaluna, nadanya keras.
"Ini adalah tempatnya! Kau menggunakan Praka untuk menutupi jejakmu, membuat kafe ini seolah-olah proyek independen, padahal secara tidak langsung ini adalah operasional Ameertha!" tuding Ken Aji.
Ken Aji menatap Praka, yang berdiri sedikit menjauh. "Tuan Praka. Aku tahu kau adalah wali kuasa atas putriku. Apa kau sengaja memanfaatkan posisi itu untuk mendapatkan dana dari perusahaan putriku?"
Kaluna melangkah maju, sorot matanya tajam. Dia tidak mencoba menjelaskan, dia memilih menyerang balik.
"Lalu apa bedanya dengan uang ratusan juta dolar yang kusia-siakan hanya untuk menyelamatkanmu dari tindakan bodoh putri kesayanganmu itu?"